Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)
Thread ini adalah Thread yang ditujukan untuk mengisi kekosongan beberap jeda waktu dan pengalaman yang tidak diceritakan dalam story season 1- akhir, sehingga disini kalian akan menjumpai pengalaman horror, interdimensional, dan lainnya oleh kreator.

The Main Stories :
SEASON 1 Mereka Yang Hidup Dalam Gelap


Selamat menikmati Side Story disini, tanpa perlu prolog langsung cekidot aja 
mari kita bercengkrama bersama mereka yang hidup dalam gelap

SIDE STORY INDEX :

Side Story 1 (SS - 1)
Side Story 2 (SS - 2) part 1
Side Story 2 (SS - 2) part 2
Side Story 3 (SS - 3 )
Side Story 4 (SS - 4)
Side Story 5 (SS - 5) Part 1
Side Story 5 (SS - 5) Part 2
Side Story 6 (SS - 6)
Side Story 7 (SS - 7) Part 1
Side Story 7 (SS - 7) Part 2
Side Story 8 (SS - 8) Part 1
Side Story 8 (SS - 8) Part 2
Side Story 9 (SS - 9)
Side Story 10 (SS - 10)
Side Story 11(SS - 11)
Side Story 11 (SS - 11) REMAKE
Side Story 12 (SS - 12)

MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)



Quote:
Diubah oleh bakamonotong 06-07-2018 13:04
1
35.2K
102
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#68
SS 9 - Pindah lah!

Kampungku adalah kampung yang masih terkenal kunonya, seperti yang aku ceritakan, disana banyak sekali makhluk tak kasat mata yang sering bersliweran, bahkan kadang saking seringnya, ada beberapa dari merek yang mneyamar menjadi anak kost dan berjalan, cukup mudah bagiku membedakannya, mereka yang menatapku penasaran biasanya hanya yang indigo atau dari bangsa mereka, itu saja yang membuatku yakin mereka itu astral atau indigo. Namun mulai beberapa tahun belakangan ini, aku mulai jarang menjumpai beberapa dari mereka, karena kampugn yang makin ramai dan beberapa tempat tinggal mereka diluluh lantakkan, mereka yang biasa tinggal di pepohonan harus berpindah dan diusir, karena akan didirikan bangunan atau sekadar untuk mempermudah sambungan kabel internet lewat. Namun kawan, apa yang akan aku tuliskan ini terjadi sekitar 20 tahun lalu, awal aku pertama kali berpindah di kampung itu, sebuah pohon mangga besar di depan rumahku.

Saat itu kemampuanku masih belum seutuhnya terbuka, aku hanya sering diganggu dan ditertawakan oleh merek yang astral, aku memang ketakutan, dan merinding ngeri. Heran kenapa aku saat itu diganggu terus, bahkan ke kamar mandipun aku tidak berani, kamar mandi ku bersebelahan dengan gang gelap, dan ada 2 pocong disana biasanya, dan mengerikannya mereka sering mengintip dari jendela kamar mandi yg berada bersebelahan dg gang, mengerikan dan membuatku takut jika ke kamar mandi malam- malam, hanya berani memakai kamar mandi ortuku saat malam hari. Belum lagi saat itu ak usering tidur di dekat ruang TV, dan sialnya aku sering mendengar suara tawa kunti di pohon mangga, yang benar- benar mengerikan, mencekam. Aku yang berusia 4 tahunan saat itu benar- benar ketakutan. Kadang orang tuaku meninggalkanku tidur sendiri di kamar, ayahku kemudian tidur lagi bersama ibuku dan Ilham yg masih berusia 1 tahun kurang. Membuatku kaget ketika guling yang kupeluk malah memeluk balik aku, awalnya aku kira itu ayahku, sampai rasa dingin merasuk ke dalam tulangku, dan aku sadar, bahwa itu adalah sosok makhluk astral disana, si kunti pohon mangga yang sering menggangguku dulu.

"HUWWWWAAAA!!" Jeritku pada malam hari tapi anehnya tidak membangunkan orang tuaku, bahkan sadar aku jika suaraku tidak bisa keluar. Apa ini, apa yang terjadi, bergerak pun tidak bisa ,aku hanya melihat sosok itu di sampingku sambil memelukku "aku suka sama kamu, dan tinggal disini", aku yang ketakutan dan hanay kaku menangis, dan kulihat sesosok hitam menabrak kunti tadi dan mengusirnya dari kamarku, bergelut di halaman belakang rumah, dan si Kunti kembali ke pohon mangga, hingga tidak berani mendekat lagi ke tempatku. Aku baru sadar si hitam saat itu adalah Parunja, yang kini menghuni di lemari kamarku, memang Parunja merasa memiliki tempat itu, dan aku memang harus mau tidak mau berbagi dengannya di kamar itu, walau sebagaian hari Parunja tidak tampak, dan sekarang mungkin sudah jarang disitu, karena berpindah ke lantai 1 rumahku.

Pohon mangga depan rumahku memang menjadi masalah, berbuah memang, tapi kadang memunculkan aura negatif kuat ketika sore menjelang. Bahkan kadang jika kau sedang beruntung, kamu bisa melihat si Kunti berada disana, bersama beberapa makhluk astral lain seperti tuyul, monyet2 kecil dan beberapa makhluk lainnya. Membuat bulu kuduk merinding saja jika melihat mereka. Sang monyet paling senang masuk ke eternit rumah, membuat gaduh, pernah sesekali kami kira itu kucing, tapi ketika di senteri tidak ada apa2, bahkan tidak terlihat wujud apapun disana, membuat aku dan ayahku saling pandang dan terdiam saja, sadar jika itu gangguan makhluk astral, dan harus bilang ke ibu kami "iya itu kucing, besok papa usir", karena ibuku memang takut oleh mereka, apalagi mala mhari harus diceritakan tentang mereka, bisa membuat ibuku marah- marah.

Kami akhirnya sepakat memutuskan menebang pohon mangga di depan rumah, pohon yang banyak penghuninya, sebenarnya sudah ada niatan lama, tapi belum terlaksana, hingga ayahku memanggil tukang tebang, dan berusaha menebang pohon itu.Bukannya menebang, tukang tebang itu mala lari terbirit- birit ketakutan, tanpa ada kejelasan, kami bingung disana, apa yang terjadi, tak usai datang tukang tebang kedua, hal aneh lagi terjadi, bukannya menebang, tukang tebang ini hanya terdiam saja, memandang ke atas pohon, dan menatap orang tuaku, seraya dia berkata "maaf pak, saya tidak berani nebang disini, coba cari yang lain saja, banyak yang nge huni", ayahku yang kaget mendengar hal itu juga bingung, harus melakukan apa, mencoba menebang pohon itu sendiri kami tidak memiliki peralatannya, pernah pinjam kapak milik tetangga untuk memotong pohon tadi, tapi bukannya roboh, pohon tadi sangat amat keras, membuat kapak tadi mala menjadi makin tumpul. Bingung, itu yang kami rasakan, bagaimana cara memotong pohon ini, begitu juga memindahkan mereka disana.

Hingga akhirnya kami bertemu seorang penebang pohon yang biasa menghadapi hal begitu, dia mendatangi rumah kami dan kesan pertamanya adalah "Wah rumahnya ramai ya", membautku merinding, bukannya menenangkan tapi dia malah membuatku bergidik, aku yang mau meninggalkan orang itu ditahannya, "dek, besok kalau uda gede, banyak temennya kok, adik ada bakat buat kenal dekat sama mereka", membuatku bingung dan bertanya- tanya, apakah gerangan maksud orang ini? Namun kini sudha terjawab, jika ternyata dari awal aku indigo, banyak harus aku berteman dengan mereka. Tukang tebang itu kini sudah berdiri di depan pohon mangga kami, dia meempelkan tangan kanannya ke pohon tadi, kemudian memejamkan mata, sekaan sedang merenungi sesuatu, hingga dia melek lagi, menuju ke arah ayahku "Pak mereka minta dipindahkan, saya mungkin akan pindahkan mereka ke pantai selatan, mohon bapak baca doa selama penebangan dan jika ada hal aneh tolong jangan di gubris pak", wah benar- benar terlalu hebat pengalaman hari itu. ayahku membacakan ayat kursi ayat kursi disana, berdoa aku yang belum tahu apa2 hanya bisa melihat saja, melihat si penebang memotong pohon itu, TAK! suara keras hantaman kapak pada batang pohon, mengahncaurkan landasan pohon, dan anehnya keluar cairan berwarna darah dari pohon tadi, tapi tidak digubris oleh tukang potong, sehingga pohon ditebang hingga habis, walaupun terdengar erangan, tangisan, dan ketawa makhluk- makhluk disana. Mengerikan, membuat ayahku tercekak hampir berhenti membaca doa, tapi ayahku tetap melanjutkan saja. Hingga akhirnya pohon selesai ditebang, kulihat si tukang tebang membungkuk seperti menggendong sesuatu.

Aku lihat si tukang tebang terdiam kemudian berjalan ke ayahku, "ini saya gendong mereka pindah dulu saya taruh mobil saya pak", "oh iya, ini bayarannyapak, terima kasih", "ya sama- sama pak, saya pamit dahulu", kemudian si tukang tebang pergi dengan membawa banyak jin dan sisa2 potongan kayu. Aku yang penasaran langsung melihat bekas potongan pohon, yang tadi ada darahnya, tapi kini sudah hilang, aneh memang, tapi ya ini yang memang terjadi, aku tidak tahu harus berkomentar apa, walau semenjak saat itu tempatku terasa nyaman dan tentram, aman dari gangguan mereka yang hidup dalam gelap, sampai tanpa sadar pohon mangga itu tumbuh lagi, kini besar, dan berbuah, dan suara kikik tawa terdengar perlahan disana.
Diubah oleh bakamonotong 22-03-2018 12:08
Suminten.
johny251976
johny251976 dan Suminten. memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.