- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)
Thread ini adalah Thread yang ditujukan untuk mengisi kekosongan beberap jeda waktu dan pengalaman yang tidak diceritakan dalam story season 1- akhir, sehingga disini kalian akan menjumpai pengalaman horror, interdimensional, dan lainnya oleh kreator.
The Main Stories :
SEASON 1 Mereka Yang Hidup Dalam Gelap
Selamat menikmati Side Story disini, tanpa perlu prolog langsung cekidot aja
mari kita bercengkrama bersama mereka yang hidup dalam gelap
SIDE STORY INDEX :
Side Story 1 (SS - 1)
Side Story 2 (SS - 2) part 1
Side Story 2 (SS - 2) part 2
Side Story 3 (SS - 3 )
Side Story 4 (SS - 4)
Side Story 5 (SS - 5) Part 1
Side Story 5 (SS - 5) Part 2
Side Story 6 (SS - 6)
Side Story 7 (SS - 7) Part 1
Side Story 7 (SS - 7) Part 2
Side Story 8 (SS - 8) Part 1
Side Story 8 (SS - 8) Part 2
Side Story 9 (SS - 9)
Side Story 10 (SS - 10)
Side Story 11(SS - 11)
Side Story 11 (SS - 11) REMAKE
Side Story 12 (SS - 12)
![MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)](https://s.kaskus.id/images/2018/02/27/8611989_20180227041403.JPG)
The Main Stories :
SEASON 1 Mereka Yang Hidup Dalam Gelap
Selamat menikmati Side Story disini, tanpa perlu prolog langsung cekidot aja
mari kita bercengkrama bersama mereka yang hidup dalam gelap
SIDE STORY INDEX :
Side Story 1 (SS - 1)
Side Story 2 (SS - 2) part 1
Side Story 2 (SS - 2) part 2
Side Story 3 (SS - 3 )
Side Story 4 (SS - 4)
Side Story 5 (SS - 5) Part 1
Side Story 5 (SS - 5) Part 2
Side Story 6 (SS - 6)
Side Story 7 (SS - 7) Part 1
Side Story 7 (SS - 7) Part 2
Side Story 8 (SS - 8) Part 1
Side Story 8 (SS - 8) Part 2
Side Story 9 (SS - 9)
Side Story 10 (SS - 10)
Side Story 11(SS - 11)
Side Story 11 (SS - 11) REMAKE
Side Story 12 (SS - 12)
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 06-07-2018 13:04
1
35.2K
102
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#43
SS 8 - Dia Wanita yang Beruntung, (10 Maret 2006 - 23 Maret 2013) Part 1
Tahun 2006 adalah tahun yang membahagiakan bagi kami semua, hiruk pikuk di dalam keluarga ku terasa, menyambut kelahiran anak ke-3, atau adik ke-2 ku, yang perempuan. Saat itu memang belum ada tanda kelahiran, tapi kami sudah bersia pandai ada apa2 yang terjadi. Saat itu kami sudah memikirkan nama- nama untuk adik kami, dan aku sudah tidak sabar untuk memiliki seorang adik wanita, yang akan menjadi penengah diantara kedua kakaknya ini, kami menyambut haru dan bahagia untuk menuju kelahirannya. Hingga kala pag itu, pagi sebelum fajar, dimana ibuku mengerang kesakitan, dan air ketubannya pecah, membuat ibuku harus segera di larikan ke RS, untuk melakukan prosesi kelahiran, dan langsung menuju RS Sard**to. saat itu kami berdoa semoga ibu kami tetap sehat dan adik kami lahir dengan baik.
"Oeekk,,oooekk", suara tangisan bayi adekku yang sudah terbayang olehku, sembari menanti prosesi kelahiran ibuku yang saat itu tidak bisa normal, Beliau harus melahirkan dengan cara cesar, atau oprasi pembedahan, saat itu memang aku belum paham dan ketakutan, kenapa harus ada oprasi, kenapa ibuku ya Allah, selamatkan beliau ya Allah. Doaku memohon semoga keselamatan ibuku terjaga, dan adikku ini lahir sehat. Saat itu usiaku 12 tahun, dan aku sedang menunggu masa2 kelulusan SD, dan adikku yang masih SD kelas 2 saat itu menemaniku disana, sedang ayahku ikut ke dalam ruang oprasi, untuk melihat prosesinya. Pukul 3 Pagi, adik kami lahir, aku tertidur bersama Ilham, adikku yang pertama, dia membangunkanku, "mas, papa uda keluar tuh", katanya, "hah? hah? mana?" kataku setengah mengantuk. Kulihat ayahku keluar tersenyum kemudian berkata padaku, "Alhamdulillah mama uda ngelahirin adek, nanti kita tengok adik ya", kata Ayahku, membuat haru meledak disana, dan aku, ayahku, ibuku, dan adikku berkumpul di ruang ibuku di rawat, sedang bayi kecil itu masuk ke ruang inkubasi, Ayahku yang segera menyusul kesana untuk mengadzani adikku, meninggalkan aku dan adikku menemani ibukku tertidur di bangsal rumah sakit.
Bulan Maret ini, adalah bulan membahagiakan bagi kami, adik kecil kami lahir selamat, dan diberi nama Fauzia Nisa Unajiah, Wanita Beruntung yang diMuliakan, begitu kira- kira arti namanya, seorang bayi kecil yang mewarnai sepinya rumah kami. Hingga kami mendapat kabar dari dokter kalau dek Zia terkena penyakit Spina Bifida. Dimana saraf punggungnya terkena semacam jamur yang menempel dan menyebabkan dia tidak bisa berjalan, atau lumpuh hampir seumur hidup, bahkan untuk menggerakkan kakinya saja dengan terapi, Fauzia harus berusaha setengah mati. Kabar itu ibarat petir yang disambarkan pada keluarga kami, membuat ku sedih, tapi aku melihat ortuku yang lebih sedih dan menangis, dan ibuku, kemudian masuk ke ruang dokter bersama ayahku. Malam itu menjadi malam paling bahagia, juga menjadi malam yang paling menyakitkan untuk kami semua.
Fauzia adalah seorang wanita yang paling kuat yang pernah aku temui, dengan keterbatasan fisiknya, adikku ini tidak menyerah, walau seumur hidup hanya bisa merayap bahkan tidak merangkak, ibuarat seperti tentara, membuat kami sendih melihatnya, tapi saat itu dia masih terlalu kecil untuk menaiki kursi roda sendiri, hingga aku harus menggendongnya bergantian dengan ayahku bergantian, atau menaruhna dalam stroller bayi. Membayangkan hal ini selalu membuat ku sedih, bahkan juga kedua orang tuaku, pukulan berat bagi kami, tapi bagaimanapun juga Fauzia adalah bagian dari keluarga kami, yang harus selalu kami lindungi, dan menjadi adik serta anak yang paling kami sayangi, melebihi diri kami sendiri.
Fauzia yang tidak hanya terkena spina bifida, tapi juga hidrosepalus, kepalanya dipenuhi cairan harus mengalami oprasi kedua setelah kelahirannya, oprasi pemasangan selang, sehingga seumur hidup tersambung selang yang menempel dari kepala menuju ke lambungnya, sebuah selang panjang yang digunakan untuk membuang cairan di kepalanya. Hingga dewasa. selang ini akan terus menempel, dan harus diganti ketika adikku bertambah tingginya, atau bertambah usianya. Sungguh suatu nasib yang tidak membahagiakan bagi adikku, nasib buruk yang harus dijalaninya. Namun aku yakin, adikku masih lebih dari mampu untuk menjalani semua ini, menjalani hidupnya dengan kekurangan, hidupnya yang penuh dengan liku yang sulit.
Adikku kini telah beranjak lebih tua, kini adikku memasuki usianya yang ke empat, dan masuk ke taman kanak2 (TK), membuat ku bahagia melihat adikku ini tumbuh dewasa, dan sering bermain dengan kakak2nya, aku senang sekali memangku, menggendong dan menciuminya, rasa sayang yang benar- benar melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri ata uorang lain. Adikku, mukjizat terindah bagi kami, seorang wanita yang membawa keramaian dan kehidupan di keluarga kecil kami. TK bukan lah masa yang mudah, ortuku tidak menemukan TK dengan biaya yang murah, tabungan kelaurga kami habis untuk membiayai oprasi adikku yang bahka nhampir mencapai ratusan juta, dan saat itu terpaksa juga ortuku harus meminjam pada bank hingga puluhan juta yang digunakan demi adikku, supaya menjadi anak yang sempurna. TK saat itu benar- benar sulit, beberapa sekolah menolak karena mahal dan adikku yang "cacat", dan bahkan ada satu sekolah yang dekat rumah, gurunya terang- terangan berkata "maaf anak bapak masuk ke SLB saja", membuat ayahku marah dan memaki2 guru sekolah tadi, hingga akhirnya sang guru menerima adikku, meminta maaf dan sebgainya, tapi adikku seperti diperlakukan bak anak Cacat, tidak mereka sedikitpun menyayangi adikku yang duduk di kursi roda, temannya banyak yang mmebully, dan sebagai seorang kakak saat itu kemarahanku memuncak dan memarahi mereka yang membully adikku. Adikku selalu memegang, menangis dan bilang "mas arda jangan marah, mas arda adik gapapa, mas arda jangan marah", membuatku tenang, menatapnya sendu dan pergi. Adik kesayanganku, Fauzia Nisa Unajiah, seorang wanita yang sangat penyayang.
Memasuki SD di usia 6 tahun, adikku menurun kondisi kesehatannya, dia yang awal mulanya sangat cerewet kini mulai diam karena kesakitan, penderitaan dari sakitnya makin parah, membuat dia harus menahan rasa sakit, dan terus tersenyum, aku yang kadang menangis di sebelahnya kulihat adikku selalu menepuk2 aku, "mas arda, adek gapapa, mas Arda, jangan sedih ya.", kata adikku. Aku dan adikku ini punya suatu kebiasaan saat aku awal kuliah dahulu. Aku sering beli bubur Ayam, dan selalu beli 3, 2 untukku dan 1 untuk adikku, kami makan bersama dan adikku sangat senang, juga kalau aku memasak mi rebus, walau kadang aku pelit, tapi aku selalu membagi sebagian mi rebus pada adikku, membelikannya permen, juga menggendong dan mengayunkan adikku di kakiku. Adikku juga sering tertidur di perut ku yang gemuk, dan menjatuh2kan kepalanya, lalu aku pura2 pingsa, adikku menciumku, dan aku melek, lalu adikku sekali lagi menjatuhkan kepala ke perutku, "bantalnya adik, empuk", kata adikku, membuatku selalu tersenyum membayangkannya. Adikku yang selalu kurindukan hingga saat ini.
Adik pertamaku (Ilham), juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Fauzia, mereka sering bermain sembunyi2an, dan juga kadang ilham memaki bantal di punggungnya, berlagak seperti kura- kura dan Fauzia menaikinya, sambil menyanyikan lagu yang dibuat2 sendiri, "Kura, kura, berjalan lambat, punya cangkang sebagai rumahnya", begitu kira- kira lagu pendek yang dinyanyikan berulang kali oleh Ilham saat bermain dengan Fauzia. Kedekatan mereka sama seperti aku pada adikku, Fauzia, seorang wanita yang menjadi titik kebahagiaan bagi kami sekeluarga, yang kini selalu dirindukan oleh keluarga kami.
Ayahku adalah orang yang sangat suka menyanyi, beliau lah yang mengantarkan Fauzia ke sekolah tiap harinya dan karena beliau suka menyanyi, Fauzia uga ikut menyanyikan lagu ayahku, yang notabene merupakan lagu jadul jaman Tom Jones, Beatles dan lain2nya. Lagu yang paling sering ayahku nyanyikan untuk Fauzia adalah
sebuah lagu yang dibawakan penyanyi jaman dahulu, Johnny Cash, sebuah lagu yang selalu menjadi kenangan jika kunyanyikan atau dinyanyikan ayahku. Kadang ayahku sampai mempelajari lagu yang diajarkan di TK adikku, membantu nya untuk juga menghafal lagu itu, seperti lagu anak2
Mata saya dua, hidun saya satu, mulut saya satu, dipakai bicara terus, atau semacamnya, yang saya sering plesetkan "Mulut Adek satu buat makan terus", jika sudah begitu Fauzia pasti tertawa dna mencubitku sambil bilang "Mas arda yang makan terus, adek kan makannya dikit", membuatku tertawa- tawa bersama adikku. Sebuah kenangan manis yang bahkan tidak akan terlupakan, kehangatan abadi olehnya.
Ibuku memiliki kedekatan yang lebih lagi, beliau adalah guru bagiku, bagi adik2ku juga, beliau yang mengajarkan segala ilmu pengetahuan pada kami, mengajari kami membaca sebelum TK dan mengajari berhitung serta hafalan, walau galak sering membentak dan memukuli kami saat kecilm aku tetap menyayangi beliau, ibu yang paling kusayang. Juga Fauzia adalah anak kesayangan ibu kami, walau beliau sering memarahi Fauzia hingga menangis, Ibu tetap menyayangi nya, dan mengajak Fauzia makan, jalan2 dan lain nya, untuk selalu memberi kebahagiaan pada Fauzia. Kedekatan antara 2 wanita di keluarga kami, seorang ibu dan anaknya, yang memberikan kehangatan lebih pada kami sekeluarga. Fauzia sering menemani ibuku memasak di dapur, Fauzia yang di kursi roda akan duduk terus di kursi roda memandangi punggung ibuku sambil menunggunya, kadang hingga ketiduran di kursi roda, kadang juga ribut ngoceh sendiri, membuat hari- hari kami selalu penuh dengan kebahagiaan olehnya. Hingga 2013, kami harus merelakannya, wanita yang melebihi segala keindahan yang pernah aku temui, wanita yang paling aku sayang, Adikku tercinta yang kini tenang di surga sana.
Tahun 2006 adalah tahun yang membahagiakan bagi kami semua, hiruk pikuk di dalam keluarga ku terasa, menyambut kelahiran anak ke-3, atau adik ke-2 ku, yang perempuan. Saat itu memang belum ada tanda kelahiran, tapi kami sudah bersia pandai ada apa2 yang terjadi. Saat itu kami sudah memikirkan nama- nama untuk adik kami, dan aku sudah tidak sabar untuk memiliki seorang adik wanita, yang akan menjadi penengah diantara kedua kakaknya ini, kami menyambut haru dan bahagia untuk menuju kelahirannya. Hingga kala pag itu, pagi sebelum fajar, dimana ibuku mengerang kesakitan, dan air ketubannya pecah, membuat ibuku harus segera di larikan ke RS, untuk melakukan prosesi kelahiran, dan langsung menuju RS Sard**to. saat itu kami berdoa semoga ibu kami tetap sehat dan adik kami lahir dengan baik.
"Oeekk,,oooekk", suara tangisan bayi adekku yang sudah terbayang olehku, sembari menanti prosesi kelahiran ibuku yang saat itu tidak bisa normal, Beliau harus melahirkan dengan cara cesar, atau oprasi pembedahan, saat itu memang aku belum paham dan ketakutan, kenapa harus ada oprasi, kenapa ibuku ya Allah, selamatkan beliau ya Allah. Doaku memohon semoga keselamatan ibuku terjaga, dan adikku ini lahir sehat. Saat itu usiaku 12 tahun, dan aku sedang menunggu masa2 kelulusan SD, dan adikku yang masih SD kelas 2 saat itu menemaniku disana, sedang ayahku ikut ke dalam ruang oprasi, untuk melihat prosesinya. Pukul 3 Pagi, adik kami lahir, aku tertidur bersama Ilham, adikku yang pertama, dia membangunkanku, "mas, papa uda keluar tuh", katanya, "hah? hah? mana?" kataku setengah mengantuk. Kulihat ayahku keluar tersenyum kemudian berkata padaku, "Alhamdulillah mama uda ngelahirin adek, nanti kita tengok adik ya", kata Ayahku, membuat haru meledak disana, dan aku, ayahku, ibuku, dan adikku berkumpul di ruang ibuku di rawat, sedang bayi kecil itu masuk ke ruang inkubasi, Ayahku yang segera menyusul kesana untuk mengadzani adikku, meninggalkan aku dan adikku menemani ibukku tertidur di bangsal rumah sakit.
Bulan Maret ini, adalah bulan membahagiakan bagi kami, adik kecil kami lahir selamat, dan diberi nama Fauzia Nisa Unajiah, Wanita Beruntung yang diMuliakan, begitu kira- kira arti namanya, seorang bayi kecil yang mewarnai sepinya rumah kami. Hingga kami mendapat kabar dari dokter kalau dek Zia terkena penyakit Spina Bifida. Dimana saraf punggungnya terkena semacam jamur yang menempel dan menyebabkan dia tidak bisa berjalan, atau lumpuh hampir seumur hidup, bahkan untuk menggerakkan kakinya saja dengan terapi, Fauzia harus berusaha setengah mati. Kabar itu ibarat petir yang disambarkan pada keluarga kami, membuat ku sedih, tapi aku melihat ortuku yang lebih sedih dan menangis, dan ibuku, kemudian masuk ke ruang dokter bersama ayahku. Malam itu menjadi malam paling bahagia, juga menjadi malam yang paling menyakitkan untuk kami semua.
Fauzia adalah seorang wanita yang paling kuat yang pernah aku temui, dengan keterbatasan fisiknya, adikku ini tidak menyerah, walau seumur hidup hanya bisa merayap bahkan tidak merangkak, ibuarat seperti tentara, membuat kami sendih melihatnya, tapi saat itu dia masih terlalu kecil untuk menaiki kursi roda sendiri, hingga aku harus menggendongnya bergantian dengan ayahku bergantian, atau menaruhna dalam stroller bayi. Membayangkan hal ini selalu membuat ku sedih, bahkan juga kedua orang tuaku, pukulan berat bagi kami, tapi bagaimanapun juga Fauzia adalah bagian dari keluarga kami, yang harus selalu kami lindungi, dan menjadi adik serta anak yang paling kami sayangi, melebihi diri kami sendiri.
Fauzia yang tidak hanya terkena spina bifida, tapi juga hidrosepalus, kepalanya dipenuhi cairan harus mengalami oprasi kedua setelah kelahirannya, oprasi pemasangan selang, sehingga seumur hidup tersambung selang yang menempel dari kepala menuju ke lambungnya, sebuah selang panjang yang digunakan untuk membuang cairan di kepalanya. Hingga dewasa. selang ini akan terus menempel, dan harus diganti ketika adikku bertambah tingginya, atau bertambah usianya. Sungguh suatu nasib yang tidak membahagiakan bagi adikku, nasib buruk yang harus dijalaninya. Namun aku yakin, adikku masih lebih dari mampu untuk menjalani semua ini, menjalani hidupnya dengan kekurangan, hidupnya yang penuh dengan liku yang sulit.
Adikku kini telah beranjak lebih tua, kini adikku memasuki usianya yang ke empat, dan masuk ke taman kanak2 (TK), membuat ku bahagia melihat adikku ini tumbuh dewasa, dan sering bermain dengan kakak2nya, aku senang sekali memangku, menggendong dan menciuminya, rasa sayang yang benar- benar melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri ata uorang lain. Adikku, mukjizat terindah bagi kami, seorang wanita yang membawa keramaian dan kehidupan di keluarga kecil kami. TK bukan lah masa yang mudah, ortuku tidak menemukan TK dengan biaya yang murah, tabungan kelaurga kami habis untuk membiayai oprasi adikku yang bahka nhampir mencapai ratusan juta, dan saat itu terpaksa juga ortuku harus meminjam pada bank hingga puluhan juta yang digunakan demi adikku, supaya menjadi anak yang sempurna. TK saat itu benar- benar sulit, beberapa sekolah menolak karena mahal dan adikku yang "cacat", dan bahkan ada satu sekolah yang dekat rumah, gurunya terang- terangan berkata "maaf anak bapak masuk ke SLB saja", membuat ayahku marah dan memaki2 guru sekolah tadi, hingga akhirnya sang guru menerima adikku, meminta maaf dan sebgainya, tapi adikku seperti diperlakukan bak anak Cacat, tidak mereka sedikitpun menyayangi adikku yang duduk di kursi roda, temannya banyak yang mmebully, dan sebagai seorang kakak saat itu kemarahanku memuncak dan memarahi mereka yang membully adikku. Adikku selalu memegang, menangis dan bilang "mas arda jangan marah, mas arda adik gapapa, mas arda jangan marah", membuatku tenang, menatapnya sendu dan pergi. Adik kesayanganku, Fauzia Nisa Unajiah, seorang wanita yang sangat penyayang.
Memasuki SD di usia 6 tahun, adikku menurun kondisi kesehatannya, dia yang awal mulanya sangat cerewet kini mulai diam karena kesakitan, penderitaan dari sakitnya makin parah, membuat dia harus menahan rasa sakit, dan terus tersenyum, aku yang kadang menangis di sebelahnya kulihat adikku selalu menepuk2 aku, "mas arda, adek gapapa, mas Arda, jangan sedih ya.", kata adikku. Aku dan adikku ini punya suatu kebiasaan saat aku awal kuliah dahulu. Aku sering beli bubur Ayam, dan selalu beli 3, 2 untukku dan 1 untuk adikku, kami makan bersama dan adikku sangat senang, juga kalau aku memasak mi rebus, walau kadang aku pelit, tapi aku selalu membagi sebagian mi rebus pada adikku, membelikannya permen, juga menggendong dan mengayunkan adikku di kakiku. Adikku juga sering tertidur di perut ku yang gemuk, dan menjatuh2kan kepalanya, lalu aku pura2 pingsa, adikku menciumku, dan aku melek, lalu adikku sekali lagi menjatuhkan kepala ke perutku, "bantalnya adik, empuk", kata adikku, membuatku selalu tersenyum membayangkannya. Adikku yang selalu kurindukan hingga saat ini.
Adik pertamaku (Ilham), juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Fauzia, mereka sering bermain sembunyi2an, dan juga kadang ilham memaki bantal di punggungnya, berlagak seperti kura- kura dan Fauzia menaikinya, sambil menyanyikan lagu yang dibuat2 sendiri, "Kura, kura, berjalan lambat, punya cangkang sebagai rumahnya", begitu kira- kira lagu pendek yang dinyanyikan berulang kali oleh Ilham saat bermain dengan Fauzia. Kedekatan mereka sama seperti aku pada adikku, Fauzia, seorang wanita yang menjadi titik kebahagiaan bagi kami sekeluarga, yang kini selalu dirindukan oleh keluarga kami.
Ayahku adalah orang yang sangat suka menyanyi, beliau lah yang mengantarkan Fauzia ke sekolah tiap harinya dan karena beliau suka menyanyi, Fauzia uga ikut menyanyikan lagu ayahku, yang notabene merupakan lagu jadul jaman Tom Jones, Beatles dan lain2nya. Lagu yang paling sering ayahku nyanyikan untuk Fauzia adalah
Quote:
sebuah lagu yang dibawakan penyanyi jaman dahulu, Johnny Cash, sebuah lagu yang selalu menjadi kenangan jika kunyanyikan atau dinyanyikan ayahku. Kadang ayahku sampai mempelajari lagu yang diajarkan di TK adikku, membantu nya untuk juga menghafal lagu itu, seperti lagu anak2
Mata saya dua, hidun saya satu, mulut saya satu, dipakai bicara terus, atau semacamnya, yang saya sering plesetkan "Mulut Adek satu buat makan terus", jika sudah begitu Fauzia pasti tertawa dna mencubitku sambil bilang "Mas arda yang makan terus, adek kan makannya dikit", membuatku tertawa- tawa bersama adikku. Sebuah kenangan manis yang bahkan tidak akan terlupakan, kehangatan abadi olehnya.
Ibuku memiliki kedekatan yang lebih lagi, beliau adalah guru bagiku, bagi adik2ku juga, beliau yang mengajarkan segala ilmu pengetahuan pada kami, mengajari kami membaca sebelum TK dan mengajari berhitung serta hafalan, walau galak sering membentak dan memukuli kami saat kecilm aku tetap menyayangi beliau, ibu yang paling kusayang. Juga Fauzia adalah anak kesayangan ibu kami, walau beliau sering memarahi Fauzia hingga menangis, Ibu tetap menyayangi nya, dan mengajak Fauzia makan, jalan2 dan lain nya, untuk selalu memberi kebahagiaan pada Fauzia. Kedekatan antara 2 wanita di keluarga kami, seorang ibu dan anaknya, yang memberikan kehangatan lebih pada kami sekeluarga. Fauzia sering menemani ibuku memasak di dapur, Fauzia yang di kursi roda akan duduk terus di kursi roda memandangi punggung ibuku sambil menunggunya, kadang hingga ketiduran di kursi roda, kadang juga ribut ngoceh sendiri, membuat hari- hari kami selalu penuh dengan kebahagiaan olehnya. Hingga 2013, kami harus merelakannya, wanita yang melebihi segala keindahan yang pernah aku temui, wanita yang paling aku sayang, Adikku tercinta yang kini tenang di surga sana.
johny251976 dan 3 lainnya memberi reputasi
4