Kaskus

Story

masukcomberaAvatar border
TS
masukcombera
Diary Seorang Penjahat Kelamin
Diary Seorang Penjahat Kelamin

Kenalan dulu.

Quote:

Lanjut disitu adalah kenangan saat saya sedang making lovedengan seorang wanita yang janjinya nggak bakal making love sebelum dia menikmati malam pertama dengan suami barunya, tapi kalau sudah soal kebutuhan seksual, siapa sihh yang bisa janji. Tepat sekali, siapa lagi kalau bukan Seira, partner in sex terbaik yang saya temukan di balik kelas dua keen saat masih berada di SMA. Dialah.., si seksi Seira Subrata, TTM saya yang paling juara.

Quote:


Note: Anggap aja ini kisah fiksi... biar nggak ribet mikirnya he-he-heemoticon-Angkat Beer

• $ • $ • $ •





INDEX
Kalo mampir kesini, sering² cek indeks aja kalo mau liat update...

Spoiler for Index:




Side Story

Spoiler for Side Story:



Kalau suka, SUBSCRIBE. SHARE. Cendol dan RATE 5 nya jangan lupa gansist...
Diubah oleh masukcombera 03-08-2021 17:58
samsung66Avatar border
MenthogAvatar border
c4punk1950...Avatar border
c4punk1950... dan 8 lainnya memberi reputasi
9
85.2K
395
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
masukcomberaAvatar border
TS
masukcombera
#45
Diary 3 — Kamu siap?
Quote:


• $ • $ • $ •

Nggak lama setelah itu...
Saya pun langsung membuka kedua sarung tangan kulit yang saya kenakan lalu melemparnya ke sembarang tempat, berjalan agak cepat ke arah Laressa, sambil agak melindungi mata ini dengan tangan kanan saya dari silaunya cahaya² lampu di pagar belakang rumah kami.

Pasalnya lampu sorot di halaman belakang ini dia hidupkan semua. Essa memang keterlaluan...

Seiring saya berjalan kearahnya, hanya satu pasang mata saja yang kerap memperhatikan derap langkah ini, and that's my nephew—yang dalam diamnya, dia tersenyum menyeringai, seakan - akan dia sudah tahu reaksi apa yang akan saya munculkan kepada Laressa di tengah malam ini.

Apakah saya akan menamparnya? Kita liat aja nanti...

Saat sudah berada didekat Laressa, diantara gaduhnya dentuman musik yang masih mengalun keras ini, saya mendekat ke telinganya, lalu berbisik, "Essa..., this isn't outdoor party in Jakarta. Nggak ada norma sosial yang menyuruh kamu pesta jam segini, hari begini, (waktu itu weekday, seingat saya) jam segini..."
"Apalagi kalau belum izin mau ngadain pesta dulu..., malu, ah, nggak enak sama tetangga," ucap saya lembut, mencoba menjelaskan kepadanya tentang karakteristik bertetangga di perumahan yang rasanya sangat tertutup ini.

And yeah, saya baru ingat, aturan nomor satu bagi para penjahat kelamin sejati—seperti saya ini, salah satunya adalah jangan-pernah-menampar-wanita.

Kenapa? well, karena, biarkan saja mereka yang menampar kami... Hahahahahaha.
....

"But honey...." keluh Essa panjang, rasanya dia kecewa sama saya, dan melihat responnya yang murung seperti itu, saya jadi nggak tega untuk membubarkan pestanya ini. Maka cepat² lah saya mengatakan sesuatu sama dia.

"Nanti kita fine dining, deh. Just, just turn it low this time, ada ponakanku juga tuh dari keluarga oma Tien. Malu, nggak enak sama dia, niatnya kan mau bertamu, bukan sebaliknya." jelas saya sambil mengarahkan jari telunjuk ini ke arah keponakan saya yang sejak tadi sudah duduk di ujung sana.

"Ah.., okay kalogitu, siap, laksanakan." jawabnya cepat dan sigap.

This girl, this girl is the climax in my sweet, sexy life....,dan saya ada penjelasan yang konkrit di balik statement seperti itu, because i swear. Secuil pun, saya nggak pernah nyesel karena telah memilih Essa, ya gimana enggak? dia cerdas setengah mati!
....

"And really, honey? fine dining?" ucapnya lagi, sebelum dia ingin beranjak, agak kurang yakin dari nada berbicaranya itu.

"Ya, real, otherwise kamu bakal makan di warung pecel lele bareng sama diriku," desis saya sambil menggigit empuk daun telinganya. Whew, saya hampir nggak sadar kalau kami sedang intim di tengah² keramaian ini.

"Aw! Hahah, okay... no problem, boss," jawabnya ngawur—dan nggak pernah berubah, masih sama seperti Laressa yang sudah saya kenal sejak belasan tahun yang lalu.

"Alright, then, pelankan musiknya sekarang," perintah saya lagi, lalu menjauhkan bibir saya dari daun telinga nya.

"Awkay, honey, mmmelove you. Anyway, welcome back homee," kemudian dia—dengan kostum bikini nya— mengecup bibir saya lembut, sepintas saja—lalu berbalik arah dan mulai berbicara kepada teman - temannya.

"Gurls, gurls, (tangannya melambai - lambai kayak aktivis yang lagi asyik berdemo didepan istana negara) change of rule, malam ini, turn it low yaa... coba deh Rin, lo setel Erykah Badu aja,"

"Kenapa, Sa?" tanya salah seorang sobat perempuannya itu.

"Nih, ada swami guwww— tunjuk Laressa ke arah bahu saya—tiba tiba,

"Maddieeee!" jerit salah seorang teman Essa yang lainnya, memotong ucapan dia—dan kini saya menjadi pusat perhatian.

"wee.... yah, begitu deh... Kalo udah liat Maddie, pasti langsung jerit² gakjelas," protes Laressa jutek kepada salah seorang teman baiknya, yang dibalas dengan kata, "Biarin!" protes temannya itu lagi, yang ternyata sejak tadi kelihatannya sudah duduk tepat di sebelah keponakan saya.

Namun kini dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri saya dalam pacu langkahnya. Whoo, another pair of boobs is coming!
....

"Diy... si Essa dapet darimana sih itu brondong?" bisiknya pelan kepada saya, sambil mencuri momen saat ia menoleh kearah keponakan saya.

"Hai Sha, dapet darimana—gimana maksud lu?" ucap saya kembali bertanya kepada dirinya.

"Iyaa, itu siapa sih, cowok itu?" tanya Natasha lagi kepada saya, rupanya dia bener² penasaran.

"Ponakan gw, Sha," jawab saya singkat—kemudian saya menangkap bahwa musik sudah mulai berganti... karena suasana disini menjadi lebih kalem... on & on dari Erykah pun mengalun begitu lembut di pekarangan ini...

"Omaygad...," desahnya dalamm dan panjang.

"Kenapa, emang?" tanya saya seraya mencuatkan alis.

"Gila Diy, diatuh seductive banget taugasih lo...," jawabnya sambil menghembuskan nafasnya.

"Uh huh... terus?" tanggap saya lagi, memancing jawaban darinya.

"Lo, lo kasih gue kontaknya deh, daritadi dia gamau kasih nomer dia soalnyaa, nanggung banget lagian, kita uda ngobrol banyak banget barusan," terangnya berdiplomasi kepada saya—hahah, rupanya ada udang dibalik batuemoticon-Big Grin

"O... hahahah," tawa saya agak sedikit lepas ketika mendengarkan penjelasan dari dia.
"Nggak ah, ntar ponakan gw elu apa²in lagi." ucap saya lagi sambil melirik dan tersenyum kecil ke arah istri saya. Essa nampaknya jadi ikut penasaran dengan obrolan yang berlangsung diantara kami berdua.

"Diy, ah, ga asyik lo... please ya, ya? puh-lease..." desah Natasha yang kini lebih mencodongkan tubuhnya lagi kearah saya sambil memohon mohon. Pentil anu nya keliatan.

"Iya - iya... gampang," sahut saya santai, akhirnya menyanggupi permintaan dia.

"Boom, thanks Meddiy!" jeritnya kesenangan, dan diapun berlalu meninggalkan saya, kemudian bergabung dengan Essa dan teman yang lainnya di konter barbekyu itu.

• $ • $ • $ •

Tanpa berlama lama, saya pun langsung menghampiri keponakan saya yang sejak tadi sudah terduduk diatas sebuah sofa berwarna coklat di pinggir kolam renang yang nampak menyala - nyala ini.

"Hi Maddie, apa khabar..," sapa teman Laressa (lagiii!) yang lainnya dari tepian kolam renang, dia menendang nendang kakinya, membuat ombak kecil di permukaan kolam renang ini.

Sambil berjalan saya menoleh kearah dia untuk menjawab sekenanya saja, "Kabar saya baik, Fila... saya permisi lanjut, ya?"

"Oh, oke, oke, silakannn." sahutnya mempersilakan saya untuk kembali melangkah ke arah keponakan saya.

Sebelum saya memutuskan untuk duduk, saya memanggil istri saya, "Essaa, tolong lampu sorotnya..," pinta saya ramah. Lalu dia segera mematikan lampunya, dan berlari kecil kedalam rumah, entah mau ngapain...

Dan kini, suasana di halaman belakang rumah saya ini, menjadi lebih ideal... agak redup dan terasa santai—dan soal temannya Essa yang sedang asik bakar - bakar sendiri di kotak api unggun itu, biarin ajalah..., hitung² menghangatkan dinginnya suhu di malam hari ini.

• $ • $ • $ •

Dan akhirnya, "Hey, Arang... gimana kabarmu?" ucap saya seraya kompak bertinju bogem dengannya, lalu menghempaskan diri diatas sofa yang terasa empuk ini.
....

"I'm doin' good, ang. How 'bout you?" ucapnya datar dan dingin,—dia memanggil saya dengan panggilan 'Ang' karena usia saya yang terpaut lebih jauh darinya. (Ketawan banget ya kalo saya ini udah tua?) Aang atau Ang itu adalah panggilan dalam bahasa Sunda, yang artinya adalah kakak.

"Kabar saya baik Rang.... and you, just like old times, huh? still speaks in English?"jawab saya santai, sambil membenarkan posisi bersandar pinggang berkarat milik saya ini.

"Glad to hear that you're doing fine, ahaha, yea... bahasa Indonesiaku buruk, ang."

"Ah nggak papa lah... nyantai aja Rang.., nggak lagi ujian Bahasa Indonesia ini, khan?"

"Hahaha, iya, iya..." jawabnya penuh maklum.
Ada kepuasan tersendiri disaat saya bisa membuat orang yang berkarakteristik dingin seperti Arang, jadi tersenyum hangat dan ramah seperti yang dia lakukan di beberapa detik barusan itu.
....

"Tadi naik apa kesini?" tanya saya cepat, mencoba melebarkan percakapan yang baru dimulai diantara kami berdua.

"Taxi, ang." jelasnya lugas dan singkat, masih seperti biasanya.

"Ohh... ga dianter pake mobil sama ayahmu?" tanya saya lagi.

"Ang Maddie lupa ya? My dad doesn't like it when i'm hanging out with you.." terangnya sambil agak tertawa.

"Oh iya... saya lupa, your dad kan memang nggak suka sama saya... ha-ha-ha-ha."

"Hahaha yeah, that's pretty obvious i guess,"

Tentang mengapa bokapnya Arang yang tidak menyukai saya, saya jelaskan nanti saja ya....
....

Kemudian saya melanjutkan basa - basi saya dengan Arang, "Keluargamu. Bu jendral,—"

"gan Tinceu?" potongnya cepat.

"Iya, oma Tien, dan mereka semua, gimana kabarnya?"

"Family's doing well, ang, we all are in a good state," jawabnya dengan suara yang agak berdengung.

"Baguslah..." jawab saya singkat. Sekilas mengenai oma Tinceu alias Rd. Tiena Sariasih Prawiraatmadja, beliau adalah oma nya si Arang.., yang merupakan adik dari mendiang bapak saya.
....

"By the way, Arang, congrats on your graduation ya. Kadonya nyusul, ok?"

"Santai aja ang Maddie, nggak dikadoin juga nggak masala...,"

"Masalah, Arang," potong saya cepat.
"Tambahkan huruf 'H' dibelakang nya,—tolong pergunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, ya?" kritik saya pedas kepada dia.

Hening sejenak, lalu.

"Damn it, ang, since when you becomes a grammar nazi?" tandasnya cepat.
"You are being unfair down here, to me, you said this is not an Indonesian exam, yet you correct my grammatical structure—you, are a pain in the ass!" protesnya kasar dengan nada rendahnya itu.

Dan mendengar dia berbicara seperti itu, "Haaaaahahahahaha~" seketika tawa saya pun meledak, terlepas bebas lalu memecah keheningan di tengah malam ini.
"Nah, kan, kan, blasteran nya keluarrr," ucap saya lagi.

"Well i have to," belanya cepat lalu menyilangkan kedua tangan dia dengan begitu pongahnya.

"Oke, oke, ang Maddie cuma becanda kok Rang... kamuu serius banget lagian,"
"Anyway, gimana itu caranya aksenmu bisa kedengeran sampe kaya native speaker gitu, banyak makan keju ya??"

Tibatiba Essa dalam balutan jubah tidurnya datang menghampiri Arang, lalu mencubit cubit pipinya dari belakang dan mulai berbicara, "Ini namanya kebanyakan nonton Brazzers, nih... hayoo, ngaku—mana setelannya rapi banget lagi... Kayak mau kemana ajaa.., padahal cuma maen ke mansion abangnya doangg~" ledek Laressa sambil mengaduk - aduk gemas pipi si Arang.

(Brazzers= sebuah situs di internet yang menyediakan konten asusila. Baca: bokep)

Ketika itu saya baru sadar, iya ya, si Arang ini mengenakan satu setel jas berwarna hickory (coklat gelap), turtleneck kelabu, dengan sepasang horsebit loafer yang terpasang dengan sempurna di kedua kakinya itu.

Ah, anak ini memang paham betul soal fashion, dan ini tidak sembarangan, mengingat mendiang Opa nya memang selalu perlente dalam soal berpenampilan.
....

"Wah gila nuduhnya yang ngga² ya..., teh Essa.. dengar ya, aku ituuu— ucap Arang singkat, lalu,

"Kauuu jangan teteh - teteh sama aku, ya, Rangkuti..., aku ini orang batak... boru-ku Siregar, cakap batak lah kau sama aku..." tantangnya seksi kepada ponakan saya yang satu ini. (Boru= marga)

"Hahahah," tawa saya ringan di sela - sela percakapan mereka berdua, selucu ini rupanya kalau ngeliat batak ketemu batak, logatnya itu lho, seru banget!

"Eh, hon (yank), kok ketawa sih?" tanya Laressa heran dari belakang Arang, yang kini sudah melepaskan cubitannya.

"Iya ini si Arang... necis amat setelan jas nya." tunjuk saya kearah jas nya itu.
"Apa itu Rang, Saint Laurent?" tuduh saya kemudian.

"Gieves & Hawkes, ang... biasa ajalaaah," jawabnya merendah.

"Wuihih, Savile Row punya dibilang biasa aja... kacau si Arang ini babe," jawab saya seraya menggeleng gelengkan kepala saya.

Essa memiringkan bibirnya kemudian ngomong, "Iyanih, disekolahin dimana kamu,—mau jadi womanizer juga ya? kayak abangmu itu, tuh~" bisik Essa mendekat ke kuping Arang sambil menatap ke arah saya. Do'i isengnya emang keterlaluan coy—lama nggak diterkam, udah mulai ngelunjak dia rupanya.

"Laressa... SP 1 yaaa," ucap saya menggoda dia. (SP 1= surat peringatan 1)

"Hihihi, kabur ahhhh~" lalu dia melenggang pergi meninggalkan kami. Hampir tenggelam saya ketika melihat jubahnya yang tertiup angin malam itu tiba-tiba memperlihatkan lekuk bokong nya. Aghh, crot.

• $ • $ • $ •

"Ang?"
"Angg?" panggilnya lagi, sedikit melambaikan tangannya.
"Angggg?" sapa Arang untuk ketiga kalinya, namun saya masih tidak merespons.
"Wake up, dickhead!" seru Arang usil, dia merangsek, menyadarkan saya dari lamunan saya.

"Eh? ya, ya?" sahut saya kini gelagapan.

"Hahah, welcome back to reality,"lagaknya sombong kepada saya.

"Ha-ha-ha-ha, alright... sampe mana tadi kita ngobrol?" tanya saya melanjutkan perbincangan kami berdua.

"Iya..."
"Mungkin aku terlalu banyak nonton pulp fiction, ang..." kata Arang,
"Atau star wars..., sambil mimpiin Natalie Portman, doing my dick, aku kebanyakan berkhayal," sambungnya lagi.

"Waadduw..., pusing - pusing, siapalagi itu, Natalie Porter? ang Maddie bener² nggak ngikutin perkembangan tren jaman sekarang, jadi pasti banyak nggak ngertinya... paling taunya cuma Bonanza doang, kamu tau Bonanza nggak?"

"Whatt, i don't know... what is that anyway, Bonanza?" tanya dia kebingungan.

"Iya, film koboi jaman dulu..."

Hening sesaat.

"Duh, Rang, saya sampe lupa mau nawarin kamu minum, kamu teh mau minum apa, udah haus pasti? Mau apa, teh, kopi, susu, soda? ayo ikut ang Maddie keatas, ngobrolnya diatas aja," ucap saya lalu bangkit dari sofa seraya mengajak Arang agar dia segera mengikuti saya.

Saat saya melangkah pergi, ada suara cewek berteriak dari dasar kolam renang, "Meddiyyy!" duh, apalagi sih ini...

"Ya, Sha?" toleh saya ringan kearah Natasha, rupanya dia yang barusan memanggil saya.

"Nomer..." tagihnya belagu.

"Tanya aja sendiri," jawab saya cuek, dengan Arang yang melengos mendahului langkah saya.

"*splash* Ish, gitu yaaa!" cipratnya sebel sama saya.

"Hahahahaemoticon-Big Grin" lalu saya melompat masuk ke dalam rumah.

• $ • $ • $ •

Sesampainya kami di atas rumah,

"Ah... udah berapa bulan ya aku nggak kesini ang?" tanya Arang kepada saya setelah dia kelelahan menaiki puluhan anak tangga dirumah saya ini.

"Ada kali delapan bulan, kemana aja kamu Rang? jarang banget main kesini, mainlahh, ajakin juga Nata, Opop..."

"Kan aku sibuk modelling, ang..., belum lagi persiapan UN, belum urusan di Jakarta, terus waktu aku kerumah ini juga kata pak Hendra, ang Maddie lagi liburan ke pulau Kanawa...,"
"Aku coba kontak nomor hp ang Maddie, ternyata non aktif, teh Essa juga, nyambungnya ke mailbox terus... My guess, you guys lagi liburan bareng ya?"

"Hehehe, kena dech," sahut saya cengengesan sembari menuju ke arah mini bar di lantai tiga ini.

"Hmm, pantesann..." ucapnya seolah paham.

"Jadinya mau minum apa, Rang?" tanya saya lagi.

"M-M aja, ada?" tanya dia singkat.

"Halah... mulai deh nge-sok nya, itukan dry gin, enaknya diminum siang² pas lagi panas panasnya ama tonic water... Ini jam berapa, coba?"
"Kamu ang Maddie bikinin cap tikus, baru tau rasa kamu... Belagu pisan. (Belagu banget)"

"Hah, apaan itu cap tikus?" sosornya sambil bertanya.

"Emang dasar anak muda jaman sekarang ya... Ga ngerti apa - apa, gayanya aja selangit, masa kamu gatau cap tikus?"

"Aslii aku nggak tau ang... Emang apaan sih itu?" tanyanya seperti orang kebingungan.

"Nanti kamu caritau aja sendiri, ang lagi males ngejelasinnya,"

"Ya syudah kalau begetoo, aku minum apa yang ada aja deh, ang." jawabnya menyerah.

"Brandy aja, gimana?" tawar saya kepada dia.

"Bah, si ang Maddie ini ternyata sama aja bejatnya." ucapnya menyesal.

"Hahahahahaha." tawa saya lagi, terdengar agak jayus.

Setelah itu saya kembali fokus ke tujuan awal, sambil berbisik, "Ssshh, diem² ya Rang, punya Essa ini soalnya." ucap saya setelah berhasil mengambil sebotol brandy pada rak minuman beralkohol di bar rumah ini.

"Emang apaan sih?" tanya dia lalu merapat kearah saya.

"McDowell nih," saya menolehkan botolnya kepada Arang, sambil memegangnya dengan penuh kehati²an.

"Wih, extra old?"tandasnya terkejut.
"Cakepppss!" pujinya bersemangat sembari menggosok gosokkan telapak tangannya. Bersiap siap menikmati minuman ini, tiba tiba...

Quote:


"Itu teh Essa kok bisa tau sikkk?" sergap si Arang lalu mencolek lengan saya—yang masih keasikan sendiri, mencoba membuka botol minuman ini.

"Itu nggak tau dia... udah, sinisini, mana gelasmu?" seru saya sambil mengendap - endap jahil.

"Ini, nih, pakai es batu ya ang," lalu dia cepat² menyerahkan gelasnya ke sebelah kiri saya.

"Kamu ini Rang, kampungan. Brandy mana enak kalo dingin," beber saya menjelaskan aturan main dalam menikmati minuman yang satu ini.

"Bah, kok gitu sih ang? bukannya ada yang dingin juga ya?" protes dia agak bingung.

"Ya itu kalo di combine jadi cocktail Rang..."
"Brandy itu kalo udara dingin² gini minumnya harus rada diangetin dulu..."
"Barulah bisa keluar cita rasa aslinya..." jelas saya sambil menuangkan brandy ini kedalam gelas² kami...

"Oh... Baru tau aku..."
"Alright, lessons learned,"bisiknya cerdas.

"Iya... ah kamu tuh, makanya, jangan kebanyakan minum air zam - zam,"

"You bastard, i never drank that shit," jawabnya kasar, saya berasa ngobrol sama bule kalau sudah sama si Arang ini.

"Eheheheheh,"
"Nih," lalu menyodorkan gelasnya.
"Ayo duduk," ajak saya lagi.
....

Setelah kami berdua berhasil duduk,

"Ang Maddie, should i sip it slowly?" Arang bertanya kepada saya, sambil menciumi aroma brandy dari gelasnya itu.

"Yeah, you should," jawab saya memberikan saran. "Gimana rasanya?"

"Intoxicating," jawabnya elok nan rupawan.
....

"Ah.... it's been a while," si Arang mulai berbicara lagi, setelah dia selesai menyesap brandy nya.
"This bar, it never changes, masih sama seperti dulu, ang, damainya... remang²nya..." ucap dia sambil memandangi langit - langit dari tempat yang terlihat redup ini—terdengar musik jazz dari radio KLCBS, terdengar sayup sayup, mengalun lembut di tempat ini... biasanya berakhir ketika jam 1 pagi tiba.

"You know what," dia mencoba menyatakan sesuatu.

"Ya, apa Rang?" sanggah saya merespon.

"It's always been a pleasure, coming round' here~" ucapnya nyantai.

"Thanks.... hahaha," ucap saya berterima kasih kepada dia.

"Good, ang, before i forget," lalu dia mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam jas nya, sepertinya sebuah recorder.

Oh, saya baru ingat, dia kan memang sudah berjanji kepada saya untuk mendokumentasi dan menuliskan tentang kisah hidup saya,—yes, beside working as a model, Arang is also, impressively, a ghostwriter. Seorang penulis bayangan.

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat... karena hanya ada saya yang menikmati minuman ini.

• $ • $ • $ •

Hingga akhirnya, Arang kembali berbicara, "You ready, old man?"ucapnya kepada saya, setelah dia menekan tombol ON pada recorder kecilnya itu.


Lalu saya menjawab, "Locked and loaded."dengan penuh keyakinan.



Diubah oleh masukcombera 17-04-2018 10:29
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.