- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#16
Quote:
Part 5
Sepasang anak manusia tampak berjalan beriringan memasuki gang sempit, tak ada satupun yang membuka suara sejak meninggalkan halte tadi. Tidak Medina. Tidak pula Adam. Keduanya diam dan sibuk dengan pikiran masing - masing.
Adam yang memang punya pembawaan yang tenang dalam kondisi apapun, terlalu sulit untuk di tebak isi pikirannya.
Sementara Medina yang terlihat begitu gelisah sejak tadi, terus menoleh ke arah kakaknya itu. Ah...kenapa jadi secanggung ini ngomong sama kakak sendiri.
Jalanan tampak sepi hanya ada satu-dua orang bapak paruh baya yang melintas berniat memenuhi jadwal ronda rutin malam ini. Adam tampak sesekali melempar senyum pada bapak - bapak tadi yang sebagian besar sangat mengenal sosok Adam.
Sementara Medina masih bungkam tanpa senyum sedikitpun di wajahnya. Ia terlihat bingung.
Aduh...kak Adam kok diem aja sih. Apa dia masih marah?
Medina...jelaslah kak Adam masih marah. Lo minta maaf juga nggak.
Tapi...gimana mau minta maaf, kalau kak Adam diem aja kayak gitu. Di cuekin gue yang ada.
Medina sibuk bergumam sendiri, tanpa sadar volume suaranya terlalu besar untuk bisa di sebut gumaman. Tentu saja Adam bisa mendengar dengan jelas apa yang adiknya itu ocehkan. Ekor matanya berhasil menangkap kegelisahan Medina.
" Kakak udah maafin kamu kok."
Medina kaget bukan main, matanya terbelalak, " Kak Adam bisa dengar suara hati aku?"
Adam tersenyum tipis, membuat Medina semakin heran. Alis rapinya bertautan seiring dengan lengkungan senyum Adam yang kian tampak jelas.
" Suara hati kamu pake speaker, makanya kakak bisa dengar."
Bibir Medina mengerucut. Ia kesal dengan kelakuannya. Jadi malu sendirikan?
" Udah jangan cemberut gitu. Kakak nggak mau lho punya adik tua," gurau Adam berusaha menghalau kekesalan Medina.
Wajah cemberut Medina berubah sendu, hal itu kian menambah keheranan Adam.
" Aku minta maaf ya, kak. Nggak seharusnya aku marah - marah sama kakak tadi siang. Nggak seharusnya aku diemin kakak seharian. Dan...nggak-"
" Nggak seharusnya kamu bahas lagi. Kakak udah lupain semuanya kok.," sela Adam sambil membenahi posisi topi Medina yang sedikit miring.
" Beneran?" tanya Medina senang. Wajahnya kembali ceria.
Adam hanya mengangguk pelan, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Medina berusaha mensejajarkan langkah mereka.
Jarak rumah dengan tempat Adam bekerja memang tidak begitu jauh. Hanya berkisar 1,5 kilometer dan tidak akan terlalu melelahkan jika di tempuh dengan berjalan kaki seperti ini. Apalagi untuk Adam yang sudah terbiasa, jarak segitu bukan apa - apa baginya.
" Kak...soal beasiswa itu... ."
Medina menjeda kalimatnya. Ia ragu untuk kembali membahas masalah yang menjadi pemicu perdebatan mereka tadi siang.
" Jangan di bahas lagi," pinta Adam tetap tenang. " Kakak...nggak-"
" Aku nggak mau, jadi penghalang impian kakak," sela Medina cepat membuat Adam memilih diam.
" Aku tahu, kakak nolak beasiswa itu karena akukan?" tanya Medina sukses membuat Adam memusatkan perhatiannya hanya pada gadis itu.
" Karena aku yang belum bisa mandiri. Karena aku yang selalu buat kakak khawatir," sambung Medina lagi yang tak memberikan kesempatan Adam untuk berbicara apalagi menyela perkataannya.
" Kak...aku udah besar. Aku bukan Medina yang kalau jatuh langsung nangis dan merengek di hadapan kakak. Bukan Medina yang harus di dongengin dulu baru tidur. Aku udah dewasa kak. Percaya sama aku, aku bisa jaga diri aku sendiri." Yakin Medina dengan wajah serius. Ia juga bisa merasakan matanya memanas saat ini, tapi ia berusaha mati - matian unuk tidak menangis.
Ia tak ingin kakaknya tahu, kalau sebenarnya apa yang ia katakan itu semuanya bohong. Ia masih membutuhkan Adam di sisinya. Untuk berbagi cerita, kesedihan dan tawa. Tapi...demi impian sang kakak ia tidak boleh egois.
" Kakak terima ya beasiswa itu," lirih Medina.
Adam menghela nafas berat," Jawaban kakak, tetap sama. Kakak nggak akan ninggalin kamu. Beasiswa itu nggak lebih penting dari adik kakak," terang Adam kian menambah perasaan tak nyaman Medina. Sungguh ia tak ingin keberadaannya menghalangi cita - cita Adam.
" Kak...please. Percaya sama aku, aku akan baik - baik aja sampe kakak pulang. Lagian kakak di sana paling lama cuma dua tahun. Aku yakin, aku bisa mandiri. Aku bisa kuliah sambil kerja seperti yang kakak lakuin sekarang," Medina terus berusaha meyakinkan Adam. Kenapa kakaknya itu jadi keras kepala seperti ini?
" Kamu itu masih tanggung jawab kakak. Mana mungkin kakak ninggalin kamu sendirian di sini."
" Kakak lupa apa keinginan mendiang ayah dan ibu?" papar Medina, berharap jika membawa nama kedua orang tuanya, hati Adam akan luluh.
Adam kembali terdiam, pikirannya melayang jauh pada saat kedua orang tuanya masih hidup dan menginginkan kedua anaknya sukses hingga menjadi orang yang berguna untuk orang lain.
Adam tidak mungkin lupa hal itu. Ingatan itu terlalu kuat menempel di sudut otaknya. Tapi...dengan meninggalkan Medina...itu bukan ide yang bagus.
" Kakak maukan terima beasiswanya?" tanya Medina lagi memastikan.
" Kita pulang. Kamu harus tidur. Besok ada kuliah pagikan?"
Lagi...Adam kembali mengalihkan topik pembicaraan. Ia juga semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Medina yang kini terlihat sangat kesal.
" Aku nggak bakal pulang, sampe kakak mau terima tawaran beasiswa itu," ancam Medina serius, sambil melipat kedua tangannya di dada.
Adam kembali menghela nafas berat, ia membalikkan badan dan memandangi adiknya yamg kini tak berniat bergeser satu incipun dari tempatnya berdiri. Apa dia serius tidak mau pulang?
" Kamu serius nggak mau pulang? tanya Adam yang di sambut anggukan cepat dari Medina. " Ya udah...kakak tinggal," Adam balik mengancam.
" Ti-tinggalin aja, aku nggak takut!" sahut Medina yang sejujurnya agak takut berada di jalanan yang sepi ini sendirian.
Tapi...ia tidak boleh meenyerah. Misinya harus berhasil.
Adam mengedikkan bahu dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Medina dengan keadaan mulut setengah terbuka. Tak menyangka Adam serius dengan kata - katanya.
Medina mengedarkan pandangannya ke segala arah, sepi. Adam yang kini sudah berada kian jauh darinya juga tak ada tanda - tanda akan kembali. Bahkan menolehpun tidak. Menyebalkan.
Perlahan tangan ramping itu tergerak menuju leher jenjangnya, Medina bisa merasakan bulu kuduknya meremang saat ini. Kakinya sudah gatal ingin berlari menyusul Adam , tapi gengsinya yang begitu besar menahannya.
" Duh...kok berasa jadi kayak di film horror gini sih," Medina mulai ngeri sendiri. " Kak Adam juga tega banget sih sama adek sendiri. Gimana kalau gue di culik? Atau gimana kalau ada mbak kunti yang gangguin? Atau...ada we-"
Praang...
Suara keributan yang entah berasal dari mana, membuat Medina terperanjat.
" KAK ADAM...TUNGGUIN!!" pekik Medina langsung ambil langkah seribu.
Ketakutannya terhadap hantu dan semua keturunan makhluk halus sukses membuat rasa gengsinya buyar seketika.
Buat apa mempertahankan gengsi, kalau pada kenyataannya itu membuatmu tidak jujur pada diri sendiri.
●●●
Adam yang memang punya pembawaan yang tenang dalam kondisi apapun, terlalu sulit untuk di tebak isi pikirannya.
Sementara Medina yang terlihat begitu gelisah sejak tadi, terus menoleh ke arah kakaknya itu. Ah...kenapa jadi secanggung ini ngomong sama kakak sendiri.
Jalanan tampak sepi hanya ada satu-dua orang bapak paruh baya yang melintas berniat memenuhi jadwal ronda rutin malam ini. Adam tampak sesekali melempar senyum pada bapak - bapak tadi yang sebagian besar sangat mengenal sosok Adam.
Sementara Medina masih bungkam tanpa senyum sedikitpun di wajahnya. Ia terlihat bingung.
Aduh...kak Adam kok diem aja sih. Apa dia masih marah?
Medina...jelaslah kak Adam masih marah. Lo minta maaf juga nggak.
Tapi...gimana mau minta maaf, kalau kak Adam diem aja kayak gitu. Di cuekin gue yang ada.
Medina sibuk bergumam sendiri, tanpa sadar volume suaranya terlalu besar untuk bisa di sebut gumaman. Tentu saja Adam bisa mendengar dengan jelas apa yang adiknya itu ocehkan. Ekor matanya berhasil menangkap kegelisahan Medina.
" Kakak udah maafin kamu kok."
Medina kaget bukan main, matanya terbelalak, " Kak Adam bisa dengar suara hati aku?"
Adam tersenyum tipis, membuat Medina semakin heran. Alis rapinya bertautan seiring dengan lengkungan senyum Adam yang kian tampak jelas.
" Suara hati kamu pake speaker, makanya kakak bisa dengar."
Bibir Medina mengerucut. Ia kesal dengan kelakuannya. Jadi malu sendirikan?
" Udah jangan cemberut gitu. Kakak nggak mau lho punya adik tua," gurau Adam berusaha menghalau kekesalan Medina.
Wajah cemberut Medina berubah sendu, hal itu kian menambah keheranan Adam.
" Aku minta maaf ya, kak. Nggak seharusnya aku marah - marah sama kakak tadi siang. Nggak seharusnya aku diemin kakak seharian. Dan...nggak-"
" Nggak seharusnya kamu bahas lagi. Kakak udah lupain semuanya kok.," sela Adam sambil membenahi posisi topi Medina yang sedikit miring.
" Beneran?" tanya Medina senang. Wajahnya kembali ceria.
Adam hanya mengangguk pelan, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Medina berusaha mensejajarkan langkah mereka.
Jarak rumah dengan tempat Adam bekerja memang tidak begitu jauh. Hanya berkisar 1,5 kilometer dan tidak akan terlalu melelahkan jika di tempuh dengan berjalan kaki seperti ini. Apalagi untuk Adam yang sudah terbiasa, jarak segitu bukan apa - apa baginya.
" Kak...soal beasiswa itu... ."
Medina menjeda kalimatnya. Ia ragu untuk kembali membahas masalah yang menjadi pemicu perdebatan mereka tadi siang.
" Jangan di bahas lagi," pinta Adam tetap tenang. " Kakak...nggak-"
" Aku nggak mau, jadi penghalang impian kakak," sela Medina cepat membuat Adam memilih diam.
" Aku tahu, kakak nolak beasiswa itu karena akukan?" tanya Medina sukses membuat Adam memusatkan perhatiannya hanya pada gadis itu.
" Karena aku yang belum bisa mandiri. Karena aku yang selalu buat kakak khawatir," sambung Medina lagi yang tak memberikan kesempatan Adam untuk berbicara apalagi menyela perkataannya.
" Kak...aku udah besar. Aku bukan Medina yang kalau jatuh langsung nangis dan merengek di hadapan kakak. Bukan Medina yang harus di dongengin dulu baru tidur. Aku udah dewasa kak. Percaya sama aku, aku bisa jaga diri aku sendiri." Yakin Medina dengan wajah serius. Ia juga bisa merasakan matanya memanas saat ini, tapi ia berusaha mati - matian unuk tidak menangis.
Ia tak ingin kakaknya tahu, kalau sebenarnya apa yang ia katakan itu semuanya bohong. Ia masih membutuhkan Adam di sisinya. Untuk berbagi cerita, kesedihan dan tawa. Tapi...demi impian sang kakak ia tidak boleh egois.
" Kakak terima ya beasiswa itu," lirih Medina.
Adam menghela nafas berat," Jawaban kakak, tetap sama. Kakak nggak akan ninggalin kamu. Beasiswa itu nggak lebih penting dari adik kakak," terang Adam kian menambah perasaan tak nyaman Medina. Sungguh ia tak ingin keberadaannya menghalangi cita - cita Adam.
" Kak...please. Percaya sama aku, aku akan baik - baik aja sampe kakak pulang. Lagian kakak di sana paling lama cuma dua tahun. Aku yakin, aku bisa mandiri. Aku bisa kuliah sambil kerja seperti yang kakak lakuin sekarang," Medina terus berusaha meyakinkan Adam. Kenapa kakaknya itu jadi keras kepala seperti ini?
" Kamu itu masih tanggung jawab kakak. Mana mungkin kakak ninggalin kamu sendirian di sini."
" Kakak lupa apa keinginan mendiang ayah dan ibu?" papar Medina, berharap jika membawa nama kedua orang tuanya, hati Adam akan luluh.
Adam kembali terdiam, pikirannya melayang jauh pada saat kedua orang tuanya masih hidup dan menginginkan kedua anaknya sukses hingga menjadi orang yang berguna untuk orang lain.
Adam tidak mungkin lupa hal itu. Ingatan itu terlalu kuat menempel di sudut otaknya. Tapi...dengan meninggalkan Medina...itu bukan ide yang bagus.
" Kakak maukan terima beasiswanya?" tanya Medina lagi memastikan.
" Kita pulang. Kamu harus tidur. Besok ada kuliah pagikan?"
Lagi...Adam kembali mengalihkan topik pembicaraan. Ia juga semakin mempercepat langkahnya meninggalkan Medina yang kini terlihat sangat kesal.
" Aku nggak bakal pulang, sampe kakak mau terima tawaran beasiswa itu," ancam Medina serius, sambil melipat kedua tangannya di dada.
Adam kembali menghela nafas berat, ia membalikkan badan dan memandangi adiknya yamg kini tak berniat bergeser satu incipun dari tempatnya berdiri. Apa dia serius tidak mau pulang?
" Kamu serius nggak mau pulang? tanya Adam yang di sambut anggukan cepat dari Medina. " Ya udah...kakak tinggal," Adam balik mengancam.
" Ti-tinggalin aja, aku nggak takut!" sahut Medina yang sejujurnya agak takut berada di jalanan yang sepi ini sendirian.
Tapi...ia tidak boleh meenyerah. Misinya harus berhasil.
Adam mengedikkan bahu dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Medina dengan keadaan mulut setengah terbuka. Tak menyangka Adam serius dengan kata - katanya.
Medina mengedarkan pandangannya ke segala arah, sepi. Adam yang kini sudah berada kian jauh darinya juga tak ada tanda - tanda akan kembali. Bahkan menolehpun tidak. Menyebalkan.
Perlahan tangan ramping itu tergerak menuju leher jenjangnya, Medina bisa merasakan bulu kuduknya meremang saat ini. Kakinya sudah gatal ingin berlari menyusul Adam , tapi gengsinya yang begitu besar menahannya.
" Duh...kok berasa jadi kayak di film horror gini sih," Medina mulai ngeri sendiri. " Kak Adam juga tega banget sih sama adek sendiri. Gimana kalau gue di culik? Atau gimana kalau ada mbak kunti yang gangguin? Atau...ada we-"
Praang...
Suara keributan yang entah berasal dari mana, membuat Medina terperanjat.
" KAK ADAM...TUNGGUIN!!" pekik Medina langsung ambil langkah seribu.
Ketakutannya terhadap hantu dan semua keturunan makhluk halus sukses membuat rasa gengsinya buyar seketika.
Buat apa mempertahankan gengsi, kalau pada kenyataannya itu membuatmu tidak jujur pada diri sendiri.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:42
1
Kutip
Balas