- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#770
PART 59
Gue kangen berat sama Emil. Rasanya kayak lebih dari gimana Emil kangen sama gue. Kalo Emil bilang enggak ada gue itu bosenin, gue yang enggak ada Emil itu nyakitin. Berasa kayak terlahir sebagai jomblo hina yang tiap malem minggu kerjaannya cuma duduk dipojokan elus-elus tembok ngebayangin gimana rasanya punya pacar cewek cakep di instagram yang pada akhirnya gue nemuin foto dia bareng cowoknya. Sakit, tapi enggak berdarah.
Ah… bener-bener menyedihkan. Gue harap kalian enggak tersinggung.
Well..., balik lagi ke masalah KKN.
“Tinggal seminggu,” kata Emil. “Eh, enggak sampai deng.”
“Lima hari yang bener,” ucap gue mengoreksi. “Lima hari lagi balik Jogja.”
“Kangen kosan?”
“Lebih kangen nonton film-film jadul di sofa berdua sih sebenernya.”
“Kangen jagain Junior?” tanya Emil lagi.
“Kangen lihatin kamu jagain Junior.”
“Udah berasa kayak anak sendiri,” ucap Emil tersenyum. “Padahal anak tetangga.”
“Udah ah, bahas kayak gitu malah bikin tambah kangen kosan.”
“Iya juga, sih.”
“Daripada mikirin itu, aku malah lebih kepikiran sama anak-anak.”
“Anak-anak?”
“Luther, Yansa, Dinda,” jelas gue. “Melly sama Cassie.”
“Bukannya kamu cerita masalah mereka udah empat hari yang lalu, ya? Masih belum baikan?”
“Gatau deh mereka bertiga maunya apa.”
“Bukan Luther, Dinda sama, Yansa,” kata Emil menjelaskan. “Tapi Melly sama Cassie.”
“Ya belumlah…,” jawab gue kembali mengusap kain kasa di atas kepala. “Rujuk sama mereka berdua itu berat, aku enggak akan kuat, tapi bodo amat.”
“Kamu tau kan enggak baik marahan sama orang lebih dari tiga hari?” ucap Emil mengingatkan. “Mama sendiri lho yang bilang.”
“Iya, aku tau.”
“Terus kenapa masih dilakuin?”
“Ya kamu tau sendiri kan kalo Cassie itu DPD,” kata gue mengingatkan balik. “Ya aku harus gimana? Dianya aja enggak normal.”
“Kok kamu ngomongnya gitu?” tanya Emil terdengar kesal. “Laagipula itu juga bukan alasan.”
“Kamu lebih belain dia nih sekarang?”
“Bukan belain dia,” kata Emil. “Tapi lihat masalah dari sudut pandang dia.”
“Ya apa bedanya, coba?”
“Bayangin aja kalo kamu sesak nafas terus tergantung sama inhaler tapi inhalernya enggak mau deket-deket sama kamu.”
“Eh?” gumam gue menyudutkan pandangan.
“Iya,” lanjut Emil. “Kamu butuh sesuatu yang jelas-jelas sesuatu itu enggak butuh sama kamu.”
“Kalo ngomongin soal siapa yang butuh dan enggak butuh, ya berarti maksudnya dia yang butuh sama aku, kan?”
“Ini bukan soal siapa yang butuh, Yang. Ini soal kamu bantu sesama. Bukan maksa dia buat jauh-jauh dari kamu, tapi ngajarin kamu buat enggak ketergantungan sama inhaler.”
“Ketergantungan? Maksudnya gimana, sih? Kok jadi muter-muter gini?”
Terus terang aja, kita kadang masih sering salah terima kalo lagi ngomong berdua masalah hal-hal yang serius kayak gini. Kalo salah satu dari kita enggak paham apa maksud satu sama lain, ujung-ujungnya kebanyakan bakal berantem. Ya meski kita sebenernya enggak pengin berantem, tapi kayaknya yang namanya salah paham biasa kejadian deh kalo sama pasangan.
“Orang yang kena asma bisa mati kalo tiba-tiba inhalernya diambil,” jelas Emil. “Tapi kalo perlahan demi perlahan dijauhin dari inhalernya, orang yang kena asma lama-kelamaan enggak terlalu butuh banget inhalernya. Sekalinya butuh paling juga waktu kejadian sesuatu terus dia sesak nafas tiba-tiba.”
“Jadi maksudnya–”
“Iya,” ucap Emil memotong. “Disorder itu enggak ada obatnya, tapi bisa diterapi.”
“Jadi maksud kamu temenan sama aku tuh terapi, gitu?”
“Kurang lebih kayak gitu,” katanya lagi. “Dan aku yakin, cowokku pasti bisa nanganin dia.”
“Ini kenapa, deh?” tanya gue. “Kok kamu jadi yakin banget aku bisa nanganin?”
“Karena kamu cowokku,” jawab Emil memakaikan bannie yang sebelumnya diambilnya dari kepala gue. “Inget, apapun yang terjadi di KKN, lebih baik selesai di KKN.”
Gue kangen berat sama Emil. Rasanya kayak lebih dari gimana Emil kangen sama gue. Kalo Emil bilang enggak ada gue itu bosenin, gue yang enggak ada Emil itu nyakitin. Berasa kayak terlahir sebagai jomblo hina yang tiap malem minggu kerjaannya cuma duduk dipojokan elus-elus tembok ngebayangin gimana rasanya punya pacar cewek cakep di instagram yang pada akhirnya gue nemuin foto dia bareng cowoknya. Sakit, tapi enggak berdarah.
Ah… bener-bener menyedihkan. Gue harap kalian enggak tersinggung.
Well..., balik lagi ke masalah KKN.
“Tinggal seminggu,” kata Emil. “Eh, enggak sampai deng.”
“Lima hari yang bener,” ucap gue mengoreksi. “Lima hari lagi balik Jogja.”
“Kangen kosan?”
“Lebih kangen nonton film-film jadul di sofa berdua sih sebenernya.”
“Kangen jagain Junior?” tanya Emil lagi.
“Kangen lihatin kamu jagain Junior.”
“Udah berasa kayak anak sendiri,” ucap Emil tersenyum. “Padahal anak tetangga.”
“Udah ah, bahas kayak gitu malah bikin tambah kangen kosan.”
“Iya juga, sih.”
“Daripada mikirin itu, aku malah lebih kepikiran sama anak-anak.”
“Anak-anak?”
“Luther, Yansa, Dinda,” jelas gue. “Melly sama Cassie.”
“Bukannya kamu cerita masalah mereka udah empat hari yang lalu, ya? Masih belum baikan?”
“Gatau deh mereka bertiga maunya apa.”
“Bukan Luther, Dinda sama, Yansa,” kata Emil menjelaskan. “Tapi Melly sama Cassie.”
“Ya belumlah…,” jawab gue kembali mengusap kain kasa di atas kepala. “Rujuk sama mereka berdua itu berat, aku enggak akan kuat, tapi bodo amat.”
“Kamu tau kan enggak baik marahan sama orang lebih dari tiga hari?” ucap Emil mengingatkan. “Mama sendiri lho yang bilang.”
“Iya, aku tau.”
“Terus kenapa masih dilakuin?”
“Ya kamu tau sendiri kan kalo Cassie itu DPD,” kata gue mengingatkan balik. “Ya aku harus gimana? Dianya aja enggak normal.”
“Kok kamu ngomongnya gitu?” tanya Emil terdengar kesal. “Laagipula itu juga bukan alasan.”
“Kamu lebih belain dia nih sekarang?”
“Bukan belain dia,” kata Emil. “Tapi lihat masalah dari sudut pandang dia.”
“Ya apa bedanya, coba?”
“Bayangin aja kalo kamu sesak nafas terus tergantung sama inhaler tapi inhalernya enggak mau deket-deket sama kamu.”
“Eh?” gumam gue menyudutkan pandangan.
“Iya,” lanjut Emil. “Kamu butuh sesuatu yang jelas-jelas sesuatu itu enggak butuh sama kamu.”
“Kalo ngomongin soal siapa yang butuh dan enggak butuh, ya berarti maksudnya dia yang butuh sama aku, kan?”
“Ini bukan soal siapa yang butuh, Yang. Ini soal kamu bantu sesama. Bukan maksa dia buat jauh-jauh dari kamu, tapi ngajarin kamu buat enggak ketergantungan sama inhaler.”
“Ketergantungan? Maksudnya gimana, sih? Kok jadi muter-muter gini?”
Terus terang aja, kita kadang masih sering salah terima kalo lagi ngomong berdua masalah hal-hal yang serius kayak gini. Kalo salah satu dari kita enggak paham apa maksud satu sama lain, ujung-ujungnya kebanyakan bakal berantem. Ya meski kita sebenernya enggak pengin berantem, tapi kayaknya yang namanya salah paham biasa kejadian deh kalo sama pasangan.
“Orang yang kena asma bisa mati kalo tiba-tiba inhalernya diambil,” jelas Emil. “Tapi kalo perlahan demi perlahan dijauhin dari inhalernya, orang yang kena asma lama-kelamaan enggak terlalu butuh banget inhalernya. Sekalinya butuh paling juga waktu kejadian sesuatu terus dia sesak nafas tiba-tiba.”
“Jadi maksudnya–”
“Iya,” ucap Emil memotong. “Disorder itu enggak ada obatnya, tapi bisa diterapi.”
“Jadi maksud kamu temenan sama aku tuh terapi, gitu?”
“Kurang lebih kayak gitu,” katanya lagi. “Dan aku yakin, cowokku pasti bisa nanganin dia.”
“Ini kenapa, deh?” tanya gue. “Kok kamu jadi yakin banget aku bisa nanganin?”
“Karena kamu cowokku,” jawab Emil memakaikan bannie yang sebelumnya diambilnya dari kepala gue. “Inget, apapun yang terjadi di KKN, lebih baik selesai di KKN.”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
