Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#4342

Lamaran Pribadi...

Gw terus tertegun didepan pagar sebuah rumah minimalis cukup mewah bersama Anggie yang membonceng dibelakang.. Pandangan gw terus menatap rumah besar bercat warna biru langit itu, dengan lampu-lampunya yang sudah menyala .. Entah mengapa terbersit rasa ragu dalam hati.. Lu pasti bertanya-tanya ngapain gw sama Anggie berhenti didepan sebuah rumah dengan terus menunggangi kuda besi bermerk CB* pemberian gadis itu..

Hari ini, gw berniat melamar Anggie secara langsung di hadapan Papahnya.. Rumah minimalis yang cukup mewah itu merupakan kediaman laki-laki yang pernah menginjak-injak harga diri gw beserta keluarga saat pertunangan.. Anggie sempat bercerita semenjak kejadian itu, keputusan Mamahnya Anggie memang sudah bulat untuk berpisah dengan suaminya.. Terlebih dengan munculnya Darren yang ternyata merupakan anak dari isteri muda suaminya..

Awalnya, Anggie menolak saat gw ajak untuk menemui Papahnya.. Tapi, tetap saja hubungan darah menjadi sangat penting bagi seorang perempuan yang hendak menikah.. Seburuk apapun Papahnya, tetap laki-laki itu lah yang harus menjadi wali nikah Anggie.. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Anggie mau menerima ajakan gw dan mengabarkan ke Papahnya akan kedatangan kami hari ini..

“Beb, masuk yuk.. Papah udah nunggu di dalem” Ajak Anggie yang sudah turun dari motor dan membuka pintu gerbang..

Gw menghela nafas panjang lalu menganggukkan kepala dan mulai menuntun motor memasuki pintu gerbang.. Persis di depan pintu yang sudah terbuka dari dalam, berdiri seorang laki-laki yang sangat gw hafal wajahnya.. Darah gw tiba-tiba berdesir menatap nya yang sedang mengulum senyuman sangat ramah.. Bayangan tentang bagaimana pedihnya harga diri yang terinjak-injak oleh perbuatan laki-laki itu, mulai menggelitik emosi..

Tiba-tiba, Anggie menggenggam jemari tangan kanan gw dan membuat gw menoleh ke arahnya, sekaligus meredam emosi ini.. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala, lalu mengajak gw berjalan bersama secara perlahan.. Selangkah demi selangkah jarak antara kami dan Papahnya Anggie sudah semakin dekat.. Laki-laki itu pun ikut berjalan maju menyongsong kedatangan kami, sambil merentangka kedua tangan siap memeluk anak gadisnya.. Dan, dengan sangat erat ia memeluk Anggie sambil menangis..

“Akhirnya kamu mau datang ke rumah Papah, Nak.. Maafin Papah ya sayang.. Papah udah jahat banget ke kamu dan Imam” Ucap Papahnya Anggie sambil memegangi kedua pipi anak gadisnya yang hanya berdiri mematung..

Gw sengaja menggenggam jemari Anggie lebih keras, sebagai pertanda agar gadis itu memberikan reaksi terhadap kalimat yang barusan diucapkan Papahnya.. Anggie menoleh ke arah gw dan terlihat kedua mata gadis itu ternyata sudah berkaca-kaca..

“Kami boleh masuk?” Tanya Anggie yang terdengar sedikit janggal..

Papahnya Anggie nampak memaksakan sebuah senyum getir tersungging di wajah.. Jelas terlihat raut kesedihan di parasnya setelah mendengar ucapan Anggie..

“Silakan masuk.. Ini rumah kamu juga, sayang” Kata Papah nya Anggie sambil mempersilahkan kami berdua untuk masuk kedalam..

Pandangan Anggie nampak mengelilingi semua penjuru rumah berlantai dua itu.. Perabotannya nampak cukup banyak dan juga berkelas.. Namun, tiba-tiba gadis itu menghentikan edaran matanya saat melihat sebuah foto cukup besar tergantung ditengah ruangan.. Perlahan, ia melepas genggaman tangannya di tangan gw dan berjalan mendekati foto tersebut.. Sebuah foto keluarga yang menampilkan dirinya beserta Mamah dan Papah..

“Papah sengaja mencetak foto ini dan memasangnya di tengah ruangan.. Bukan hanya disini, tapi di kamar Papah juga ada, hanya ukurannya saja yang lebih kecil.. Kalau Papah lagi kangen kamu sama Mamah kamu, tinggal lihat foto itu saja bisa mengurangi kerinduan”

Anggie yang mendengar ucapan Papahnya, segera meninggalkan laki-laki itu dan berjalan kembali ke arah gw sambil menyeka kedua mata.. Kemudian, ia mengajak gw untuk duduk di sebuah sofa besar berwarna coklat yang ada di sebelah kanan kami.. Sementara, gw sempat melihat Papahnya Anggie menghela nafas dalam-dalam sebelum mengikuti kami berdua dan duduk persis di hadapan..

“Ada yang mau diomongin sama Imam” Kata Anggie dengan nada suara datar..

Gw melirik ke arah Anggie yang langsung main to the point saja menyuruh gw ngomong ke Papahnya, tanpa ada kalimat pembuka yang akan membuat gw terasa lebih nyaman.. Nampaknya, kebencian yang dimiliki Anggie jauh lebih besar dibanding apa yang gw rasakan dahulu..

“Ya sudah, ngomong saja, Mam.. Ga usah ragu.. Mungkin ada yang Om bisa bantu”

Mendengar kalimat yang dilisankan barusan oleh Papahnya Anggie, membuat tenggorokan gw langsung terasa tercekik.. Entah kemana perginya nyali gw, yang selepas acaras syukuran tadi sore bersemangat sekali mengajak Anggie untuk menemui Papahnya.. Bukan hanya itu, gw bahkan sempat panjang lebar menasihati Anggie agar mengubur dalam-dalam kebenciannya..

“Anu, Om..” Ucap gw sambil mengencangkan genggaman jari ditangan Anggie..

“Iya, ngomong saja, Mam”

“Mmm.. Saya..” Lagi-lagi kalimat gw terputus tak sempurna karena bingung harus memulai dari mana..

“Om terima lamaran kamu” Kata Papahnya Anggie yang membuat kedua mata gw terbelalak seketika..

Pandangan gw langsung terlempar ke arah Anggie yang juga nampak terkejut mendengar jawaban Papahnya..

“Kamu tahu, Mam.. Dulu, sewaktu mau melamar Mamahnya Anggie, Om sampai lima belas menit berbicara ngelantur didepan orang tuanya.. Saking dikuasai oleh rasa gugup yang bercampur dengan kegelisahan serta ketakutan akan ditolaknya lamaran.. Sampai pada akhirnya, calon ayah mertua mengatakan hal sama seperti yang barusan Om bilang” Ucap Papahnya Anggie seraya melirik ke arah anak gadisnya yang terlihat menundukkan wajah..

“Tapi, Om punya dua syarat buat kamu” Ucapnya lagi yang membuat gw mengerutkan dahi..

Entah mengapa, perasaan gw menjadi tidak enak jika mendengar kata syarat yang biasanya muncul sebelum diluluskannya permintaan seseorang.. Anggie juga terlihat menaikkan wajahnya, menatap laki-laki yang sudah beberapa kali mencoba merintangi hubungan kami..

“Yang pertama, Om mau kamu sayangi Anggie selamanya.. Jangan pernah mengecewakan dia karena harta paling berharga yang Om punya cuma Anggie dan Darren.. Jangan juga meniru apa yang sudah Om lakukan terhadap Mamahnya Anggie”

Gw menganggukkan kepala karena lega mendengar syarat pertama yang dilisankan Papahnya Anggie, yang Inshaa Allah akan sangat mudah gw sanggupi.. Disebelah, gw sempat melirik Anggie yang kembali menundukkan wajahnya..

“Syarat yang kedua khusus buat Anggie”

Wajah Anggie terangkat lagi dan menatap laki-laki hampir berusia paruh baya yang ada dihadapan kami.. Dari raut muka Anggie, jelas terlihat gadis itu sedang menyiapkan diri sendiri untuk mendengarkan syarat yang akan disebutkan Papahnya..

“Papah mau kamu maafin segala kesalahan yang sudah Papah buat ke Mamah dan kamu sendiri, sayang.. Papah juga mau mendengar kamu meminta langsung ke Papah untuk menjadi wali nikah kamu nanti”

Kedua mata Anggie nampak membesar begitu syarat terakhir telah dilisankan oleh Papahnya.. Pandangan gadis itu sempat terlempar ke arah gw seiring genggaman tangannya yang terasa semakin kuat.. Gw mengulum senyuman manis sambil menganggukkan kepala sebagai pertanda bagi gadis itu, agar mau meluluskan permintaan Papahnya..

Perlahan, Anggie menghela nafas panjang masih dengan menggenggam jari gw dalam tangannya.. Lalu, mengangkat wajah lagi dan menatap Papahnya sepenuh hati..

“Aku maafin Papah.. Aku juga memohon Papah dengan ikhlas mau menikahkan aku dengan Imam” Ucap Anggie dengan suara lirih..

Seketika gadis itu melepas genggaman tangannya di jari gw.. Lalu berdiri dan naik ke atas meja besar.. Kemudian memeluk Papahnya dengan sangat erat sambil terisak.. Papahnya pun sama eratnya memeluk Anggie dengan kedua mata telah basah.. Gw sendiri tertegun menyaksikan suasana haru yang ada didepan mata.. Melihat kasih sayang tulus seorang Papah dan anak gadisnya yang sempat terhalangi kebencian cukup dalam.. Beberapa kali Papahnya Anggie mencium kening anak gadis yang paling ia sayang.. Hingga akhirnya, beliau memanggil nama gw dan memeluk juga tubuh ini dengan hangat..

“Papah tahu, kalau kesalahan yang sudah Papah perbuat ke kalian itu seharusnya tidak pantas untuk dimaafkan.. Papah sempat menyerah dan terus mengutuk diri sendiri yang pernah mencoba menghalangi kebahagiaan kalian.. Hari ini, seandainya Tuhan mencabut nyawa, Papah ikhlas.. Karena Papah sudah mendapat apa yang selama ini Papah harapkan” Ucap Papahnya Anggie yang dibalas pelukan oleh anak gadisnya..

“Kamu tahu, sayang.. Papah bahagia, akhirnya kalian akan bersatu juga dipelaminan.. Kamu berhak mendapatkan kasih sayang dan cinta dari laki-laki yang Papah yakin akan sangat pantas buat kamu.. Laki-laki yang akan selalu melindungi kamu.. Laki-laki yang akan menjadi Imam terbaik buat kamu dan calon cucu Papah nanti”

Anggie tersenyum dan kembali menggenggam tangan gw.. Wajahnya yang dibasahi airmata nampak menyunggingkan senyuman penuh kebahagiaan.. Tiba-tiba, Papahnya Anggie melepas pegangan tangannya dari bahu kami berdua.. Lalu berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua..

“Alhamdulillah, restu Papah dan Mamah kamu udah kita dapetin, Yank” Ucap gw sambil menyeka airmata yang membasahi Pipi Anggie..

Gadis itu menganggukkan kepala dan memeluk gw dengan sangat erat sambil menyandarkan wajahnya di dada gw.. Dari atas, suara langkah kaki Papahnya terdengar menuruni anak tangga.. Anggie segera melepas pelukan dan kembali duduk bersama gw.. Dari bawah anak tangga, gw melihat Papahnya Anggie berjalan masih sedikit cepat sambil membawa dua buah map berwarna coklat.. Senyuman kebahagiaan masih terlihat jelas tersimpul diwajah baliau yang nampak sangat bahagia..

Begitu tiba dihadapan kami, Papahnya Anggie langsung duduk dan menyodokan sebuah map ke anak gadisnya..

“Kamu buka dan lihat sendiri apa isi map itu, sayang”

Anggie mengambil map yang disodorkan oleh Papahnya.. Sempat ia melempar pandangan ke arah gw, seolah meminta izin untuk membuka dan melihat apa isi didalam benda berwarna coklat yang ada digenggamannya saat ini..

Gw sendiri melempar pandangan ke arah Papahnya Anggie yang wajahnya masih dihiasi senyuman manis.. Perlahan, Anggie membuka map yang ternyata berisi beberapa bundel kertas dan membacanya satu persatu.. Mendadak, Anggie menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanan.. Kedua mata gadis itu pun membesar seakan telah melihat sesuatu yang membuatnya tak percaya..

“Pah.. Ini?” Tanya Anggie masih dengan wajah menampilkan raut keterkejutan..

Gw yang memang tidak mengetahui lembaran kertas apa yang telah dibaca Anggie dan membuat gadis itu sangat terkejut, mulai diserang rasa penasaran.. Anggie dengan perlahan menyodorkan map coklat itu ke arah gw.. Kedua mata gw juga ikut membesar begitu melihat dan membaca beberapa bundel kertas yang ada dalam map.. Lembaran kertas itu ternyata adalah sertifikat hak milik beberapa bidang tanah dan beberapa rumah, yang semuanya sudah diatas namakan Anggie Angelita Hapsari..

“Itu saja yang bisa Papah berikan sebagai kado pernikahan kalian nanti.. Di map yang ini, adalah warisan Papah untuk Darren.. Papah harap kamu tidak keberatan jika Papah memberikan Darren sedikit lebih banyak dibanding kamu., karena dia adalah anak laki-laki Papah.. Setelah menikah, kamu ga perlu repot-repot cari kontrakan.. Rumah ini juga sudah diatas nama kamu, sayang,, Jadi kalian bisa langsung tinggal disini nantinya”

Sekali lagi, Anggie memeluk Papahnya dengan sangat erat.. Entah mengapa, gw merasa sedikit kurang sreg mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan Papahnya Anggie.. Tapi, melihat Anggie nampak sangat bahagia gw hanya bisa memendam segala perasaan kurang berkenan itu dalam hati.. Namun, tetap saja gelagat ketidak berkenannya gw masih bisa dilihat oleh Papahnya Anggie.. Hingga akhirnya, laki-laki itu pun menanyakan pendapat gw..

“Om lihat, kamu sepertinya tidak begitu suka dengan semua ini, Mam?”

Gw menghela nafas dan melirik Anggie yang nampak bingung, namun segera meletakkan map coklat itu diatas meja dan menggenggam tangan gw kembali.. Pandangan dan genggaman tangan Anggie seolah memberikan gw kekuatan untuk mengungkapkan apa yang gw rasakan dalam hati.. Gw percaya, senyuman yang disimpulkan gadis itu menandakan ia akan selalu mendukung apa yang menjadi keputusan gw..

“Maaf, Om.. Bukan saya menolak apa yang sudah menjadi hak Anggie sebagai ahli waris Om.. Tapi, saya mau memulai kehidupan berumah tangga dengan Anggie nanti dari NOL.. Saya yakin Anggie ga akan keberatan jika setelah menikah nanti, kami akan tinggal di kontrakan.. Setidaknya, saya akan mencoba menghidupi nya dengan hasil jerih payah saya sendiri”

Anggie terasa menguatkan genggaman tangannya di jari gw.. Lalu, menganggukkan kepala sambil tersenyum dan melempar pandangan ke arah Papahnya..

“Sebagai calon isteri, aku akan ikuti semua keputusan Imam nantinya, Pah” Tambah Anggie yang membuat gw tersenyum dan mencium punggung tangannya..

Papahnya Anggie sendiri nampak menghela nafas panjang.. Lalu, mengambil dan menyatukan dua map di atas meja.. Pandangan beliau nampak terlempar menatap gw dan Anggie secara bergantian.. Kemudian menyunggingkan senyuman manis khusus untuk gw..

“Om bangga punya calon menantu kek kamu, Mam.. Kamu sama sekali ga mau terima uluran tangan orang lain selagi kamu merasa mampu untuk menanggungnya sendiri.. Papah semakin yakin, Imam akan menjadi suami sempurna buat kamu, sayang” Kata Papahnya Anggie ke kami berdua..

“Oke.. Semua dokumen ini akan Om simpan., Tapi tetap akan menjadi hak milik Anggie suatu hari nanti, Mam.. Om harap kamu juga mengerti akan hal warisan ini.. Sekarang, Om mau kita makan malam diluar sama-sama, gimana?” Ucap Papahnya Anggie yang disambut dengan senyuman lega gw dan anak gadisnya..

Selepas makan malam di sebuah restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Papahnya Anggie, kami pun berpamitan ke beliau.. Sekali lagi gw dan Anggie memeluk erat laki-laki yang sudah sangat jauh berubah itu..

Sambil terus memeluk erat dari belakang, gw dan Anggie menempuh perjalanan pulang menggunakan motor CB* merah dengan perasaan berbunga-bunga.. Restu Papahnya sekaligus membaiknya hubungan telah kami dapatkan.. Gw yang lega karena Papahnya Anggie menghargai prinsip yang gw pegang teguh terkait harta yang ia akan berikan ke anaknya itu, melajukan motor dengan perasaan lapang..

Hingga saat kami tiba di sebuah jalan yang nampak sepi, bahu kanan gw mendadak menghangat.. Kedua mata segera gw alirkan tenaga dalam untuk menggunakan Ajian Tembus Pandang, dan mulai menatap ke arah depan.. Sikap waspada mulai gw terapkan untuk mengantisipasi apapun yang telah membangkitkan hawa Pedang Jagat Samudera..

“Yank, bangun yank.. Perasaan aku ga enak nih” Kata gw mencoba mengingatkan Anggie yang terus menyandarkan kepala dipunggung..

Anggie mengangkat kepalanya dan melonggarkan lingkaran tangan di pinggang gw..

“Kenapa, Beb.. Koq jalannya pelan begini?” Tanya Anggie sambil menempelkan dagunya di bahu gw..

Belum sedetik gadis itu selesai bertanya, tiba-tiba selarik sinar biru melesat tepat ke arah kami.. Seketika gw mengerem dan sempat membuat kedua ban berdecit.. Anggie yang juga sangat terkejut, ikut menjerit menyusul suara decitan ban motor yang dihentikan paksa.. Mendadak dari arah belakang, Sekar muncul sambil melemparkan satu ujung Selendang Emasnya untuk menghentikan serangan misterius yang muncul..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.