- Beranda
- Stories from the Heart
Where the fvck are you?
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
palinglembut
#52
10
Aldi
Mata Mira membelalak ketika melihat gue saat dia membuka pintu apartmentnya, bahkan sebelum gue mengucapkan satu katapun, dia langsung menarik gue ke dalam pelukannya. Dan benar, dia nyaris menghilang ketika gue balas peluk. Seperti gue menyelipkan ranting pohon yang rapuh ke dalam balik jaket. Gue menutup pintu di belakang gue dan menguncinya.
Mira menarik tangan gue, berjalan diantara lantai berserakan sampah dan gelas-gelas popmie yang ditumpuk. Dia menuntun gue ke dalam pintu kamarnya, dan langsung menyuruh gue berdiri di dekat timbangan badan. Disaat Mira ingin menjejakan kaki kanannya yang kurus ke atas timbangan, gue langsung menariknya dari belakang.
“ Gue percaya sama lo. “
Lalu dia menangis. Gue mengusapkan air matanya dengan lengan baju. Sambil berdiri, gue menyelusupkan masuk tangan gue untuk merasakan tulang punggungnya. Gue merasakan setiap tulang yang mulai ‘muncul’ dari dalam kulit, seperti orang buta yang meraba-raba braile. tiap kenyataan yang gue rasakan, disaat itu juga gue menyadari bahwasanya semua ini adalah kesalahan gue.
“ Ayo, kita pacaran―pacaran yang serius―kalau perlu, habis itu ujung-ujungnya gue nikahin elo. “ Kata gue begitu saja, tanpa dicerna terlebih dahulu.
Mira mengerat pelukannya ke gue. “ Kenapa? “ Tanyanya dari sela-sela rambut yang menempel.
“ Gue terlalu egois, gue pikir hubungan kita cetek, ternyata dampaknya udah kayak kanker di elo. “ jawab gue tanpa berpikir panjang. “ Gue harus tanggung jawab, pokoknya harus. “
“ Berarti lo janji nggak mau ninggalin gue kayak kemarin-kemarin? “ tanyanya lagi sambil sesegukan.
“ Asal lo janji juga nggak akan lagi berat badan lo segini lagi. “ Balas gue secepatnya.
Mira langsung mengangguk.
Ketika gue membenamkan kepalanya ke bawah dagu gue, gue menghela napas dan memenjamkan mata.
Mungkin ini cara gue quit dari lo, Mia.
Lalu gue mendengar ketukan pintu dari arah pintu keluar.
“ Mira? “ kalau gue memang seorang Anjing, telinga gue pasti menegak―mendengar suara yang familiar. “ Mira? Ini gue, Mia. “
Jantung gue rasanya melesak dan meninggalkan rongganya.
*
Aldi
Mata Mira membelalak ketika melihat gue saat dia membuka pintu apartmentnya, bahkan sebelum gue mengucapkan satu katapun, dia langsung menarik gue ke dalam pelukannya. Dan benar, dia nyaris menghilang ketika gue balas peluk. Seperti gue menyelipkan ranting pohon yang rapuh ke dalam balik jaket. Gue menutup pintu di belakang gue dan menguncinya.
Mira menarik tangan gue, berjalan diantara lantai berserakan sampah dan gelas-gelas popmie yang ditumpuk. Dia menuntun gue ke dalam pintu kamarnya, dan langsung menyuruh gue berdiri di dekat timbangan badan. Disaat Mira ingin menjejakan kaki kanannya yang kurus ke atas timbangan, gue langsung menariknya dari belakang.
“ Gue percaya sama lo. “
Lalu dia menangis. Gue mengusapkan air matanya dengan lengan baju. Sambil berdiri, gue menyelusupkan masuk tangan gue untuk merasakan tulang punggungnya. Gue merasakan setiap tulang yang mulai ‘muncul’ dari dalam kulit, seperti orang buta yang meraba-raba braile. tiap kenyataan yang gue rasakan, disaat itu juga gue menyadari bahwasanya semua ini adalah kesalahan gue.
“ Ayo, kita pacaran―pacaran yang serius―kalau perlu, habis itu ujung-ujungnya gue nikahin elo. “ Kata gue begitu saja, tanpa dicerna terlebih dahulu.
Mira mengerat pelukannya ke gue. “ Kenapa? “ Tanyanya dari sela-sela rambut yang menempel.
“ Gue terlalu egois, gue pikir hubungan kita cetek, ternyata dampaknya udah kayak kanker di elo. “ jawab gue tanpa berpikir panjang. “ Gue harus tanggung jawab, pokoknya harus. “
“ Berarti lo janji nggak mau ninggalin gue kayak kemarin-kemarin? “ tanyanya lagi sambil sesegukan.
“ Asal lo janji juga nggak akan lagi berat badan lo segini lagi. “ Balas gue secepatnya.
Mira langsung mengangguk.
Ketika gue membenamkan kepalanya ke bawah dagu gue, gue menghela napas dan memenjamkan mata.
Mungkin ini cara gue quit dari lo, Mia.
Lalu gue mendengar ketukan pintu dari arah pintu keluar.
“ Mira? “ kalau gue memang seorang Anjing, telinga gue pasti menegak―mendengar suara yang familiar. “ Mira? Ini gue, Mia. “
Jantung gue rasanya melesak dan meninggalkan rongganya.
*
0

