Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)
Thread ini adalah Thread yang ditujukan untuk mengisi kekosongan beberap jeda waktu dan pengalaman yang tidak diceritakan dalam story season 1- akhir, sehingga disini kalian akan menjumpai pengalaman horror, interdimensional, dan lainnya oleh kreator.

The Main Stories :
SEASON 1 Mereka Yang Hidup Dalam Gelap


Selamat menikmati Side Story disini, tanpa perlu prolog langsung cekidot aja 
mari kita bercengkrama bersama mereka yang hidup dalam gelap

SIDE STORY INDEX :

Side Story 1 (SS - 1)
Side Story 2 (SS - 2) part 1
Side Story 2 (SS - 2) part 2
Side Story 3 (SS - 3 )
Side Story 4 (SS - 4)
Side Story 5 (SS - 5) Part 1
Side Story 5 (SS - 5) Part 2
Side Story 6 (SS - 6)
Side Story 7 (SS - 7) Part 1
Side Story 7 (SS - 7) Part 2
Side Story 8 (SS - 8) Part 1
Side Story 8 (SS - 8) Part 2
Side Story 9 (SS - 9)
Side Story 10 (SS - 10)
Side Story 11(SS - 11)
Side Story 11 (SS - 11) REMAKE
Side Story 12 (SS - 12)

MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)



Quote:
Diubah oleh bakamonotong 06-07-2018 13:04
1
35.2K
102
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#49
SS 8 - Dia Wanita yang Beruntung, (10 Maret 2006 - 23 Maret 2013) Part 2

Januari 2013 adalah hari- hari terberat keluarga kami, adikku sakit- sakitan dan ibuku kesusahan mencari dana. Adikku akhirnya harus di rawat di RS, pertama di bethesda, kami harus merawat adik kami disana, dengan kondisi yang parah, adikku harus menerima injeksi obat, dimana sekali menyuntik saja habis 1,6 juta rupiah, dan membuat keluargaku kelimpungan, bahkan sampai2 harus menjual perhiasan ibuku. Cincin nikahpun ikut digadaikan demi perawatan adikku. Sempat adikku pulang ketika kondisi membaik ,tapi adikku sudah bak mayat hidup, lemas, matanya berkantung dan pucat, kami kehilangan tawanya saat itu, kehilangan sosok yang penuh kasih sayang, cerewet dan canda tawa nya kini mulai menghilang dari keluarga kami, sedikit sekali adikku berbicara, "mas Arda, fauzia mau bubur", membuatku langsung pergi membeli bubur untuk makan berdua dengannya, "ini makan sama mas arda berdua ya, uang mas Arda cuma sisa dikit dek", kataku, adikku tersenyum dan ikut makan denganku, "Fauzia sayang mas Arda" katanya , membutkua mengecup keningnya. Adikku yang cantik, kini dalam kondisi yang paling menyedihkan , kondisi yang membuat kami sekeluarga merasa takut hal terburuk terjadi, kehilangan adikku.

Saat itu ayahku memelihara burung, dan membuat ibuku geram karena dokter mengindikasi adikku terkena virus flu burung, menyalahkan ayahku dan membuat keluarga sedikit mengalami keretakan, hingga ayahku semapt berselingkuh dan membuat ibuku tak habis pikir, saat itu keluarga kami benar- benar kacau, seakan keceriaan mulai menghilang di keluarga kami. Ayahku yang tak terima disalahkan oleh ibuku marah- marah hampir setiap hari, aku yang mulai muak dengan hal itu kemudian mulai memberontak dan membalas teriakan2 orang tuaku, membuatku membangkang, Ilham adikku hanya berdiam saja tidak berani dan menangis tersedu2 ketika kami bertiga ribut di Rumah. Tapi satu hal yang aku sadar, kami begini karena kami cuma takut kehilangan Fauzia.

Februari 2013 kondisi Fauzia makin memburuk, hingga adikku ini harus di rawat di ICU RS Sard**to, dimana membuat kami sekeluarga makin ketakutan akan ditinggalkan oleh anak palin kecil disini. Tak habis doa kami panjatkan tiap hari demi kesembuhan adikku, ibuku menghabiskan waktunya untuk menginap di ICU, membacakan alquran dan menemani adikku, saat itu aku membeli buku 9 Summers 10 Autumns, cerita flashback masa kecil penulis buku dari Malang hingga ke Amerika. Ibuku yang membacakan itu ke adikku hingga menangis, adikku yang jarang sekali sadar membuat ibuku sedih, menangis tanpa henti berdoa demi kesembuhannya. Adikku pernah berkata pada ibuku "Ma, ada yang datang", katanya, padahal saat itu hanya ibuku dan adikku di ruang bangsal (sebelu mdipindah ke ICU), membuat ibuku deg- deg an dan ketakutan, "iya adek, mama tau, uda fauzia istirahat ya", kata ibuku. Fauzia saat itu sempat membutuhkan darah dan karena hanya aku yang memiliki darah yang cocok dengan Adikku, kemudian aku mendonorkan darahku, berharap dengan ini bisa mmbuat adikku sadar dan menjadi lebih baik.

Fauzia wanita yang kuat, penyakitnya adala hsemacam virus yang menggerogoti sistem imun dan organ dalam tubuhnya, membuat adikku sering merasakan pusing minta ampun apda bagian kepalanya. tapi tidak sekalipun adikku merengek, menangis tersendu2 berteriak, tidak sama sekali, adikku hanya menahan, sampai dirinya menggigil karena sakitnya dan adikku sampai meneteskan air mata saking sakitnya, yang membuat kami sekeluarga menangis melihatnya, "Adek gapapa ma, pa, mas, adik kuat kok", katanya, seorang anak umur 6 tahun meyakinkan kami akan dirinya yang tidak apa- apa, padahal mungkin kami tidak kuat menahan rasa sakitnya. Hingga kondisinya memburuk dan dia masuk ke ruang ICU, selama sebulan, hingga dia kembali ke tempat paling indah di sisi-Nya.

10 Maret 2013, Keluarga dari Jakarta datang ke Jogja, untuk menjenguk adikku yang dirawat di ICU, disitu pas saat ulang tahun dari ibuku yang bersamaan dengan Fauzia, 10 Maret, tanggal yang paling kami nantikan. Tapi kini menjadi tanggal yang paling aku ingat dengan rasa sedih yang terjadi saat hari itu. Adikku yang sudha benar- benar hampir tak sadarkan diri dirawat di ICU, dan harus di bantu alat pernafasa ndan jantung buatan, sehingga bisa bertahan hidup dan sedang diupayakan untuk oprasi, saat itu aku dan ilham membelikan kue ulang tahun untuk ibuku dan Fauzia, dengan uang yang diberikan Lek Anton (adik ibuku), kami bertemu di depan ruang ICU, dengna tikar yang digelar, kami menyanyikan lagu ulang tahun, dan saat itu, aku menangis, menangis tak henti, sedih karena Fauzia yang paling senang meniup lilin kini tdiak bisa ikut disini, membuatku menangis saat mem-foto kue dan suasana saat itu. Sebuah kenangan yang tidak pernah sekalipun kami akan lupakan.

22 Maret 2013, Jumat saat itu ibuku menemani adikku di Rumah sakit, saat itu ibuku kaget, adikku terlihat cerah, dan sangat cantik, bersih tidak pucat dan bisa berbeicara, mengobrol, dan satu kata yang terdengar oleh ibuku "makasih ma adik uda di rawat mama, adik sayang mama papa mas arda dan mas ilahm", membuat ibuku menangis dan membacakan alquran dan adikku tertidur lagi, ibuku yang menginap di ruang ICU saat itu kaget ketika tengah malam malah kondisi adikku yang tadi segar menurun drastis hingga dokter harus melakukan perawatan yang lebih intensif lagi. Membuat ibuku dan Ayahku yang disana panik. Aku dan Ilham menjaga rumah saat itu, karena jika kami kesana takutnya rumah kosong. Aku dan Ilham yang saat it utidak tahu apa2 memutuskan tidur dna berangkat ke RS besok paginya.

23 Maret 2013, jam 9 pagi aku menelpon Ibuku, "mama masih disana? aku mau kesana nengok adik Fauzia", kataku, "Adik hari ini pulang kok mas", kata ibuku, "Udah sembuh ma? ", "Fauzia uda ditarik lagi sama Allah mas, nanti mas Arda hubungi pak RT dan minta tolong ya buat bantu pemakaman adik Fauzia", saat itu, aku menangis kencang di telpon , Ilham yang saat itu sedang disekolah aku telepon dan tidak diangkat, membuatku naik motor dan menyusulnya. "Fauzia meninggal dek, uda ayo pulang", kataku, Ilham langsung terlihat lemas dan ikut pulang, saat itu dia tidak menangis , tapi malamnya sebelum pemakaman, dia menangis tanpa henti, merindukan adik kecil kami yang kini berpulang. Malam itu teman2ku dari SMP, SMA, hingga teman Kuliah datang menyambangi dan menenangkanku, aku yang disana hanya memasnag senyum dan tawa palsu mungkin mereka sadari, karena beanr- benar kesedihanku tidak bisa berhenti saat itu. "Wes, da, aku yo wes tau kilangan keluarga, bapakku dewe, ikhlas, kabeh ono wayah e kok, insyaAllah luih apik adikmu neng sisi-Nya"(SUdah da, aku juga sudah pernah kehilangan anggota keluargaku, Ayahku sendiri, ikhlas, semua ada masanya, InsyaAllah adikmu lebih baik sudah di sisi-Nya) kata Odi yang menenangkanku sebelum dia pulang. Membaut ku teringat siang saat adikku diantar pulang ke Rumah, jika orang mati biasanya berbdan kaku, adikku lemas, seperti orang tidur, dan wangi, berbau harum , dan mengalahkan bau harum parfum manapun. membuatku takjub dalam kesedihan.

24 Maret 2013, hari itu keluarga dari Jakarta telah smpai di Jogja, dan siangnya kami harus memakamkan adikku di Makam dekat kampung kami. Aku dan Ilham membawa kernada Adikku, hingga ke mobil pickup dan ikut mobil untuk menuju makam, sembari sesekali berkata, "Fauzia, kaka2mu kangen kamu dek", kata kami, sambil mengelu2 keranda. Kami yang sudah di pemakaman, saat itu segera menaruh adkku di dalam liang kuburnya, menguburkannya dan mendoakannya. Kemudian setelah semua acara di pemakaman selesai, kami pulang dan kemudian beristirahat di rumah setelah para tamu jgua pulang, dan masih dalam segala luapan kesedihan, kami memandang foto fauzia, mengenang , dan berdoa supaya kami dipertemukan si Surga nanti. Hingga hari ini, setiap hari minggu atau sabtu, kami menuju makam adik kami, membersihkan rumput2 dan berdoa. Semoga tenang disana, Kami selalu rindu pada Fauzia.

Dia Wanita yang Beruntung dan DImuliakan, (10 Maret 2006 - 23 Maret 2013)
makgendhis
Suminten.
Suminten. dan makgendhis memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.