- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#4290
Si Pembuka Kitab Langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Ki Purwagalih tersenyum sambil menarik-narik janggutnya secara perlahan.. Gw yang telah mempersiapkan diri, mulai melakukan apa yang Beliau terangkan barusan.. Untuk menggigit ujung jari sendiri ternyata sangat sulit dan rasa sakitnya juga ga bisa gw ungkapin dengan kata-kata.. Gw bahkan berusaha hingga tiga kali baru berhasil.. Itupun dengan kedua mata berlinang menahan rasa sakit..
Setelah darah merembes keluar dari ujung jari telunjuk, tiap tetesnya gw jatuhkan ke masing-masing gambar Matahari, Bulan dan Bintang.. Seperti ucapan Ki Purwagalih, tiap gambar tersebut bercahaya semakin terang setelah masing-masing tertetesi darah.. Gw pun mulai mearik nafas dan menahannya.. Lalu, perlahan gw membuka Kitab Langit setelah membaca Basmallah dan meraplkan mantera yang disebutkan Ki Purwagalih..
Kedua mata gw membesar saat hanya mendapati dua kertas aneh berwarna coklat tanpa ada tulisan apapun didalamnya, begitu membuka Kitab Langit.. Gw menggelengkan kepala ke arah Ki Purwagalih, sebagai pertanda bahwa tidak terdapat apapun di dalam Kitab Langit.. Kakek Tua bergamis putih itu membalas dengan anggukan kepala, seperti meminta gw untuk menunggu.. Dan benar saja, saat pandangan gw kembali terlempar ke dua kertas coklat, mulai muncul tulisan asing seperti aksara jawa kuno..
Gw mengerutkan kening karena tidak mengerti akan makna dibalik munculnya tiap huruf asing itu..
“Pejamkan mata mu, Ngger.. Pusatkan fikiran mu dan tunggulah apa yang akan terjadi kemudian”
Gw menganggukkan kepala dan mulai memejamkan kedua mata, lalu mencoba memusatkan fikiran masih dengan nafas yang tertahan.. Tak butuh waktu lama, gw merasakan keheningan dalam benak serta suasana mencekam mulai mengepung diri.. Sayup-sayup, terdengar suara seorang wanita yang sedang melantunkan sebuah tembang jawa kuno dengan sepenuh jiwa.. Bersamaan dengan itu, terdengar pula puluhan suara-suara asing berbisik didua indera pendengaran gw.. Bisikannya terdengar saling tumpang tindih dengan suara tembang yang dilantunkan seorang wanita..
“Sang Angkara Murka akan lenyap saat aku menyatu dengan si pembuka.. Darah akan tertumpah saat Angkara Murka mengalah.. Engkau lah darah si Pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka”
SPLASHH...
Kedua mata gw terbuka, melihat Kitab Langit yang berada dalam pegangan lenyap seketika menjadi sebuah cahaya terang yang secepat kilat melesat masuk ke dalam dua telapak tangan Ki Purwagalih.. Kedua indera penglihatan gw yang sempat terbias sinar terang itu, terpaksa terpejamkan saat silaunya sinar tersebut terasa menusuk bola mata.. Suara lantunan seorang wanita yang menembang syair berbahasa Jawa penuh perasaan pun lenyap bersamaan dengan hilangnya puluhan suara-suara asing yang berbisik memenuhi gendang telinga..
Ki Purwagalih mulai melayang berdiri diatas tanah yang dipenuhi daun-daun kering sambil melempar senyuman ke arah gw.. Gw sendiri ikut bangkit dengan telinga yang seakan-akan masih dipenuhi bisikan-bisikan suara asing nan aneh tadi..
“Jangan kau ceritakan apa yang kau lihat dan kau dengar kepada siapapun termasuk aku, Ngger..” Ucap Ki Purwagalih yang membuat gw bingung..
“Tapi, aku tidak mengerti akan maksud yang ada di balik bisikan itu, Eyang?”
“Tidak mengapa, yang terpenting sekarang kita sudah menjalankan rencana Sekar Kencana untuk menyuruh mu membuka Kitab Langit dan mencari cara mengalahkan Braja Krama.. Segala yang kau dengar atau lihat harus kau resapi dan renungi makna yang ada dibaliknya.. Aku terpaksa memisahkanmu dengan ketiga saudara, karena Kitab Langit hanya akan terbuka saat keturunan langsung Penguasa Gaib Tanah Pasundan menyendiri tanpa adanya manusia lain.. Sekarang, aku akan mengembalikan mu ke tempat kediaman” Ucap Ki Purwagalih yang gw sambut dengan anggukkan kepala satu kali..
Begitu tiba di rumah, Sekar nampak sedang duduk termenung diatas meja belajar gw sambil memandang ke luar jendela kamar yang terbuka lebar.. Gw sendiri sempat melirik ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari..
“Apa kah kau sudah membuka Kitab Langit dan mengetahui bagaimana cara mengalahkan Braja Krama, Kang Mas?” Tanya Sekar saat gw sedang duduk di pinggir tempat tidur..
Gw menganggukkan kepala sebagai jawaban iya atas pertanyaan Sekar barusan.. Namun, tak satu pun kalimat meluncur dari lisan gw, karena teringat akan pesan Ki Purwagalih yang melarang untuk menceritakan nya kepada siapapun.. Sekar sendiri hanya bisa terdiam tanpa mencoba menanyakan lagi lebih jauh.. Ditelinga gw terus terngiang-ngiang suara puluhan bisikan asing yang membisikkan kalimat sama berulang-ulang..
“Sang Angkara Murka akan lenyap saat aku menyatu dengan si pembuka.. Darah akan tertumpah saat Angkara Murka mengalah.. Engkau lah darah si Pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka” Ucap gw dalam hati kembali mengulang tiga kalimat yang terekam jelas dalam benak..
“Apa Kitab Langit akan menyatu ke badan gw? Terus terjadi perang gaib lagi kek lawan Raja Siluman waktu itu? Lalu, darah si pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka itu, apa artinya gw juga harus mengorbankan diri kek waktu lawan Bayu Ambar?.. Haduuuh! Kenapa pake segala ada teka teki nya sih?” Maki gw masih dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala..
“Ada apa, Kang Mas? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu yang berat?” Tanya Sekar sambil menatap dengan pandangan menyelidik..
“Aku ingin istirahat, Sekar” Jawab gw setelah sempat terdiam dan menghela nafas panjang..
“Kau belum mengerjakan Shalat Isya, Kang Mas”
Gw tercekat dan menepok jidat sendiri karena hampir lupa akan kewajiban utama sebagai umat muslim.. Sambil mengucapkan terima kasih ke Sekar yang sudah mengingatkan, gw segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu..
Keesokan paginya, Ibu yang sudah menyiapkan sarapan pagi memanggil gw untuk ikut sarapan bersama dirinya dan Ayu.. Segera gw tinggalkan mobil mendiang Ayah yang baru saja selesai gw cuci di pekarangan rumah.. Lalu mandi dan mengganti pakaian di dalam kamar, sebelum menyusul Ibu untuk menikmati sarapan..
“Tadi malam, Pak Sugi telpon Ibu katanya kamu hari ini harus datang ke kantornya jam 11 dan membawa semua berkas yang diperlukan untuk mengurus penerbitan SK 80 % kamu sebagai CPNS, bang” Kata Ibu, saat gw mulai mengunyah nasi goreng teri medan buatannya..
Gw meneguk air putih yang ada di depan untuk melancarkan turunnya makanan ke tenggororkan sebelum menanggapi pernyataan Ibu barusan..
“Iyaa, Bu.. Abang emang rencananya mau hubungin Ayu hari ini.. Mo nanyain soal syarat pemberkasan juga”
“Ga usah.. Pak Sugi juga udah kirimin photo persyaratannya semalam lewat WA.. Nanti Ibu kasih lihat ke kamu deh.. Habisin aja dulu nasi gorengnya, Bang.. Oh iya, kamu anterin Ayu kesekolah terus potong rambut kamu tuh yang gondrongnya udah kelewatan.. Masa CPNS ga rapih begitu.. Malu aah” Kata Ibu sambil menunjuk ke arah rambut gw..
Gw sendiri melempar senyuman ke Ibu dan menganggukkan kepala untuk menyetujui nasihat beliau.. Sebenarnya, dalam hati gw merasa sedikit sayang untuk memotong rambut.. Tapi, gw sama sekali tidak mau berdebat soal rambut dengan Ibu.. Lagipula, saran beliau tadi memang benar..
Sambil menikmati hisapan rokok di teras selesai sarapan, gw membuka Hp dan melihat semua persyaratan yang dikirimkan dalam bentuk photo oleh Pak Sugi lewat pesan WA ke Ibu.. Kening gw berkerut begitu melihat salah satu persyaratan adalah legalisir basah Ijazah SMA.. Dengan berjalan sedikit cepat, gw berpindah tempat ke kamar dan membuka File Map yang berisi semua dokumen-dokumen penting milik pribadi, seperti Akta Kelahiran dan semua Ijazah dari SD sampai SMA..
“Alhamdulillah..” Ucap gw begitu menemukan sepuluh lembar foto kopian Ijazah SMA yang sudah dilegalisir basah tanpa di beri nomer dan tanggal..
Satu persatu dokumen gw persiapkan untuk melengkapi persyaratan pemberkasan CPNS yang photo nya sudah dikirmkan Pak Sugi.. Hanya tinggal satu yang masih belum bisa gw lengkapi, yaitu pas Photo diri sendiri ukuran 2x3, 3x4 dan 4x6.. Sebuah catatan kecil nampak terlihat di bawah foto surat terkait pas photo.. Karena tulisannya yang kecil, terpaksa gw menyentuh layar Hp menggunakan ujung jari jempol dan jari telunjuk untuk memperbesar ukuran gambar..
*Semua Calon Aparatur Sipil Negara harus berpenampilan rapih dengan menggunakan Jas Hitam + Dasi Hitam + Kemeja Putih untuk Pas Photo..
Begitulah isi catatan kecil yang tertulis dibagian bawah photo surat.. Gw menganggukkan kepala pertanda sudah memahami semua persyaratan yang hanya tinggal satu saja belum terlengkapi, yakni Pas Photo.. Perlahan, gw mengambil jas hitam yang pernah dibelikan mendiang Ayah, lalu dasi hitam dan kemeja putih.. Semuanya gw lepit dan menumpuknya satu persatu.. Lalu, gw masukkan ke dalam paper bag berwarna pink milik Anggie, yang pernah gadis itu gunakan untuk membawakan beberapa kaus baru untuk gw..
“Aabang, cepetan!!! Ade kamu udah ngambek nih nungguin.. Nanti dia kesiangan” Teriak Ibu dari teras yang membuat gw langsung ngacir..
“Bawa mobil aja, Bang.. Gerimis soalnya.. Inget yah, habis anterin Ayu, kamu potong rambut” Ucap Ibu sambil menarik ujung rambut gw diatas kening..
“Siap, Bosskuh” Jawab gw seraya membuka pintu samping mobil..
Adik gw, Ayu yang sudah berseragam putih biru duduk disamping.. Wajah nya nampak cemberut dengan dua tangan terlipat di dada.. Tanpa menunggu komentar Ayu yang pedas kalau sedang ngambek, gw langsung menancap gas menuju sekolahnya.. Untungnya, jalan tidak begitu macet karena kendaraab beroda dua banyak yang menepi menunggu gerimis reda dipinggir jalan.. Tepat sepuluh menit sebelum bel sekolahnya Ayu berdentang, gw tiba di depan gerbang.. Ayu langsung berhambur keluar dari mobil, sesudah menarik tangan kanan gw dan mencium punggungnya dengan cepat..
Sepanjang perjalanan pulang, pandangan mata gw mencari-cari Barber Shop, istilah keren tempat cukur rambut yang sudah buka untuk menunaikan janji ke Ibu.. Dan, di waktu sepagi ini akhirnya gw melihat ada sebuah tempat cukur yang sudah terpampang tanda BUKA di depan pintunya..
Gw memang sangat anti untuk mencukur rambut di salon.. Lu tau pasti penyebab nya apaan, Bree.. Yup! Gw ogah ke salon karena selalu merasa terancam oleh kaum pelangi jika berada didalamnya.. Terlebih setelah mempunyai pengalaman buruk sewaktu menemani Anggie dahulu.. Lagipula, Salon itu identik untuk cewe.. Bukan buat kaum maskulin kek kita, Bree.. Mendingan ke tukang cukur.. Biar kata sedikit merasa perih ditiap tepian rambut sewaktu di kerik untuk dirapikan, tapi setidaknya gw tidak merasa was-was..
Gw sempat menitikkan airmata saat melihat rambut gw yang gondrong, sudah terpotong rapi.. Haha.. Too melancholy will kill me! Pada kenyataannya, gw memang sedikit merasa menyesali masa-masa kegondrongan gw yang harus usai.. Padahal, status gw masih menjadi seorang mahasiswa yang memang identik dengan penampilan santai non formal.. Lagipula, banyak kaum hawa yang memuji kegondrongan gw kemarin..
Tapi, mengingat peringatan Ibu sekaligus status gw yang sekarang adalah seorang Calon Aparatur Sipil Negara, mau tidak mau gw harus menelan ludah.. Semua demi masa depan gw sendiri dan juga demi menyenangkan hati Ibu..
Oke! Tinggal satu yang masih harus gw lakukan sebelum menemui Pak Sugi dikantornya.. Gw mesti mencari studio photo cukup berkualitas untuk memotret dan mencetak photo yang akan gw lampirkan bersama persyaratan lain.. Pandangan gw yang masih beredar dari dalam mobil, terus mencari studio photo.. Memang beberapa ada yang sudah buka, namun sepertinya bukan studio yang bagus..
Setelah sempat berkeliling, akhirnya gw melihat studio photo yang cukup besar.. Tanpa ragu-ragu, gw langsung menyalakan lampu sign kanan dan masuk ke dalam halaman parkir tempat itu.. Seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyuman ramah dan menunjukkan gw ruangan kecil untuk mengganti baju.. Gw yang sudah membawa paper bag berwarna pink, yang berisi setelan kemeja putih dan jas hitam segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengganti pakaian..
Dengan bagian tubuh atas nampak rapi tertutup kemeja putih dibalut jas hitam serta dasi hitam yang mengalungi kerah, gw berjalan masuk ke dalam studio pemotretan.. Oh iya, untuk bagian bawah gw tetap mengenakan celana jeans panjang berwarna biru dilengkapi sandal gunung, karena photo yang dibutuhkan hanya seukuran setengah badan saja.. Jadi gw merasa tidak perlu mengganti celana..
Disambut Ibu yang sedang menjemur pakaian, gw tersenyum manis saat sudah turun dari mobil dan melihat Beliau yang nampak berjalan mendekat..
“Nah.. Kalau rapih dan ganteng begini, baru Ibu yakin kamu anak Ibu, Bang” Ledek Ibu sambil membelai rambut gw..
“Yaeelah, Bu.. Mau gondrong atau ga, tetep aja abang mah ganteng”
“Iya, Iya.. Tapi kan, kalau rapih mah gantengnya lebih kelihatan, Bang.. Ga semrawut kek kemaren.. Ya udah, sana mandi.. Udah jam sepuluh loh.. Kamu harus nemuin Pak Sugi jam sebelas.. Jangan sampe telat” Kata Ibu yang gw balas dengan anggukan kepala..
Perlahan, gw berjalan masuk ke dalam kamar untuk menaruh kembali paper bag berwarna pink.. Sekar nampak memperhatikan gw cukup lama, lalu melayang menghampiri..
“Kau nampak jauh lebih tampan, Kang Mas” Puji Sekar yang membuat gw tersenyum simpul..
“Terima kasih, Sekar.. Kau juga selalu nampak cantik dan anggun” Jawab gw dengan balas memuji kecantikan dirinya..
Sekar juga sama melemparkan senyuman manis diselingi wajah yang tersipu.. Lalu menatap wajah gw dengan tatapan lebih serius..
“Aku meminta izin untuk pergi, Kang Mas.. Aku harus segera memberitahukan beberapa tokoh, yang sedia nya mau membantu kita saat masa penukaran Kitab Langit dengan semua tawanan Braja Krama tiba” Kata Sekar..
Gw tertegun terdiam mendengarkan ucapannya.. Kemudian, sambil kembali tersenyum manis, gw menganggukan kepala sebagai jawaban iya atas permintaannya barusan.. Sekar juga menganggukan kepalanya satu kali.. Lalu membalikkan tubuh dan melesat menembus dinding kamar gw, sambil merentangkan dua selendang emasnya
Dalam benak, gw kembali teringat akan masa penukaran itu yang waktunya semakin dekat.. Sebuah tarikan nafas dalam-dalam gw lakukan.. Kemudian mengeluarkannya secara perlahan..
Jam sebelas kurang lima menit, gw tiba di lobi kantor.. Beberapa staff yang memang sudah gw kenal, nampak menghampiri dan mengucapkan selamat atas lulusnya gw menjadi seorang CPNS.. Tak terkecuali pak Rudi.. Beliau bahkan sempat memeluk gw dengan sangat erat dan menitikkan airmata karena teringat akan almarhum Ayah gw.. Setelah masa reunian usai, gw di antar Pak Rudi ke ruangan Kepala Kantor yang tak lain adalah Pak Sugi, abi nya Ayu..
Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, telapak tangan gw selalu merasakan sensasi bak tersetrum aliran listrik saat menjabat tangan Pak Sugi.. Pandangan mata gw juga semakin jelas melihat kujang kecil yang tersemat dilengan kanan laki-laki tambun tersebut.. Terakhir kali, gw ingat benda misterius itu sempat terpatah dua namun kembali menyatu dengan sendirinya.. Entah untuk apa Pak Sugi menanam benda gaib di tubuhnya? Gw juga tidak ingin tahu dan tidak pula mau mencari tahu..
“Apa kabar, Mam?” Tanya Pak Sugi cukup ramah sambil memilin sebatang rokok kretek dengan jarinya..
“Alhamdulillah baik, Pak.. Oh iya.. Saya membawa persyaratan yang bapak kirimkan lewat WA ke Ibu saya” Jawab gw seraya menyodorkan amplop cokelat bertali ke hadapan Beliau..
Pak Sugi tidak langsung mengambil amplop tersebut.. Tapi malah mengamati gw lekat-lekat sambil menghisap rokoknya.. Menyadari diri ini sedang diperhatikan sedemikian rupa oleh seorang laki-laki, membuat gw merasa jengah sendiri.. Akhirnya, gw hanya bisa menundukkan kepala tanpa mau membalas tatapan beliau yang terasa aneh..
“Kamu tahu, Mam.. Saya sempat merasa kecewa pas tahu kamu tidak mau melanjutkan perjodohan dengan Ayu” Ucap Pak Sugi yang membuat gw mengangkat wajah dan memandangnya..
“Saya menyayangkan sikap kamu.. Padahal, jika kamu mau menikah dengan Ayu, saya berencana untuk menjadikan kamu sebagai calon pengganti saya menjadi Kepala Kantor suatu hari nanti.. Bukan itu saja, saya juga tadinya berniat menjadikan kamu sebagai salah satu dewan direksi diperusahaan yang saat ini sedang di jalani oleh adik saya.. Semua itu saya akan lakukan jika kamu mau menikahi Ayu.. Karena saya tahu anak gadis saya itu sayang sekali sama kamu” Lanjut Pak Sugi yang terdengar mulai keluar jauh dari jalur..
Gw masih terdiam, meski dua telapak tangan mulai terkait satu sama lain dan menggenggam kuat tiap jari yang terpangku diatas paha..
“Tapi, sayang.. Semua itu kamu tolak mentah-mentah.. Saya sempat marah mendengar keputusan Ibu mu yang secara tidak langsung menghina harga diri keluarga saya.. Kamu tahu, Mam.. Saya bahkan sempat hendak mengirimkan Santet ke kamu.. Tapi terpaksa saya urungkan karena saya sadar, dendam tidak akan menyelesaikan apapun.. Lagi pula, saya tahu kamu dijaga beberapa Jin berilmu tinggi”
Kedua mata gw terbelalak mendengar pengakuan Pak Sugi tentang rencana jahatnya ke diri gw.. Hal itu memancing emosi gw dan membuat bahu sebelah kanan menghangat.. Pertanda bahwa Pedang Jagat Samudera pun merasakan hal serupa..
“Maaf, Pak! Jika diundangnya saya hanya untuk membicarakan segala omong kosong ini, lebih baik saya pamit sekarang juga” Ucap gw dengan tegas sambil bangkit berdiri dari atas bangku..
“Tunggu! Tunggu, Mam.. Saya belum selesai bicara” Cegah Pak Sugi sambil mematikan rokonya di asbak dan membuat gw mengurungkan niat..
“Duduklah dulu sebentar lagi.. Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya sebagai seorang Abi dari anak gadis yang cintanya bertepuk sebelah tangan sama kamu” Tambah Pak Sugi..
Gw cukup merasa tidak enak hati mendengar kalimat terakhir Pak Sugi tentang hubungan gw dengan puterinya, Ayu.. Perlahan, gw kembali duduk.. Kali ini sambil berusaha meredam emosi yang sempat terpancing..
“Kamu tahu, begitu menerima pesan dari Ibu mu lewat SMS.. Anak saya, Ayu.. Langsung masuk kamar dan keluar lagi dalam keadaan kedua mata sembab seperti orang habis menangis.. Hal itu terjadi dua kali.. Yang terakhir saat ia pulang sehabis menginap selama dua hari menemani Ibu kamu di rumah sakit.. Ayu juga langsung masuk kamar waktu itu dan baru keluar saat adzan zuhur, masih dengan mata sembab.. Coba kamu bayangkan, bagaimana perasaan saya sebagai Abi nya melihat anak saya menangisi pemuda yang tidak bisa membalas cintanya”
Gw tertegun mendengar perkataan Pak Sugi yang terasa menohok batin.. Baru gw sadar selama ini Ayu sudah sangat mencintai gw dan mau menemani Ibu di rumah sakit selama dua hari.. Benak gw langsung teringat akan bagaimana perlakuan gw ke Ayu.. Terutama saat terakhir kami bertatap muka yaitu di rumah sakit.. Waktu itu, gw malah menghina Ayu karena menyangka gadis itu hanya berniat untuk memamerkan kekayaannya saja..
“Saya sempat kalap melihat wajah anak saya selalu sedih.. Tapi, Ayu juga yang meredakan amarah saya, Mam.. Anak saya itu menjelaskan semua tentang hubungan kamu dengan sorang gadis yang rumahnya berada dekat dengan rumah saya.. Ayu juga bilang dia ikhlas menerima keputusan Ibu dan kamu, karena dia sadar memaksakan kehendak tidak akan berujung kebaikan.. Dan saya sendiri sekarang merasa sangat bangga dengan sikap dewasa Ayu, yang menurut pengakuannya didapat dari kamu”
Kedua mata gw kembali membesar mendengar kalimat Pak Sugi, meski masih tak bisa menjawab apapun..
“Oke.. Curhatan seorang Abi, saya anggap cukup.. Sekarang saya terima berkas kamu dan akan memeriksanya.. Ngomong-ngomong, saya sengaja meminta agar kamu ditempatkan disini dibagian keuangan yang sama.. Saya tahu kredibilitas kamu sebagai karyawan” Kata Pak Sugi sambil melempar senyuman hangat ke arah gw..
Ki Purwagalih tersenyum sambil menarik-narik janggutnya secara perlahan.. Gw yang telah mempersiapkan diri, mulai melakukan apa yang Beliau terangkan barusan.. Untuk menggigit ujung jari sendiri ternyata sangat sulit dan rasa sakitnya juga ga bisa gw ungkapin dengan kata-kata.. Gw bahkan berusaha hingga tiga kali baru berhasil.. Itupun dengan kedua mata berlinang menahan rasa sakit..
Setelah darah merembes keluar dari ujung jari telunjuk, tiap tetesnya gw jatuhkan ke masing-masing gambar Matahari, Bulan dan Bintang.. Seperti ucapan Ki Purwagalih, tiap gambar tersebut bercahaya semakin terang setelah masing-masing tertetesi darah.. Gw pun mulai mearik nafas dan menahannya.. Lalu, perlahan gw membuka Kitab Langit setelah membaca Basmallah dan meraplkan mantera yang disebutkan Ki Purwagalih..
Kedua mata gw membesar saat hanya mendapati dua kertas aneh berwarna coklat tanpa ada tulisan apapun didalamnya, begitu membuka Kitab Langit.. Gw menggelengkan kepala ke arah Ki Purwagalih, sebagai pertanda bahwa tidak terdapat apapun di dalam Kitab Langit.. Kakek Tua bergamis putih itu membalas dengan anggukan kepala, seperti meminta gw untuk menunggu.. Dan benar saja, saat pandangan gw kembali terlempar ke dua kertas coklat, mulai muncul tulisan asing seperti aksara jawa kuno..
Gw mengerutkan kening karena tidak mengerti akan makna dibalik munculnya tiap huruf asing itu..
“Pejamkan mata mu, Ngger.. Pusatkan fikiran mu dan tunggulah apa yang akan terjadi kemudian”
Gw menganggukkan kepala dan mulai memejamkan kedua mata, lalu mencoba memusatkan fikiran masih dengan nafas yang tertahan.. Tak butuh waktu lama, gw merasakan keheningan dalam benak serta suasana mencekam mulai mengepung diri.. Sayup-sayup, terdengar suara seorang wanita yang sedang melantunkan sebuah tembang jawa kuno dengan sepenuh jiwa.. Bersamaan dengan itu, terdengar pula puluhan suara-suara asing berbisik didua indera pendengaran gw.. Bisikannya terdengar saling tumpang tindih dengan suara tembang yang dilantunkan seorang wanita..
“Sang Angkara Murka akan lenyap saat aku menyatu dengan si pembuka.. Darah akan tertumpah saat Angkara Murka mengalah.. Engkau lah darah si Pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka”
SPLASHH...
Kedua mata gw terbuka, melihat Kitab Langit yang berada dalam pegangan lenyap seketika menjadi sebuah cahaya terang yang secepat kilat melesat masuk ke dalam dua telapak tangan Ki Purwagalih.. Kedua indera penglihatan gw yang sempat terbias sinar terang itu, terpaksa terpejamkan saat silaunya sinar tersebut terasa menusuk bola mata.. Suara lantunan seorang wanita yang menembang syair berbahasa Jawa penuh perasaan pun lenyap bersamaan dengan hilangnya puluhan suara-suara asing yang berbisik memenuhi gendang telinga..
Ki Purwagalih mulai melayang berdiri diatas tanah yang dipenuhi daun-daun kering sambil melempar senyuman ke arah gw.. Gw sendiri ikut bangkit dengan telinga yang seakan-akan masih dipenuhi bisikan-bisikan suara asing nan aneh tadi..
“Jangan kau ceritakan apa yang kau lihat dan kau dengar kepada siapapun termasuk aku, Ngger..” Ucap Ki Purwagalih yang membuat gw bingung..
“Tapi, aku tidak mengerti akan maksud yang ada di balik bisikan itu, Eyang?”
“Tidak mengapa, yang terpenting sekarang kita sudah menjalankan rencana Sekar Kencana untuk menyuruh mu membuka Kitab Langit dan mencari cara mengalahkan Braja Krama.. Segala yang kau dengar atau lihat harus kau resapi dan renungi makna yang ada dibaliknya.. Aku terpaksa memisahkanmu dengan ketiga saudara, karena Kitab Langit hanya akan terbuka saat keturunan langsung Penguasa Gaib Tanah Pasundan menyendiri tanpa adanya manusia lain.. Sekarang, aku akan mengembalikan mu ke tempat kediaman” Ucap Ki Purwagalih yang gw sambut dengan anggukkan kepala satu kali..
Begitu tiba di rumah, Sekar nampak sedang duduk termenung diatas meja belajar gw sambil memandang ke luar jendela kamar yang terbuka lebar.. Gw sendiri sempat melirik ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari..
“Apa kah kau sudah membuka Kitab Langit dan mengetahui bagaimana cara mengalahkan Braja Krama, Kang Mas?” Tanya Sekar saat gw sedang duduk di pinggir tempat tidur..
Gw menganggukkan kepala sebagai jawaban iya atas pertanyaan Sekar barusan.. Namun, tak satu pun kalimat meluncur dari lisan gw, karena teringat akan pesan Ki Purwagalih yang melarang untuk menceritakan nya kepada siapapun.. Sekar sendiri hanya bisa terdiam tanpa mencoba menanyakan lagi lebih jauh.. Ditelinga gw terus terngiang-ngiang suara puluhan bisikan asing yang membisikkan kalimat sama berulang-ulang..
“Sang Angkara Murka akan lenyap saat aku menyatu dengan si pembuka.. Darah akan tertumpah saat Angkara Murka mengalah.. Engkau lah darah si Pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka” Ucap gw dalam hati kembali mengulang tiga kalimat yang terekam jelas dalam benak..
“Apa Kitab Langit akan menyatu ke badan gw? Terus terjadi perang gaib lagi kek lawan Raja Siluman waktu itu? Lalu, darah si pembuka yang akan menutup mata Angkara Murka itu, apa artinya gw juga harus mengorbankan diri kek waktu lawan Bayu Ambar?.. Haduuuh! Kenapa pake segala ada teka teki nya sih?” Maki gw masih dalam hati sambil menggaruk-garuk kepala..
“Ada apa, Kang Mas? Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu yang berat?” Tanya Sekar sambil menatap dengan pandangan menyelidik..
“Aku ingin istirahat, Sekar” Jawab gw setelah sempat terdiam dan menghela nafas panjang..
“Kau belum mengerjakan Shalat Isya, Kang Mas”
Gw tercekat dan menepok jidat sendiri karena hampir lupa akan kewajiban utama sebagai umat muslim.. Sambil mengucapkan terima kasih ke Sekar yang sudah mengingatkan, gw segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu..
Keesokan paginya, Ibu yang sudah menyiapkan sarapan pagi memanggil gw untuk ikut sarapan bersama dirinya dan Ayu.. Segera gw tinggalkan mobil mendiang Ayah yang baru saja selesai gw cuci di pekarangan rumah.. Lalu mandi dan mengganti pakaian di dalam kamar, sebelum menyusul Ibu untuk menikmati sarapan..
“Tadi malam, Pak Sugi telpon Ibu katanya kamu hari ini harus datang ke kantornya jam 11 dan membawa semua berkas yang diperlukan untuk mengurus penerbitan SK 80 % kamu sebagai CPNS, bang” Kata Ibu, saat gw mulai mengunyah nasi goreng teri medan buatannya..
Gw meneguk air putih yang ada di depan untuk melancarkan turunnya makanan ke tenggororkan sebelum menanggapi pernyataan Ibu barusan..
“Iyaa, Bu.. Abang emang rencananya mau hubungin Ayu hari ini.. Mo nanyain soal syarat pemberkasan juga”
“Ga usah.. Pak Sugi juga udah kirimin photo persyaratannya semalam lewat WA.. Nanti Ibu kasih lihat ke kamu deh.. Habisin aja dulu nasi gorengnya, Bang.. Oh iya, kamu anterin Ayu kesekolah terus potong rambut kamu tuh yang gondrongnya udah kelewatan.. Masa CPNS ga rapih begitu.. Malu aah” Kata Ibu sambil menunjuk ke arah rambut gw..
Gw sendiri melempar senyuman ke Ibu dan menganggukkan kepala untuk menyetujui nasihat beliau.. Sebenarnya, dalam hati gw merasa sedikit sayang untuk memotong rambut.. Tapi, gw sama sekali tidak mau berdebat soal rambut dengan Ibu.. Lagipula, saran beliau tadi memang benar..
Sambil menikmati hisapan rokok di teras selesai sarapan, gw membuka Hp dan melihat semua persyaratan yang dikirimkan dalam bentuk photo oleh Pak Sugi lewat pesan WA ke Ibu.. Kening gw berkerut begitu melihat salah satu persyaratan adalah legalisir basah Ijazah SMA.. Dengan berjalan sedikit cepat, gw berpindah tempat ke kamar dan membuka File Map yang berisi semua dokumen-dokumen penting milik pribadi, seperti Akta Kelahiran dan semua Ijazah dari SD sampai SMA..
“Alhamdulillah..” Ucap gw begitu menemukan sepuluh lembar foto kopian Ijazah SMA yang sudah dilegalisir basah tanpa di beri nomer dan tanggal..
Satu persatu dokumen gw persiapkan untuk melengkapi persyaratan pemberkasan CPNS yang photo nya sudah dikirmkan Pak Sugi.. Hanya tinggal satu yang masih belum bisa gw lengkapi, yaitu pas Photo diri sendiri ukuran 2x3, 3x4 dan 4x6.. Sebuah catatan kecil nampak terlihat di bawah foto surat terkait pas photo.. Karena tulisannya yang kecil, terpaksa gw menyentuh layar Hp menggunakan ujung jari jempol dan jari telunjuk untuk memperbesar ukuran gambar..
*Semua Calon Aparatur Sipil Negara harus berpenampilan rapih dengan menggunakan Jas Hitam + Dasi Hitam + Kemeja Putih untuk Pas Photo..
Begitulah isi catatan kecil yang tertulis dibagian bawah photo surat.. Gw menganggukkan kepala pertanda sudah memahami semua persyaratan yang hanya tinggal satu saja belum terlengkapi, yakni Pas Photo.. Perlahan, gw mengambil jas hitam yang pernah dibelikan mendiang Ayah, lalu dasi hitam dan kemeja putih.. Semuanya gw lepit dan menumpuknya satu persatu.. Lalu, gw masukkan ke dalam paper bag berwarna pink milik Anggie, yang pernah gadis itu gunakan untuk membawakan beberapa kaus baru untuk gw..
“Aabang, cepetan!!! Ade kamu udah ngambek nih nungguin.. Nanti dia kesiangan” Teriak Ibu dari teras yang membuat gw langsung ngacir..
“Bawa mobil aja, Bang.. Gerimis soalnya.. Inget yah, habis anterin Ayu, kamu potong rambut” Ucap Ibu sambil menarik ujung rambut gw diatas kening..
“Siap, Bosskuh” Jawab gw seraya membuka pintu samping mobil..
Adik gw, Ayu yang sudah berseragam putih biru duduk disamping.. Wajah nya nampak cemberut dengan dua tangan terlipat di dada.. Tanpa menunggu komentar Ayu yang pedas kalau sedang ngambek, gw langsung menancap gas menuju sekolahnya.. Untungnya, jalan tidak begitu macet karena kendaraab beroda dua banyak yang menepi menunggu gerimis reda dipinggir jalan.. Tepat sepuluh menit sebelum bel sekolahnya Ayu berdentang, gw tiba di depan gerbang.. Ayu langsung berhambur keluar dari mobil, sesudah menarik tangan kanan gw dan mencium punggungnya dengan cepat..
Sepanjang perjalanan pulang, pandangan mata gw mencari-cari Barber Shop, istilah keren tempat cukur rambut yang sudah buka untuk menunaikan janji ke Ibu.. Dan, di waktu sepagi ini akhirnya gw melihat ada sebuah tempat cukur yang sudah terpampang tanda BUKA di depan pintunya..
Gw memang sangat anti untuk mencukur rambut di salon.. Lu tau pasti penyebab nya apaan, Bree.. Yup! Gw ogah ke salon karena selalu merasa terancam oleh kaum pelangi jika berada didalamnya.. Terlebih setelah mempunyai pengalaman buruk sewaktu menemani Anggie dahulu.. Lagipula, Salon itu identik untuk cewe.. Bukan buat kaum maskulin kek kita, Bree.. Mendingan ke tukang cukur.. Biar kata sedikit merasa perih ditiap tepian rambut sewaktu di kerik untuk dirapikan, tapi setidaknya gw tidak merasa was-was..
Gw sempat menitikkan airmata saat melihat rambut gw yang gondrong, sudah terpotong rapi.. Haha.. Too melancholy will kill me! Pada kenyataannya, gw memang sedikit merasa menyesali masa-masa kegondrongan gw yang harus usai.. Padahal, status gw masih menjadi seorang mahasiswa yang memang identik dengan penampilan santai non formal.. Lagipula, banyak kaum hawa yang memuji kegondrongan gw kemarin..
Tapi, mengingat peringatan Ibu sekaligus status gw yang sekarang adalah seorang Calon Aparatur Sipil Negara, mau tidak mau gw harus menelan ludah.. Semua demi masa depan gw sendiri dan juga demi menyenangkan hati Ibu..
Oke! Tinggal satu yang masih harus gw lakukan sebelum menemui Pak Sugi dikantornya.. Gw mesti mencari studio photo cukup berkualitas untuk memotret dan mencetak photo yang akan gw lampirkan bersama persyaratan lain.. Pandangan gw yang masih beredar dari dalam mobil, terus mencari studio photo.. Memang beberapa ada yang sudah buka, namun sepertinya bukan studio yang bagus..
Setelah sempat berkeliling, akhirnya gw melihat studio photo yang cukup besar.. Tanpa ragu-ragu, gw langsung menyalakan lampu sign kanan dan masuk ke dalam halaman parkir tempat itu.. Seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyuman ramah dan menunjukkan gw ruangan kecil untuk mengganti baju.. Gw yang sudah membawa paper bag berwarna pink, yang berisi setelan kemeja putih dan jas hitam segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengganti pakaian..
Dengan bagian tubuh atas nampak rapi tertutup kemeja putih dibalut jas hitam serta dasi hitam yang mengalungi kerah, gw berjalan masuk ke dalam studio pemotretan.. Oh iya, untuk bagian bawah gw tetap mengenakan celana jeans panjang berwarna biru dilengkapi sandal gunung, karena photo yang dibutuhkan hanya seukuran setengah badan saja.. Jadi gw merasa tidak perlu mengganti celana..
Disambut Ibu yang sedang menjemur pakaian, gw tersenyum manis saat sudah turun dari mobil dan melihat Beliau yang nampak berjalan mendekat..
“Nah.. Kalau rapih dan ganteng begini, baru Ibu yakin kamu anak Ibu, Bang” Ledek Ibu sambil membelai rambut gw..
“Yaeelah, Bu.. Mau gondrong atau ga, tetep aja abang mah ganteng”
“Iya, Iya.. Tapi kan, kalau rapih mah gantengnya lebih kelihatan, Bang.. Ga semrawut kek kemaren.. Ya udah, sana mandi.. Udah jam sepuluh loh.. Kamu harus nemuin Pak Sugi jam sebelas.. Jangan sampe telat” Kata Ibu yang gw balas dengan anggukan kepala..
Perlahan, gw berjalan masuk ke dalam kamar untuk menaruh kembali paper bag berwarna pink.. Sekar nampak memperhatikan gw cukup lama, lalu melayang menghampiri..
“Kau nampak jauh lebih tampan, Kang Mas” Puji Sekar yang membuat gw tersenyum simpul..
“Terima kasih, Sekar.. Kau juga selalu nampak cantik dan anggun” Jawab gw dengan balas memuji kecantikan dirinya..
Sekar juga sama melemparkan senyuman manis diselingi wajah yang tersipu.. Lalu menatap wajah gw dengan tatapan lebih serius..
“Aku meminta izin untuk pergi, Kang Mas.. Aku harus segera memberitahukan beberapa tokoh, yang sedia nya mau membantu kita saat masa penukaran Kitab Langit dengan semua tawanan Braja Krama tiba” Kata Sekar..
Gw tertegun terdiam mendengarkan ucapannya.. Kemudian, sambil kembali tersenyum manis, gw menganggukan kepala sebagai jawaban iya atas permintaannya barusan.. Sekar juga menganggukan kepalanya satu kali.. Lalu membalikkan tubuh dan melesat menembus dinding kamar gw, sambil merentangkan dua selendang emasnya
Dalam benak, gw kembali teringat akan masa penukaran itu yang waktunya semakin dekat.. Sebuah tarikan nafas dalam-dalam gw lakukan.. Kemudian mengeluarkannya secara perlahan..
Jam sebelas kurang lima menit, gw tiba di lobi kantor.. Beberapa staff yang memang sudah gw kenal, nampak menghampiri dan mengucapkan selamat atas lulusnya gw menjadi seorang CPNS.. Tak terkecuali pak Rudi.. Beliau bahkan sempat memeluk gw dengan sangat erat dan menitikkan airmata karena teringat akan almarhum Ayah gw.. Setelah masa reunian usai, gw di antar Pak Rudi ke ruangan Kepala Kantor yang tak lain adalah Pak Sugi, abi nya Ayu..
Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, telapak tangan gw selalu merasakan sensasi bak tersetrum aliran listrik saat menjabat tangan Pak Sugi.. Pandangan mata gw juga semakin jelas melihat kujang kecil yang tersemat dilengan kanan laki-laki tambun tersebut.. Terakhir kali, gw ingat benda misterius itu sempat terpatah dua namun kembali menyatu dengan sendirinya.. Entah untuk apa Pak Sugi menanam benda gaib di tubuhnya? Gw juga tidak ingin tahu dan tidak pula mau mencari tahu..
“Apa kabar, Mam?” Tanya Pak Sugi cukup ramah sambil memilin sebatang rokok kretek dengan jarinya..
“Alhamdulillah baik, Pak.. Oh iya.. Saya membawa persyaratan yang bapak kirimkan lewat WA ke Ibu saya” Jawab gw seraya menyodorkan amplop cokelat bertali ke hadapan Beliau..
Pak Sugi tidak langsung mengambil amplop tersebut.. Tapi malah mengamati gw lekat-lekat sambil menghisap rokoknya.. Menyadari diri ini sedang diperhatikan sedemikian rupa oleh seorang laki-laki, membuat gw merasa jengah sendiri.. Akhirnya, gw hanya bisa menundukkan kepala tanpa mau membalas tatapan beliau yang terasa aneh..
“Kamu tahu, Mam.. Saya sempat merasa kecewa pas tahu kamu tidak mau melanjutkan perjodohan dengan Ayu” Ucap Pak Sugi yang membuat gw mengangkat wajah dan memandangnya..
“Saya menyayangkan sikap kamu.. Padahal, jika kamu mau menikah dengan Ayu, saya berencana untuk menjadikan kamu sebagai calon pengganti saya menjadi Kepala Kantor suatu hari nanti.. Bukan itu saja, saya juga tadinya berniat menjadikan kamu sebagai salah satu dewan direksi diperusahaan yang saat ini sedang di jalani oleh adik saya.. Semua itu saya akan lakukan jika kamu mau menikahi Ayu.. Karena saya tahu anak gadis saya itu sayang sekali sama kamu” Lanjut Pak Sugi yang terdengar mulai keluar jauh dari jalur..
Gw masih terdiam, meski dua telapak tangan mulai terkait satu sama lain dan menggenggam kuat tiap jari yang terpangku diatas paha..
“Tapi, sayang.. Semua itu kamu tolak mentah-mentah.. Saya sempat marah mendengar keputusan Ibu mu yang secara tidak langsung menghina harga diri keluarga saya.. Kamu tahu, Mam.. Saya bahkan sempat hendak mengirimkan Santet ke kamu.. Tapi terpaksa saya urungkan karena saya sadar, dendam tidak akan menyelesaikan apapun.. Lagi pula, saya tahu kamu dijaga beberapa Jin berilmu tinggi”
Kedua mata gw terbelalak mendengar pengakuan Pak Sugi tentang rencana jahatnya ke diri gw.. Hal itu memancing emosi gw dan membuat bahu sebelah kanan menghangat.. Pertanda bahwa Pedang Jagat Samudera pun merasakan hal serupa..
“Maaf, Pak! Jika diundangnya saya hanya untuk membicarakan segala omong kosong ini, lebih baik saya pamit sekarang juga” Ucap gw dengan tegas sambil bangkit berdiri dari atas bangku..
“Tunggu! Tunggu, Mam.. Saya belum selesai bicara” Cegah Pak Sugi sambil mematikan rokonya di asbak dan membuat gw mengurungkan niat..
“Duduklah dulu sebentar lagi.. Saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya sebagai seorang Abi dari anak gadis yang cintanya bertepuk sebelah tangan sama kamu” Tambah Pak Sugi..
Gw cukup merasa tidak enak hati mendengar kalimat terakhir Pak Sugi tentang hubungan gw dengan puterinya, Ayu.. Perlahan, gw kembali duduk.. Kali ini sambil berusaha meredam emosi yang sempat terpancing..
“Kamu tahu, begitu menerima pesan dari Ibu mu lewat SMS.. Anak saya, Ayu.. Langsung masuk kamar dan keluar lagi dalam keadaan kedua mata sembab seperti orang habis menangis.. Hal itu terjadi dua kali.. Yang terakhir saat ia pulang sehabis menginap selama dua hari menemani Ibu kamu di rumah sakit.. Ayu juga langsung masuk kamar waktu itu dan baru keluar saat adzan zuhur, masih dengan mata sembab.. Coba kamu bayangkan, bagaimana perasaan saya sebagai Abi nya melihat anak saya menangisi pemuda yang tidak bisa membalas cintanya”
Gw tertegun mendengar perkataan Pak Sugi yang terasa menohok batin.. Baru gw sadar selama ini Ayu sudah sangat mencintai gw dan mau menemani Ibu di rumah sakit selama dua hari.. Benak gw langsung teringat akan bagaimana perlakuan gw ke Ayu.. Terutama saat terakhir kami bertatap muka yaitu di rumah sakit.. Waktu itu, gw malah menghina Ayu karena menyangka gadis itu hanya berniat untuk memamerkan kekayaannya saja..
“Saya sempat kalap melihat wajah anak saya selalu sedih.. Tapi, Ayu juga yang meredakan amarah saya, Mam.. Anak saya itu menjelaskan semua tentang hubungan kamu dengan sorang gadis yang rumahnya berada dekat dengan rumah saya.. Ayu juga bilang dia ikhlas menerima keputusan Ibu dan kamu, karena dia sadar memaksakan kehendak tidak akan berujung kebaikan.. Dan saya sendiri sekarang merasa sangat bangga dengan sikap dewasa Ayu, yang menurut pengakuannya didapat dari kamu”
Kedua mata gw kembali membesar mendengar kalimat Pak Sugi, meski masih tak bisa menjawab apapun..
“Oke.. Curhatan seorang Abi, saya anggap cukup.. Sekarang saya terima berkas kamu dan akan memeriksanya.. Ngomong-ngomong, saya sengaja meminta agar kamu ditempatkan disini dibagian keuangan yang sama.. Saya tahu kredibilitas kamu sebagai karyawan” Kata Pak Sugi sambil melempar senyuman hangat ke arah gw..
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
14