- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#789
PART 65
“Kalo menurut gue sih mending gantung si Bull.”
“Kenapa gantung si Bull? Apa alasannya?”
“Kalian pada enggak sadar? Daritadi gerak-geriknya tuh mencurigakan,” kata Luther dalam-dalam. “Gue yakin banget kalo dia tuh jahat.”
“Mulai deh sisi sok taunya keluar,” sindir Yansa.
“Mending sok tau,” tanggap Luther. “Daripada tau-tau nusuk.”
“Heh!” sahut Maya. “Fokus cari siapa yang jahat!”
“Kan udah, May.” Luther menunjuk Bull, “Seratus persen gue yakin kalo dia jahat!”
“Jangan asal gantung lagi,” kata gue. “Mending kita cari argumen bocor lainnya.”
“Bang! Lo harus bantu gue ngeluarin si Bull!” pinta Luther berapi-api. “Kita enggak bisa kehilangan orang lagi!”
“Ya lo tau kita bakal rugi kalo kehilangan orang lagi, kenapa masih bersikeras mau keluarin si Bull yang belum jelas terbukti jahat?”
“Tapi, Bang–”
“Udah deh, Luth,” potong gue. “Dinda udah keluar dan kita juga enggak tau apa role dia. Kalo sampai kita salah gantung, posisinya tinggal tiga lawan satu. Belum lagi kalo nanti malem ada yang dibunuh, besok pagi bisa-bisa sisa dua lawan satu doang.”
“Terus menurut abang kita harus gimana?” tanya Yansa. “Pokoknya kita harus gantung orang.”
“Gue seer,” ucap gue meyakinkan. “Tinggal kalian berempat nih yang kurang jelas.”
“Gue guardian, Bang!” ucap Luther. “Lo enggak percaya sama gue, Bang?”
“Lo, Yan? Apa role lo?” tanya gue lagi.
“Gue villager polos,” jawab Yansa. “Yakin, deh.”
“Terus lo berdua? May? Bull?”
“Gue villager,” kata si Bull singkat.
“Gue tetep lycan, Bang,” timpal Maya dengan suara medoknya. “Abang sendiri kan yang ngecek malam pertama?”
“Ya tapi waktu gue terawang lo cuma keluar ‘W’ kata Melly.” Gue pandang anak-anak yang lain, “Kalo emang Maya lycan, terus si Dinda apa? Werewolf?”
“Kalo menurut gue,” ucap Yansa berhati-hati. “Mending kita gantung Maya.”
“Kok gue?!” tanya Maya enggak mau dipojokkan. “Apa alasannya?”
“Dinda enggak mungkin werewolf,” jelas Yansa. “Daripada kita kecolongan werewolf yang ngaku-ngaku lycan, mending kita bunuh aja yang ngaku lycan.”
“Demi apa lo bego banget, Yan?!” seru Luther. “Si Bull! Si Bull werewolfnya!”
“Waktu habis!” kata Melly tegas. “Jadi mau gantung siapa?”
Luther vote buat gantung si Bull, si Bull vote buat gantung Luther. Begitu juga sisi kanan gue, Yansa vote buat gantung Maya dan Maya vote buat gantung Yansa. Pada akhirnya, keputusan buat gantung ada di tangan gue.
“Lo vote siapa, Wi?” tanya Melly.
“Gue ngikut argumennya Yansa,” jawab gue. “Gantung Maya.”
“Maya mati,” kata Melly dingin. “Dan game tetap berlangsung.”
“Gue bilang juga apa!” keluh Luther. “Pada enggak percaya gue, sih!”
Malam kedua berlalu, pagi harinya si Bull dinyatakan mati sama Melly yang berperan sebagai moderator.
“Puas lo sekarang?” sindir Yansa. “Bull mati, berarti dia villager!”
“Berarti lo yang ngebunuh si Bull!” tembak Luther.
“Apa, sih?!” sanggah Yansa. “Lo kenapa jadi nuduh-nuduh gue? Jelas-jelas gue villager polos.”
“Ya kalo lo emang villager polos dan gue emang beneran guardian,” kata Luther. “Terus werewolfnya siapa?!”
Yansa menatap gue, begitu juga Luther yang mengikuti pandangan Yansa.
“Bang Dawi pelakunya,” ucap Yansa hati-hati.
“Kan gue seernya,” kata gue mengingatkan. “Semalem gue terawang si Bull hasilnya ‘V’, kok.”
“Abang bohong,” ucap Yansa masih berhati-hati. “Seernya udah mati dari malam pertama, Dinda kan seernya yang asli?”
“Bang,” panggil Luther penuh percaya diri. “Kita gantung Yansa.”
“LO BEGO?!” seru Yansa setengah teriak. “Werewolfnya tuh bang Dawi! Kalo gue mati, lo juga mati nanti malem!”
“Biarin gue mati!” ucap Luther ketus. “Asalkan lo mati lebih dulu!”
“Payah banget lo, Luth!” kata Yansa. “Kita tinggal kerja sama buat gantung bang Dawi terus kita menang! Mikir, dong!”
“Udah gue pikirin!” kata Luther berapi-api. “Daripada harus kerja sama bareng lo, gue mending mati!”
Yansa digantung, malamnya Luther gue makan, gue menang sebagai werewolf tunggal. Dinda bete sama Luther dan Luther makin benci sama Yansa. Werewolf, game pemecah belah pertemanan.
“Ntar lagi,” kata gue beranjak dari ruang tengah. “Mau kencing bentaran gue.”
“Dasar bego!” sindir Yansa.
“Mending bego daripada enggak punya harga diri,” sindir Luther balik.
Leganya…! Kencing malem-malem gini emang paling bikin lega. Apalagi kalo habis minumin air putih banyak-banyak dan yang keluar kencing warna putih, bangga banget gue! Rasanya kayak gue sudah menjalankan pola hidup sehat sampai tubuh gue terhidrasi dengan sangat baik. Waktu gue balik dar kamar mandi, sepatunya Echa, Sasha sama Cassie udah tertata rapi di depan pintu, kayaknya mereka udah pada pulang.
“Bang buruan duduk!” perintah Luther. “Tambah pemain lagi.”
“Nah si Cassie mana?” tanya gue sewaktu menutup pintu depan.
“Langsung masuk kamar,” jawab Sasha. “Kecapean kali.”
“Kecapean? Emang habis dari mana kalian bertiga?” tanya gue.
“Udah sih, Bang!” ucap Luther terdengar bete. “Biarin aja dia istirahat.”
“Yaudah,” kata gue. “Lewatin aja dulu satu malem. Gue haus, ambil minum dulu di dapur.”
Baru gue melangkahkan kaki ke arah dapur, samar-samar kedengeran suara cewek nangis. Suara familiar kayak yang pernah gue dengar sebelumnya. Eh? Suaranya dari kamar cewek? Si Cassie nangis?
“Kalo menurut gue sih mending gantung si Bull.”
“Kenapa gantung si Bull? Apa alasannya?”
“Kalian pada enggak sadar? Daritadi gerak-geriknya tuh mencurigakan,” kata Luther dalam-dalam. “Gue yakin banget kalo dia tuh jahat.”
“Mulai deh sisi sok taunya keluar,” sindir Yansa.
“Mending sok tau,” tanggap Luther. “Daripada tau-tau nusuk.”
“Heh!” sahut Maya. “Fokus cari siapa yang jahat!”
“Kan udah, May.” Luther menunjuk Bull, “Seratus persen gue yakin kalo dia jahat!”
“Jangan asal gantung lagi,” kata gue. “Mending kita cari argumen bocor lainnya.”
“Bang! Lo harus bantu gue ngeluarin si Bull!” pinta Luther berapi-api. “Kita enggak bisa kehilangan orang lagi!”
“Ya lo tau kita bakal rugi kalo kehilangan orang lagi, kenapa masih bersikeras mau keluarin si Bull yang belum jelas terbukti jahat?”
“Tapi, Bang–”
“Udah deh, Luth,” potong gue. “Dinda udah keluar dan kita juga enggak tau apa role dia. Kalo sampai kita salah gantung, posisinya tinggal tiga lawan satu. Belum lagi kalo nanti malem ada yang dibunuh, besok pagi bisa-bisa sisa dua lawan satu doang.”
“Terus menurut abang kita harus gimana?” tanya Yansa. “Pokoknya kita harus gantung orang.”
“Gue seer,” ucap gue meyakinkan. “Tinggal kalian berempat nih yang kurang jelas.”
“Gue guardian, Bang!” ucap Luther. “Lo enggak percaya sama gue, Bang?”
“Lo, Yan? Apa role lo?” tanya gue lagi.
“Gue villager polos,” jawab Yansa. “Yakin, deh.”
“Terus lo berdua? May? Bull?”
“Gue villager,” kata si Bull singkat.
“Gue tetep lycan, Bang,” timpal Maya dengan suara medoknya. “Abang sendiri kan yang ngecek malam pertama?”
“Ya tapi waktu gue terawang lo cuma keluar ‘W’ kata Melly.” Gue pandang anak-anak yang lain, “Kalo emang Maya lycan, terus si Dinda apa? Werewolf?”
“Kalo menurut gue,” ucap Yansa berhati-hati. “Mending kita gantung Maya.”
“Kok gue?!” tanya Maya enggak mau dipojokkan. “Apa alasannya?”
“Dinda enggak mungkin werewolf,” jelas Yansa. “Daripada kita kecolongan werewolf yang ngaku-ngaku lycan, mending kita bunuh aja yang ngaku lycan.”
“Demi apa lo bego banget, Yan?!” seru Luther. “Si Bull! Si Bull werewolfnya!”
“Waktu habis!” kata Melly tegas. “Jadi mau gantung siapa?”
Luther vote buat gantung si Bull, si Bull vote buat gantung Luther. Begitu juga sisi kanan gue, Yansa vote buat gantung Maya dan Maya vote buat gantung Yansa. Pada akhirnya, keputusan buat gantung ada di tangan gue.
“Lo vote siapa, Wi?” tanya Melly.
“Gue ngikut argumennya Yansa,” jawab gue. “Gantung Maya.”
“Maya mati,” kata Melly dingin. “Dan game tetap berlangsung.”
“Gue bilang juga apa!” keluh Luther. “Pada enggak percaya gue, sih!”
Malam kedua berlalu, pagi harinya si Bull dinyatakan mati sama Melly yang berperan sebagai moderator.
“Puas lo sekarang?” sindir Yansa. “Bull mati, berarti dia villager!”
“Berarti lo yang ngebunuh si Bull!” tembak Luther.
“Apa, sih?!” sanggah Yansa. “Lo kenapa jadi nuduh-nuduh gue? Jelas-jelas gue villager polos.”
“Ya kalo lo emang villager polos dan gue emang beneran guardian,” kata Luther. “Terus werewolfnya siapa?!”
Yansa menatap gue, begitu juga Luther yang mengikuti pandangan Yansa.
“Bang Dawi pelakunya,” ucap Yansa hati-hati.
“Kan gue seernya,” kata gue mengingatkan. “Semalem gue terawang si Bull hasilnya ‘V’, kok.”
“Abang bohong,” ucap Yansa masih berhati-hati. “Seernya udah mati dari malam pertama, Dinda kan seernya yang asli?”
“Bang,” panggil Luther penuh percaya diri. “Kita gantung Yansa.”
“LO BEGO?!” seru Yansa setengah teriak. “Werewolfnya tuh bang Dawi! Kalo gue mati, lo juga mati nanti malem!”
“Biarin gue mati!” ucap Luther ketus. “Asalkan lo mati lebih dulu!”
“Payah banget lo, Luth!” kata Yansa. “Kita tinggal kerja sama buat gantung bang Dawi terus kita menang! Mikir, dong!”
“Udah gue pikirin!” kata Luther berapi-api. “Daripada harus kerja sama bareng lo, gue mending mati!”
Yansa digantung, malamnya Luther gue makan, gue menang sebagai werewolf tunggal. Dinda bete sama Luther dan Luther makin benci sama Yansa. Werewolf, game pemecah belah pertemanan.
“Ntar lagi,” kata gue beranjak dari ruang tengah. “Mau kencing bentaran gue.”
“Dasar bego!” sindir Yansa.
“Mending bego daripada enggak punya harga diri,” sindir Luther balik.
Leganya…! Kencing malem-malem gini emang paling bikin lega. Apalagi kalo habis minumin air putih banyak-banyak dan yang keluar kencing warna putih, bangga banget gue! Rasanya kayak gue sudah menjalankan pola hidup sehat sampai tubuh gue terhidrasi dengan sangat baik. Waktu gue balik dar kamar mandi, sepatunya Echa, Sasha sama Cassie udah tertata rapi di depan pintu, kayaknya mereka udah pada pulang.
“Bang buruan duduk!” perintah Luther. “Tambah pemain lagi.”
“Nah si Cassie mana?” tanya gue sewaktu menutup pintu depan.
“Langsung masuk kamar,” jawab Sasha. “Kecapean kali.”
“Kecapean? Emang habis dari mana kalian bertiga?” tanya gue.
“Udah sih, Bang!” ucap Luther terdengar bete. “Biarin aja dia istirahat.”
“Yaudah,” kata gue. “Lewatin aja dulu satu malem. Gue haus, ambil minum dulu di dapur.”
Baru gue melangkahkan kaki ke arah dapur, samar-samar kedengeran suara cewek nangis. Suara familiar kayak yang pernah gue dengar sebelumnya. Eh? Suaranya dari kamar cewek? Si Cassie nangis?
End of Chapter Seven
Diubah oleh dasadharma10 25-03-2018 15:16
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
