Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"

Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.

90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.

Quote:


Quote:


selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya

ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong


Welcome to my Second Season of Story


INDEKS :

Quote:



NITIPSSSS :
Quote:

Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
Suminten.Avatar border
anasabilaAvatar border
meqibaAvatar border
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.2K
212
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#79
PART XII - Redanya Amarah Gunung

Hari- hari berlalu, aku yang masih mengungsi di kota, harus terus berusaha tetap tenang, memikirkan segala hal terburuk yang terjadi di atas. Merapi dan amarahnya benar- benar menghancurkan dan menghanguskan tanah kaki gunung, rumah- rumah yang hancur, kendaraan yang tinggal rangka, dan hewan serta manusia-manusia disana benar- benar mati tak bersisa, berwujud sudah gosong dan abu- abu karena debu dan bau hangusnya. Kengerian yang tidak bisa dilupakan oleh warga yang tinggal di kaki gunung Merapi. Ketakutan tidak akan bisa dihapuskan dari mereka hingga beberapa bulan, mereka yang kehilangan sanak saudara, kehilangan seluruh harta nya, mereka yang benar- benar harus memulai kehidupan mereka dari awal lagi.

Kengerian Merapi ini aku rasakan secara langsung ketika itu, saat mengikuti beberapa tim evakuasi pasca bencana, aku dengan truk militer sekali lagi menaiki merapi, tanah nya yang panas mengebul berasap, bahkan melelehkan sepatu sneakers/ sepatu kets dan sandal- sandal karet, memaksa kami menggunakan sepatu safety atau boots dg pelindung, yang membuat kaki keringatan dan panas setengah mati. Aku yang saat itu berada disana membantu memindahkan beberapa barang dan jenazah serta melakukan pencarian, merasa sangat amat kepanasan, dan mau tidak mau, sering meminum persediaan air yang tersedia. Namun bukannya menemukan banyak jenazah yang masih terpendam, aku melihat beberapa residu energi disana, malam mengerikan disana yang terjadi beberapa hari sebelum evakuasi korban hari ini.

Sebuah suara genderang perang terdengar, kulihat seorang makhluk astral membunyikan genderang itu, membuat seluruh isi pasukan kerjaan Merapi tunggang langgang, sosok yang terus membunyikan genderang menandakan bahaya yang datang mendekat. Genderang yang dibunyikan kemudian bersautan dengan sirine dari para anggota TNI yang ditugaskan mengevakuasi warga disana, beberapa warga berlarian menuju truk TNI, beberapa masih kukuh untuk tinggal disana, dan tidak mau pindah. Kondisi Merapi yang kala itu sudah dalam kondisi SIaga, membuat banyak orang menumpuk dalam truk truk yang disediakan, mereka yang kukuh tinggal pun mau tidak mau ditinggalkan dan akan di jemput lagi, tapi ternyata segala sesuatu tidak seindah apa yang diharapkan, erupsi kedua ini meluluhlantakkan semuanya, membuat beberapa mereka yang memilih tinggal terbakar hangus hingga menjadi abu, bau gosong, sangit, dan bau belerang sangat tercium, membuat ku ingin muntah, tapi memang ini yang terjadi, sebuah kengerian amukan Merapi. Teror sang gunung, yang membuat kami ketakutan setengah mati, dan bahkan sang juru kunci Merapi kini telah meninggal, dalam posisi bersujudnya, beliau salah satu prang yang kukuh untuk tetap disana, menjaga Merapi bak anaknya, namun pelindung nya kini sudah tidak bisa lagi menahan awan panas, menghancurkan rumah serta diri beliau, begitu juga dengna reporter disana, yang mencoba bersembunyi di kolong mobil dan di dalam mobil, karena tidak semapt kabur, mereka juga tersambar hangus oleh awan panas gunung Merapi, membuat berita duka makin mendalam. Kengerian Merapi 2010, lebih mengerikan daripada yang pernah aku alami selama ini.

Aku yang berdiri disana menangis membayangkan mereka yang kehilangan anggota keluarganya, merenungi dan mendoakan mereka supaya tenang, walau ketika menjelang sore aku melihat beberapa sosok yang hanguss berdiri disana, menangis, mencari- cari keluarga atau sekadar anggota tubuhnya yang terlepas. Benar- benar mengerikan, tubuh yang semi hancur dan hangus, bau hangus dan belerang dari mereka menjadi satu, mereka yang sadar bahwa ada orang yang bisa melihat mereka, membuat mereka mendekat, "mas, tulung, anakku neng ndi? anakku neng ndi?" (mas tolong, anakku dimana? anakku dimana?), kata sesosok yang mendekatiku, aku pura- pura tak melihat, takut mereka akan banyak yang datang ke aku, takut, dna kasihan, aku juga tidak mau mereka menempel padaku sampai rumah dan harus menolong masalah mereka. Makin banyak yang datang ke arahku, kulihat ada temanku yang Indigo disana mengobrol dengan banyak dari mereka, dan seperti menenangkan mereka, aku tidak bisa seperti dia. Mereka yang makin banya k mengerumuniku membuatku makin tidak bisa cuek, aku mencoba melihat mereka yang berwajah hancur dan hangus, kini aku harus menghadapi masalah mereka satu persatu, "Mohon maaf kalau aku tidak bisa membantu kalian, aku bukan makhluk yang mampu meringankan beban kalian, anak, ibu, istri, atau keluarga kalian yang lain semua sudah ada di barak pengungsian, pemerintah akan mengurus semuanya, saya tidak bisa menunjukkan bukti pada kalian, tapi percaya pada saya, kami disini datang untuk menyelamatkan jasad kalian dan mendoakan supaya kalian tenang", hanya kata- kata ini yang terlontar dariku sembari mencoba mengosongkan pikiran, dan memancarkan sedikit aura dan mendoakan mereka. Beberapa dari mereka mundur, dan memandangku kemudian menunduk seperti berterimakasih, dan kemudian menghilang, tapi ada beberapa yang masih tinggal terdiam berdiri, aku yang melihat celah itu, sesegera mungkin pergi meninggalkan mereka. Sebenarnya Sar saat itu sudah siap menyerang mereka, tapi aku masih menahan- nahan Sar supaya tidak menyerang mereka, sisa2 energi yang hanya butuh doa supaya arwah asli mereka tenang.

====================================================================================

Maaf di stop sampe sini dulu, di lanjut mungkin besok hari, part XIII, part XII pendek untuk menyelesaikan bagian merapi saja, terima kasih
Diubah oleh bakamonotong 22-03-2018 14:29
Suminten.
kemintil98
regmekujo
regmekujo dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.