- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.
90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.
Quote:
Quote:
selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya
ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong
Welcome to my Second Season of Story
INDEKS :
Quote:
NITIPSSSS :
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.2K
212
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#71
Part X - Depart From Manado, Welcome To Jogja
Manado dan segala keunikannya adalah pengalaman baru bagiku, menjelajahi pulau terluar di Indonesia Timur, menjelang hari2 terakhir kami di Manado, kami semua diajak berkeliling antar sekolah yang dititipkan anak pertukaran pelajar dari Jogjakarta. Kami yang berkumpul di sekolah masing- masing kemudian saling janjian bertemu disatu titik, dan akhirnya kami berkumpul di dekat kantor walikota, dan disana sudah disediakan bis seperti trans jogja atau pun trans jakarta, yang menjemput kami dan membawa kami mengitari kota Manado dan mengunjungi sekolah- sekolah disana. ada satu sekolah menjadi tujuan utama untuk pertukaran budaya (lupa SMA yang mana, pokoknya SMA Negri disana), kami disana menampilkan tarian dan nyanyian yang sudah kami latih, bedanya tarian nya hanya diperagakan oleh Duta dan Ratri saja, sedangkan yang menyanyi adalah sisanya, kecuali aku, yang bertugas memotret mereka yang berpadus menghibur tamu. Kota Manado sendiri memberikan pada kami hiburan berupa tarian dari sana, yang diwakili oleh penari- penari yang cantik, membuat kami terhibur, terutama kaum adam disana. Tapi memang, tariannya bagus dan gerakan gemulainya menambah indahnya tarian yang ditampilkan.
Sepanjang hari di hari terakhir kami disana dihabiskan untuk jalan- jalan dan lawatan ke sekolah- sekolah disana, kami senang dapat diberi kesempatan menikmati makanan dipinggir laut lagi, disebuah restoran yang berkelas disana. Hari terakhir kami juga diisi dengan kesempatan kami untuk membeli oleh2 di suatu daerah yang bernama Kawanua, tampat khusus oleh2 Manado, dan murah, membuat kami dapat berhemat dan ternyata tidak semua di Manado mahal, jika kita tahu tempat dan cara menawar kita masih bisa mendapatkan harga dengan barang murah atau standar saja. Saran sih, beli oleh2 di Kawanua, jangan di tempat wisatanya, karena di kawanua memang lebih murah.
Katika sudah mencapai hari kepulangan kami, semua siswa pertukaran di kumpulkan di sekolah masing- masing, Merla, Alfon dan Aku di sekolah berkumpul dan diberikan satu akrdus oleh2 masing- masing dan kenang2an berupa seragam sekolah mereka, mulai dari batik hingga baju olahraga mereka.Serta beberapa buku LKS yang kami gunakan, sungguh aku berterimakasih diberikan oleh2 seperti ini, sehingga aku juga bisa lebih mengingat kenangan disana, walau bajunya saat itu tidak muat kugunakan, tapi ya, aku bersyukur bisa berkenalan dengan orang- orang di Manado. Guru- guru disini sangat baik, bahkan pernah suatu waktu ada acara berupa kerjasama antara sekolah itu dan lembaga Jerman, membuat kami siswa pertukaran pelajar harus duduk di kursi depan dan menjadi "prestasi", yang disampaikan kepala sekolah dengan bicara "We have exchanged students from Yogyakarta, for two weeks here, and we have partnership with Yogyakarta bla bla bla", yah memang suatu prestasi dan kerja sama, kami pun sangat bangga bisa menjadi perwakilan siswa pertukaran pelajar ke Manado. Sebuah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan begitu saja, karena semua biaya dan uang saku kita ditanggung oleh pemerintah kota dan sekolah. (satu hal yang mengecewakan adalah tahun berikutnya dari sekolahku tidak ada yang mengambil pertukaran pelajar ini, ada yang lolos tapi tidak mau memilih ikut, sehingga membuat regenerasi anak pertukaran pelajar perwakilan SMA ku, terhenti pada diriku, sempat membuatku kecewa dan memarahi mereka yang tidak memilih ikut)
Sore hari menjelang, penerbangan kami dari Manado sudah tersedia, kami diantar oleh perwakilan wali masing- masing dan juga oleh perwakilan sekolah kami, berpamitan dan menuju ruang tunggu, sebelumnya sempat kami berfoto dengan teman sekolah di kelas masing- masing, juga berfoto dengan keluarga wali kami disana, dan kemudian kami pulang ke Jogja, menuju bandara dan bersiap terbang menuju Jogjakarta. Penerbangan yang akan terasa panjang, tapi kami memang sudah menanti untuk pulang ke Jogja, seindah2nya pengalaman di Manad, kami tetap merindukan keindahan dan romantisnya kota Jogjakarta, sebuah kota yang tidak bisa ditinggalkan siapapun, jika kamu berhasil meninggalkan Jogja, akan ada rindu menggebu yang membuatmu rindu pada sudut- sudut manisnya, sudut penuh kehangatan, makan angkringan, warmindo (a.k.a Burjo), cafe- cafe kopi, tempat wisata sejarah, plataran Alkid, dan lain2, yang memberikan kesan khas keindahan kota Jogjakarta. Saat itu menjelang memasuki gerbang keberangkatan aku melihat sang Raja berada di Bandara, memberi salam perpisahan padaku, membungkukkan badan, aku balas dengan membungkuk juga kulihat sang Raja kemudian berbicara dari batin kepadaku "Terimakasih sudah mengunjungi kami, semoga perjalananmu kembali ke Jogjakarta menjadi lebih baik, ke 6 Naga yang mengikutimu tetap akan mengikutimu, mereka memilih untuk menjadi temanmu, aku tidak bisa memaksa mereka kembali, tapi suatu saat nanti kamu boleh kembalikan mereka ke aku, kapanpun, semoga mereka menemanimu dengan baik- baik di tempatmu", katanya yang kemudian menghilang, entah ada rasa senang yang kudapat, karena ada 6 Naga yang mengikutiku terus? seperti memiliki monster baru seperti digimon, wah membuatku senang dan bahagia, memiliki teman baru dari dunia mereka. Sebuah kenangan yang tidak bisa kulupakan dari sang Raja, tapi aku masih selalu kepikiran oleh munculnya Narendra, apa yang akan terjadi? tidak ada yang tahu.
Penerbangan transit di Makassar sebentar dan dilanjut ke Jakarta. Penerbangan dari Manado ke Jakarta kami menaiki Garuda Indonesia dengan seri Boeing 737, degnan fasilitas Boeing 737 terbaik, kami bisa menonton film sepanjang penerbangan, dan walau malam tidak bisa melihat keindahan laut, aku masih bisa meluangkan waktu untuk menonton film atau sekedar mendengarkan musik di dalam pesawat saja. Sesekali aku yang duduk di dekat jendela melirik keluar, kulihat Naga Geni kadang terbang disebelahku, bersama Naga- naga yang lain, bahkan kadang Mereka terlihat menukik kebawah menuju lautan dan tiba- tiba kembali naik dengan menggigit jin atau siluman rendahan yang siap mereka makan, wah gila, jin bentuk hewan gimanapun juga tetep aja ya sekali buas ya buas, membuatku sedikit terkekeh sendiri. 2 jam penerbangan aku putuskan untuk tidur saja. Hingga kami sampai di Jakarta, aku dibangunkan dan harus berpindah pesawat disana, untuk menuju Jogjakarta, saat itu sudah menunjukkan pukul 6 petang, kami menunggu pesawat kira- kira hingga setengah 7 malam, dan terbang menuju Jogja. Kali ini pesawat di upgrade, dengan Boeing 747, lebih lega, mewah dan kursinya jauh lebih empuk, dikarenakan masih keluaran baru. Saat itu tempat duduk kami masing- masing terpisah, aku harus duduk dengna seorang kakek2 disitu, yang memandangiku saat sebelum terbang, "Dek, yang ngikutin bisa banyak gitu?", katanya, "OH iya ini sama temen2 sekolah ke Manado 20 orang pak", jawabku.
"bukan dek, maksud saya itu 6 bayangan yang ngikutin kamu", "Eh bapak bisa lihat pak, wah pak, ini cuma titipan, nanti juga mungkin dikembalikan", "hahaha mereka itu bakal setia sama kamu, sudah, tenang saja, saya cuma bisa lihat, tapi gak bisa seperti kamu, semoga saja kamu tetap ingat dengan Allah SWT, islam kan? tetap rajin sholat ya". "Oh iya pak, terima kasih, saya akan ingat selalu", mengakhiri percakapan kami, dan aku memutuskan tiduran hingga sampai Jogja, bapak tadi juga terlihat ketiduran. Perjalanan 1 jam memang cepat, baru terasa tidur ternyata sudah sampai.
Kami keluar dari pesawat, menuju tempat pengambilan bagasi. Kami telah sampai, tapi bagasi kami masih belum, memang lama sih, kami sampai pukul 8 Malam, dan ahrus menunggu kurang lebih 1 jam hingga pukul 9 untuk mengambil bagasi dan berebutan dengan banyak orang. Untungnya kami semua sudah mengambil troli dan bersedia selalu dipinggir rel bagasi dan mengambil bagasi milik kami semua, kemudian pergi menuju ruang tunggu penjemputan, disana adikku dan ayahku sudah sedia menungguku, menyambut dengan komentar "lama amat da", kata ayahku, "iya pa, lama di bagasinya", "yauda, ndang yok pulang, uda disiapin makanan sama Mama", dan kamipun segera pulang, lelah dengan panjangnya perjalanan, sampai di rumah aku memutuskan untuk segera tidur. Pulang ke Jogja, kota enuh kenangan yang tidak bisa kulupakan sekalipun, bahkan hingga saat ini kau menetap disini.
Manado dan segala keunikannya adalah pengalaman baru bagiku, menjelajahi pulau terluar di Indonesia Timur, menjelang hari2 terakhir kami di Manado, kami semua diajak berkeliling antar sekolah yang dititipkan anak pertukaran pelajar dari Jogjakarta. Kami yang berkumpul di sekolah masing- masing kemudian saling janjian bertemu disatu titik, dan akhirnya kami berkumpul di dekat kantor walikota, dan disana sudah disediakan bis seperti trans jogja atau pun trans jakarta, yang menjemput kami dan membawa kami mengitari kota Manado dan mengunjungi sekolah- sekolah disana. ada satu sekolah menjadi tujuan utama untuk pertukaran budaya (lupa SMA yang mana, pokoknya SMA Negri disana), kami disana menampilkan tarian dan nyanyian yang sudah kami latih, bedanya tarian nya hanya diperagakan oleh Duta dan Ratri saja, sedangkan yang menyanyi adalah sisanya, kecuali aku, yang bertugas memotret mereka yang berpadus menghibur tamu. Kota Manado sendiri memberikan pada kami hiburan berupa tarian dari sana, yang diwakili oleh penari- penari yang cantik, membuat kami terhibur, terutama kaum adam disana. Tapi memang, tariannya bagus dan gerakan gemulainya menambah indahnya tarian yang ditampilkan.
Sepanjang hari di hari terakhir kami disana dihabiskan untuk jalan- jalan dan lawatan ke sekolah- sekolah disana, kami senang dapat diberi kesempatan menikmati makanan dipinggir laut lagi, disebuah restoran yang berkelas disana. Hari terakhir kami juga diisi dengan kesempatan kami untuk membeli oleh2 di suatu daerah yang bernama Kawanua, tampat khusus oleh2 Manado, dan murah, membuat kami dapat berhemat dan ternyata tidak semua di Manado mahal, jika kita tahu tempat dan cara menawar kita masih bisa mendapatkan harga dengan barang murah atau standar saja. Saran sih, beli oleh2 di Kawanua, jangan di tempat wisatanya, karena di kawanua memang lebih murah.
Katika sudah mencapai hari kepulangan kami, semua siswa pertukaran di kumpulkan di sekolah masing- masing, Merla, Alfon dan Aku di sekolah berkumpul dan diberikan satu akrdus oleh2 masing- masing dan kenang2an berupa seragam sekolah mereka, mulai dari batik hingga baju olahraga mereka.Serta beberapa buku LKS yang kami gunakan, sungguh aku berterimakasih diberikan oleh2 seperti ini, sehingga aku juga bisa lebih mengingat kenangan disana, walau bajunya saat itu tidak muat kugunakan, tapi ya, aku bersyukur bisa berkenalan dengan orang- orang di Manado. Guru- guru disini sangat baik, bahkan pernah suatu waktu ada acara berupa kerjasama antara sekolah itu dan lembaga Jerman, membuat kami siswa pertukaran pelajar harus duduk di kursi depan dan menjadi "prestasi", yang disampaikan kepala sekolah dengan bicara "We have exchanged students from Yogyakarta, for two weeks here, and we have partnership with Yogyakarta bla bla bla", yah memang suatu prestasi dan kerja sama, kami pun sangat bangga bisa menjadi perwakilan siswa pertukaran pelajar ke Manado. Sebuah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan begitu saja, karena semua biaya dan uang saku kita ditanggung oleh pemerintah kota dan sekolah. (satu hal yang mengecewakan adalah tahun berikutnya dari sekolahku tidak ada yang mengambil pertukaran pelajar ini, ada yang lolos tapi tidak mau memilih ikut, sehingga membuat regenerasi anak pertukaran pelajar perwakilan SMA ku, terhenti pada diriku, sempat membuatku kecewa dan memarahi mereka yang tidak memilih ikut)
Sore hari menjelang, penerbangan kami dari Manado sudah tersedia, kami diantar oleh perwakilan wali masing- masing dan juga oleh perwakilan sekolah kami, berpamitan dan menuju ruang tunggu, sebelumnya sempat kami berfoto dengan teman sekolah di kelas masing- masing, juga berfoto dengan keluarga wali kami disana, dan kemudian kami pulang ke Jogja, menuju bandara dan bersiap terbang menuju Jogjakarta. Penerbangan yang akan terasa panjang, tapi kami memang sudah menanti untuk pulang ke Jogja, seindah2nya pengalaman di Manad, kami tetap merindukan keindahan dan romantisnya kota Jogjakarta, sebuah kota yang tidak bisa ditinggalkan siapapun, jika kamu berhasil meninggalkan Jogja, akan ada rindu menggebu yang membuatmu rindu pada sudut- sudut manisnya, sudut penuh kehangatan, makan angkringan, warmindo (a.k.a Burjo), cafe- cafe kopi, tempat wisata sejarah, plataran Alkid, dan lain2, yang memberikan kesan khas keindahan kota Jogjakarta. Saat itu menjelang memasuki gerbang keberangkatan aku melihat sang Raja berada di Bandara, memberi salam perpisahan padaku, membungkukkan badan, aku balas dengan membungkuk juga kulihat sang Raja kemudian berbicara dari batin kepadaku "Terimakasih sudah mengunjungi kami, semoga perjalananmu kembali ke Jogjakarta menjadi lebih baik, ke 6 Naga yang mengikutimu tetap akan mengikutimu, mereka memilih untuk menjadi temanmu, aku tidak bisa memaksa mereka kembali, tapi suatu saat nanti kamu boleh kembalikan mereka ke aku, kapanpun, semoga mereka menemanimu dengan baik- baik di tempatmu", katanya yang kemudian menghilang, entah ada rasa senang yang kudapat, karena ada 6 Naga yang mengikutiku terus? seperti memiliki monster baru seperti digimon, wah membuatku senang dan bahagia, memiliki teman baru dari dunia mereka. Sebuah kenangan yang tidak bisa kulupakan dari sang Raja, tapi aku masih selalu kepikiran oleh munculnya Narendra, apa yang akan terjadi? tidak ada yang tahu.
Penerbangan transit di Makassar sebentar dan dilanjut ke Jakarta. Penerbangan dari Manado ke Jakarta kami menaiki Garuda Indonesia dengan seri Boeing 737, degnan fasilitas Boeing 737 terbaik, kami bisa menonton film sepanjang penerbangan, dan walau malam tidak bisa melihat keindahan laut, aku masih bisa meluangkan waktu untuk menonton film atau sekedar mendengarkan musik di dalam pesawat saja. Sesekali aku yang duduk di dekat jendela melirik keluar, kulihat Naga Geni kadang terbang disebelahku, bersama Naga- naga yang lain, bahkan kadang Mereka terlihat menukik kebawah menuju lautan dan tiba- tiba kembali naik dengan menggigit jin atau siluman rendahan yang siap mereka makan, wah gila, jin bentuk hewan gimanapun juga tetep aja ya sekali buas ya buas, membuatku sedikit terkekeh sendiri. 2 jam penerbangan aku putuskan untuk tidur saja. Hingga kami sampai di Jakarta, aku dibangunkan dan harus berpindah pesawat disana, untuk menuju Jogjakarta, saat itu sudah menunjukkan pukul 6 petang, kami menunggu pesawat kira- kira hingga setengah 7 malam, dan terbang menuju Jogja. Kali ini pesawat di upgrade, dengan Boeing 747, lebih lega, mewah dan kursinya jauh lebih empuk, dikarenakan masih keluaran baru. Saat itu tempat duduk kami masing- masing terpisah, aku harus duduk dengna seorang kakek2 disitu, yang memandangiku saat sebelum terbang, "Dek, yang ngikutin bisa banyak gitu?", katanya, "OH iya ini sama temen2 sekolah ke Manado 20 orang pak", jawabku.
"bukan dek, maksud saya itu 6 bayangan yang ngikutin kamu", "Eh bapak bisa lihat pak, wah pak, ini cuma titipan, nanti juga mungkin dikembalikan", "hahaha mereka itu bakal setia sama kamu, sudah, tenang saja, saya cuma bisa lihat, tapi gak bisa seperti kamu, semoga saja kamu tetap ingat dengan Allah SWT, islam kan? tetap rajin sholat ya". "Oh iya pak, terima kasih, saya akan ingat selalu", mengakhiri percakapan kami, dan aku memutuskan tiduran hingga sampai Jogja, bapak tadi juga terlihat ketiduran. Perjalanan 1 jam memang cepat, baru terasa tidur ternyata sudah sampai.
Kami keluar dari pesawat, menuju tempat pengambilan bagasi. Kami telah sampai, tapi bagasi kami masih belum, memang lama sih, kami sampai pukul 8 Malam, dan ahrus menunggu kurang lebih 1 jam hingga pukul 9 untuk mengambil bagasi dan berebutan dengan banyak orang. Untungnya kami semua sudah mengambil troli dan bersedia selalu dipinggir rel bagasi dan mengambil bagasi milik kami semua, kemudian pergi menuju ruang tunggu penjemputan, disana adikku dan ayahku sudah sedia menungguku, menyambut dengan komentar "lama amat da", kata ayahku, "iya pa, lama di bagasinya", "yauda, ndang yok pulang, uda disiapin makanan sama Mama", dan kamipun segera pulang, lelah dengan panjangnya perjalanan, sampai di rumah aku memutuskan untuk segera tidur. Pulang ke Jogja, kota enuh kenangan yang tidak bisa kulupakan sekalipun, bahkan hingga saat ini kau menetap disini.
regmekujo dan 5 lainnya memberi reputasi
4