- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#15
Quote:
Part 4
P
ekatnya malam dan dinginnya angin yang menusuk kulit menjadi teman penantian Medina saat ini.
Ia tampak sabar menanti kepulangan kakaknya di halte yang terletak persis didepan cafe tempat Adam bekerja. Rasanya sudah lama ia tidak melakukan ini. Menunggu Adam hingga selesai bekerja namun selalu berakhir tertidur di kursi halte. Dan selalu terbangun keesokan harinya saat ia sudah tiba di rumah. Tapi ia bisa pastikan hal itu tidak akan terjadi kali ini, karena ada hal yang harus ia bicarakan dengan Adam malam ini juga. Ia tidak boleh tertidur, walau rasa kantuk kian menyiksanya saat ini.
Medina tersenyum memandangi kesibukan kakaknya dari kejauhan. Dinding cafe yang di dominasi dengan jendela kaca, membuat Medina kian leluasa mengamati setiap inci pergerakan Adam yang sibuk meracik kopi dengan mesin yang Medina tidak tahu apa namanya. Cafe juga tampak ramai saat ini. Lucunya, pengunjung cafe hanya di dominasi kaum hawa.
Penyebabnya apa lagi, kalau bukan karena kehadiran Adam di sana.
Rasanya, Medina mulai setuju dengan penilaian teman – temannya di kampus. Adam itu manusia tanpa cela. Dia tampan, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan mata teduh yaang menenangkan, serta senyum manis yang terlihat semakin manis dengan kedua lesung pipi diwajahnya.
Adam juga baik, bahkan tak pernah sekalipun Medina mendengar kakaknya berpikiran jelek terhadap orang lain, di mata Adam semua manusia itu baik.
Soal agama? Jangan di tanya, Adam salah satu cowok yang ibadahnya bisa dibilang jempolan. Shalat? nggak pernah absen. Baca Al-Qur'an? Adam adalah qori terbaik di mata Medina. Tidak heran kenapa Adam punya hati sebaik malaikat, hubungan dekatnya dengan sang pencipta yang menjadi penyebabnya.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi bagi Medina Adam berhasil menjadi kakak terbaik dan sempurna untuknya. Lagi – lagi Medina berpikir, apa benar ia adik kandung dari seorang Adam Vegar Raditya? Kenapa tak ada satupun sifat baik Adam yang menurun padanya?
" Medina?" Suara serak seorang wanita membuat lamunan Medina buyar.
Wanita cantik berkulit putih pucat dengan rambut panjang indah tergerai berjalan kian mendekat ke arahnya. Sepertinya ia telah mengamati gadis itu dari kejauhan dan baru berani menyapa setelah yakin jika ia tidak salah orang.
Medina masih terdiam memandangi wanita berbalut dress hitam tanpa lengan itu.
" Benar Medina kan?" tanyanya lagi dan bergerak duduk di samping Medina. Aroma parfumnya yang cukup tajam langsung menerobos indra penciuman Medina. Entah wangi apa, yang jelas Medina tidak suka dengan aromanya.
Lupakan soal parfum itu, Medina sedang berusaha mengingat siapa wanita ini? Apa mereka saling kenal? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Tapi...dimana? Medina tidak ingat sama sekali. Ia bukan tipe orang yang handal dalam mengingat sesuatu. Apalagi mengingat seseorang yang hanya satu atau dua kali ia temui.
" Lo siapa?" tanya Medina pada akhirnya dengan nada ingin tahu, tak peduli jika kini ia sedang berbicara dengan orang yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya.
" Saya Ningrum, editor penerbit yang dulu kamu datangi. Ingat?"
Kedua bola mata hitam Medina reflek mendongak ke atas, ia kembali mengulik isi otaknya agar bisa mengingat pertemuan yang Ningrum sebutkan barusan.
Untuk sepersekian detik air muka Medina langsung berubah masam, ia ingat siapa perempuan bernama Ningrum ini.
Dia editor rese' yang pernah bilang kalau ceritanya terlalu biasa untuk naik terbit. Bahkan ia juga sempat bilang kalau cerita Medina tidak bisa di sebut sebuah karya. Mengingat betapa menyebalkannya sikap wanita itu dulu, Medina melengos pergi.
" Eh...kamu mau kemana?" tanya Ningrum heran.
" Cabut. Ada setan mulai bergentayangan di sini," ketus Medina semakin tidak sopan.
Ningrum sepertinya tahu, kenapa Medina seketus itu padanya. Ia tertawa mendapati Medina yang masih menyimpan kemarahan padanya. Medina yang merasa tawa itu tertuju untuknya menghentikan langkahnya dengan melirik tajam pada wanita berumur 25 tahunan itu.
" Kamu masih marah, soal kejadian waktu itu?" basa basi Ningrum, padahal jelas ia sudah tahu jawabannya. " Ok...Ok...saya minta maaf, waktu itu saya terlalu sombong dan menganggap remeh tulisan kamu," aku Ningrum yang masih di abaikan oleh Medina.
Gadis itu tak menoleh sedikitpun pada Ningrum. Ia masih berdiri memunggungi Ningrum dengan muka jutek. Pikirnya buat apa bersikap baik terhadap orang yang telah menghina karyanya? Toh, ia masih sakit hati dengan ucapan Ningrum saat itu.
" Saya sudah baca novel yang kamu posting di aplikasi itu. Saya rasa, saya tertarik untuk meminang karya kamu untuk di ajukan ke penerbit tempat saya bekerja."
Medina kian menajamkan pendengarannya, apa dia tidak salah dengar? Editor rese' ini berminat menerbitkan novel yang ia posting di wattpad? Novel yang sudah ia tulis hinggaa 10 bab dengan viewers satu orang itu?
Viewers satu orang? Apa mungkin satu – satunya viewers itu...
" Jadi lo viewers tunggal di cerita itu?" Medina masih pada posisinya bersikap seakan – akan tak tertarik dengan tawaran Ningrum.
" Iya. Dan saya heran kenapa cerita unik seperti itu malah kurang peminat." - Ningrum berjalan mendekati Medina dan berdiri tepat dihadapan gadis itu-"Gimana? Kamu tertarik dengan tawaran saya?"
Medina bersidekap dan melayangkan tatapan curiga pada Ningrum," Lo nggak lagi ngeledek guekan?"
Ningrum tersenyum," Ya nggaklah. Saya serius Medina."
Medina berpikir sejenak, ia juga tak menemukan kebohongan sedikitpun di raut wajah Ningrum.
Tapi...apa mungkin semendadak ini? Bukannya dulu Ningrum dengan tegas menolak dan mengata-ngatai karyanya?
Cerita kamu terlalu pasaran.
Terlalu biasa. Nggak ada rasa dan nyawanya.
Tulisan kamu nggak layak di sebut karya.
Come on...kurang menyakitkan apa kata – kata Ningrum yang melesat masuk ke telinga Medina satu tahun lalu, yang masih menempel di ingatannya hingga saat ini.
Medina kembali menyoroti wajah Ningrum yang masih mempertahankan senyum terbaiknya. Ia masih tidak begitu yakin dengan tawaran menarik Ningrum.
Apa jangan – jangan dia Cuma mau bikin malu gue?Ah...nggak. Nggak. Kak Adam bilang kita nggak boleh Suuzhan sama orang. Dosa Medina. Dosa.
" Gimana kamu setuju kan?" suara Ningrum kembali menyadarkan Medina dari lamunannya.
" Hmm...gimana ya?" Medina mengetuk – ngetukkan telunjuk ke dagunya, sepasang bola matanya bergerak ke segala arah. Ia tampak bingung memberikan keputusan.
Menjadi penulis memang mimpinya sejak lama, tapi...dapat tawaran tiba – tiba dan mencurigakan dari orang yang pernah menghina karyanya dulu, rasanya terlalu tidak masuk akal. Tuh kan, Medina jadi suuzhan lagi.
" Begini saja, kamu bisa simpan kartu nama saya, saat kamu sudah dapat keputusannya, kamu bisa langsung hubungi saya," saran Ningrum sambil menyerahkan kartu namanya pada Medina. Medina menerimanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia masih dilemma sekarang.
" Medina," suara Adam membuat kedua perempuan ini menoleh. Entah sejak kapan ia datang, Baik Medina maupun Ningrum tak menyadarinya sama sekali.
" Kak Adam udah pulang?" tanya Medina kini tak mempedulikan lagi kehadiran Ningrum yang masih berada di hadapannya.
" Udah. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Adam yang juga sama tak pedulinya dengan kehadiran Ningrum yang kini mematung memandanginya dengan mulut setengah terbuka. Perempuan itu seakan tersihir dengan wajah tampan laki – laki di hadapannya.
" Jemput kakaklah. Lagian...ada yang mau aku bicarain sama kakak," Medina sedikit ragu.
" Kan bisa di rumah, kamu nggak perlu repot – repot jemput kakak."
" Kenapa?" tanya Medina dengan wajah cemberutnya. Niatnya kan baik, menjemput Adam dan menemani laki – kali itu sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tapi...kenapa kakaknya itu seakan menolak niat baiknya.
" Karena ujung – ujungnya kakak sendiri yang repot karena harus gemdong kamu sampe ke rumah."
Medina cengengesan sambil membenahi posisi topinya, ia tahu maksud dari ucapan Adam barusan. Ia malu sendiri jika mengingat kelakuannya yang lebih sering merepotkan dan membuat rusuh hidup kakaknya.
" Maaf. Kan obatnya ngantuk tidur kak "
" Iya. Tapi-,"
" Saudaranya Medina ya?" Tanpa permisi Ningrum yang sejak tadi diam langsung menyela pembicaraan kakak adik ini. " Saya Ningrum, saya editor yang akan menerbitkan karya adik kamu," Ningrum menyodorkan tangannya berniat berjabatan.
Adam hanya diam dan tersenyum tipis sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada," Saya Adam."
Ningrum terdiam menatap kosong tangannya yang enggan di jamah Adam sedikitpun.
" Kakak gue nggak bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Lo nggak perlu meratap sedih kayak gitu," terang Medina yang paham dengan ekspresi wajah Ningrum saat ini.
" Oh...gitu ya," ucap Ningrum salah tingkah. Ia jadi malu sendiri.
" Terima kasih untuk niat baik anda," ucap Adam lagi dengan senyum ramah. Senyuman yang sukses membuat jantung Ningrum kian berdegup cepat.
" Sa-.sama – sama," gugup Ningrum.
" Kak ayo pulang. Ada hal penting yang perlu kita omongin," ajak Medina memutuskan berjalan lebih dulu.
" Saya permisi. Assalammualaikum," Adam kemudian bergegas menyusul langkah Medina.
" Tu – tunggu!" seruan Ningrum menghentikan langkaah Adam.
" Ada apa ya, mbak?"
" Saya tadi meninggalkan kartu nama saya dengan Medina. Jika ada apa – apa yang perlu di bahas tentang kita. Maaf...maksudnya tentang karya Medina yang akan naik terbit kamu bisa hubungi saya," ucap Ningrum modus.
Adam hanya mengangguk pelan, ia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita ini. Dan ia tidak ingin terlalu berbasa – basi.
" KAK ADAM, AYO!" pekikan Medina membuat keduanya menoleh.
" Kalau begitu saya permisi. Assalammualaikum." Adam bergegas menyusul Medina. Ia tak ingin adiknya itu ngambek dan kembali mengurung diri di kamar atau lebih parahnya kabur kayak kucing nyari induknya.
" Wa-waalaikumsalam," sahut Ningrum tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari Adam. Mata bulatnya terus mengekori kepergian Adam.
Ningrum bisa merasakan jantungnya masih berdegup cepat walau bayangan Adam telah menghilang dari pandangan.
Sepertinya, ia jatuh cinta pada laki – laki itu.
Ningrum tersenyum dan kemudian berjalan pulang, membawa kebahagiaan yang tak terjabarkan oleh kata.
Malam kian larut, suhu di sekitar kian terasa dingin, tapi entah kenapa hatinya kian terasa hangat saat ini.
Karena Adamkah?
●●●
Maaf Jika Ada Typo Bertebaran
😊😊😊
ekatnya malam dan dinginnya angin yang menusuk kulit menjadi teman penantian Medina saat ini.
Ia tampak sabar menanti kepulangan kakaknya di halte yang terletak persis didepan cafe tempat Adam bekerja. Rasanya sudah lama ia tidak melakukan ini. Menunggu Adam hingga selesai bekerja namun selalu berakhir tertidur di kursi halte. Dan selalu terbangun keesokan harinya saat ia sudah tiba di rumah. Tapi ia bisa pastikan hal itu tidak akan terjadi kali ini, karena ada hal yang harus ia bicarakan dengan Adam malam ini juga. Ia tidak boleh tertidur, walau rasa kantuk kian menyiksanya saat ini.
Medina tersenyum memandangi kesibukan kakaknya dari kejauhan. Dinding cafe yang di dominasi dengan jendela kaca, membuat Medina kian leluasa mengamati setiap inci pergerakan Adam yang sibuk meracik kopi dengan mesin yang Medina tidak tahu apa namanya. Cafe juga tampak ramai saat ini. Lucunya, pengunjung cafe hanya di dominasi kaum hawa.
Penyebabnya apa lagi, kalau bukan karena kehadiran Adam di sana.
Rasanya, Medina mulai setuju dengan penilaian teman – temannya di kampus. Adam itu manusia tanpa cela. Dia tampan, hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan mata teduh yaang menenangkan, serta senyum manis yang terlihat semakin manis dengan kedua lesung pipi diwajahnya.
Adam juga baik, bahkan tak pernah sekalipun Medina mendengar kakaknya berpikiran jelek terhadap orang lain, di mata Adam semua manusia itu baik.
Soal agama? Jangan di tanya, Adam salah satu cowok yang ibadahnya bisa dibilang jempolan. Shalat? nggak pernah absen. Baca Al-Qur'an? Adam adalah qori terbaik di mata Medina. Tidak heran kenapa Adam punya hati sebaik malaikat, hubungan dekatnya dengan sang pencipta yang menjadi penyebabnya.
Memang tidak ada manusia yang sempurna, tapi bagi Medina Adam berhasil menjadi kakak terbaik dan sempurna untuknya. Lagi – lagi Medina berpikir, apa benar ia adik kandung dari seorang Adam Vegar Raditya? Kenapa tak ada satupun sifat baik Adam yang menurun padanya?
" Medina?" Suara serak seorang wanita membuat lamunan Medina buyar.
Wanita cantik berkulit putih pucat dengan rambut panjang indah tergerai berjalan kian mendekat ke arahnya. Sepertinya ia telah mengamati gadis itu dari kejauhan dan baru berani menyapa setelah yakin jika ia tidak salah orang.
Medina masih terdiam memandangi wanita berbalut dress hitam tanpa lengan itu.
" Benar Medina kan?" tanyanya lagi dan bergerak duduk di samping Medina. Aroma parfumnya yang cukup tajam langsung menerobos indra penciuman Medina. Entah wangi apa, yang jelas Medina tidak suka dengan aromanya.
Lupakan soal parfum itu, Medina sedang berusaha mengingat siapa wanita ini? Apa mereka saling kenal? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Tapi...dimana? Medina tidak ingat sama sekali. Ia bukan tipe orang yang handal dalam mengingat sesuatu. Apalagi mengingat seseorang yang hanya satu atau dua kali ia temui.
" Lo siapa?" tanya Medina pada akhirnya dengan nada ingin tahu, tak peduli jika kini ia sedang berbicara dengan orang yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya.
" Saya Ningrum, editor penerbit yang dulu kamu datangi. Ingat?"
Kedua bola mata hitam Medina reflek mendongak ke atas, ia kembali mengulik isi otaknya agar bisa mengingat pertemuan yang Ningrum sebutkan barusan.
Untuk sepersekian detik air muka Medina langsung berubah masam, ia ingat siapa perempuan bernama Ningrum ini.
Dia editor rese' yang pernah bilang kalau ceritanya terlalu biasa untuk naik terbit. Bahkan ia juga sempat bilang kalau cerita Medina tidak bisa di sebut sebuah karya. Mengingat betapa menyebalkannya sikap wanita itu dulu, Medina melengos pergi.
" Eh...kamu mau kemana?" tanya Ningrum heran.
" Cabut. Ada setan mulai bergentayangan di sini," ketus Medina semakin tidak sopan.
Ningrum sepertinya tahu, kenapa Medina seketus itu padanya. Ia tertawa mendapati Medina yang masih menyimpan kemarahan padanya. Medina yang merasa tawa itu tertuju untuknya menghentikan langkahnya dengan melirik tajam pada wanita berumur 25 tahunan itu.
" Kamu masih marah, soal kejadian waktu itu?" basa basi Ningrum, padahal jelas ia sudah tahu jawabannya. " Ok...Ok...saya minta maaf, waktu itu saya terlalu sombong dan menganggap remeh tulisan kamu," aku Ningrum yang masih di abaikan oleh Medina.
Gadis itu tak menoleh sedikitpun pada Ningrum. Ia masih berdiri memunggungi Ningrum dengan muka jutek. Pikirnya buat apa bersikap baik terhadap orang yang telah menghina karyanya? Toh, ia masih sakit hati dengan ucapan Ningrum saat itu.
" Saya sudah baca novel yang kamu posting di aplikasi itu. Saya rasa, saya tertarik untuk meminang karya kamu untuk di ajukan ke penerbit tempat saya bekerja."
Medina kian menajamkan pendengarannya, apa dia tidak salah dengar? Editor rese' ini berminat menerbitkan novel yang ia posting di wattpad? Novel yang sudah ia tulis hinggaa 10 bab dengan viewers satu orang itu?
Viewers satu orang? Apa mungkin satu – satunya viewers itu...
" Jadi lo viewers tunggal di cerita itu?" Medina masih pada posisinya bersikap seakan – akan tak tertarik dengan tawaran Ningrum.
" Iya. Dan saya heran kenapa cerita unik seperti itu malah kurang peminat." - Ningrum berjalan mendekati Medina dan berdiri tepat dihadapan gadis itu-"Gimana? Kamu tertarik dengan tawaran saya?"
Medina bersidekap dan melayangkan tatapan curiga pada Ningrum," Lo nggak lagi ngeledek guekan?"
Ningrum tersenyum," Ya nggaklah. Saya serius Medina."
Medina berpikir sejenak, ia juga tak menemukan kebohongan sedikitpun di raut wajah Ningrum.
Tapi...apa mungkin semendadak ini? Bukannya dulu Ningrum dengan tegas menolak dan mengata-ngatai karyanya?
Cerita kamu terlalu pasaran.
Terlalu biasa. Nggak ada rasa dan nyawanya.
Tulisan kamu nggak layak di sebut karya.
Come on...kurang menyakitkan apa kata – kata Ningrum yang melesat masuk ke telinga Medina satu tahun lalu, yang masih menempel di ingatannya hingga saat ini.
Medina kembali menyoroti wajah Ningrum yang masih mempertahankan senyum terbaiknya. Ia masih tidak begitu yakin dengan tawaran menarik Ningrum.
Apa jangan – jangan dia Cuma mau bikin malu gue?Ah...nggak. Nggak. Kak Adam bilang kita nggak boleh Suuzhan sama orang. Dosa Medina. Dosa.
" Gimana kamu setuju kan?" suara Ningrum kembali menyadarkan Medina dari lamunannya.
" Hmm...gimana ya?" Medina mengetuk – ngetukkan telunjuk ke dagunya, sepasang bola matanya bergerak ke segala arah. Ia tampak bingung memberikan keputusan.
Menjadi penulis memang mimpinya sejak lama, tapi...dapat tawaran tiba – tiba dan mencurigakan dari orang yang pernah menghina karyanya dulu, rasanya terlalu tidak masuk akal. Tuh kan, Medina jadi suuzhan lagi.
" Begini saja, kamu bisa simpan kartu nama saya, saat kamu sudah dapat keputusannya, kamu bisa langsung hubungi saya," saran Ningrum sambil menyerahkan kartu namanya pada Medina. Medina menerimanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ia masih dilemma sekarang.
" Medina," suara Adam membuat kedua perempuan ini menoleh. Entah sejak kapan ia datang, Baik Medina maupun Ningrum tak menyadarinya sama sekali.
" Kak Adam udah pulang?" tanya Medina kini tak mempedulikan lagi kehadiran Ningrum yang masih berada di hadapannya.
" Udah. Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Adam yang juga sama tak pedulinya dengan kehadiran Ningrum yang kini mematung memandanginya dengan mulut setengah terbuka. Perempuan itu seakan tersihir dengan wajah tampan laki – laki di hadapannya.
" Jemput kakaklah. Lagian...ada yang mau aku bicarain sama kakak," Medina sedikit ragu.
" Kan bisa di rumah, kamu nggak perlu repot – repot jemput kakak."
" Kenapa?" tanya Medina dengan wajah cemberutnya. Niatnya kan baik, menjemput Adam dan menemani laki – kali itu sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tapi...kenapa kakaknya itu seakan menolak niat baiknya.
" Karena ujung – ujungnya kakak sendiri yang repot karena harus gemdong kamu sampe ke rumah."
Medina cengengesan sambil membenahi posisi topinya, ia tahu maksud dari ucapan Adam barusan. Ia malu sendiri jika mengingat kelakuannya yang lebih sering merepotkan dan membuat rusuh hidup kakaknya.
" Maaf. Kan obatnya ngantuk tidur kak "
" Iya. Tapi-,"
" Saudaranya Medina ya?" Tanpa permisi Ningrum yang sejak tadi diam langsung menyela pembicaraan kakak adik ini. " Saya Ningrum, saya editor yang akan menerbitkan karya adik kamu," Ningrum menyodorkan tangannya berniat berjabatan.
Adam hanya diam dan tersenyum tipis sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada," Saya Adam."
Ningrum terdiam menatap kosong tangannya yang enggan di jamah Adam sedikitpun.
" Kakak gue nggak bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Lo nggak perlu meratap sedih kayak gitu," terang Medina yang paham dengan ekspresi wajah Ningrum saat ini.
" Oh...gitu ya," ucap Ningrum salah tingkah. Ia jadi malu sendiri.
" Terima kasih untuk niat baik anda," ucap Adam lagi dengan senyum ramah. Senyuman yang sukses membuat jantung Ningrum kian berdegup cepat.
" Sa-.sama – sama," gugup Ningrum.
" Kak ayo pulang. Ada hal penting yang perlu kita omongin," ajak Medina memutuskan berjalan lebih dulu.
" Saya permisi. Assalammualaikum," Adam kemudian bergegas menyusul langkah Medina.
" Tu – tunggu!" seruan Ningrum menghentikan langkaah Adam.
" Ada apa ya, mbak?"
" Saya tadi meninggalkan kartu nama saya dengan Medina. Jika ada apa – apa yang perlu di bahas tentang kita. Maaf...maksudnya tentang karya Medina yang akan naik terbit kamu bisa hubungi saya," ucap Ningrum modus.
Adam hanya mengangguk pelan, ia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita ini. Dan ia tidak ingin terlalu berbasa – basi.
" KAK ADAM, AYO!" pekikan Medina membuat keduanya menoleh.
" Kalau begitu saya permisi. Assalammualaikum." Adam bergegas menyusul Medina. Ia tak ingin adiknya itu ngambek dan kembali mengurung diri di kamar atau lebih parahnya kabur kayak kucing nyari induknya.
" Wa-waalaikumsalam," sahut Ningrum tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari Adam. Mata bulatnya terus mengekori kepergian Adam.
Ningrum bisa merasakan jantungnya masih berdegup cepat walau bayangan Adam telah menghilang dari pandangan.
Sepertinya, ia jatuh cinta pada laki – laki itu.
Ningrum tersenyum dan kemudian berjalan pulang, membawa kebahagiaan yang tak terjabarkan oleh kata.
Malam kian larut, suhu di sekitar kian terasa dingin, tapi entah kenapa hatinya kian terasa hangat saat ini.
Karena Adamkah?
●●●
Maaf Jika Ada Typo Bertebaran
😊😊😊
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:40
1
Kutip
Balas