- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#4340
Rencana Yang Matang...
Disepanjang perjalanan pulang ke rumah, gw terus memikirkan sikap gw ke Ayu saat di rumah sakit.. Gadis itu pasti sangat terluka sewaktu gw menghinanya.. Gw juga sempat merasa heran dengan sikap Pak Sugi.. Jujur, gw seringkali berburuk sangka dengannya.. Tapi, melihat dan mendengar curhatannya tadi, semua terasa menampar balik wajah gw..
Tepat pukul setengah dua siang, gw sudah tiba kembali dihalaman rumah.. Ibu yang mendengar suara mobil segera berjalan keluar dan berdiri menatap kosong ke arah pekarangan.. Gw membuka pintu mobil dan mulai keluar lalu berjalan menghampiri beliau..
Belum juga gw melepas sepatu, tiba-tiba Ibu memeluk gw dengan sangat erat sambil menangis.. Gw yang terkejut sempat kebingungan dengan reaksi Ibu..
:”Ibu kenapa, Bu? Kenapa nangis?” Tanya gw dengan nada suara panik sambil menuntun Ibu untuk duduk di atas bangku di depan teras..
Perlahan, Ibu yang sudah berhasil menguasai luapan emosinya, langsung menatap gw dalam-dalam.. Kedua mata beliau yang masih basah, terasa menusuk hati gw saat menatap.. Gw yang merasa cemas, terus menggenggam telapak tangan Ibu..
“Bu, ceritain ke abang.. Kenapa Ibu nangis? Kalo itu perbuatan orang lain, abang bakal buat dia menangis lebih dari Ibu” Pinta gw dengan suara masih terdengar cemas..
Ibu nampak menghela nafasnya dalam-dalam.. Lalu, melempar pandangan menatap kosong ke arah pekarangan..
“Ibu tadi ke rumah Anggie sendirian, Bang.. Ibu berniat meminta maaf dan mencoba membujuk Anggie untuk kembali ke kamu, karena gara-gara Ibu kalian sampai terpisah.. Tapi, apa yang Ibu dapat.. Ibu malah diusir dengan kasar dari rumahnya.. Bahkan, kakak tirinya Anggie sampai mendorong Ibu hingga jatuh.. Kamu lihat nih, lutut Ibu sampai luka terkena aspal di halaman rumahnya”
Seketika emosi gw tersulut mendengar penuturan Ibu..
“Anggie.. Darren.. Gw ga bakal maafin lu berdua..” Ucap gw sambil bangkit dan berjalan cepat menuju mobil untuk berniat langsung pergi ke rumah gadis itu..
Beberapa kali Ibu memanggil nama gw dari belakang.. Tapi gw terus berjalan menuju mobil karena luapan emosi membuat kedua telinga terasa tuli.. Yang ada dibenak gw saat ini adalah ingin segera menemui Anggie dan Darren.. Menanyakan kepada mereka berdua tentang perlakuannya ke Ibu..
“Abang, udah ga usah diterusin.. Ibu udah ga apa-apa koq.. Ibu ikhlas.. Sekarang lebih baik kamu masuk dan makan siang yah” Bujuk Ibu yang sudah menghentikan langkah gw sambil memegangi lengan kiri, persis didepan pintu mobil peninggalan Ayah yang sudah ge buka..
“Ga, Bu.. Abang ga bisa maafin siapapun yang udah bikin Ibu nangis.. Apalagi bikin lutut Ibu luka kek gitu” Jawab gw dengan suara tinggi..
“Ssshhhh.. Udah.. Istighfar, Bang.. Ibu ga suka kalau kamu emosian kek gini”
“Tapi, Bu.. Mereka udah...”
“Bang! Cukup! Kamu mau denger omongan Ibu ga?” Kata Ibu yang memotong kalimat gw dengan bentakan dan tatapan mata tajam..
Seketika nyali gw lumer, Bree.. Paling ga kuat gw, kalo dibentak Ibu plus dipelototin.. Sambil menghela nafas, gw terpaksa menuruti permintaan Ibu setelah menutup pintu mobil dengan cara membantingnya cukup keras.. Ibu masih sempat melotot saat mendengar suara bantingan pintu mobil dan gw hanya bisa memberi beliau senyuman kecut, sambil mengikuti langkahnya yang terus menggandeng lengan..
“Kamu langsung ganti baju aja di kamar, Bang.. Habis itu ke dapur.. Makanan udah Ibu siapin di atas meja makan.. Ibu mau angkat jemuran dulu, langitnya udah mendung tuh” Kata Ibu, yang membuat gw mengerutkan dahi karena heran melihat reaksi beliau seperti tidak pernah terjadi apa-apa..
Dengan benak kembali dipenuhi bayangan akan perlakuan kejam Anggie dan Darren dari pengakuan ibu tadi, gw berjalan memasuki ruang tengah menuju kamar.. Didepan pintu kamar yang sedikit terbuka, gw menghela nafas sambil membukanya.. Tanpa menutup pintu lagi, gw berjalan ke arah jendela sambil mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya..
Diatas meja belajar, gw duduk menatap kosong keluar jendela dengan mulut dipenuhi asap putih.. Benak gw mulai di penuhi banyak pertanyaan tentang Anggie.. Bagaimana dia bisa sekejam itu ke Ibu? Padahal Ibu hanya ingin menyatukan kami berdua.. Asli, gw sampai sempat mengurut kening sendiri karena pusing memikirkan hal itu..
“Enaknya yang udah dibebasin ngerokok di rumah sama Ibu” Ucap seorang gadis dari arah pintu, yang membuat gw menoleh..
Kedua mata gw langsung terbelalak saat melihat sosok cantik yang berdiri di balik pintu sedang melipat kedua tangannya di dada..
“Yank..” Ucap gw tertahan, dengan senyuman sumringah yang terkembang saat melihat sosok Anggie..
Anggie sendiri menyunggingkan senyuman sangat manis ke arah gw yang sedang tertegun tak percaya melihat kedatangannya.. Namun, tak berselang lama tatapan kedua mata gw berubah tajam saat teringat perbuatan gadis itu bersama Darren terhadap Ibu..
“Kamu lakuin apa ke Ibu?” Tanya gw dengan nada tinggi yang malah dibalas senyuman Anggie..
“Denger! Secinta-cinta nya aku ke kamu, tetep aku ga bisa terima kalo kamu kasarin Ibu” Ucap gw sambil menunjuk muka Anggie, lalu berjalan keluar kamar meninggalkan gadis itu..
Tiba-tiba, Anggie menarik lengan ini sehingga membuat gw terpaksa membalikkan badan menghadapnya..
“Kamu jangan marahin Anggie, Bang” Kata Ibu yang mendadak muncul dari balik pintu kamar gw..
“Kenapa enggak, Bu? Abang ga bisa terima kalo dia kasar ke Ibu” Jawab gw sambil menarik lengan dari pegangan tangan Anggie..
Aneh! Ibu malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban gw barusan.. Kedua alis gw pun tertekuk karena merasa heran begitu memandang Anggie yang juga sedang tertawa kecil.. Perasaan gw mulai diliputi kebingungan melihat reaksi dua orang wanita yang sama-sama gw cintai nampak mencurigakan..
“Jangan bilang yang Ibu omongin tadi cuma sandiwara, Bu?” Tanya gw yang malah membuat Ibu tertawa semakin kencang..
Gw menoleh ke arah Anggie lagi dan menaikkan wajah, meminta gadis itu memberi penjelasan tentang tingkah aneh mereka berdua..
“Aku yang minta Ibu buat pura-pura dikasarin sama Aku dan Darren, Beb” Kata Anggie sambil tersenyum melirik ke arah Ibu yang sesekali masih tertawa..
Kening gw berkerut mendengar penjelasan Anggie, lalu menoleh kembali ke arah Ibu.. Tapi, bukannya membantu Anggie menjelaskan semuanya, Ibu malah ngeloyor pergi ke arah dapur dan meninggalkan kami berdua..
“Kita ke teras aja yah.. Nanti aku jelasin semua disana, Beb” Ajak Anggie seraya menarik lengan gw untuk berjalan ke arah yang ia sebutkan..
Gw menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal, karena masih tidak begitu mengerti akan arah pembicaraan Anggie.. Masih dengan menggandeng lengan gw, kami terus berjalan beriringan menuju teras.. Lalu duduk bersebelahan diatas bangku yang ada disana..
“Jadi, tadi pagi jam sebelasan Ibu sampai dirumah aku naik Ojek Online.. Aku sempat kaget liat kedatangan Ibu yang tiba-tiba.. Ibu jelasin semua ke aku terus minta aku maafin kamu dan Ibu.. Dari situ, aku sadar kalo semua yang kamu lakuin bener-bener buat bela Ibu.. Meski kamu juga rasain sakit yang sama kek aku.. Apalagi pas aku liat Ibu nangis, Beb.. Aku sampe ga bisa bilang apa-apa dan ikut nangis juga.. Akhirnya, aku mau maafin kamu dengan satu syarat.. Ibu harus pura-pura udah dikasarin sama aku dan Darren”
Gw tertegun mendengar penjelasan Anggie yang selalu diselingi senyuman manisnya.. Kedua mata gw sempat beberapa kali membesar karena terkejut dengan pengakuan Anggie..
“Terus, luka lecet di lutut Ibu karena apa, Yank?” Tanya gw dengan wajah masih menyiratkan sedikit rasa kebingungan..
“Itu karena Ibu sempet kepeleset pas jemur pakaian tadi, Bang” Jawab Ibu yang tiba-tiba datang dari dalam rumah sambil membawa dua jus melon..
“Yaelaah! Ibu tega banget sih ngerjain abang?”
Ibu tertawa melihat gw yang melipat wajah pertanda hati ini sedikit merasa sebal karena telah menjadi korban kejahilan dua orang wanita cantik yang sama-sama sudah duduk di sebelah.. Gw sendiri langsung mengambil segelas jus melon buatan Ibu yang ada diatas meja.. Lalu meneguknya sampai habis..
“Nah, mumpung kamu berdua sekarang sudah kembali bersatu lagi.. Ibu mau kasih kabar kalau minggu depan, Ibu akan melamar Anggie”
Gw dan Anggie sama-sama melotot mendengar kalimat yang barusan dilisankan oleh Ibu.. Anggie sendiri sampai menutup mulut dengan dua telapak tangan karena saking terkejutnya.. Beberapa kali, pandangan kami bertemu satu sama lain hanya untuk memastikan apakah yang kami dengar tadi itu nyata..
“Ibu serius?” Tanya gw yang dibalas senyuman Beliau..
“Serius, Bang.. Ibu mau kamu segera menikahi Anggie karena Ibu ga sabar pengen punya cucu dari kalian berdua.. Kamu setuju kan, Anggie?” Jawab Ibu yang kemudian disusul pertanyaannya untuk Anggie..
Gadis cantik berambut panjang sepunggung itu nampak tersenyum lalu melempar pandangan ke arah gw.. Dari rona merah yang membuat wajah nya semakin cantik, dapat dipastikan jika Anggie menyetujui hal itu.. Meski tidak ada satupun kalimat yang keluar dari lisannya..
“Diamnya seorang anak gadis saat dilamar, itu pertanda bahwa ia menerima lamaran.. Kek Ibu dahulu sewaktu di lamar Ayah nya Imam, cuma bisa diam tapi pas masuk kamar langsung teriak-teriak kegirangan” Kata Ibu yang sengaja menggoda calon menantunya..
Gw tersenyum bahagia melihat Anggie kembali tersipu malu digoda oleh Ibu.. Yaa Rabb, semoga benar gadis itu adalah bagian dari tulang rusukku..
“Ya sudah, Ibu mau ke rumah bu RT dulu.. Nanti sore, ba’da Ashar Ibu mau bikin pengajian sekaligus syukuran atas kelulusan kamu jadi CPNS, Bang.. Kamu sama Anggie tolong ambil nasi box yang sudah Ibu pesen di rumah Bu Yanti yah.. Uangnya ambil aja di ATM Ibu” Ucap Ibu sambil menyodorkan kartu ATM serta selembar nota..
Gw menganggukkan kepala dan menerima dua benda yang disodorkan Ibu.. Setelah itu, beliau meninggalkan kami berdua yang sama-sama terdiam.. Gw sempat melempar pandangan ke arah Anggie yang terlihat sedang menyibak rambut panjangnya ke samping.. Sumpah! Cantik banget cewe gw..
“Kamu kenapa sih, Beb? Ngeliatin aku nya kek gitu banget.. Aku bukan pisang tau”
Gw tertawa mendengar candaan Anggie, lalu bangkit dan menarik tangan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu luar..
“Kamu mo ngapain hayoo? Pake nutup pintu segala” Tanya Anggie dengan kedua mata menatap menyelidik..
Tak mau menjawab, gw malah mendorong tubuh Anggie hingga merapat ke dinding ruang tengah.. Tatapan mata gw terus memandangi wajah gadis itu.. Menikmati sebuah keindahan yang sempurna ciptaan Tuhan.. Perlahan, gw membelai lembut pipi Anggie dan mencium bibirnya yang terasa manis untuk waktu yang cukup lama.. Lalu kembali menatap wajah gadis itu dengan kening yang tertempel pada dahinya.. Hidung kami yang sama-sama bangir ikut bersentuhan di kedua ujungnya..
“I Love You with all my heart.. I’m so sorry for all stupid mistakes I’ve done to you” Ucap gw lirih dengan sepenuh hati..
Anggie tersenyum manis.. Kemudian mencium ujung hidung gw dengan kedua kaki berjinjit.. Telapak tangan nya yang halus menyentuh pipi kanan gw dengan kedua mata mulai berkaca-kaca..
“Aku juga sayang banget sama kamu, Beb.. Maafin aku yah, yang sempet ga ngertiin pengorbanan kamu buat Ibu” Kata Anggie dengan dua airmata jatuh menetes di pipinya yang mulus..
Gw menyeka dua air bening itu karena tak mau ada sesuatu pun yang merusak kecantikan Anggie.. Gw tidak mau ada satu hal yang mengganggu kenikmatan memandangi keindahan di depan mata ini..
“Aku harap kamu menangis bukan karena sedih tapi bahagia, Yank.. Aku janji ga akan melepas kamu lagi selama jantung ini masih berdetak”
Anggie menganggukkan kepalanya lalu mencium bibir gw dengan sangat lembut.. Sungguh, gw berharap waktu bisa berhenti berjalan dan membiarkan kami berdua menikmati masa yang sudah lama sekali tidak kami rasakan.. Membiarkan kami merasakan cinta yang sama-sama tulus dari relung hati paling dalam.. Tapi sayang, harapan gw pupus seketika saat mendengar suara cempreng memberi salam dari luar rumah..
Dengan cepat, Anggie melepaskan bibirnya dari bibir gw dan berjalan ke arah sofa.. Gw sendiri mengepalkan tangan karena merasa sebal akan datangnya gangguan dari luar.. Sambil mengedipkan mata yang dibalas oleh senyuman Anggie, gw berjalan ke arah pintu dan membukanya.. Seketika gw menghela nafas begitu melihat seorang anak gadis yang mulai beranjak remaja sedang berdiri dengan wajah lelah.. Tanpa menunggu waktu, gadis berseragam putih biru itu langsung menyeruak masuk ke dalam rumah sambil menangis, dengan tas sekolah yang ia gunakan untuk menutupi bokong.. Lalu membanting pintu kamar nya sangat keras..
Gw sempat menoleh ke arah Anggie yang sama-sama bingung melihat tingkah Ayu.. Sambil mengajak Anggie, kami berdua berjalan cepat menuju kamar Ayu..
“De, kamu kenapa nangis? Ada yang jahilin kamu yah di sekolah? Bilang ke abang siapa nama tuh anak? Biar ntar abang paranin ke rumahnya” Tanya gw sambil mengetuk pintu kamar Ayu sedikit keras..
“Iih, kamu jangan nanya gitu, Beb.. Udah sana kamu ke teras aja.. Biar aku yang nyoba nanya ke Ade” Kata Anggie seraya mendorong tubuh gw agar segera memberinya kesempatan untuk berbicara ke Ayu..
Gw menggaruk-garuk kepala lalu menuruti Anggie berjalan ke teras.. Disana, gw segera mengeluarkan rokok dan menghisap benda itu sedikit cepat.. Meskipun ada kesempatan saat sang polwan lagi nenangin Ayu dikamarnya, tapi tetap gw tidak boleh lengah.. Sekitar lima belas menit, Anggie berada didalam kamar Ayu.. Dan ditangan gw sudah terselip rokok ketiga yang sudah terbakar setengahnya.. Saat mendengar suara langkah kaki dari dalam, secepat kilat gw melemparkan rokok sejauh mungkin ke samping.. Berusaha melenyapkan barang bukti sebelum diketahui sang Polwan..
“Ade kenapa, Yank? Beneran ada yang jahilin yah disekolah?” Tanya gw dengan dua pertanyaan sekaligus..
Anggie tersenyum.. Kemudian mengambil Jus melon yang dibuatkan Ibu untuknya.. Lalu meneguk minuman itu sedikit..
“Yank, Ayu kenapa? Ceritain donk ke ak.. Penasaran nih”
“Ga apa-apa, Beb.. Ga ada yang jahilin dia koq” Jawab Anggie..
“Lah, kalo ga ada apa-apa, kenapa dia pulang-pulang mewek terus main banting pintu kamar segala?” Tanya gw sedikit tidak mengerti akan tingkah aneh adik gw tadi..
“It’s only a girl’s matter, Beb”
Lagi-lagi kening gw berkerut mendapat jawaban yang semakin membingungkan dari Anggie.. Pandangan gw yang menyiratkan rasa penasaran membuat Anggie tertawa geli.. Dan hal itu membuat tanda tanya dalam benak gw semakin membesar..
“Ayu baru dapet, Beb”
“Dapet apaan?” Tanya gw yang tidak faham kemana arah pembicaraan Anggie..
“Ade udah jadi perempuan seutuhnya.. Dia mens”
Kedua mata gw terbelalak menerima jawaban Anggie.. Entah apakah gw harus senang atau cemas mengetahui adik kecil gw yang terkadang sering menyebalkan namun sangat gw sayangi itu, benar-benar sudah beranjak remaja..
“Aku tadi udah jelasin ke Ayu soal menstruasi.. Aku juga dulu ketakutan pas pertama kali dapet.. Sama kek Ayu.. Nah, pas Ayu udah tenang.. Baru aku tunjukin gimana caranya menghadapi menstruasi.. Aku juga sempat ambil pembalut dari dalam tas aku yang ada dikamar kamu.. Aku ajarain Ayu cara pasang nya kek gimana”
Gw bergidik membayangkan penjelasan Anggie barusan dan memintanya segera berhenti bicara soal itu.. Kemudian mengajak Anggie dan Ayu untuk ikut mengambil pesanan nasi box buat acara syukuran nanti sore.. Ayu menolak dengan alasan hanya ingin di rumah saja, lagipula katanya sebentar lagi Ibu juga akan segera pulang.. Gw sih senang Ayu tidak mau ikut.. Otomatis, gw jadi bisa berdua saja dengan Anggie.. Hehehe..
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14