Kaskus

Story

chrishanaAvatar border
TS
chrishana
Burung Kertas Merah Muda
Burung Kertas Merah Muda


Quote:



Spoiler for Perkenalan:


Quote:
Polling
0 suara
Siapakah sosok perempuan yang ada dibalik burung kertas berwarna merah muda tersebut?
Diubah oleh chrishana 08-01-2019 13:13
pulaukapokAvatar border
JabLai cOYAvatar border
zio0108Avatar border
zio0108 dan 16 lainnya memberi reputasi
15
134.8K
610
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
chrishanaAvatar border
TS
chrishana
#29
Chapter 10
“Rheva, lo marah sama gue?” sent.

“Nggak kok. Kenapa, Ren?” received.

“Kenapa tadi lo ninggalin gue gitu aja?” sent.

“Gak apa-apa. Gimana PDKT lo sama Fara?” received.

“Gue tak tau harus mulai dari mana.” message cannot be sent.


****

“Kampret!” Rendy membanting handphonemiliknya ke atas ranjangnya. Dia kesal karena pulsa yang ia miliki sudah habis. Uang yang ada di dompetnya pun sudah menipis. Artinya, dia harus merelakan sebagian uangnya untuk membeli pulsa. Rendy melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu masih menunjukkan pukul 20.00 WIB. Artinya, counter pulsa yang ada di dekat rumahnya belum tutup. Rendy langsung bergegas menuju ke sana.
“Bang, pulsa dong.”

“Nih, nomor lo catet, Ren.” penjual pulsa itu memberi sebuah kertas dan pena.

“Ngutang dulu ya.” ujar Rendy sambil tersenyum.

“Iya, tapi bayar pas akhir bulan.”

“Tenang aja kalau itu. Kalau nggak, tagihin ke bokap gue aja.”

“Oke.”

Begitulah kebiasaan Rendy jika membeli pulsa. Karena sudah dekat dan kenal, jadi Rendy berani membeli pulsa dengan berhutang. Penjual pulsa pun juga sudah biasa menagih uang pulsa kepada papanya Rendy karena memang mereka bertetanggaan. Sesampainya di rumah, Rendy melanjutkan obrolan dengan Rheva.
“Sorry, Va. Pulsa gue mendadak habis. Gue gak tau harus mulai darimana untuk deketin Fara.” sent.

“Kalau lo gak berani, lo deketin dulu temennya yang paling deket. Cari info tentang kesukaan si Fara.” received.

“Wah iya, bener juga. Thanks, Rheva. Lo emang terbaik.” sent.

Rendy pun tersenyum sendiri di dalam kamarnya. Dia sedang memikirkan bagaimana nanti jika sudah dekat dengan Fara. Dekat saja belum, tetapi Rendy sudah berpikir jauh ke depan. Dia juga berpikir bahwa cara yang disarankan oleh Rheva akan berjalan dengan mulus.

Rendy memejamkan matanya. Dia mengingat-ingat siapa teman yang paling dekat dengan Fara. “Astaga!” Rendy kaget dan membuka matanya kembali. Dia baru sadar bahwa perempuan yang paling menyebalkan dalam hidupnya itu adalah teman dekat dari Fara. Siapa lagi kalau bukan Anna. “Ah, sial!” Rendy menarik selimutnya dan mematikan lampu kamarnya.
****

Matahari mulai merubah warna langit menjadi biru gelap. Burung-burung mulai bernyanyi. Pertanda bahwa waktu menjelang pagi telah tiba. Mau tak mau, Rendy harus bangkit dari mimpinya dan bersiap menuju sekolahnya. Setelah semua siap, Rendy memanaskan motor warisan papanya dan segera berjalan menuju sekolah.

Di tengah perjalanan, Rendy melihat seorang perempuan dengan rambut panjang dan tubuh langsingnya sedang berdiri di pinggir jalan. Wajahnya tampak familiar dikenal oleh Rendy. Rendy langsung menepi dan menyapa perempuan itu.
“Fara!” Rendy berhenti dan mematikan mesin motornya.

“Eh, Rendy.” Fara tersenyum dengan manis.

“Ngapain berdiri disini sendirian?” tanya Rendy.

“Nunggu angkot. Hehehe.”

“Ayo naik. Bareng aja.” ajak Rendy.

“Eh, gak usah.” Fara menolak.

“Udah ayo naik. Gak usah malu-malu.” Rendy menarik tangan Fara.

“Ya udah deh. Pelan-pelan aja jalannya ya.”

“Siap, tuan putri!”

Suasana hati Rendy berubah seketika. Hatinya kini terasa berbunga-bunga. Dia tak perlu mencari celah untuk memulai pendekatan. Kini Fara sudah ada di dekatnya. Rendy pun memberanikan diri membuka obrolan di pagi hari.
“Lo setiap hari naik angkot dari situ?” tanya Rendy.

“Iya, tapi tadi tumben angkotnya penuh terus.”

“Udah besok-besok gak usah nunggu angkot lagi. Gue jemput aja tiap pagi. Gimana?”

“Eh, ngerepotin ah. Gak usah, Ren.”

Rendy mulai tersenyum sendiri di atas motornya. “Nggak kok. Lagian kita searah. Nanti pulangnya gue anterin ya. Rumah lo deket situ juga?”

“Iya sebrangnya posisi gue berdiri tadi, nah itu jalan masuk rumah gue.” jawab Fara.

“Oh, jalan masjid itu? Deket dari rumah gue. Gue di komplek Raffles.”

Sepanjang perjalanan, Rendy dan Fara mengobrol. Tak terasa Rendy dan Fara sampai di sekolah. Rendy memarkirkan motornya di depan sekolah lalu berjalan menuju area sekolahnya. Fara dan Rendy berjalan berdua berdampingan, tetapi Fara terlihat malu dan menjauh.
“Kenapa, Fara?” Rendy menghentikan langkahnya.

“Eng… Enggak apa-apa.” Fara menatap mata Rendy sedetik saja lalu menunduk.

“Malu jalan sama gue?” tanya Rendy.

“Hehehehe. Dikit.”

“Ikut gue bentar, yuk!” Rendy meraih tangannya Fara dan menariknya menuju taman yang ada di samping masjid sekolah.

Sesampainya di sana, Rendy dan Fara duduk di sebuah bangku taman berhiaskan tanaman bunga yang ada di sekelilingnya. Fara terlihat sangat kebingungan karena diajak oleh Rendy ke tempat ini.
“Ada apa sih, Ren?” tanya Fara penasaran.

“Gak ada apa-apa sih. Cuma gak enak aja. Sekelas tapi lo malu-malu gitu sama gue.” ujar Rendy sambil menatap langit.

“Jujur, gue malu karena beberapa kali anak-anak kelas kita ngeledekin lo sama gue, Ren. Bahkan ada aja yang minta gue sama lo jadian aja.” ucap Fara.

“Kalau itu gak usah didengerin.”

“Gue juga gak enak sama Kak Rheva.” Fara menundukkan wajahnya.

“Rheva?”

“Gue liat lo deket banget sama Kak Rheva. Gue gak enak kalau diliat sama dia gimana.”

“Gue sama Rheva cuma temenan aja kok.” ujar Rendy meyakinkan Fara.

“Walaupun senyumnya bikin gue deg-degan. Hehehehehe.” lanjut Rendy.

“Tuh kan!” Fara memukul pahanya dengan pelan.

“Kenapa, Fara?” tanya Rendy.

“Eh, nggak. Hehehehe…” Fara tersenyum.

Lantunan nada datar dari bel sekolah bersuara denga nyaring. Itu tandanya jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Rendy dan Fara segera beranjak dari tempat itu dan berjalan dengan cepat menuju kelas mereka. Rendy pun dengan secara spontan meraih dan memegang tangan Fara lalu berjalan berdua menuju kelas mereka.

“Cieee…” seisi kelas bersahutan ketika Fara dan Rendy masuk ke dalam kelas. Mereka berdua bingung ada apa dikelas ini. Tanpa sadar, Rendy ternyata masih menggenggam tangan Fara dengan erat dan tak dilepaskan. Fara dengan spontan melepaskan pegangannya dari tangan Rendy. Dengan wajah yang memerah dan senyum yang agak dipaksakan, Fara langsung duduk di samping Anna dan tersipu malu. Sedangkan Rendy justru berjalan seperti biasa tanpa ekspresi apapun.
“Jadian lo sama Fara?” tanya Danu.

“Nggak.” jawab Rendy singkat.

“Kok lo mesra banget?” Danu kembali bertanya seakan tidak puas dengan jawaban Rendy.

“Reflek, elah. Nanya lagi, gue gampar lo!” jawab Rendy.

“Galak amat sih. Hahahahaha.”

“Lo bisa bareng sama dia gimana?” Danu kembali bertanya.

“Gak sengaja aja ketemu di jalan. Dan ternyata, rumahnya Fara deket banget dari rumah gue.” ujar Rendy,

“Tuh kan. Udahlah. Lo tuh udah ditakdirkan untuk selalu sama-sama dia, Ren. Nih ya, awal-awal aja lo keliatan sama dia tuh deket banget. Inget kan pas lo berdua sama-sama terlambat? Terus habis itu lo mikirin dia, ngeliatin dia. Doa lo gak sia-sia, bro.” Danu memberi semangat untuk Rendy.

“Iya. Gue seneng banget hari ini. Dan gue berniat mau anter jemput dia setiap hari.” Rendy berkata seraya menatap langit-langit kelasnya dan tersenyum.

“Jangan lupa, minta nomor HP nya. Biar bisa modus main kerumahnya atau ngajak dia jalan.”

“Iya, nanti gue mau minta sekalian.”

“Pokoknya kalau lo butuh bantuan, bilang sama gue. Pasti gue bantuin kalau gue bisa.” Danu merangkul memegang bahu Rendy.

“Lo emang temen gue yang the best, Nu.”

Toss!

Diubah oleh chrishana 31-03-2018 20:26
JabLai cOY
itkgid
jenggalasunyi
jenggalasunyi dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.