- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#783
PART 63
Gue usap mata gue dan segera memeriksa jam pada layar hape. Jam empat lebih empat puluh menit, kayaknya gue ketiduran lumayan lama. Apa iya rapatnya selama ini? Mending gue ikutan masuk aja kali, ya?
Baru gue beranjak dari duduk, gue baru menyadari kalo pintu rumah pak RW udah ditutup rapat-rapat. Mereka selesai rapat enggak bangunin gue apa, ya? Apa jangan-jangan pintunya sengaja ditutup dari dalem biar enggak ada yang keluar-keluar lagi kayak yang barusan?
Gue intip ke dalam rumah lewat kaca di sebelah pintu. Sepi, kayaknya emang udah pada balik. Kelewatan sih kalo gue enggak dibangunin.
“Ngapain lo ngintipin rumah pak Pamudji, Wi?” tanya suara di sebelah gue.
“L-lhoh, Mell?!”
“Enggak sopan.”
“Bukan gitu maksud gue,” terang gue. “Tadi gue nyariin lo–”
“Udah tau,” potong Melly. “Lo ngigau sampai suaranya kedengeran ke dalem.”
“Serius?”
“Yaiyalah, menurut lo kenapa lagi rapatnya dipending kalo bukan gara-gara suara igauan lo yang manggil-manggil gue?”
Gila, malu-maluin banget gue! Ya Tuhan! Mana ada orang banyak kan di dalem rumahnya pak RW tadi. Duh… mau ditaruh mana muka gue nanti kalo ketemu mereka?!
“L-lo serirus, Mell?” tanya gue menyalakan rokok dengan tangan yang bergetar. “G-gue segitunya mimpiin lo?”
“Ya enggaklah,” kata Melly. “Males banget kalo lo sampai mimpiin gue.”
“Makasih, lho,” ucap gue kembali duduk ke kursi depan rumah pak RW. “Gimana tadi? Dapet penyanyinya?”
“Tiga ratus ribu,” jawab Melly. “Satu penyanyi tiga jam acara.”
“Murah tuh.”
“Murah gimana?!” keluh Melly. “Rencana budget yang cuma lima ratu ribu bisa jebol nanti!”
“Segitu itu udah murah, Mell,” terang gue. “Via Vallen aja puluhan juta sekali manggung.”
“Ya jangan disamain sama Via Vallen juga, dong.”
“Ya terus disamaan sama siapa? Sasha? Bayaran dia kayaknya malah lebih gede lagi.”
“Kalo disuruh nyanyi tapi enggak dibayar mau enggak ya dia?”
“Mell, acara kita ini dangdut, Sasha itu penyanyi pop,” jelas gue. “Mana nyambung.”
“Yaudahlah,” ucap Melly beranjak dari duduknya. “Diomongin bareng-bareng sama yang lain nanti.”
Begitu Melly meninggalkan rumah pak RW, gue langsung mengikutinya dari belakang. Ada hal yang lebih penting daripada acara dangdut yang perlu gue omongin sama dia.
“Mell,” panggil gue menahan tangannya. “Gue mau ngomong.”
“Kan udah gue bilang diomongin sama yang lain dulu–”
“Bukan soal dangdut,” potong gue. “Ini soal Cassie.”
“Kenapa lagi Cassie?” tanyanya mengiringi mimik mukanya yang berubah tiba-tiba.
“Cassie kemana, Mell?”
“Dia lagi keluar bareng Echa sama Sasha.”
“Keluar kemana?”
“Cari angin kata Echa.”
Gue lihat parkiran mobil di halaman rumah pak Slamet. Nihil, ternyata mobil Yansa beneran enggak kelihatan. Mungkin dari awal gue lewat tadi emang udah enggak ada mobilnya. Kayaknya dipake sama Echa.
“Gue mau ngomongin soal kelanjutan Cassie,” terang gue. “Mungkin gue bisa bantu masalah Cassie biar lebih baik.”
“Enggak,” tolak Melly singkat. “Biarin kayak gini aja.”
“Biarin gimana?”
“Lo enggak sadar?”
“Sadar? Sadar apa?”
“Udah empat hari ini Cassie enggak gangguin lo. Udah empat hari ini Cassie enggak gangguin gue.” Melly memperlihatkan layar hapenya yang berisi chat sama Echa, “Cassie udah enggak mikirin kita lagi.”
Gue usap mata gue dan segera memeriksa jam pada layar hape. Jam empat lebih empat puluh menit, kayaknya gue ketiduran lumayan lama. Apa iya rapatnya selama ini? Mending gue ikutan masuk aja kali, ya?
Baru gue beranjak dari duduk, gue baru menyadari kalo pintu rumah pak RW udah ditutup rapat-rapat. Mereka selesai rapat enggak bangunin gue apa, ya? Apa jangan-jangan pintunya sengaja ditutup dari dalem biar enggak ada yang keluar-keluar lagi kayak yang barusan?
Gue intip ke dalam rumah lewat kaca di sebelah pintu. Sepi, kayaknya emang udah pada balik. Kelewatan sih kalo gue enggak dibangunin.
“Ngapain lo ngintipin rumah pak Pamudji, Wi?” tanya suara di sebelah gue.
“L-lhoh, Mell?!”
“Enggak sopan.”
“Bukan gitu maksud gue,” terang gue. “Tadi gue nyariin lo–”
“Udah tau,” potong Melly. “Lo ngigau sampai suaranya kedengeran ke dalem.”
“Serius?”
“Yaiyalah, menurut lo kenapa lagi rapatnya dipending kalo bukan gara-gara suara igauan lo yang manggil-manggil gue?”
Gila, malu-maluin banget gue! Ya Tuhan! Mana ada orang banyak kan di dalem rumahnya pak RW tadi. Duh… mau ditaruh mana muka gue nanti kalo ketemu mereka?!
“L-lo serirus, Mell?” tanya gue menyalakan rokok dengan tangan yang bergetar. “G-gue segitunya mimpiin lo?”
“Ya enggaklah,” kata Melly. “Males banget kalo lo sampai mimpiin gue.”
“Makasih, lho,” ucap gue kembali duduk ke kursi depan rumah pak RW. “Gimana tadi? Dapet penyanyinya?”
“Tiga ratus ribu,” jawab Melly. “Satu penyanyi tiga jam acara.”
“Murah tuh.”
“Murah gimana?!” keluh Melly. “Rencana budget yang cuma lima ratu ribu bisa jebol nanti!”
“Segitu itu udah murah, Mell,” terang gue. “Via Vallen aja puluhan juta sekali manggung.”
“Ya jangan disamain sama Via Vallen juga, dong.”
“Ya terus disamaan sama siapa? Sasha? Bayaran dia kayaknya malah lebih gede lagi.”
“Kalo disuruh nyanyi tapi enggak dibayar mau enggak ya dia?”
“Mell, acara kita ini dangdut, Sasha itu penyanyi pop,” jelas gue. “Mana nyambung.”
“Yaudahlah,” ucap Melly beranjak dari duduknya. “Diomongin bareng-bareng sama yang lain nanti.”
Begitu Melly meninggalkan rumah pak RW, gue langsung mengikutinya dari belakang. Ada hal yang lebih penting daripada acara dangdut yang perlu gue omongin sama dia.
“Mell,” panggil gue menahan tangannya. “Gue mau ngomong.”
“Kan udah gue bilang diomongin sama yang lain dulu–”
“Bukan soal dangdut,” potong gue. “Ini soal Cassie.”
“Kenapa lagi Cassie?” tanyanya mengiringi mimik mukanya yang berubah tiba-tiba.
“Cassie kemana, Mell?”
“Dia lagi keluar bareng Echa sama Sasha.”
“Keluar kemana?”
“Cari angin kata Echa.”
Gue lihat parkiran mobil di halaman rumah pak Slamet. Nihil, ternyata mobil Yansa beneran enggak kelihatan. Mungkin dari awal gue lewat tadi emang udah enggak ada mobilnya. Kayaknya dipake sama Echa.
“Gue mau ngomongin soal kelanjutan Cassie,” terang gue. “Mungkin gue bisa bantu masalah Cassie biar lebih baik.”
“Enggak,” tolak Melly singkat. “Biarin kayak gini aja.”
“Biarin gimana?”
“Lo enggak sadar?”
“Sadar? Sadar apa?”
“Udah empat hari ini Cassie enggak gangguin lo. Udah empat hari ini Cassie enggak gangguin gue.” Melly memperlihatkan layar hapenya yang berisi chat sama Echa, “Cassie udah enggak mikirin kita lagi.”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
