- Beranda
- Stories from the Heart
Diary Seorang Penjahat Kelamin
...
TS
masukcombera
Diary Seorang Penjahat Kelamin

Kenalan dulu.
Quote:
Lanjut disitu adalah kenangan saat saya sedang making lovedengan seorang wanita yang janjinya nggak bakal making love sebelum dia menikmati malam pertama dengan suami barunya, tapi kalau sudah soal kebutuhan seksual, siapa sihh yang bisa janji. Tepat sekali, siapa lagi kalau bukan Seira, partner in sex terbaik yang saya temukan di balik kelas dua keen saat masih berada di SMA. Dialah.., si seksi Seira Subrata, TTM saya yang paling juara.
Quote:
Note: Anggap aja ini kisah fiksi... biar nggak ribet mikirnya he-he-he

• $ • $ • $ •
INDEX
Kalo mampir kesini, sering² cek indeks aja kalo mau liat update...
Spoiler for Index:
Side Story
Spoiler for Side Story:
Kalau suka, SUBSCRIBE. SHARE. Cendol dan RATE 5 nya jangan lupa gansist...
Diubah oleh masukcombera 03-08-2021 17:58
c4punk1950... dan 8 lainnya memberi reputasi
9
85.7K
395
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55KAnggota
Tampilkan semua post
TS
masukcombera
#83
Diary 4 — Laressa Menelfon
Saat saya bercerita kepada Arang.
"Sei, nggak usah lebay deh ngeremes-nya, guwe gagal baik—kita nggak lanjut sampe ML ya," kata saya sambil merem melek.
"Diy, ih, plislah... orang masih foreplayjuga..." mohon dia kepada saya, biar saya nggak galak² amat gitu maksudnyaa.
....
Tiba² nada dering espionage dari hape yang saya letakkan diatas nakas itu berbunyi... Maklum, saya pengguna nokiye 6630—saya nggak pilih communicator atau PDA, modelnya terlalu kebapak²an kalo kata saya, dan kurang cocok untuk saya yang gak begitu gila bisnis ini.
Drrrdt...
Drrrrddt....
Hape yang bergetar dan berbunyi itu sekarang sudah ada didalam genggaman saya.
"Siapa, Diy?" tanya Seira singkat kepada saya.
"Laressa." jawab saya mantap.
"Yaudah, angkat aja dulu..." kata Seira lagi.
"Yakin, Sei? padahal guwe udah hampir nyambung (baik) lho barusan.”
“Hehehe,” kekeh Seira dalam suara beratnya.
“Udahh, angkat aja.... kasian itu cewek.” tambahnya lagi.
“Oh yaudah,”
Klik!
"Halo Maddie..." suara cantik itu menyapa hangat telinga saya via telefon genggam ini. Sekarang saya sudah angkat telfon nya.
"Hai Lars..." balas saya lagi, menyapa dia ramah.
"Maddie...,"
"Iya... Apa..." jawab saya lagi.
“Lagi ngapainn?"
"Lagi nerima telfon kamu..." jawab saya sambil agak merayu dia.
"Hahah~ bisa aja jawabnya," dia sempat tertawa, suaranya terdengar cantik dan centil.
Setelah begitu saya langsung menyumbat mikrofon di hape saya ini—lalu berbicara kepada dia, "Diem lu nyet, guwe nggak nyuruh elu ngomong kali," ucap saya ketus sama dia—yang sekarang lagi nyenderin kepalanya tepat di bahu kanan saya ini.
"Hahahaha, oke," diapun cuma bisa tertawa menanggapi saya—dan saya cuma bisa bengong, ngelirik kearah dia, meski sebentar aja.
(And for your information, aroma dari tubuh Seira itu sebenernya agak² anehh, cuma entah kenapa saya suka aja sama wangi nya itu, lebih mendominasi daripada wangi tubuh saya sendiri.)
Gak lama setelahnya, saya kembali melanjutkan obrolan kami di telefon, "Halo, Lars, sorry ada yang ganggu, jadi gimana²?"
“Itu Seira yaaa?”jawab Laressa diujung sana, jawaban nya bikin saya kaget, sekaliber dengan nada kepengen tahunya itu.
“Iya... kok kamu bisa tau?” tanya saya lugas.
“Diriku kan cerdas... lagian aku tau dari suaranya...” jawab dia lagi, pede banget rasanya.
“Ha-ha-ha.” kena skakmat deh, jadinya cuma bisa ketawa.
“Gimana pekerjaanmu disana? Lancar aja kann?” tanya Laressa yang kayaknya malah semakin penasaran.
“So far, lancar... ini besok mau keluar dari kapal, mulai shooting terus lanjut ke Tomini," jawab saya santai sambil menerangkan sesuatu sama dia—dengan Seira yang masih 'memain - mainkan' anu saya... ugh, nikmat.
"Hmm.. pasti disana indah banget ya?"
"Ya indah dong.. ini juga kebetulan lagi purnama, keliatan kok dari jendela kabin saya." jelas saya sembari menatap keluar jendela didalam kabin yang remang² ini.
"Amazing... aku bener² ga nyangka...." ucapnya panjang dan jemmbut, eh, lembut... maksudnya.
"Nggak nyangka gimana maksud kamu... ?" giliran saya yang sekarang penasaran sama pernyataan Laressa.
Langsung saya pindahin hp ini ke kuping kanan saya (daritadi di tangan kiri terus, pegel,) sambil gemes dikitlah... ngekep²in Seira didalem ketek saya.
Setelah itu, cepet² saya konsen dengerin Laressa lagi.
"Iya... aku ga nyangka Maddie... Bahwa ternyata keindahan Indonesia tuh nggak cuma di Bali doang, ya?" — oh, Laressa, kamu kemana aja... Sini ikut ama abang Maddie yuk, kita bercinta dibawah sinar rembulan... sambil menjelajahi keindahan di nusantara Indonesia.
"Oiya dong.. Masa Bali doang, itusih lagu lama Lars... ini kan saya sama rekan² rencana nya mo ngenalin sulawesi juga.., makanya untuk projectkami selanjutnya ya kami pilih lokasi disini.."
"Oh.. gitu.. Berarti anggapan aku selama ini salah dong, yaa?" tanya Laressa lagi, belagak blo'on, mungkin biar dia bisa ngobrol lebih lama sama saya. (GR banget!)
"Emang apa anggapan kamu?" tanya saya singkat.
"Akutuh nganggep kalo bagian Indonesia yang indah tuh cuma di Jawa, Sumatera atau Bali aja... yang lain enggak, gitu..."
"Oya jangan dong... kan Indonesia itu luas... ada Kalimantan... Sulawesi... Nusa tenggara... Papua... Sipadan, Bintan—”
"Ohhhh," OH nya panjang banget coy!
"Sekarang aku pa ham...."
"Eh, Maddie, aku ganggu kalian yaa?" kata Laressa, kali ini nadanya terdengar cukup risih.
"Ah enggaklah...gak ganggu kok," saya ngejawabnya santai.
"Beneran nggak ganggu, Lars." saya meyakinkan Laressa lagi.
"Okedehh, emang kalian berdua lagi ngapain sihhh?"
"Hah?"
"Ah kamu kok nanyanya begitu..."
"Ya lagi nge seks lah..."
Wih, enggak, saya nggak jawab begitu, saya jawabnya begini, "Lagi ngobrol aja, Lars..."
Tiba².
"Maddie...." desahnya panjang.
"Hm, ya Lars?" ucap saya bertanya lagi.
"Maddie, please listen."
"Gini deh... aku seneng banget, malah, kalo kamu bisa gaul sama siapa aja..."
"Sekarang keadaanmu sudah jauh lebih baik ya..., kamu udah bisa happy dan enjoy lagi sama pekerjaanmu..."
"Aku nggak punya hak untuk...—"
"Gameeee Overrrr,"potong Seira berteriak, lalu merebut hape dari tangan saya, menutup panggilan dari Laressa—lalu dia ngomong begini, "Diy, fuck me, right now!" (Maddie tolong 'gitu²in' aku, sekarang!)
Buset.... ini cewek rupanya udah panas aja
• $ • $ • $ •
Celebes, 2004.
"Sei, nggak usah lebay deh ngeremes-nya, guwe gagal baik—kita nggak lanjut sampe ML ya," kata saya sambil merem melek.
"Diy, ih, plislah... orang masih foreplayjuga..." mohon dia kepada saya, biar saya nggak galak² amat gitu maksudnyaa.
....
Tiba² nada dering espionage dari hape yang saya letakkan diatas nakas itu berbunyi... Maklum, saya pengguna nokiye 6630—saya nggak pilih communicator atau PDA, modelnya terlalu kebapak²an kalo kata saya, dan kurang cocok untuk saya yang gak begitu gila bisnis ini.
Drrrdt...
Drrrrddt....
Hape yang bergetar dan berbunyi itu sekarang sudah ada didalam genggaman saya.
"Siapa, Diy?" tanya Seira singkat kepada saya.
"Laressa." jawab saya mantap.
"Yaudah, angkat aja dulu..." kata Seira lagi.
"Yakin, Sei? padahal guwe udah hampir nyambung (baik) lho barusan.”
“Hehehe,” kekeh Seira dalam suara beratnya.
“Udahh, angkat aja.... kasian itu cewek.” tambahnya lagi.
“Oh yaudah,”
Klik!
"Halo Maddie..." suara cantik itu menyapa hangat telinga saya via telefon genggam ini. Sekarang saya sudah angkat telfon nya.
"Hai Lars..." balas saya lagi, menyapa dia ramah.
"Maddie...,"
"Iya... Apa..." jawab saya lagi.
“Lagi ngapainn?"
"Lagi nerima telfon kamu..." jawab saya sambil agak merayu dia.
"Hahah~ bisa aja jawabnya," dia sempat tertawa, suaranya terdengar cantik dan centil.
Quote:
Setelah begitu saya langsung menyumbat mikrofon di hape saya ini—lalu berbicara kepada dia, "Diem lu nyet, guwe nggak nyuruh elu ngomong kali," ucap saya ketus sama dia—yang sekarang lagi nyenderin kepalanya tepat di bahu kanan saya ini.
"Hahahaha, oke," diapun cuma bisa tertawa menanggapi saya—dan saya cuma bisa bengong, ngelirik kearah dia, meski sebentar aja.
(And for your information, aroma dari tubuh Seira itu sebenernya agak² anehh, cuma entah kenapa saya suka aja sama wangi nya itu, lebih mendominasi daripada wangi tubuh saya sendiri.)
Gak lama setelahnya, saya kembali melanjutkan obrolan kami di telefon, "Halo, Lars, sorry ada yang ganggu, jadi gimana²?"
“Itu Seira yaaa?”jawab Laressa diujung sana, jawaban nya bikin saya kaget, sekaliber dengan nada kepengen tahunya itu.
“Iya... kok kamu bisa tau?” tanya saya lugas.
“Diriku kan cerdas... lagian aku tau dari suaranya...” jawab dia lagi, pede banget rasanya.
“Ha-ha-ha.” kena skakmat deh, jadinya cuma bisa ketawa.
“Gimana pekerjaanmu disana? Lancar aja kann?” tanya Laressa yang kayaknya malah semakin penasaran.
“So far, lancar... ini besok mau keluar dari kapal, mulai shooting terus lanjut ke Tomini," jawab saya santai sambil menerangkan sesuatu sama dia—dengan Seira yang masih 'memain - mainkan' anu saya... ugh, nikmat.
"Hmm.. pasti disana indah banget ya?"
"Ya indah dong.. ini juga kebetulan lagi purnama, keliatan kok dari jendela kabin saya." jelas saya sembari menatap keluar jendela didalam kabin yang remang² ini.
"Amazing... aku bener² ga nyangka...." ucapnya panjang dan jemmbut, eh, lembut... maksudnya.
"Nggak nyangka gimana maksud kamu... ?" giliran saya yang sekarang penasaran sama pernyataan Laressa.
Langsung saya pindahin hp ini ke kuping kanan saya (daritadi di tangan kiri terus, pegel,) sambil gemes dikitlah... ngekep²in Seira didalem ketek saya.
Quote:
• $ • $ • $ •
Setelah itu, cepet² saya konsen dengerin Laressa lagi.
"Iya... aku ga nyangka Maddie... Bahwa ternyata keindahan Indonesia tuh nggak cuma di Bali doang, ya?" — oh, Laressa, kamu kemana aja... Sini ikut ama abang Maddie yuk, kita bercinta dibawah sinar rembulan... sambil menjelajahi keindahan di nusantara Indonesia.

"Oiya dong.. Masa Bali doang, itusih lagu lama Lars... ini kan saya sama rekan² rencana nya mo ngenalin sulawesi juga.., makanya untuk projectkami selanjutnya ya kami pilih lokasi disini.."
"Oh.. gitu.. Berarti anggapan aku selama ini salah dong, yaa?" tanya Laressa lagi, belagak blo'on, mungkin biar dia bisa ngobrol lebih lama sama saya. (GR banget!)
"Emang apa anggapan kamu?" tanya saya singkat.
"Akutuh nganggep kalo bagian Indonesia yang indah tuh cuma di Jawa, Sumatera atau Bali aja... yang lain enggak, gitu..."
"Oya jangan dong... kan Indonesia itu luas... ada Kalimantan... Sulawesi... Nusa tenggara... Papua... Sipadan, Bintan—”
Quote:
"Ohhhh," OH nya panjang banget coy!
"Sekarang aku pa ham...."
"Eh, Maddie, aku ganggu kalian yaa?" kata Laressa, kali ini nadanya terdengar cukup risih.
"Ah enggaklah...gak ganggu kok," saya ngejawabnya santai.
Quote:
"Beneran nggak ganggu, Lars." saya meyakinkan Laressa lagi.
"Okedehh, emang kalian berdua lagi ngapain sihhh?"
"Hah?"
"Ah kamu kok nanyanya begitu..."
"Ya lagi nge seks lah..."
Wih, enggak, saya nggak jawab begitu, saya jawabnya begini, "Lagi ngobrol aja, Lars..."
Tiba².
"Maddie...." desahnya panjang.
"Hm, ya Lars?" ucap saya bertanya lagi.
"Maddie, please listen."
"Gini deh... aku seneng banget, malah, kalo kamu bisa gaul sama siapa aja..."
"Sekarang keadaanmu sudah jauh lebih baik ya..., kamu udah bisa happy dan enjoy lagi sama pekerjaanmu..."
"Aku nggak punya hak untuk...—"
"Gameeee Overrrr,"potong Seira berteriak, lalu merebut hape dari tangan saya, menutup panggilan dari Laressa—lalu dia ngomong begini, "Diy, fuck me, right now!" (Maddie tolong 'gitu²in' aku, sekarang!)
Buset.... ini cewek rupanya udah panas aja

Diubah oleh masukcombera 20-04-2018 08:46
0
