- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#775
PART 61
Menit ke menit gue jalani sambil mikirin kata-kata Emil. Kayaknya gue mulai paham apa yang dia maksud. Mungkin enggak sepenuhnya gue paham, tapi sebagian besar gue rasa gue cukup paham.
“Gimana bang kepala lo?” tanya Bull sewaktu gue lagi makan. “Masih nyeri?”
“Enggak terlalu sih, Bull,” jawab gue di tengah tiupan nafas ke mangkok di tangan. “Kayaknya udah kering, deh.”
“Kok masih pake bannie? Masih belum lo buka kain kasanya?”
Gue cuma menggeleng menanggapi pertanyaan Bull karena mulut gue penuh.
“Mending lo buka, deh,” saran Bull. “Daripada lo tutup terus enggak dapet udara lukanya.”
“Bang Dawi mah lebay, Bull,” timpal Luther tiba-tiba yang daritadi seberang gue. “Itu kasa sampai kita balik juga enggak bakal dibuka.”
“Lo tuh yang lebay,” sahut gue setelah menelan sop di mulut. “Udah berapa hari masih aja diem-dieman sama Yansa.”
“Lhah, yang salah kan Yansa,” kata Luther membela diri. “Ya kalo mau baikan ya dia yang harus minta maaf ke gue dululah.”
“Emang apa urusannya sama lo? Yang jadi permasalahan kan Yansa bakar laporannya Dinda, bukan bakar lo.”
Dasar Luther, kejadiannya udah lewat masih aja dibahas. Padahal kan mending juga dia baikan sama Yansa. Udah gitu kan dia bisa bantuin Yansa kerjain laporannya Dinda biar cepat selesai. Makin cepat selesai laporannya, makin besar juga kemungkinan si Dinda berubah pikiran buat jadi jalan bareng dia. Apalagi kalo si Dinda tau kalo Luther dengan lapang dada maafin Yansa dan dengan senang hati ngerjain laporan Dinda, udah pasti jadi nilai plus di mata Dinda. Hubungan sama temen aman, hubungan sama gebetan makin ada peningkatan.
Bukannya malah kayak gini, ngambek enggak jelas sampai waktu yang enggak ditentukan. Bukannya dapet peningkatan soal hubungan dia sama Dinda malah makin menurun. Ya gimana enggak menurun? Dia cuma ngambek doang sementara si Yansa mungkin aja hubungannya sama Dinda makin meningkat. Gimana enggak? Dia berani jujur sama perasaannya sendiri dan dia juga orangnya tanggung jawab. Gue yakin Dinda yang suka girang sendiri kalo bahas mistis sekalipun juga bakal mempertimbangkan sesuatu yang realistis kayak gitu.
“Ya tetep aja–”
“Tetep aja apa?” potong gue. “Yansa kan juga tanggung jawab bikin ulang laporannya Dinda. Si Dinda juga udah maafin dia, kok.”
“Ya tetep aja Yansa salah sama gue!” kata Luther ngotot.
“Susah ngomong sama lo,” kata gue. “Lo tuh batu.”
“Biarin aja, Bang,” timpal Bull. “Udah pada gede juga, harusnya dua-duanya tau gimana harus ambil sikap.”
Dilihat dari sisi manapun Luther kelihatan keras kepala. Ya meskipun salah Yansa juga dia jadi kayak gini, tapi enggak seharusnya dia batu kayak gini. Kalo emang mau nyelesaiin masalah ya harusnya duduk bareng ngomongin masalah pake kepala dingin. Bukannya malah jauhin sumber masalahnya kayak gini.
Bukannya malah jauhin sumber masalah kayak gini? Gimana sama gue? Eh? Apa gue batu juga? Apa kabar masalah gue sama Cassie? Kalo dipikir-pikir masalah gue sama Cassie juga enggak beda jauh, kan? Kok gue jadi gini, sih? Apa Emil juga ngelihat gue kayak gue ngelihat Luther? Enggak ada titik maaf buat Cassie? Kayaknya gue bikin kesalahan juga, deh.
“Melly kemana, Bull?” tanya gue membalikkan sendok di mangkok.
“Ke rumah pak RW kayaknya,” jawab Bull. “Lagi ngobrolin sama muda-mudi soal penyanyi mungkin.”
Gue beranjak dari duduk gue dan menaruh mangkok gue di bawah tudung saji. Tanpa berlama-lama gue ambil jaket almamater dan segera mengarahkan kaki gue ke rumah pak RW.
Menit ke menit gue jalani sambil mikirin kata-kata Emil. Kayaknya gue mulai paham apa yang dia maksud. Mungkin enggak sepenuhnya gue paham, tapi sebagian besar gue rasa gue cukup paham.
“Gimana bang kepala lo?” tanya Bull sewaktu gue lagi makan. “Masih nyeri?”
“Enggak terlalu sih, Bull,” jawab gue di tengah tiupan nafas ke mangkok di tangan. “Kayaknya udah kering, deh.”
“Kok masih pake bannie? Masih belum lo buka kain kasanya?”
Gue cuma menggeleng menanggapi pertanyaan Bull karena mulut gue penuh.
“Mending lo buka, deh,” saran Bull. “Daripada lo tutup terus enggak dapet udara lukanya.”
“Bang Dawi mah lebay, Bull,” timpal Luther tiba-tiba yang daritadi seberang gue. “Itu kasa sampai kita balik juga enggak bakal dibuka.”
“Lo tuh yang lebay,” sahut gue setelah menelan sop di mulut. “Udah berapa hari masih aja diem-dieman sama Yansa.”
“Lhah, yang salah kan Yansa,” kata Luther membela diri. “Ya kalo mau baikan ya dia yang harus minta maaf ke gue dululah.”
“Emang apa urusannya sama lo? Yang jadi permasalahan kan Yansa bakar laporannya Dinda, bukan bakar lo.”
Dasar Luther, kejadiannya udah lewat masih aja dibahas. Padahal kan mending juga dia baikan sama Yansa. Udah gitu kan dia bisa bantuin Yansa kerjain laporannya Dinda biar cepat selesai. Makin cepat selesai laporannya, makin besar juga kemungkinan si Dinda berubah pikiran buat jadi jalan bareng dia. Apalagi kalo si Dinda tau kalo Luther dengan lapang dada maafin Yansa dan dengan senang hati ngerjain laporan Dinda, udah pasti jadi nilai plus di mata Dinda. Hubungan sama temen aman, hubungan sama gebetan makin ada peningkatan.
Bukannya malah kayak gini, ngambek enggak jelas sampai waktu yang enggak ditentukan. Bukannya dapet peningkatan soal hubungan dia sama Dinda malah makin menurun. Ya gimana enggak menurun? Dia cuma ngambek doang sementara si Yansa mungkin aja hubungannya sama Dinda makin meningkat. Gimana enggak? Dia berani jujur sama perasaannya sendiri dan dia juga orangnya tanggung jawab. Gue yakin Dinda yang suka girang sendiri kalo bahas mistis sekalipun juga bakal mempertimbangkan sesuatu yang realistis kayak gitu.
“Ya tetep aja–”
“Tetep aja apa?” potong gue. “Yansa kan juga tanggung jawab bikin ulang laporannya Dinda. Si Dinda juga udah maafin dia, kok.”
“Ya tetep aja Yansa salah sama gue!” kata Luther ngotot.
“Susah ngomong sama lo,” kata gue. “Lo tuh batu.”
“Biarin aja, Bang,” timpal Bull. “Udah pada gede juga, harusnya dua-duanya tau gimana harus ambil sikap.”
Dilihat dari sisi manapun Luther kelihatan keras kepala. Ya meskipun salah Yansa juga dia jadi kayak gini, tapi enggak seharusnya dia batu kayak gini. Kalo emang mau nyelesaiin masalah ya harusnya duduk bareng ngomongin masalah pake kepala dingin. Bukannya malah jauhin sumber masalahnya kayak gini.
Bukannya malah jauhin sumber masalah kayak gini? Gimana sama gue? Eh? Apa gue batu juga? Apa kabar masalah gue sama Cassie? Kalo dipikir-pikir masalah gue sama Cassie juga enggak beda jauh, kan? Kok gue jadi gini, sih? Apa Emil juga ngelihat gue kayak gue ngelihat Luther? Enggak ada titik maaf buat Cassie? Kayaknya gue bikin kesalahan juga, deh.
“Melly kemana, Bull?” tanya gue membalikkan sendok di mangkok.
“Ke rumah pak RW kayaknya,” jawab Bull. “Lagi ngobrolin sama muda-mudi soal penyanyi mungkin.”
Gue beranjak dari duduk gue dan menaruh mangkok gue di bawah tudung saji. Tanpa berlama-lama gue ambil jaket almamater dan segera mengarahkan kaki gue ke rumah pak RW.
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
