- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#10
Quote:
Part 3
" Aku pulang!!" seruan Medina menghentikan pergerakan Adam yang sedang membaca buku diruang tamu.
Mata teduhnya langsung memandangi jam dinding yang menggantung di tembok rumah sederhana yang mereka tempati. Jam persis menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Medina masuk ke rumah dan duduk di kursi rotan yang mengisi ruang tamu dengan wajah lelah. Plastik hitam besar yang sejak tadi ia tenteng, ia letakkan begitu saja di atas meja. Tapi tak sedikitpun menarik perhatian Adam, ia lebih tertarik pada buku yang ia baca daripada plastik hitam besar yang sudah bisa ia tebak apa isinya.
" Sudah berapa kali kakak bilang, kalau masuk ke rumah ucapin assalammualaikum," nasehat Adam dengan nada datar.
" Iya...iya...maaf."
" Ulangi," tegas Adam tak terbantah. Tatapannya masih terfokus pada deretan tulisan di buku.
Dengan langkah berat, Medina kembali melangkah keluar rumah," Assalammualaikum!!" seru Medina dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatuh," sahut Adam sambil menutup bukunya. " Jam segini udah pulang, kuliah kamu udah kelar?"
" Kakak sendiri kenapa ngilang dari kampus?"
" Jawab dulu pertanyaan kakak," pinta Adam masih bersikap tenang.
" Gimana bisa aku tenang kuliah, kalau fans alay kakak nguber aku terus," keluh Medina karena memang selama di kampus tadi ia tidak di berikan kesempatan masuk kelas, kehadiran para penggemar Adam yang mengerumuninya menahan pergerakannya. Menyebalkan.
" Tuh liat, kakak tahukan isinya apa? Coklat dan kado buat kakak. Aku udah berkali – kali bilang kalau kita nggak ngerayain valentine, tapi mereka ngotot pengen ngasih kakak dengan alasan itu 'kado biasa'. Kalau nggak ingat itu amanah yang harus aku sampaikan, udah dari tadi aku buang ke tempat sampah."
" Gimana dengan coklat dari anak SMA yang tadi pagi nemuin kamu? Apa itu bukan amanah juga?" tanya Adam berusaha mengingatkan Medina kejadian yang tak sengaja ia lihat di kantin pagi tadi.
" Kakak liat dia nyamperin aku?" tanya Medina dengan nada terkejut yang hanya di tanggapi anggukan kecil dari Adam. " Hm...kalau itu, karena aku lagi pengen makan coklatnya." Aku Medina cengengesan.
Adam hanya bisa geleng – geleng kepala mendengar pengakuan sang adik, jika sudah urusan makan, nasehat dan penjelasan apapun tak akan ada gunanya.
" Kakak sendiri kenapa pulang? Mau belajar bolos ya?" selidik Medina dengan mata memicing.
" Lagi nggak ada kelas," jawab Adam dan kembali membaca bukunya.
" Kalau nggak ada, kenapa pagi tadi ke kampus?"
" Lagi ada urusan sedikit."
" Urusan apa? Soal beasiswa itu ya?" tanya Medina cepat. Karena memang pertanyaan itu yang ingin ia utarakan sejak tadi.
Adam sedikit kaget ditanyai hal seperti itu. Tapi...bukan Adam namanya jika tidak bisa mengontrol situasi. Ia memilih untuk tetap tenang dan bersikap sewajarnya saja.
" Urusan kampus. Kamu nggak perlu tahu."
" Kenapa kakak nolak beasiswa itu? Bukannya sekolah di Amerika itu impian kakak dari dulu? Kenapa kakak buang kesempatan emas itu?" tanya Medina runtun, ia merasa kesal kenapa kakaknya dengan begitu mudah menolak tawaran itu.
Adam kembali menutup bukunya," Kamu udah makan?" Alih – alih menjawab Adam malah mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat Medina berdecak sebal.
" Jawab dulu pertanyaan aku apa susahnya sih?" kesal Medina dengan tangan terlipat didada.
" Nggak ada tawaran beasiswa apapun Medina," kilah Adam semakin membuat marah Medina. Sejak kapan kakaknya pandai berbohong seperti itu.
" Harusnya kakak itu bersyukur di kasih kesempatan kayak gitu. Jarang - jarang profesor nawarin beasiswa penuh sama mahasiswanya. Kenapa kakak tolak? Nggak enak sama aku yang terkenal punya nilai terjelek di kampus?" Medina terus mengoceh tanpa memberi Adam kesempatan untuk membuka suara.
" Kita cari makan dulu yuk," Adam kembali mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin memperkeruh keadaan.
" Aku nggak laper," ketus Medina dan berjalan masuk ke kamar. Bantingan pintu yang ia ciptakan sudah cukup menyadarkan Adam jika Medina sedang kesal saat ini.
Adam menghela nafas panjang memandangi adiknya yang telah menghilang di balik pintu kamar. Bagaimana mungkin ia menerima beasiswa itu? Bagaimana bisa ia pergi dan meninggalkan adiknya seorang diri di sini? Medina itu satu – satunya yang ia punya sekarang, ia tak mungkin meninggalkannya hanya untuk mengejar mimpinya sendiri. Bagi Adam, itu gila.
***
Rentetan notifikasi aplikasi terus menghiasi ponsel Medina sejak satu jam yang lalu. Jika saja ia tidak ingat kalau ponsel itu di belikan Adam dari gaji pertama kerja part time di cafe, sudah sejak tadi ia ingin melempar benda pipih berwarna hitam itu.
Bukan apa – apa, ia merasa kesal karena tak ada satupun notifikasi yang berisikan pemberitahuan tentang vote atau komentar pada cerita yang sudah satu bulan lalu ia publish di akun wattpadnya. Bahkan cerita itu hanya mempunyai satu viewers untuk 10 bab cerita. Menyedihkan.
Lama mendekam didalam kamar membuat Medina nyaris mati bosan, ia terlalu gengsi unuk menyapa kakaknya duluan setelah tadi marah – marah tidak jelas.
Medina mendongak memandangi jam dinding yang menggantung di tembok kamar, jarum jam mengarah tepat pada angka 8. Itu artinya, kakaknya masih belum pulang dari kerja part timenya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah atap kamar yang tidak di tutupi plafon atau semacamnya. Tatapannya menerawang, tubuh mungilnya masih betah terbaring di atas kasur kapuk yang tidak lagi terasa empuk. Heningnya keadaan rumah kian membawanya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
" Kok kak Adam nggak pamit ya, waktu pergi tadi?"
" Apa dia marah?"
" Gue keterlaluan ya?"
Medina bermonolog, sesal melingkupinya tanpa ampun saat ini.
Mengingat bagaimana kakaknya terus bekerja di luar jam kuliah untuk membiayai kehidupan mereka, Medina jadi malu dan merasa jadi adik yang tidak tahu diri karena selalu melawan perkataan kakaknya. Belum lagi ia sering melempar kekesalan tidak jelasnya pada Adam.
Nina benar, anak – anak kampus benar, Adam itu kakak yang baik, sangat baik, dan teramat baik. Ia rela bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi semua kebutuhan adiknya. Mulai dari bekerja di cafe hingga tengah malam sebagai coffee maker, hingga menjadi buruh cuci di rumah susun yang kemarin ia kunjungi. Bahkan sewaktu kecil, Adam rela panas – panasan ngamen di perempatan lampu merah hanya untuk membelikan boneka teddybear di hari ulang tahun Medina.
Lantas apa balasan Medina? Hal baik apa yang sudah ia lakukan untuk membuat kakaknya bahagia? Tidak ada. Dia hanya gadis bodoh, bandel, kelakuan bak preman yang selalu membuat susah kakaknya. Medina bahkan tidak tahu apa yang bisa membuat kakaknya bahagia, ia terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Seketika cairan bening dan hangat yang sejak tadi bersarang di pelupuk matanya, luruh tanpa di perintah membasahi pipi mulusnya. Medina menyesal karena telah bersikap kurang ajar pada seseorang yang selalu menjaganya sejak kecil itu. Ia tidak boleh terus – terusan seperti ini, kakaknya juga harus bahagia. Ia tidak boleh egois.
Buru – buru Medina beranjak meninggalkan kamarnya, ada hal yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu persis, alasan macam apa yang membuat Adam menolak tawaran beasiswa itu.
Karena dirinya.Karena Medina.
●●●
Mata teduhnya langsung memandangi jam dinding yang menggantung di tembok rumah sederhana yang mereka tempati. Jam persis menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Medina masuk ke rumah dan duduk di kursi rotan yang mengisi ruang tamu dengan wajah lelah. Plastik hitam besar yang sejak tadi ia tenteng, ia letakkan begitu saja di atas meja. Tapi tak sedikitpun menarik perhatian Adam, ia lebih tertarik pada buku yang ia baca daripada plastik hitam besar yang sudah bisa ia tebak apa isinya.
" Sudah berapa kali kakak bilang, kalau masuk ke rumah ucapin assalammualaikum," nasehat Adam dengan nada datar.
" Iya...iya...maaf."
" Ulangi," tegas Adam tak terbantah. Tatapannya masih terfokus pada deretan tulisan di buku.
Dengan langkah berat, Medina kembali melangkah keluar rumah," Assalammualaikum!!" seru Medina dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrakatuh," sahut Adam sambil menutup bukunya. " Jam segini udah pulang, kuliah kamu udah kelar?"
" Kakak sendiri kenapa ngilang dari kampus?"
" Jawab dulu pertanyaan kakak," pinta Adam masih bersikap tenang.
" Gimana bisa aku tenang kuliah, kalau fans alay kakak nguber aku terus," keluh Medina karena memang selama di kampus tadi ia tidak di berikan kesempatan masuk kelas, kehadiran para penggemar Adam yang mengerumuninya menahan pergerakannya. Menyebalkan.
" Tuh liat, kakak tahukan isinya apa? Coklat dan kado buat kakak. Aku udah berkali – kali bilang kalau kita nggak ngerayain valentine, tapi mereka ngotot pengen ngasih kakak dengan alasan itu 'kado biasa'. Kalau nggak ingat itu amanah yang harus aku sampaikan, udah dari tadi aku buang ke tempat sampah."
" Gimana dengan coklat dari anak SMA yang tadi pagi nemuin kamu? Apa itu bukan amanah juga?" tanya Adam berusaha mengingatkan Medina kejadian yang tak sengaja ia lihat di kantin pagi tadi.
" Kakak liat dia nyamperin aku?" tanya Medina dengan nada terkejut yang hanya di tanggapi anggukan kecil dari Adam. " Hm...kalau itu, karena aku lagi pengen makan coklatnya." Aku Medina cengengesan.
Adam hanya bisa geleng – geleng kepala mendengar pengakuan sang adik, jika sudah urusan makan, nasehat dan penjelasan apapun tak akan ada gunanya.
" Kakak sendiri kenapa pulang? Mau belajar bolos ya?" selidik Medina dengan mata memicing.
" Lagi nggak ada kelas," jawab Adam dan kembali membaca bukunya.
" Kalau nggak ada, kenapa pagi tadi ke kampus?"
" Lagi ada urusan sedikit."
" Urusan apa? Soal beasiswa itu ya?" tanya Medina cepat. Karena memang pertanyaan itu yang ingin ia utarakan sejak tadi.
Adam sedikit kaget ditanyai hal seperti itu. Tapi...bukan Adam namanya jika tidak bisa mengontrol situasi. Ia memilih untuk tetap tenang dan bersikap sewajarnya saja.
" Urusan kampus. Kamu nggak perlu tahu."
" Kenapa kakak nolak beasiswa itu? Bukannya sekolah di Amerika itu impian kakak dari dulu? Kenapa kakak buang kesempatan emas itu?" tanya Medina runtun, ia merasa kesal kenapa kakaknya dengan begitu mudah menolak tawaran itu.
Adam kembali menutup bukunya," Kamu udah makan?" Alih – alih menjawab Adam malah mengalihkan pembicaraan dan sukses membuat Medina berdecak sebal.
" Jawab dulu pertanyaan aku apa susahnya sih?" kesal Medina dengan tangan terlipat didada.
" Nggak ada tawaran beasiswa apapun Medina," kilah Adam semakin membuat marah Medina. Sejak kapan kakaknya pandai berbohong seperti itu.
" Harusnya kakak itu bersyukur di kasih kesempatan kayak gitu. Jarang - jarang profesor nawarin beasiswa penuh sama mahasiswanya. Kenapa kakak tolak? Nggak enak sama aku yang terkenal punya nilai terjelek di kampus?" Medina terus mengoceh tanpa memberi Adam kesempatan untuk membuka suara.
" Kita cari makan dulu yuk," Adam kembali mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin memperkeruh keadaan.
" Aku nggak laper," ketus Medina dan berjalan masuk ke kamar. Bantingan pintu yang ia ciptakan sudah cukup menyadarkan Adam jika Medina sedang kesal saat ini.
Adam menghela nafas panjang memandangi adiknya yang telah menghilang di balik pintu kamar. Bagaimana mungkin ia menerima beasiswa itu? Bagaimana bisa ia pergi dan meninggalkan adiknya seorang diri di sini? Medina itu satu – satunya yang ia punya sekarang, ia tak mungkin meninggalkannya hanya untuk mengejar mimpinya sendiri. Bagi Adam, itu gila.
***
Rentetan notifikasi aplikasi terus menghiasi ponsel Medina sejak satu jam yang lalu. Jika saja ia tidak ingat kalau ponsel itu di belikan Adam dari gaji pertama kerja part time di cafe, sudah sejak tadi ia ingin melempar benda pipih berwarna hitam itu.
Bukan apa – apa, ia merasa kesal karena tak ada satupun notifikasi yang berisikan pemberitahuan tentang vote atau komentar pada cerita yang sudah satu bulan lalu ia publish di akun wattpadnya. Bahkan cerita itu hanya mempunyai satu viewers untuk 10 bab cerita. Menyedihkan.
Lama mendekam didalam kamar membuat Medina nyaris mati bosan, ia terlalu gengsi unuk menyapa kakaknya duluan setelah tadi marah – marah tidak jelas.
Medina mendongak memandangi jam dinding yang menggantung di tembok kamar, jarum jam mengarah tepat pada angka 8. Itu artinya, kakaknya masih belum pulang dari kerja part timenya. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah atap kamar yang tidak di tutupi plafon atau semacamnya. Tatapannya menerawang, tubuh mungilnya masih betah terbaring di atas kasur kapuk yang tidak lagi terasa empuk. Heningnya keadaan rumah kian membawanya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
" Kok kak Adam nggak pamit ya, waktu pergi tadi?"
" Apa dia marah?"
" Gue keterlaluan ya?"
Medina bermonolog, sesal melingkupinya tanpa ampun saat ini.
Mengingat bagaimana kakaknya terus bekerja di luar jam kuliah untuk membiayai kehidupan mereka, Medina jadi malu dan merasa jadi adik yang tidak tahu diri karena selalu melawan perkataan kakaknya. Belum lagi ia sering melempar kekesalan tidak jelasnya pada Adam.
Nina benar, anak – anak kampus benar, Adam itu kakak yang baik, sangat baik, dan teramat baik. Ia rela bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi semua kebutuhan adiknya. Mulai dari bekerja di cafe hingga tengah malam sebagai coffee maker, hingga menjadi buruh cuci di rumah susun yang kemarin ia kunjungi. Bahkan sewaktu kecil, Adam rela panas – panasan ngamen di perempatan lampu merah hanya untuk membelikan boneka teddybear di hari ulang tahun Medina.
Lantas apa balasan Medina? Hal baik apa yang sudah ia lakukan untuk membuat kakaknya bahagia? Tidak ada. Dia hanya gadis bodoh, bandel, kelakuan bak preman yang selalu membuat susah kakaknya. Medina bahkan tidak tahu apa yang bisa membuat kakaknya bahagia, ia terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
Seketika cairan bening dan hangat yang sejak tadi bersarang di pelupuk matanya, luruh tanpa di perintah membasahi pipi mulusnya. Medina menyesal karena telah bersikap kurang ajar pada seseorang yang selalu menjaganya sejak kecil itu. Ia tidak boleh terus – terusan seperti ini, kakaknya juga harus bahagia. Ia tidak boleh egois.
Buru – buru Medina beranjak meninggalkan kamarnya, ada hal yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu persis, alasan macam apa yang membuat Adam menolak tawaran beasiswa itu.
Karena dirinya.Karena Medina.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:37
1
Kutip
Balas