- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#22
Quote:
PART 9
Tangan Medina serasa mau patah akibat ulah Adam. Jika tidak pikir, itu kakaknya sendiri dengan sangat senang hati ia akan mencakar – cakar wajah Adam saat ini. Tapi Medina tahu itu dosa dan terlihat sangat kurang ajar.
Bukan tanpa alasan ia punya pikiran seperti itu, pasalnya ia harus menulis permintaan maaf untuk Ningrum. Dan bukan masalah isi permintaan maaf yang membuatnya terus ingin mencaci setiap menulisnya, melainkan seberapa banyak kalimat menyebalkan itu harus ia tulis.
Mbak Ningrum Aku minta maaf. Mulai sekarang, aku janji akan bersikap sopan.
Kalimat cukup panjang itu dengan sangat terpaksa harus ia tulis hingga 50 halaman bolak balik. Dengan ukuran huruf dan spasi yang persis sama. Adam kejam? Ya mungkin. Tapi itu jelas lebih baik, daripada Medina harus mengucapkan seribu kali permintaan maaf di hadapan Ningrum secara langsung. Bukan karena ia tidak punya nyali, tapi jujur ia masih belum bisa memaafkan perempuan itu. Kata – kata Ningrum terlalu membekas dan menyakitkan bagi Medina.
Oh iya, ngomong – ngomong soal Mbak Ningrum. Perempuan itu memilih pulang daripada menjadi saksi perdebatan dua orang bersaudara ini. Ia juga tak ingin di semprot dengan ocehan Medina lagi, yang jelas sangat membencinya. Dan siapa yang paling merasa bersyukur atas kepergian perempuan itu dari rumahnya? Tentu saja Medina.
“ Kak udahan ya, pegel ini,” keluh Medina dengan wajah memelas, ia mulai menyerah.
“ Suruh siapa kamu, bersikap nggak santun? Udah ngerasa lebih tua? Lebih dewasa dari mbak Ningrum?” Bukannya menuruti kemauan Medina. Adam malah kembali menceramahinya.
“ Aku begitu juga punya alasan kalik kak, “ Medina tak mau kalah.
“ Alasan kemarahan kamu yang nggak ada habis – habisnya. Itu maksud kamu?” tanya Adam kembali dengan sikap tenangnya.
Medina kembali diam, ucapan Adam menamparnya telak. Ia kehabisan kata – kata.
“ Medina...kakak mau mulai sekarang kamu berubah.”
“ Berubah? Emang aku power rangers?” celetuk Medina asal dan setengah hati melanjutkan hukumannya.
Adam mendesah pelan, hampir menyerah menghadapi sifat keras kepala Medina. “ Ya udah. Kalau gitu tulis kalimat itu dengan ukuran persis sama sebanyak 100 halaman.”
Mendengar itu Medina langsung mengangkat wajahnya, menatap Adan dengan tatapan tak percaya. “ Kakak ngancam aku?”
“ Nggak. Cuma ngasih kamu tawaran yang lebih menarik aja,” ucap Adam santai dengan disertai senyuman kecil.
“ Ok...ok...aku bakal berubah. Tapi dengan satu syarat.” Medina tak mau kalah. Ia juga harus bisa mengambil kesempatan menekan kakaknya.
“ Apa?”
“ Kalau ada tawaran beasiswa lagi, kakak harus ambil. Aku nggak mau kakak mundur lagi, gara – gara aku.” Tegas Medina dengan wajah serius.
Adam diam sesaat, Medina tampak harap – harap cemas menanti keputusan Adam. Pikiran kakaknya itu terlalu rumit untuk di tebak.
“ Ok. Kakak terima syarat dari kamu.” Jawab Adam sukses membuat wajah Medina kembali cerah. “ Tapi-“ lanjut Adam lagi sengaja menggantung kalimatnya. Mata sendunya menyorot wajah Medina yang terlihat serius mendengarkan.
“ Tapi apa kak?” tanya Medina tak sabar.
“ Kamu harus terima tawaran mbak Ningrum.”
Seketika wajah cerah Medina meredup, sorot mata tak suka terlihat jelas di sana. Baru juga mau happy, malah di jatohin lagi. Medina kesal. Lagi – lagi Mbak Ningrum.
“ Mau apa nggak? Kalau nggak mau, kakak juga nggak akan terima syarat dari kamu.”
“ Kak Adam kok jadi nyebelin gitu sih?” sungut Medina sambil membuang muka. Tiba – tiba saja ia malas melihat wajah kakaknya.
“ Demi kebaikan kamu.”
“ Demi kebaikan aku, tapi nggak harus berurusan dengan mbak Ningrum jugakan?” protes Medina kian tak terima.
“ Harus. Karena mbak Ningrum punya niat baik buat terbitin tulisan kamu.”
“ Tapi kak-“
“ Sama seperti kamu, kakak juga mau bantu kamu buat raih mimpi kamu sendiri.” Sela Adam sukses membungkam mulut Medina.
Kata – kata Adam sukses mematikan argumen yang ingin ia lontarkan.
Apa lebih baik ia menurut saja? Toh...ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang Adam dan impiannya. Bukankah malam itu ia sudah bertekad untuk mewujudkan cita – cita kakaknya dengan cara apapun?
Tapi...tentang Mbak Ningrum. Jujur Medina masih menaruh rasa sakit hati pada perempuan itu. Tidak baik memang menyimpan dendam, dan Medina tahu betul itu. Tapi...lagi – lagi ego Medina bermain di sana seakan tidak mau kalah dengan niat baik untuk memaafkan Ningrum.
Memaafkan Ningrum saja ia kepayahan, bagaimana mungkin ia bisa bekerja sama dengan wanita itu? Medina terlalu keras kepala.
“ Aku pikir – pikir dulu ya kak,” ucap Medina pada akhirnya.
Adam mengangguk pelan, “ Kalau gitu, kakak juga pikir – pikir dulu.”
“ Kak Adam!!” kesal Medina. Lagi.
Dan Adam hanya menanggapi dengan tersenyum kecil. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala adik semata wayangnya itu.
***
Keesokan harinya layaknya kucing yang baru saja mencuri ikan asin tetangga, Medina berjalan mengendap – ngendap memasuki area kampus. Bukan karena ia takut tertangkap dosen akibat ia telat atau melanggar peraturan. Melainkan ia tak ingin jadi pusat perhatian dengan penampilan barunya hari ini.
Tak ada lagi topi buluk, tak ada lagi jeans sobek dan kemeja kebesarannya. Berkat permintaan Adam dengan di sertai nasehat panjang lebar, dan karena janji yang tercetus tadi malam, jadilah Medina sekarang mau tidak mau. Suka tidak suka mengubah penampilan 180 derajat dari sebelumnya.
Gamis panjang biru tua yang di padukan dengan jilbab lebar menutupi dada berwarna abu – abu, terlihat kontras dan sangat cocok di kenakan Medina saat ini. Saking berbedanya penampilan gadis itu, hampir sebagian penghuni kampus tidak mengenalinya sama sekali. Kecuali...
“ Medina!!!” panggilan Nina yang tengah berjalan ke arahnya, sukses menarik seluruh perhatian anak – anak yang lain. Membuat Medina sangat ingin menjahit mulut Nina saat ini juga. Teriakan Nina, sukses membuatnya jadi hot topic pagi ini.
Itu beneran Medina? Masa’sih?
Mimpi apa si tukang rusuh, jadi alim gitu?
Benaran tu? Akhirnya Medina tobat juga.
Bisikan – bisikan itu terdengar sangat menyebalkan. Jika tidak ingat janjinya kepada Adam untuk bersikap lebih baik, tentu dengan kerelaan hati yang paling dalam, ia akan memberi pelajaran beladiri pada orang – orang itu. Medina akan sangat senang melayangkan tinjunya saat ini juga.
“Gue nggak salah lihatkan? Lo juga nggak lagi ngigaukan?” tanya Nina lagi masih dengan tatapan tak percaya.
Medina memutar kedua bola matanya malas,” Menurut lo?”
“ Ya ampun,lo beda banget. Gue pangling tahu nggak.” Nina berjalan mengitari Medina seperti tengah menyaksikan pameran patung karya seorang maestro.
“ Udah deh, jangan berlebihan kayak gitu. Ini juga gue terpaksa kalik,” dengus Medina masih kesal.
“ Kak Adam lagi?”tanya Nina mengerti situasi.
Medina hanya mengangguk pelan.
Nina tersenyum,” Nggak boleh terpaksa gitu donk. Harus ikhlas, biar nambah pahala.” Ucap Nina dengan semringah. Sementara Medina masih setia dengan wajah sekecut mangga muda.
“Makin kagum gue sama kak Adam. Akhirnya dia berhasil mengubah penampilan lo setelah bertahun – tahun. Bersyukur banget lo punya kak Adam, Na.”
“ Bersyukur sih bersyukur, tapi gue nggak suka tampil kayak gini. Gerah, ribet tahu nggak,”gerutu Medina sambil berniat ingin membuka jilbabnya.
“ Jangan di buka, Na.” Pinta Nando yang entah muncul darimana.
“ Kenapa?! Lo mau ceramahin gue juga?” sinis Medina menahan diri untuk tidak betul – betul melepas jilbabnya.
“ Nggak. Tapi gue setuju sama niat kak Adam buat mengubah penampilan lo. Lo jadi terlihat lebih....”
“ Lebih apa?!” Medina masih saja sinis. Hari masih pagi, cuaca di luar juga mendung. Tapi...kenapa hatinya terasa semakin panas. Seakan tak ada hal lain yang ingin ia lakukan selain marah -marah. Mungkin...Medina sedang PMS.
“ Lebih cantik.” Ucap Nando dengan tersenyum.
Untuk pertama kalinya, seumur hidup Medina. Nando terdengar begitu tulus memujinya. Selama ini yang ia tahu, Nando hanya bisa mengejeknya dengan kata – kata menyebalkan. Apalagi setelah kejadian Medina menolak pernyataan cintanya. Nando seakan ingin menjatuhkan mentalnya dengan ragam tindakan unfaedah. Terakhir...masih segar dalam ingatan, keusilan Nando yang memintanya ke rusun beberapa hari lalu. Itu...menyebalkan.
Tapi...sekarang, laki – laki ini seketika berubah menjadi sosok manis di mata Medina. Apa? Manis? Ya...Allah, Medina nggak lagi kesurupan kan? Lekas Medina tersentak dari lamunannya, ia tak ingin semakin tenggelam dalam sikap manis Nando hari ini.
“ Basi’ lo!!” Medina melengos pergi, ia tak ingin semakin dibuat salah tingkah oleh musuh bebuyutannya itu.
Baik Nina maupun Nando, keduanya tak berniat menahan apalagi menyusul langkah cepat Medina. Keduanya paham betul di situasi seperti ini, biasanya Medina lebih senang menghabiskan waktunya sendiri.
“ Gue seneng deh, ngeliat Medina udah mulai berubah. Dan lebih nurut sama kak Adam.”
“ Lah..lo sendiri kapan berubahnya?” Pertanyaan Nando langsung dihadiahi tatapan tak mengerti dari Nina.
“ Emang gue kenapa? Apa yang harus gue ubah?”
Nina pura – pura bego’ atau apa?
Nando menghela nafas berat,” Lo nggak risih jadi pusat perhatian lelaki kurang belaian di sekitar lo?” tanya Nando tanpa sedikitpun melirik pada Nina. Seakan menyiratkan ia sama sekali tak menyukai penampilan Nina saat ini.
Nina memandangi dirinya sendiri, dan kemudian mengedarkan pandangan kesekeliling. Benar saja, banyak para mahasiswa memandanginya dengan tatapan liar saat ini. Minidress tanpa lengan yang ia kenakan tentu saja memancing perhatian para pria berotak mesum yang mungkin saja berfantasi aneh – aneh tentang dirinya. Nina bergidik ngeri membayangkannya.
“ Tubuh lo...bukan buat konsumsi visual publik, Nin.”
Jleb...kata – kata Nando seakan menampar Nina saat ini. Sakit memang, tapi kenapa justru itu lebih menyenangkan daripada beragam pujian atas kecantikannya yang selama ini ia terima.
Nina tersenyum kecil memandangi Nando yang kini telah berlalu meninggalkannya.
“ Pikiran tu cowok, bisa lurus juga ternyata.”
●●●
JabLai cOY memberi reputasi
2
Kutip
Balas