- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#768
PART 58
“Kira-kira bakalan pitak enggak, ya?”
“Ya jelas pitaklah,” ucapnya mengelus kain kasa di atas kepala gue. “Luka jahit pasti pitak.”
“Tapi enggak bakalan kelihatan kan kalo sama orang lain?”
“Ya tetep kelihatan lah….”
“Kan ketutupan rambut,” kata gue berpendapat. “Masa iya masih kelihatan?”
“Ya kalo orangnya di atas seratus delapan puluh centimeter udah pasti kelihatan.”
“Bagus, deh,” ucap gue ikut-ikutan mengelus kain kasa di kepala. “Berarti enggak bakal kelihatan sama mama kan, ya?”
“Dia mamamu kali, Yang,” jelas Emil lagi. “Cepat atau lambat juga pasti ketahuan.”
“Yakin deh kalo ketahuan pasti mikir neko-neko,” kata gue. “Bisa dihilangin enggak, sih? Laser? Sulam rambut? Atau ditutup tato gitu?”
“Udah deh enggak perlu berlebihan gitu,” komentar Emil. “Enggak kelihatan juga kalo di kepala.”
“Tapi kamu gapapa kan kalo aku ada pitak gini?”
“Ya enggaklah!” seru Emil. “Kita break dulu sampai kamu laser bekas jahitan itu!”
“S-serius?”
“Iyalah!” ucapnya lagi yang kini ketawa geli. “Siapa juga yang mau pacaran sama orang pitak!”
“Ini anak siapa sih…,” kata gue menarik kepala Emil ke depan dada gue. “Orang cowoknya lagi serius malah dibercandain.”
Kepala gue pitak. Ya, kepala gue pitak. Luka jahitan membekas di kepala gue sebagai bukti uji percobaan betapa kerasnya kepala gue kalo dipukul pake balok kayu. Ya wajar sih kalo kepala gue bocor gara-gara balok kayu. Meskipun ini sebuah film, tetep aja gue bukan Mark Ruffalo yang bisa tetap nyengir sewaktu kena pukul. Gue enggak punya tenaga dalam, kekuatan penyembuh, ataupun potion regenerasi, jelas aja one hit KO. Coba aja gue Deadpool, ah…, coba aja.
“Gimana KKN?”
“Gimana KKN? Perasaan tiga hari sekali kamu nanyain itu deh di telepon,” jelas gue. “Masa iya pas ketemu nanya itu juga?”
“Jawab aja, sih,” ucapnya ketus. “Aku bingung mau nanya apa, tapi pengin banget nanya.”
“Gimana kalo aku aja yang nanya?” usul gue. “Boleh?”
“Boleh.”
“Gimana tiga puluh harimu enggak ada aku?” tanya gue. “Sepi?”
“Banget!” jawabnya cepat. “Sepi, sepi, sepi banget!”
“Segitunya?” tanya gue sambil senyum geli kali ini. “Junior? Emily? Pada enggak main ke kos?”
“Tiga puluh hari, Yang,” keluh Emil. “Mana mungkin mereka main ke kosan terus, sih.”
“Tapi kan satu kos–”
“Ya walaupun satu kos juga!” potong Emil. “Kalo bukan kamu yang nemenin tuh rasanya bosenin tau!”
“Walaupun balita lucu-lucu kayak mereka?”
“Walaupun balita lucu-lucu kayak mereka!”
“Ya terus nanti gimana sama anak sendiri? Bakalan bosen juga gitu?”
“Ya enggaklah,” kata Emil. “Beda lagi kalo sama anak sendiri.”
Pagi ini Emil dateng tapi dia enggak sendiri. Awalnya emang dia bersikeras pengin berangkat sendiri hari Kamis, tapi karena gue paksa buat cari temen akhirnya dia berangkat hari Sabtu. Kebetulan banget pas hari ini Arya sama Arin lagi enggak ada kerjaan, jadi gue minta mereka berdua buat nemenin Emil.
Terus kemana Arya sama Arin? Kenapa gue cuma berdua sama Emil? Jawabannya, mereka berdua lagi jumpa fan. Ya fan berat mereka, siapa lagi kalo bukan Sasha yang langsung nyamperin waktu lihat mereka.
Ngomongin soal Sasha, ternyata dia sama Arin saling kenal. Meski cuma sebatas kenal-kenal kucing yang saling ‘meong’ waktu paspasan, tapi mereka berdua kelihatan cukup akrab.
Gue ketemu sama Emil, Sasha enggak gangguin hubungan gue dengan nyerah soal gue, kayaknya hari ini sempurna. Ya, sempurna, kecuali Cassie yang daritadi ngelihatin gue dari dalam rumah.
“Dia yang mukul kepalamu, Yang?” tanya Emil. “Cantik, ya?”
“Apa, sih,” keluh gue. “Gausah bawa-bawa penampilan gitu, ntar baper.”
“Ya enggak gitu,” ucap Emil menusuk perut samping gue dengan telunjuknya. “Tapi beneran deh dia cantik.”
“Terus?” tanya gue. “Kenapa kalo dia cantik?”
“Ya siapa tau kamu suka.”
“Mulai, deh.”
“Tapi bisa aja, kan? Cewek yang kamu suka kan yang setipe kayak dia, kayak aku.”
“Setipe? Maksudmu?”
“Ya tipe-tipe cewek yang nyusahin kamu.”
“Nyusahin gimana?” tanya gue lebih jauh. “Perasaan enggak gitu, deh.”
“Kamu enggak inget?” tanya Emil balik. “Kamu mati-matian perjuangin Masayu yang jelas-jelas nyusahin kamu.”
“Tuh kan, mulai lagi–”
“Sstt…!” potong Emil. “Jangan potong dulu!”
Duh…, ini nih yang gue kurang suka dari Emil. Selalu aja ngomongin masa lalu kalo ada yang dia enggak suka. Apa-apa balik lagi ke masa lalu dimana gue pernah bikin kesalahan yang bahkan kadang enggak ada sangkut pautnya sama masalah saat ini. Dan kalo dipotong waktu lagi semangat-semangatnya mengorek masa lalu, ngambeknya ngalahin Roro Jonggrang. Ya meski enggak sampai minta dibikinin seribu candi, tetep aja permintaan dia pasti yang susah-susah. Selamat deh Bandung Bondowoso yang enggak jadi nikah sama cewek yang banyak maunya.
“Terus lebih milih aku yang nyusahin daripada Grace, Disti sama Arin yang jelas-jelas dukung apa yang kamu mau.”
“Ya kalo aku sayangnya sama kamu,” ucap gue begitu dia berhenti. “Mereka bisa apa?”
“Ih…, sok manis!” kata Emil mencubit perut gue sambil senyum. “Untung ya sayangnya sama aku.”
“Kira-kira bakalan pitak enggak, ya?”
“Ya jelas pitaklah,” ucapnya mengelus kain kasa di atas kepala gue. “Luka jahit pasti pitak.”
“Tapi enggak bakalan kelihatan kan kalo sama orang lain?”
“Ya tetep kelihatan lah….”
“Kan ketutupan rambut,” kata gue berpendapat. “Masa iya masih kelihatan?”
“Ya kalo orangnya di atas seratus delapan puluh centimeter udah pasti kelihatan.”
“Bagus, deh,” ucap gue ikut-ikutan mengelus kain kasa di kepala. “Berarti enggak bakal kelihatan sama mama kan, ya?”
“Dia mamamu kali, Yang,” jelas Emil lagi. “Cepat atau lambat juga pasti ketahuan.”
“Yakin deh kalo ketahuan pasti mikir neko-neko,” kata gue. “Bisa dihilangin enggak, sih? Laser? Sulam rambut? Atau ditutup tato gitu?”
“Udah deh enggak perlu berlebihan gitu,” komentar Emil. “Enggak kelihatan juga kalo di kepala.”
“Tapi kamu gapapa kan kalo aku ada pitak gini?”
“Ya enggaklah!” seru Emil. “Kita break dulu sampai kamu laser bekas jahitan itu!”
“S-serius?”
“Iyalah!” ucapnya lagi yang kini ketawa geli. “Siapa juga yang mau pacaran sama orang pitak!”
“Ini anak siapa sih…,” kata gue menarik kepala Emil ke depan dada gue. “Orang cowoknya lagi serius malah dibercandain.”
Kepala gue pitak. Ya, kepala gue pitak. Luka jahitan membekas di kepala gue sebagai bukti uji percobaan betapa kerasnya kepala gue kalo dipukul pake balok kayu. Ya wajar sih kalo kepala gue bocor gara-gara balok kayu. Meskipun ini sebuah film, tetep aja gue bukan Mark Ruffalo yang bisa tetap nyengir sewaktu kena pukul. Gue enggak punya tenaga dalam, kekuatan penyembuh, ataupun potion regenerasi, jelas aja one hit KO. Coba aja gue Deadpool, ah…, coba aja.
“Gimana KKN?”
“Gimana KKN? Perasaan tiga hari sekali kamu nanyain itu deh di telepon,” jelas gue. “Masa iya pas ketemu nanya itu juga?”
“Jawab aja, sih,” ucapnya ketus. “Aku bingung mau nanya apa, tapi pengin banget nanya.”
“Gimana kalo aku aja yang nanya?” usul gue. “Boleh?”
“Boleh.”
“Gimana tiga puluh harimu enggak ada aku?” tanya gue. “Sepi?”
“Banget!” jawabnya cepat. “Sepi, sepi, sepi banget!”
“Segitunya?” tanya gue sambil senyum geli kali ini. “Junior? Emily? Pada enggak main ke kos?”
“Tiga puluh hari, Yang,” keluh Emil. “Mana mungkin mereka main ke kosan terus, sih.”
“Tapi kan satu kos–”
“Ya walaupun satu kos juga!” potong Emil. “Kalo bukan kamu yang nemenin tuh rasanya bosenin tau!”
“Walaupun balita lucu-lucu kayak mereka?”
“Walaupun balita lucu-lucu kayak mereka!”
“Ya terus nanti gimana sama anak sendiri? Bakalan bosen juga gitu?”
“Ya enggaklah,” kata Emil. “Beda lagi kalo sama anak sendiri.”
Pagi ini Emil dateng tapi dia enggak sendiri. Awalnya emang dia bersikeras pengin berangkat sendiri hari Kamis, tapi karena gue paksa buat cari temen akhirnya dia berangkat hari Sabtu. Kebetulan banget pas hari ini Arya sama Arin lagi enggak ada kerjaan, jadi gue minta mereka berdua buat nemenin Emil.
Terus kemana Arya sama Arin? Kenapa gue cuma berdua sama Emil? Jawabannya, mereka berdua lagi jumpa fan. Ya fan berat mereka, siapa lagi kalo bukan Sasha yang langsung nyamperin waktu lihat mereka.
Ngomongin soal Sasha, ternyata dia sama Arin saling kenal. Meski cuma sebatas kenal-kenal kucing yang saling ‘meong’ waktu paspasan, tapi mereka berdua kelihatan cukup akrab.
Gue ketemu sama Emil, Sasha enggak gangguin hubungan gue dengan nyerah soal gue, kayaknya hari ini sempurna. Ya, sempurna, kecuali Cassie yang daritadi ngelihatin gue dari dalam rumah.
“Dia yang mukul kepalamu, Yang?” tanya Emil. “Cantik, ya?”
“Apa, sih,” keluh gue. “Gausah bawa-bawa penampilan gitu, ntar baper.”
“Ya enggak gitu,” ucap Emil menusuk perut samping gue dengan telunjuknya. “Tapi beneran deh dia cantik.”
“Terus?” tanya gue. “Kenapa kalo dia cantik?”
“Ya siapa tau kamu suka.”
“Mulai, deh.”
“Tapi bisa aja, kan? Cewek yang kamu suka kan yang setipe kayak dia, kayak aku.”
“Setipe? Maksudmu?”
“Ya tipe-tipe cewek yang nyusahin kamu.”
“Nyusahin gimana?” tanya gue lebih jauh. “Perasaan enggak gitu, deh.”
“Kamu enggak inget?” tanya Emil balik. “Kamu mati-matian perjuangin Masayu yang jelas-jelas nyusahin kamu.”
“Tuh kan, mulai lagi–”
“Sstt…!” potong Emil. “Jangan potong dulu!”
Duh…, ini nih yang gue kurang suka dari Emil. Selalu aja ngomongin masa lalu kalo ada yang dia enggak suka. Apa-apa balik lagi ke masa lalu dimana gue pernah bikin kesalahan yang bahkan kadang enggak ada sangkut pautnya sama masalah saat ini. Dan kalo dipotong waktu lagi semangat-semangatnya mengorek masa lalu, ngambeknya ngalahin Roro Jonggrang. Ya meski enggak sampai minta dibikinin seribu candi, tetep aja permintaan dia pasti yang susah-susah. Selamat deh Bandung Bondowoso yang enggak jadi nikah sama cewek yang banyak maunya.
“Terus lebih milih aku yang nyusahin daripada Grace, Disti sama Arin yang jelas-jelas dukung apa yang kamu mau.”
“Ya kalo aku sayangnya sama kamu,” ucap gue begitu dia berhenti. “Mereka bisa apa?”
“Ih…, sok manis!” kata Emil mencubit perut gue sambil senyum. “Untung ya sayangnya sama aku.”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
