- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#1165
Quote:
Disaat aku tengah menikmati pemandangan, aku merasakan sesuatu menempel dengan sedikit menekan punggung bawahku. Jika kutebak rasanya seperti benda runcing tipis keras, tanpa babibu aku membalikan badanku dengan cepat.
Aku terkejut karena mendapati Popi mengarahkan pisau dapur berukuran cukup besar kepadaku dan menatapku dengan tatapan sinis penuh kebencian…
Part 27
Melihat Popi yang menatapku seperti orang yang membenci dan mengarahkan pisau kepadaku, aku dengan cepat mundur menjauh dari Popi. Popi tidak mendekat dan tetap diposisinya, kami saling memandang satu sama lain, yang membedakan Popi dengan tatapan benci sedangkan aku memasang wajah heran bercampur takut.
“Popiiii mana si Roni nya kok lama banget disuruh nyiangin ikan”
Terdengar suara Ratna yang berteriak dari arah tenda, aku melihat kearah Popi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi tatapan kosong. Untuk beberapa saat kami terdiam dan Popi langsung jongkok dengan wajah menghadap ketanah, tak lama kemudian pisau dapur yang dia pegang disimpannya ditanah.
“Pop kamu gak apa-apa? Tanyaku.
“Eh,,,Aku….aku….”
Sedetik kemudian Popi memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, matanya terpejam dan terlihat seperti orang ketakutan. Aku dengan refleks langsung menghampirinya dan memegang kedua bahunya, khawatir terjadi sesuatu yang buruk.
“Pop kamu kenapa? jawab Pop jangan diem aja” ujarku.
Popi membuka matanya dan melepas pegangan dikepalanya, dia menatap kearahku. Wajahnya terlihat ketakutan dan air matanya menetes meskipun tidak banyak.
“Ron aku takut !”
“kamu takut kenapa Pop?”
“Gak mau…enggaaaak!!!!”
Dengan tiba-tiba Popi berteriak dan wajahnya semakin terlihat ketakutan, aku berusaha sebisaku menenangkannya ditengah kebingunganku. Jujur aku tak tahu harus bagaimana menenangkan Popi, baru pertama kali aku melihat hal seperti ini.
“Gak mau apa Pop? Hei Pop?”
“Gak mau Pokoknya aku gak mau!!!!” teriaknya.
Aku yang dilanda bingung tak tahu harus bagaimana, dengan refleks kupeluk tubuh Popi karena aku pernah mendengar pelukan bisa membuat seseorang yang sedang bersedih bisa menjadi tenang. Popi sedikit berontak ketika aku memeluknya, hanya saja dia berontak dengan tenaga yang sangat kecil.
“Ehem…”
Terdengar suara perempuan berdehem dengan cukup keras, segera kutoleh kearah suara tersebut rupanya adalah suara Ayu yang sedang menatap kesal mungkin karena melihat aku memeluk Popi.
“Roni kamu ngapain?” Tanya Ayu dengan wajah kesal.
“Eh anu Yu,,,nganu”
Popi yang mendengar suara Ayu tiba-tiba berdiri dan melepaskan pelukanku, tenaganya lumayan berat juga bisa melepas pelukanku. Lantas sedetik kemudian dia berlalu meninggalkan aku yang sedang bingung beserta Ayu yang sedang kesal.
“Pop…Popi!!” panggilku.
Popi tidak menjawab dan tetap berjalan meninggalkanku, begitu pula dengan Ayu yang terlihat kesal diapun ikut meninggalkanku. Entah aku harus bagaimana menghadapi para wanita ini, namun tetap saja Popi yang paling membuat aku bingung dengan tingkahnya.
Segera kupungut pisau yang dijatuhkan oleh Popi dan bergegas berjalan ke perkemahan, aku berjalan cukup pelan karena masih terheran dengan apa yang barusaja terjadi. Diperkemahan kulihat para lelaki sedang mencari menyalakan Api untuk memasak dengan kayu bakar yang kami bawa agar tidak perlu mencari kayu bakar lagi.
“Woh tadi ada yang teriak-teriak gak mau, suara siapa yah ..hihi” Ratna berkata dengan nada meledek.
“Ada yang udah gak sabar nih kayaknya, kalo mau gituan halalin dulu dong” Galih menimpali.
Aku tidak menjawab karena kupikir jika menjawab malah terjadi salah paham. Kulihat Popi sedang terbaring didalam tenda begitupun Ayu dia juga didalam tenda hanya saja dia ditenda terpisah.
“Ron siangin noh ikan mas yang dibawa dari rumah, para ladies gak mau nyiangin ikannya katanya” ujar Galih.
“Iya-iya gue siangin sekarang”
Aku membawa ikan-ikan yang Galih maksud kearah sungai kecil yang berada tak jauh dari perkemahan kami, disana aku mulai menyiangi ikan dan langsung mencucinya disungai. Karena sungai ini kecil jadi arusnya tidak deras hanya saja airnya benar-benar dingin.
Saat aku sedang mencuci ikan aku mencium aroma bunga melati, aku langsung berpikiran tidak salah lagi pasti ada sosok yang sedang berada didekatku. Kutoleh kesebrang sungai benar saja ada seorang wanita cantik sedang berdiri melihatku dari kejauhan, penampilannya terlihat biasa karena dia menggunakan celana katun cutbray dan atasan baju ibu hamil.
Kucoba menatap wajah wanita tersebut, wajahnya terlihat pucat pasi. Wanita itu berambut panjang dan bertubuh kurus, celananya berwarna hitam sedangkan bajunya berwarna biru muda dan tidak menggunakan alas kaki.
Wanita itu terus menatapku dengan tatapan kosongnya, akupun terus menatap wanita itu tanpa alasan yang jelas. Tak lama kemudian wanita itu membalikan tubuhnya dan membelakangiku, dan aku terkejut begitu mengetahui ternyata punggungnya bolong.
Punggung wanita itu bolong seperti hantu sundel bolong yang pernah kutonton diTV semasa kecil, dan dilukanya yang bolong terdapat belatung dengan jumlah yang sangat banyak dan membuatku merasa mual. Ditengah rasa mual karena melihat luka penuh dengan belatung aku mencium aroma bangkai yang teramat sangat bau.
“Hoek”
Untuk pertama kalinya aku muntah karena mencium aroma bangkai yang teramat sangat, untung saja muntahanku tidak mengenai ikan yang barusaja kucuci. Aku segera bergegas pergi meninggalkan sungai karena tak tahan dengan bau yang tercium, setelah beberapa langkah aku menoleh kearah belakang dan wanita tadi sudah hilang entah kemana.
“Lih ini ikannya udah gue siangin”
“Woh udah, tumben ikan segini lu lama, biasanya cepet banget lu kalo nyiangin ikan Ron, kenapa kok lama?”
“Gue pengen tiduran bentar ya Lih, pala gue pusing banget nih”
“Ya udah tidur sono, Cuma jangan salahin gue kalo ikannya abis
:”
“Iya kagak napa-napa”
Akupun merebahkan badan diatas karpet yang terletak dibawah pohon dekat tenda lain, aku masih merasakan mual. Aku merasakan kantuk yang luar biasa, padahal aku tidak ada niatan untuk tidur, hanya berniat untuk merebahkan badan, namun karena sangat terasa berat akupun mengalah dan tidur.
----------------------------00----------------------------------00---------------------------------
Pukul 17.00
Kubuka mataku dan mengecek HP-ku, rupanya sudah pukul 17.00, aku merasa badanku lemas mungkin karena aku melewatkan makan siang. Segera aku duduk dan melihat sekitar, kudapati Galih dan yang lain sedang berbincang-bincang satu sama lain sedangkan Ipin dan Yana sedang bermain ular tangga.
“Lih, Popi sama Ayu mana?” tanyaku.
“Ayu sama Popi lagi kebawah ke warung beli bumbu yang kelupaan, lu makan dulu gih noh ikan bakarnya udah gue pisahin”
“Makasih Lih, emmm gue pengen makan dideket tebing ya Lih biar bisa liat sunset”
“Serahlu dah” jawab Galih sembari menahan tawa”
“Ketawa kenapa lu Lih? Emang ada yang lucu” tanyaku kepada Galih.
“Kagak ko, lu Baperan banget dah. Udah makan dulu aja sono ah”
Akupun pergi kearah tebing tempat sebelumnya aku melihat pemandangan dengan membawa Sepiring nasi dan ikan bakar, untuk minumnya aku membawa air mineral kemasan. Didekat tebing rupanya ada seseorang, seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya, seorang lelaki yang mungkin seumuran denganku.
“Punten a ikut duduk” ujarku.
“Eh silahkan a duduk aja” jawab lelaki itu ramah.
“Liat matahari terbenam juga a?” tanyaku.
“Iya kang ngeliat matahari terbenam emang bikin tenang yah”
Lelaki ini berperawakan kurus, berkulit kuning langsat dengan janggut tebal didagunya, dia menggunakan setelan baju yang menurutku jadul karena menggunakan jaket denim dan model rambutnya belah dua. Aku tidak menaruh curiga karena ini terletak didesa, mungkin mereka tidak mengikuti trend yang sedang hits.
Sambil makan aku diajak mengobrol oleh lelaki ini, lelaki ini bicara dengan nada ramah dan sesekali seperti orang depresi. Padahal topic yang kami bicarakan hanya obrolan ringan sehari-hari. Diapun bercerita tentang dirinya dan entah mengapa aku malah mendengarkan cerita pria yang barusaja kutemui.
Nama Pria ini adalah Toni,usianya 25 tahun. Saat ini dia sedang bersedih karena cinta yang selama ini dia jaga terkianati begitu saja padahal hubungan dia dan kekasih cukup lama. Toni bekerja diluar kota selama beberapa tahun, dan ketika dia kembali kekampung rupanya sang pujaan hati sudah bersama Pria lain.
Dia merasa amat marah namun apadaya dia tidak dapat melakukan apa-apa, dan dia berkata sering menenangkan diri disini untuk melepas stress karena dia pernah beberapa kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya dan merasa malas untuk menjalin hubungan dengan wanita yang baru.
“A tapi menurut saya mah, a harus tegar karena cewek kan bukan dia aja” ujarku.
Pria itu hanya tersenyum kepadaku, aku sungguh heran melihat responnya. Aku sungguh merasa bingung dengan respon yang dia berikan, seolah dia sudah menerima kenyataan dan menyerah untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. dan ketika aku mengedipkan mata lelaki itu tba-tiba hilang dari pandangan mata, dan aku baru sadar ternyata daritadi aku bukan mengobrol dengan manusia.
Kulihat matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya disusul oleh terdengarnya suara adzan yang terdengar, aku segera membereskan piring dan tak lupa membawa kembali botol air mineral yang kubawa. Didalam kepalaku masih terbayang dua sosok yang kutemui, aku merasa mata batinku sudah tertutup namun rupanya masih melihat beberapa.
Sesampainya ditenda aku dan para lelaki lain pergi kesungai untuk mandi dan wudhu, para ladies memilih berdiam ditenda karena mereka sudah mandi diperkampungan ketika aku sedang tidur tadi dan mereka tidak melaksanakan shalat karena sedang haid (kompak).
Setelah selesai shalat maghrib, kami semua duduk ditengah api unggun yang Yana buat, apinya tidak terlalu besar namun cukup untuk menghangatkan tubuh kami dihawa dingin ini. Kami membentuk formasi melingkar, Popi dan Ayu duduk disebelah kiri dan kananku, dari wajah mereka bisa kusimpulkan mereka sudah tidak marah lagi kepadaku.
“Gini temen-temen, karena ini malam pertama kita kemah. Gimana kalo kita isi acara malem ini sama cerita serem” Galih mulai membuka obrolan.
“Aku sih oke aja” ujar Ratna
“Aku juga” sahut Popi dan Ayu kompak.
Mendengar mereka berkata demikian kami para lelaki tidak ada alasan untuk mengelak, mau dikemanain muka kami jika menolak dan disangka penakut.
“Brug!!”
Kami semua mendengar suara benda jatuh, seketika kami semua melihat kearah suara itu. Ternyata diarah suara kami melihat cahaya senter dengan samar-samar seperti siluet seorang nenek-nenek yang sedang menggendong kayu, rupanya dia menjatuhkan kelapa tua. Karena ada kelapa tua yang menggelinding kearah kami berkumpul.
“Cu punten itu kelapa nenek jatuh, bisa tolong ambilin”
Nenek itu bicara sambil berjalan menghampiri kami, Aku dengan sigap mengambil kelapa yang nenek itu maksud. Ketika nenek itu mendekat kami bisa melihat nenek ini dengan jelas, dan yang paling mencolok adalah gaya pakaian nenek ini mirip dengan nenek yang dulu kami temui ketika berkemah dicurug.
“Astagfirullah”
Tiba-tiba saja Yana beristigfar sembari menundukan wajahnya kearah tanah, hal tersebut tentu saja membuat Aku,Galih dan Ipin merasakan dejavu. Khawatir Yana mengalami hal sama dengan Ipin dulu.
“Makasih yah cu kelapanya udah diambilin, ngomong-ngomong nenek boleh minta minum cu?”
Sontak kami semua merasa dejavu kami semakin kuat, kecuali para ladies yang memandangi kami dengan wajah mereka yang terlihat bingung.
“Ini nek airnya silahkan” ujar Ratna sambil memberikan air kemasan gelas.
“Makasih yah cu, kalo gitu nenek pulang dulu yah”
Kemudian nenek itupun pergi meninggalkan kami semua, aku menoleh kearah para lelaki mereka semua tampak masih tegang. Sedangkan para wanita terlihat heran dan Ratna terlihat sedikit kesal dan mencubit tangan Galih.
“Papa gimana sih, ada orangtua lewat minta air bukannya dikasih malah bengong?” Tanya Ratna.
“Gak apa-apa mah, Cuma dejavu aja”
“Dejavu gimana pah?”
“Dulu kita juga pernah dimintain minum sama nenek-nenek pas lagi kemah juga mbak” Yana menimpali.
“Terus apa hubungannya sama nenek tadi emangnya?” Ratna semakin penasaran.
“Ternyata nenek itu bukan manusia mbak, tapi…..hihhhh” Yana malah merinding.
Mendengar Yana berkata demikian, Ratna sepertinya mengerti apa yang kami maksud, diapun berusaha menenangkan kami dengan berkata mana mungkin setan bawa senter.
Akhirnya kami mulai bercerita dan membagi pengalaman masing-masing, tak kusangka selama 2 tahun tidak bertemu teman-temanku juga mengalami hal-hal mistis. Tibalah giliranku untuk bercerita, dan akupun memutuskan untuk menceritakan hal yang tadi sore aku alami.
Mendengar aku bercerita demikian Popi yang duduk disebelah kananku menggandeng tanganku dengan erat, mungkin dia merasa takut. Dan yang takut sepertiya bukan hanya Popi, tapi Yana dan Ipin serta Ratna tampak ketakutan. Hanya Galih dan Ayu yang tampak biasa-biasa saja mendengar aku bercerita demikian.
“Sekarang giliran gua yang nyerita yah, cerita yang gue denger dari penduduk desa sini” ujar Galih.
Galih pun mulai bercerita dengan nada bicara seperti pembawa acara gentayangan uka-uka.
“Jadi dulu ada cowok yang jauh pergi keluar kota buat ngumpulin modal nikah, bertahun-tahun dia gak pulang. Dan pas dia udah siap pulang dan nikah karena uangnya udah kekumpul, ternyata pacarnya udah sama cowok lain…..”
“Terus-terus gimana lagi bang?” potong Yana.
“Sabar napa gue juga butuh ngambil nafas ini… nah terus si cowok itu stress dan depresi gak nerima kenyataan, sampe sebulan kemudian ternyata cowok itu mutusin bunuh diri dan lompat dari tebing itu” ujar Galih sambil menunjuk ketebing tempat aku makan tadi.
“Mayatnya ditemuin sama warga, keadannya cukup mengenaskan. Tulangnya banyak yang patah, dan yang paling ngeri lehernya nancep kebatang pohon dan nembus dari leher ketengkuknya” lanjut Galih.
“Ah Zaman sekarang emang masih ada yah bang yang putus cinta bunuh diri, kan sekarang cowok sama cewek banyakan cewek bang” potong Yana lagi.
“Makanya dengerin dulu sampe beres napa, kejadian ini udah lama kata warga. Dan ternyata si wanitanya juga masih punya rasa sama si cowok ini, pas dia tau si cowok meninggal dia Shock dan ikut lompat dari tebing, dan mayatnya juga sama mengenaskannya”
“Emang kenapa bang?” Tanya Ipin penasaran.
“Mayat yang cewek ditemuin sama warga punggungnya ngehantem batu tajem dan punggungnya jadi bolong” ujar Galih.
“Hih serem ah bang, udah ah” Kini Ratna yang memotong.
“Gak usah takut, karena kata warga roh mereka itu munculnya biasanya pas sareupna ( antara sore dan malam, atau pas matahari baru tenggelam), katanya diwaktu tersebut gerbang dunia gaib sama manusia terbuka lebar jadi sering banget terjadi penampakan. Tapi mereka gak ganggu warga. Cuma beberapa warga yang pernah liat penampakan mereka, itupun udah lama banget soalnya mereka meninggalnya tahun 1997” Galih menjelaskan.
Baru saja Galih berkata demikian, tiba-tiba dibelakang Galih muncul sosok yang baru saja Galih ceritakan dan mereka muncul dalam sekejap mata dengan penampila yang menyeramkan. Keadaan silaki-laki sungguh mengenaskan dengan luka bolong besar dilehernya dan darah bersimbah d ibajunyaa, begitupun dengan hantu perempuannya.
Namun sepertinya hanya aku yang melihat mereka karena teman-teman yang lain tampak biasa-biasa saja, bahkan mereka langsung mengubah topic dan bercanda satu sama lain dan tak terasa satu jam berlalu dan sosok itupun hilang.
“Kyaaaaa”
tiba-tiba saja Ayu berteriak histeris dan berlari kearah sungai tempatku mencuci ikan tadi, dikala aku ingin mengejarnya aku merasa tubuhku tidak dapat digerakkan begitupun dengan tubuh teman yang lain terlihat dari expresi wajah mereka.
BERSAMBUNG.
Aku terkejut karena mendapati Popi mengarahkan pisau dapur berukuran cukup besar kepadaku dan menatapku dengan tatapan sinis penuh kebencian…
Part 27
Melihat Popi yang menatapku seperti orang yang membenci dan mengarahkan pisau kepadaku, aku dengan cepat mundur menjauh dari Popi. Popi tidak mendekat dan tetap diposisinya, kami saling memandang satu sama lain, yang membedakan Popi dengan tatapan benci sedangkan aku memasang wajah heran bercampur takut.
“Popiiii mana si Roni nya kok lama banget disuruh nyiangin ikan”
Terdengar suara Ratna yang berteriak dari arah tenda, aku melihat kearah Popi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi tatapan kosong. Untuk beberapa saat kami terdiam dan Popi langsung jongkok dengan wajah menghadap ketanah, tak lama kemudian pisau dapur yang dia pegang disimpannya ditanah.
“Pop kamu gak apa-apa? Tanyaku.
“Eh,,,Aku….aku….”
Sedetik kemudian Popi memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, matanya terpejam dan terlihat seperti orang ketakutan. Aku dengan refleks langsung menghampirinya dan memegang kedua bahunya, khawatir terjadi sesuatu yang buruk.
“Pop kamu kenapa? jawab Pop jangan diem aja” ujarku.
Popi membuka matanya dan melepas pegangan dikepalanya, dia menatap kearahku. Wajahnya terlihat ketakutan dan air matanya menetes meskipun tidak banyak.
“Ron aku takut !”
“kamu takut kenapa Pop?”
“Gak mau…enggaaaak!!!!”
Dengan tiba-tiba Popi berteriak dan wajahnya semakin terlihat ketakutan, aku berusaha sebisaku menenangkannya ditengah kebingunganku. Jujur aku tak tahu harus bagaimana menenangkan Popi, baru pertama kali aku melihat hal seperti ini.
“Gak mau apa Pop? Hei Pop?”
“Gak mau Pokoknya aku gak mau!!!!” teriaknya.
Aku yang dilanda bingung tak tahu harus bagaimana, dengan refleks kupeluk tubuh Popi karena aku pernah mendengar pelukan bisa membuat seseorang yang sedang bersedih bisa menjadi tenang. Popi sedikit berontak ketika aku memeluknya, hanya saja dia berontak dengan tenaga yang sangat kecil.
“Ehem…”
Terdengar suara perempuan berdehem dengan cukup keras, segera kutoleh kearah suara tersebut rupanya adalah suara Ayu yang sedang menatap kesal mungkin karena melihat aku memeluk Popi.
“Roni kamu ngapain?” Tanya Ayu dengan wajah kesal.
“Eh anu Yu,,,nganu”
Popi yang mendengar suara Ayu tiba-tiba berdiri dan melepaskan pelukanku, tenaganya lumayan berat juga bisa melepas pelukanku. Lantas sedetik kemudian dia berlalu meninggalkan aku yang sedang bingung beserta Ayu yang sedang kesal.
“Pop…Popi!!” panggilku.
Popi tidak menjawab dan tetap berjalan meninggalkanku, begitu pula dengan Ayu yang terlihat kesal diapun ikut meninggalkanku. Entah aku harus bagaimana menghadapi para wanita ini, namun tetap saja Popi yang paling membuat aku bingung dengan tingkahnya.
Segera kupungut pisau yang dijatuhkan oleh Popi dan bergegas berjalan ke perkemahan, aku berjalan cukup pelan karena masih terheran dengan apa yang barusaja terjadi. Diperkemahan kulihat para lelaki sedang mencari menyalakan Api untuk memasak dengan kayu bakar yang kami bawa agar tidak perlu mencari kayu bakar lagi.
“Woh tadi ada yang teriak-teriak gak mau, suara siapa yah ..hihi” Ratna berkata dengan nada meledek.
“Ada yang udah gak sabar nih kayaknya, kalo mau gituan halalin dulu dong” Galih menimpali.
Aku tidak menjawab karena kupikir jika menjawab malah terjadi salah paham. Kulihat Popi sedang terbaring didalam tenda begitupun Ayu dia juga didalam tenda hanya saja dia ditenda terpisah.
“Ron siangin noh ikan mas yang dibawa dari rumah, para ladies gak mau nyiangin ikannya katanya” ujar Galih.
“Iya-iya gue siangin sekarang”
Aku membawa ikan-ikan yang Galih maksud kearah sungai kecil yang berada tak jauh dari perkemahan kami, disana aku mulai menyiangi ikan dan langsung mencucinya disungai. Karena sungai ini kecil jadi arusnya tidak deras hanya saja airnya benar-benar dingin.
Saat aku sedang mencuci ikan aku mencium aroma bunga melati, aku langsung berpikiran tidak salah lagi pasti ada sosok yang sedang berada didekatku. Kutoleh kesebrang sungai benar saja ada seorang wanita cantik sedang berdiri melihatku dari kejauhan, penampilannya terlihat biasa karena dia menggunakan celana katun cutbray dan atasan baju ibu hamil.
Kucoba menatap wajah wanita tersebut, wajahnya terlihat pucat pasi. Wanita itu berambut panjang dan bertubuh kurus, celananya berwarna hitam sedangkan bajunya berwarna biru muda dan tidak menggunakan alas kaki.
Wanita itu terus menatapku dengan tatapan kosongnya, akupun terus menatap wanita itu tanpa alasan yang jelas. Tak lama kemudian wanita itu membalikan tubuhnya dan membelakangiku, dan aku terkejut begitu mengetahui ternyata punggungnya bolong.
Punggung wanita itu bolong seperti hantu sundel bolong yang pernah kutonton diTV semasa kecil, dan dilukanya yang bolong terdapat belatung dengan jumlah yang sangat banyak dan membuatku merasa mual. Ditengah rasa mual karena melihat luka penuh dengan belatung aku mencium aroma bangkai yang teramat sangat bau.
“Hoek”
Untuk pertama kalinya aku muntah karena mencium aroma bangkai yang teramat sangat, untung saja muntahanku tidak mengenai ikan yang barusaja kucuci. Aku segera bergegas pergi meninggalkan sungai karena tak tahan dengan bau yang tercium, setelah beberapa langkah aku menoleh kearah belakang dan wanita tadi sudah hilang entah kemana.
“Lih ini ikannya udah gue siangin”
“Woh udah, tumben ikan segini lu lama, biasanya cepet banget lu kalo nyiangin ikan Ron, kenapa kok lama?”
“Gue pengen tiduran bentar ya Lih, pala gue pusing banget nih”
“Ya udah tidur sono, Cuma jangan salahin gue kalo ikannya abis
:”“Iya kagak napa-napa”
Akupun merebahkan badan diatas karpet yang terletak dibawah pohon dekat tenda lain, aku masih merasakan mual. Aku merasakan kantuk yang luar biasa, padahal aku tidak ada niatan untuk tidur, hanya berniat untuk merebahkan badan, namun karena sangat terasa berat akupun mengalah dan tidur.
----------------------------00----------------------------------00---------------------------------
Pukul 17.00
Kubuka mataku dan mengecek HP-ku, rupanya sudah pukul 17.00, aku merasa badanku lemas mungkin karena aku melewatkan makan siang. Segera aku duduk dan melihat sekitar, kudapati Galih dan yang lain sedang berbincang-bincang satu sama lain sedangkan Ipin dan Yana sedang bermain ular tangga.
“Lih, Popi sama Ayu mana?” tanyaku.
“Ayu sama Popi lagi kebawah ke warung beli bumbu yang kelupaan, lu makan dulu gih noh ikan bakarnya udah gue pisahin”
“Makasih Lih, emmm gue pengen makan dideket tebing ya Lih biar bisa liat sunset”
“Serahlu dah” jawab Galih sembari menahan tawa”
“Ketawa kenapa lu Lih? Emang ada yang lucu” tanyaku kepada Galih.
“Kagak ko, lu Baperan banget dah. Udah makan dulu aja sono ah”
Akupun pergi kearah tebing tempat sebelumnya aku melihat pemandangan dengan membawa Sepiring nasi dan ikan bakar, untuk minumnya aku membawa air mineral kemasan. Didekat tebing rupanya ada seseorang, seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya, seorang lelaki yang mungkin seumuran denganku.
“Punten a ikut duduk” ujarku.
“Eh silahkan a duduk aja” jawab lelaki itu ramah.
“Liat matahari terbenam juga a?” tanyaku.
“Iya kang ngeliat matahari terbenam emang bikin tenang yah”
Lelaki ini berperawakan kurus, berkulit kuning langsat dengan janggut tebal didagunya, dia menggunakan setelan baju yang menurutku jadul karena menggunakan jaket denim dan model rambutnya belah dua. Aku tidak menaruh curiga karena ini terletak didesa, mungkin mereka tidak mengikuti trend yang sedang hits.
Sambil makan aku diajak mengobrol oleh lelaki ini, lelaki ini bicara dengan nada ramah dan sesekali seperti orang depresi. Padahal topic yang kami bicarakan hanya obrolan ringan sehari-hari. Diapun bercerita tentang dirinya dan entah mengapa aku malah mendengarkan cerita pria yang barusaja kutemui.
Nama Pria ini adalah Toni,usianya 25 tahun. Saat ini dia sedang bersedih karena cinta yang selama ini dia jaga terkianati begitu saja padahal hubungan dia dan kekasih cukup lama. Toni bekerja diluar kota selama beberapa tahun, dan ketika dia kembali kekampung rupanya sang pujaan hati sudah bersama Pria lain.
Dia merasa amat marah namun apadaya dia tidak dapat melakukan apa-apa, dan dia berkata sering menenangkan diri disini untuk melepas stress karena dia pernah beberapa kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya dan merasa malas untuk menjalin hubungan dengan wanita yang baru.
“A tapi menurut saya mah, a harus tegar karena cewek kan bukan dia aja” ujarku.
Pria itu hanya tersenyum kepadaku, aku sungguh heran melihat responnya. Aku sungguh merasa bingung dengan respon yang dia berikan, seolah dia sudah menerima kenyataan dan menyerah untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. dan ketika aku mengedipkan mata lelaki itu tba-tiba hilang dari pandangan mata, dan aku baru sadar ternyata daritadi aku bukan mengobrol dengan manusia.
Kulihat matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya disusul oleh terdengarnya suara adzan yang terdengar, aku segera membereskan piring dan tak lupa membawa kembali botol air mineral yang kubawa. Didalam kepalaku masih terbayang dua sosok yang kutemui, aku merasa mata batinku sudah tertutup namun rupanya masih melihat beberapa.
Sesampainya ditenda aku dan para lelaki lain pergi kesungai untuk mandi dan wudhu, para ladies memilih berdiam ditenda karena mereka sudah mandi diperkampungan ketika aku sedang tidur tadi dan mereka tidak melaksanakan shalat karena sedang haid (kompak).
Setelah selesai shalat maghrib, kami semua duduk ditengah api unggun yang Yana buat, apinya tidak terlalu besar namun cukup untuk menghangatkan tubuh kami dihawa dingin ini. Kami membentuk formasi melingkar, Popi dan Ayu duduk disebelah kiri dan kananku, dari wajah mereka bisa kusimpulkan mereka sudah tidak marah lagi kepadaku.
“Gini temen-temen, karena ini malam pertama kita kemah. Gimana kalo kita isi acara malem ini sama cerita serem” Galih mulai membuka obrolan.
“Aku sih oke aja” ujar Ratna
“Aku juga” sahut Popi dan Ayu kompak.
Mendengar mereka berkata demikian kami para lelaki tidak ada alasan untuk mengelak, mau dikemanain muka kami jika menolak dan disangka penakut.
“Brug!!”
Kami semua mendengar suara benda jatuh, seketika kami semua melihat kearah suara itu. Ternyata diarah suara kami melihat cahaya senter dengan samar-samar seperti siluet seorang nenek-nenek yang sedang menggendong kayu, rupanya dia menjatuhkan kelapa tua. Karena ada kelapa tua yang menggelinding kearah kami berkumpul.
“Cu punten itu kelapa nenek jatuh, bisa tolong ambilin”
Nenek itu bicara sambil berjalan menghampiri kami, Aku dengan sigap mengambil kelapa yang nenek itu maksud. Ketika nenek itu mendekat kami bisa melihat nenek ini dengan jelas, dan yang paling mencolok adalah gaya pakaian nenek ini mirip dengan nenek yang dulu kami temui ketika berkemah dicurug.
“Astagfirullah”
Tiba-tiba saja Yana beristigfar sembari menundukan wajahnya kearah tanah, hal tersebut tentu saja membuat Aku,Galih dan Ipin merasakan dejavu. Khawatir Yana mengalami hal sama dengan Ipin dulu.
“Makasih yah cu kelapanya udah diambilin, ngomong-ngomong nenek boleh minta minum cu?”
Sontak kami semua merasa dejavu kami semakin kuat, kecuali para ladies yang memandangi kami dengan wajah mereka yang terlihat bingung.
“Ini nek airnya silahkan” ujar Ratna sambil memberikan air kemasan gelas.
“Makasih yah cu, kalo gitu nenek pulang dulu yah”
Kemudian nenek itupun pergi meninggalkan kami semua, aku menoleh kearah para lelaki mereka semua tampak masih tegang. Sedangkan para wanita terlihat heran dan Ratna terlihat sedikit kesal dan mencubit tangan Galih.
“Papa gimana sih, ada orangtua lewat minta air bukannya dikasih malah bengong?” Tanya Ratna.
“Gak apa-apa mah, Cuma dejavu aja”
“Dejavu gimana pah?”
“Dulu kita juga pernah dimintain minum sama nenek-nenek pas lagi kemah juga mbak” Yana menimpali.
“Terus apa hubungannya sama nenek tadi emangnya?” Ratna semakin penasaran.
“Ternyata nenek itu bukan manusia mbak, tapi…..hihhhh” Yana malah merinding.
Mendengar Yana berkata demikian, Ratna sepertinya mengerti apa yang kami maksud, diapun berusaha menenangkan kami dengan berkata mana mungkin setan bawa senter.
Akhirnya kami mulai bercerita dan membagi pengalaman masing-masing, tak kusangka selama 2 tahun tidak bertemu teman-temanku juga mengalami hal-hal mistis. Tibalah giliranku untuk bercerita, dan akupun memutuskan untuk menceritakan hal yang tadi sore aku alami.
Mendengar aku bercerita demikian Popi yang duduk disebelah kananku menggandeng tanganku dengan erat, mungkin dia merasa takut. Dan yang takut sepertiya bukan hanya Popi, tapi Yana dan Ipin serta Ratna tampak ketakutan. Hanya Galih dan Ayu yang tampak biasa-biasa saja mendengar aku bercerita demikian.
“Sekarang giliran gua yang nyerita yah, cerita yang gue denger dari penduduk desa sini” ujar Galih.
Galih pun mulai bercerita dengan nada bicara seperti pembawa acara gentayangan uka-uka.
“Jadi dulu ada cowok yang jauh pergi keluar kota buat ngumpulin modal nikah, bertahun-tahun dia gak pulang. Dan pas dia udah siap pulang dan nikah karena uangnya udah kekumpul, ternyata pacarnya udah sama cowok lain…..”
“Terus-terus gimana lagi bang?” potong Yana.
“Sabar napa gue juga butuh ngambil nafas ini… nah terus si cowok itu stress dan depresi gak nerima kenyataan, sampe sebulan kemudian ternyata cowok itu mutusin bunuh diri dan lompat dari tebing itu” ujar Galih sambil menunjuk ketebing tempat aku makan tadi.
“Mayatnya ditemuin sama warga, keadannya cukup mengenaskan. Tulangnya banyak yang patah, dan yang paling ngeri lehernya nancep kebatang pohon dan nembus dari leher ketengkuknya” lanjut Galih.
“Ah Zaman sekarang emang masih ada yah bang yang putus cinta bunuh diri, kan sekarang cowok sama cewek banyakan cewek bang” potong Yana lagi.
“Makanya dengerin dulu sampe beres napa, kejadian ini udah lama kata warga. Dan ternyata si wanitanya juga masih punya rasa sama si cowok ini, pas dia tau si cowok meninggal dia Shock dan ikut lompat dari tebing, dan mayatnya juga sama mengenaskannya”
“Emang kenapa bang?” Tanya Ipin penasaran.
“Mayat yang cewek ditemuin sama warga punggungnya ngehantem batu tajem dan punggungnya jadi bolong” ujar Galih.
“Hih serem ah bang, udah ah” Kini Ratna yang memotong.
“Gak usah takut, karena kata warga roh mereka itu munculnya biasanya pas sareupna ( antara sore dan malam, atau pas matahari baru tenggelam), katanya diwaktu tersebut gerbang dunia gaib sama manusia terbuka lebar jadi sering banget terjadi penampakan. Tapi mereka gak ganggu warga. Cuma beberapa warga yang pernah liat penampakan mereka, itupun udah lama banget soalnya mereka meninggalnya tahun 1997” Galih menjelaskan.
Baru saja Galih berkata demikian, tiba-tiba dibelakang Galih muncul sosok yang baru saja Galih ceritakan dan mereka muncul dalam sekejap mata dengan penampila yang menyeramkan. Keadaan silaki-laki sungguh mengenaskan dengan luka bolong besar dilehernya dan darah bersimbah d ibajunyaa, begitupun dengan hantu perempuannya.
Namun sepertinya hanya aku yang melihat mereka karena teman-teman yang lain tampak biasa-biasa saja, bahkan mereka langsung mengubah topic dan bercanda satu sama lain dan tak terasa satu jam berlalu dan sosok itupun hilang.
“Kyaaaaa”
tiba-tiba saja Ayu berteriak histeris dan berlari kearah sungai tempatku mencuci ikan tadi, dikala aku ingin mengejarnya aku merasa tubuhku tidak dapat digerakkan begitupun dengan tubuh teman yang lain terlihat dari expresi wajah mereka.
BERSAMBUNG.
Diubah oleh roni.riyanto 18-03-2018 00:21
redbaron memberi reputasi
1
Kutip
Balas