- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#4102
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Tiba-tiba, Anggie mendorong tubuh gw sekuat tenaganya hingga membuat gw keluar dari kamar.. Dengan cepat, ia membanting keras pintu kamar dan menguncinya dari dalam..
“Yank, Maafin aku.. Aku mohon kamu ngertiin, Yank” Teriak gw sambil menggedor-gedor pintu kamar..
“PERGI!!!” Balas Anggie dengan bentakan kencang disusul isak tangisnya dari dalam..
“Yank, Please ngertiin posisi aku.. Semua aku lakuin buat Ibu”
“Aku bilang pergi!!! Aku ga mau dengerin omongan kamu lagi” Teriak Anggie..
Gw menghantamkan kening ke pintu kamar Anggie sambil mengepalkan kedua tangan dan memukul sekat pembatas antara gw dan gadis itu, dengan hati berlumuran darah.. Seharusnya gw siap dengan reaksi Anggie setelah mengambil keputusan yang gw anggap tepat.. Tapi, tetap saja luka lama dihati gw seperti terbuka dan berdarah lagi..
Dengan perasaan remuk, gw duduk menekuk dua lutut menyandarkan punggung di pintu kamar Anggie.. Beberapa kali gw menyeka airmata yang menetes begitu mendengar suara tangisan meratap Anggie dari dalam.. Entah berapa lama gw duduk bersandar membelakangi pintu kamar Anggie, mengutuk nasib cinta kami yang berujung duka.. Sempat terlintas prasangka buruk ke Tuhan, yang terasa tak adil menentukan nasib cinta gw dan Anggie.. Namun, bayang wajah Ibu yang tersenyum terasa menampar segala prasangka buruk ke Sang Maha Pemberi Cinta..
Sambil menghela nafas dalam, gw perlahan mulai bangkit dan membalikkan tubuh menatap kosong ke arah pintu.. Untuk terakhir kalinya, gw ingin melihat keadaan Anggie menggunakan Ajian Tembus Pandang..
Disana, diatas ranjangnya, Anggie nampak sedang merebahkan diri dengan posisi menekuk dan dua mata terpejam.. Hati gw kembali terasa remuk melihat Anggie tertidur memeluk bingkai yang terisi foto kami berdua, dengan wajah masih menyiratkan duka teramat dalam.. Sambil menempelkan dahi di pintu dan dua telapak tangan merapat diatas permukaan kayunya, gw berbisik lirih sepenuh hati..
“Maafin aku, Yank.. Semua ini demi ibu"Ucap gw cukup singkat dan berharap untaian maaf itu sampai ke dalam mimpi gadis yang sangat gw cintai..
Dengan perasaan hampa karena telah menghancurkan hati Anggie untuk kesekian kalinya, gw berjalan gontai menuruni anak tangga sesudah meninggalkan selembar undangan pernikahan Ridho dan Suluh di depan pintu kamar gadis itu.. Di depan pintu rumahnya, pandangan mata gw kosong menatap Ridho yang nampak gelisah menunggu.. Sementara diatas sofa, Anton terlihat gundah dan langsung berdiri lalu berjalan cukup cepat menghampiri gw yang melangkahkan kedua kaki tanpa semangat.. Tiba-tiba, Anton menarik leher kaus yang gw kenakan dari samping.. Dan...
BUGG!!
Cukup keras Anton memukul wajah gw hingga membuat gw terjatuh kesamping dengan kepala hampir menabrak dinding.. Gw yang bagaikan mayat hidup, sama sekali tidak merasakan sakit dimana pun kecuali dihati.. Pukulan Anton seperti angin lalu bagi gw, meski bibir ini pecah dan terasa mengeluarkan cairan asin berbau amis.. Anehnya saat itu, gw sama sekali tidak merasakan bahu menghangat meski sudah terluka.. Sepertinya Pedang Jagat Samudera juga berpihak pada Ibu, dan membiarkan gw meratapi sendiri kisah cinta ini..
Sekali lagi Anton menarik bagian leher kaus yang gw kenakan, dan dengan kasar mengangkat tubuh gw ke atas.. Dari samping, Ridho menarik tangan Anton dan mendorong tubuhnya cukup keras hingga Anton dan gw sama-sama terjatuh..
“Apa-apaan lu, maen pukul sodara gw aja,bangs*t” Bentak Ridho ke arah Anton sambil membantu gw berdiri..
“Sodara lu yang salah.. Tiap dia dateng kesini, pasti bikin temen gw nangis” Balas Anton dengan suara jantan..
“Tapi lu ga bisa langsung mukul dia juga, Njing! Tanya dulu donk masalahnya apa!” Sahut Ridho yang mulai terpancing emosinya..
Gw yang melihat mereka saling menegangkan urat leher, mulai berjalan ke arah pintu keluar dengan sama sekali tidak memperdulikan apa yang selanjutnya akan terjadi.. Kunci mobil Ridho yang ada dalam saku celana, gw keluarkan dan menekan tombol untuk mematikan alarmnya..
Dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki Ridho yang menyusul saat gw sudah duduk memejamkan kedua mata dengan kepala menengadah bersandar di jok bagian atas..
“Lu sama Anggie kenapa lagi sih, Bree? Tadi gw liat lu seneng banget mo ketemu Anggie, tapi pas udah ketemu yang gw denger malah suara tangisan cewe lu” Tanya Ridho sembari menyalakan mesin mobil..
Gw membuka mata dan menatap kosong ke arah jalan, saat Ridho mulai melajukan kendaraannya perlahan.. Dengan suara lirih, gw menceritakan apa yang telah terjadi antara gw dan Anggie ke Ridho.. Tentang keputusan pahit yang terpaksa gw ambil demi kesehatan Ibu, meski harus mengorbankan cinta kami..
“Waduuh.. Berat juga masalah lu, Bree.. Tapi, bukannya lu tadi pagi bilang, kalo Ibu udah ga permasalahin hubungan lu sama Anggie? Yaah, meski jelas-jelas Ibu juga bilang lebih sreg ke Ayu sih.. Tapi, setidaknya Ibu udah ngasih kebebasan ke lu buat nentuin mo ke siapa lu berhubungan, Bree”
Gw terdiam menyimak tanggapan Ridho barusan, lalu mengeluarkan sebatang rokok dan menurunkan kaca jendela mobilnya..
“Pas Ibu bilang begitu, gw sempet lihat ada harapan besar diwajahnya, Bree.. Harapan supaya gw lebih memilih Ayu dan ngorbanin perasaan gw ke Anggie.. Jujur, gw takut Ibu kenapa-napa kalo gw tetap sama Anggie, Bree.. Dia cuma bilang terserah gw mau pilih siapa tanpa ada kata setuju jika gw pilih Anggie.. Lu tau kan Ibu sakit apa.. Sekali gw bikin beliau stress akibatnya bisa fatal, Bree” Jawab gw sambil sesekali menghentikan kalimat untuk menghisap rokok..
“Iya juga sih.. Ya udah lah.. Intinya sekarang, lu lupain semua masalah sama Anggie.. Mungkin dia emang bukan jodoh lu, Bree.. Tapi gw yakin, ada cewe cakep diluar sana yang emang bener-bener tercipta dari tulang rusuk lu” Kata Ridho dengan kalimat akhir yang cukup meresap dalam batin..
“Btw, pukulan maho tadi kek nya lumayan kenceng juga sampe bikin bibir lu pecah gitu” Kata Ridho yang membuat gw teringat akan luka, lalu menyeka darah menggunakan tissue yang ada di dashboard..
Sesuai rencana semula.. Gw tetap mengantarkan Ridho untuk memberikan undangannya ke Arya.. Sekitar setengah jam kemudian, kami pun tiba di rumah Arya.. Tapi sayang, orang yang kami cari sedang tidak berada di rumah.. Akhirnya, dengan hanya menitip undangan ke pembantu keluarganya, kami terpaka kembali ke rumah tanpa sempat menemui Arya..
Setibanya kembali dirumah gw, Ridho langsung pamit pulang karena jam setengah dua ada hal yang harus ia lakukan.. Gw pun masuk ke dalam dan sempat memberi senyuman getir ke arah Ibu.. Lalu, bergegas masuk ke dalam kamar.. Diatas ranjang, gw membuka kaus dan berdiri didepan cermin, menatap tanda bekas gigitan Anggie yang masih jelas terjejak merah diatas dada.. Entah mengapa, rasa sakit nan perih malah terasa dalam hati.. Begitu gw meraba jejak luka gigitan itu..
Tiba-tiba, Ibu membuka pintu dan membuat gw sedikit terkejut.. Dengan cepat, gw kembali mengambil kaus dan mengenakannya untuk menutupi luka di dada, lalu duduk di tepi ranjang.. Sebuah senyuman manis tersungging dari wajah Ibu yang masih berdiri didepan pintu.. Kemudian, beliau melangkah pelan dan ikut duduk disebelah gw sambil membelai kepala..
“Kamu kenapa murung, Bang?” Tanya Ibu dengan suara lembut..
Gw menggelengkan kepala tak mau menjawab jujur apa yang saat ini sedang terjadi dalam hati.. Gw ga mau Ibu tahu saat ini ada luka menganga di relung jiwa paling dalam..
“Koq malah diem.. Ga mau cerita sama Ibu?” Tanya Ibu lagi sambil menatap wajah gw yang mencoba menyunggingkan senyuman meski sangat terpaksa..
“Ga apa-apa koq, Bu.. Abang cuma ga enak badan aja” Jawab gw yang disambut tertempelnya punggung tangan kanan Ibu didahi untuk mengetahui suhu tubuh..
“Tapi ga panas dahi kamu, Bang? Ya udah, mau Ibu bikinin susu jahe anget ga?” Tawar Ibu sambil membelai wajah gw..
Gw sendiri tersenyum dengan menganggukkan kepala, lalu kembali merebahkan tubuh diatas kasur pegas setelah Ibu keluar dari kamar.. Kedua mata gw sempat menoleh ke semua penjuru kamar untuk memastikan dua sosok Jin Penjaga yang masih sama-sama belum muncul.. Entah kemana dan apa yang terjadi dengan Sekar dan Bayu Barata.. Mudah-mudahan semua baik-baik saja sesuai harapan gw.. Dan, semoga kemunculan mereka nanti tidak akan membawa kabar buruk..
Suasana gedung sudah ramai dipenuhi dua keluarga besar.. Yup! Hari ini adalah akad pernikahannya dua saudara gw yang terjalin dari hubungan darah ratusan tahun silam.. Akhirnya, perjuangan cinta Suluh dan Ridho berujung juga dalam suatu ikatan janji suci..
Sesuai rencana, akad nikah sekaligus resepsinya akan dilangsungkan di sebuah gedung yang sudah didekorasi dengan indah.. Para tamu yang datang, memang baru anggota dua keluarga besar dan sahabat-sahabat baik seperti gw, Bimo dan Binar.. Karena diundangan, acara resepsi pernikahan Ridho dan Suluh memang dimulai dari jam 11 siang sampai jam 4 sore..
Ridho nampak gagah dengan baju pengantin pria berwarna serba putih.. Suluh juga nampak cantik dan anggun dalam balutan gaun pernikahan yang muslimah.. Semua orang dibuat pangling melihat kecantikan wajah Suluh yang terpancar dari balik jilbabnya.. Untuk sosok cewe tomboy seperti Suluh, melihatnya memakai gaun pengantin muslimah membuat hampir semua orang terpana..
Gw yang memakai jas slimfit berdasi panjang sama hitam, dengan kemeja biru sebagai dalaman, tak kalah gagahnya dibanding Ridho.. Sayangnya gw sedang menjomblo hingga cukup ditemani Ibu dan Ayu saja.. Tak seperti Binar dan Bimo yang nampak mesra sekali dengan selalu bergandengan tangan..
Semua Jin Penjaga Ridho, Suluh dan Bimo nampak hadir ingin menyaksikan terikatnya dua anak manusia yang saling mencinta.. Hanya Sekar dan Bayu Barata saja yang sampai saat ini belum juga muncul.. Gw sudah mencoba memanggil nama kedua Jin Penjaga gw itu dalam hati.. Entah berapa ratus kali gw menyebut nama Bayu Barata dan Sekar Kencana dari sejak kepergian mereka hingga sekarang.. Namun, sama sekali tidak ada balasan apapun.. Bahkan, gw sempat memanggil nama asli Penguasa Gaib Tanah Pasundan maupun Nyi Mas Galuh Pandita.. Tapi tetap tidak ada satu sosok pun yang muncul..
Sebenarnya, gw merasakan suatu prasangka tidak enak disebabkan menghilangnya Bayu Barata dan Sekar.. Namun, gw buang jauh-jauh segala prasangka buruk mengingat hari ini merupakan hari paling bersejarah bagi Ridho dan Suluh.. Wajah gw yang nampak murung karena memikirkan banyak hal, berusaha gw sembunyikan dihari istimewa ini.. Gw harus ikut bahagia demi Suluh dan Ridho, meski sebenarnya dalam hati terasa sangat hampa..
Selesainya akad nikah, gw langsung mengajak Bimo dan Binar untuk memberi ucapan selamat kepada Ridho dan Suluh.. Dengan sangat erat gw memeluk Ridho.. Lalu mengajak Bimo dan Binar untuk berpelukan bersama-sama dengan Suluh juga.. Kami berlima tak ubahnya seperti anak kecil yang berteriak kegirangan sambil menggandengkan tangan masing-masing membentuk lingkaran kecil.. Sayangnya, kedua orang tua Ridho meminta dua pengantin untuk segera duduk dipelaminan yang ada persis ditengah gedung..
Sambil tersenyum sumringah penuh kebahagiaan, Ridho dan Suluh nampak sangat serasi duduk bersebelahan bagaikan Raja dan Ratu diatas singgasananya.. Beberapa tamu mulai berdatangan dan menyalami kedua pengantin yang berbahagia.. Beberapa stand makanan juga sudah mulai dibuka oleh petugas catering dan seorang wanita berkebaya biru yang menjadi MC mengundang para tamu untuk mencicipi semua sajian..
Dengan diiringi alunan lagu-lagu bertemakan cinta dari wedding band yang ada di sudut sebelah kiri pelaminan, para tamu nampak mulai mengerumuni tiap stand makanan.. Gw yang juga sudah merasa lapar, menghampiri adik gw Ayu untuk mengajak mengambil makanan kesukaannya yaitu Zuppa Soup.. Sambil menggenggam tangan Ayu, gw berjalan pelan beriringan dengan gadis kecil itu menuju stand incaran kami berdua.. Tiba-tiba, Ayu menghentikan langkah dan menepuk lengan gw..
“Bang.. Abang.. Itu ada Kak Anggie, Bang” Kata Ayu seraya menunjuk ke arah pintu masuk..
Pandangan gw langsung terlempar ke arah yang ditunjuk Ayu.. Dan, benar.. Persis di depan pintu masuk gedung serbaguna, Anggie nampak anggun dengan rambut disanggul sedemikian rupa, dalam balutan kebaya berwarna hijau dan kain batik panjang sebagai bawahannya.. Tapi sayang, kecantikan Anggie terlihat kurang sempurna tanpa senyuman manis yang sepertinya hilang dari wajahnya.. Tangan kanan gadis itu nampak menggandeng seorang pemuda gagah namun kemayu yang tak lain adalah Anton.. Sementara, dibelakang mereka terlihat Darren bersama isterinya yang juga menyempatkan datang ke pernikahan Ridho dan Suluh..
“De, kamu ambil makanannya sendiri aja bisa kan? Abang mau nemuin Kak Anggie dulu” Kata gw ke Ayu..
“Ga aah! Ade juga mau ketemu Kak Anggie.. Udah lama kan ade ga curhat ke dia, Bang”
“Ya elaah, pake acara curhat.. Kamu masih kecil, de.. Jangan suka curhat-curhatan aah” Ucap gw sambil mencubit pipi Ayu..
“Terserah abang mo bilang apa.. Yang penting ade mo ketemu Kak Anggie, titik!” Balas adik gw Ayu seraya berlari menuju ke arah Anggie..
Gw sempat terkejut, lalu mengejar Ayu yang sudah sedang dicium pipinya oleh Anggie.. Seketika senyuman diwajah Anggie lenyap kembali begitu melihat kedatangan gw.. Wajah masam yang sama terlihat dari Anton si amphibi.. Sementara Darren, menatap tajam ke arah gw meski isterinya mengulum senyuman getir..
“Hei.. Aku fikir kamu ga bisa datang, Yank” Kata gw yang kelepasan memanggil Anggie dengan sebutan sayank dan membuat gadis itu melirik sinis, setelah menyuruh Ayu untuk pergi menemui Ibu..
“Minggir lu, Mam.. Jangan sampe acara nikahan temen lu gw bikin berantakan” Bentak Darren sambil mendorong tubuh gw ke belakang hingga hampir terjatuh..
Lalu mengajak Anggie dan isterinya pergi meninggalkan gw.. Sementara Anton, dia cuma nyengir kuda menertawai kemudian menyusul mereka pergi.. Sejenak, gw tertegun melihat Anggie yang sempat menoleh ke arah gw.. Wajah gadis itu nampak kembali menyiratkan kepedihan luka yang telah gw buat dalam hatinya..
“Siapa yang dorong lu tadi, Mam?” Tanya Bimo yang tanpa gw sadari sudah berada di sebelah bersama kekasihnya, Binar..
“Kakak tirinya Anggie, Bim.. Dia marah karena gw udah putusin Anggie pas ngasih undangan Ridho beberapa hari lalu”
“Ya ampun.. Gw heran deh, lu sama Anggie kapan langgengnya sih.. Sekarang pacaran besok putus.. Liet donk Ridho sama Suluh, Mam.. Hari ini mereka kelihatan bahagia banget.. Jadi baper kan lihatnya” Kata Binar menimpali ucapan gw tadi sambil mengeratkan pegangan tangan dilengan Bimo..
“Masalah yang gw hadapi sekarang jauh lebih kompleks, Bin.. Gw masih sayang banget sama Anggie, tapi keadaan ga ngizinin kami terus bersama” Jawab gw dengan tatapan mengikuti sosok Anggie yang ada dipelaminan sedang memberi ucapan selamat ke Ridho dan Suluh..
Tak mau mendengar segala macam komentar dari orang lain lagi, gw pun menghindar dan memilih untuk duduk menyendiri sambil menikmati segelas minuman ringan.. Mendadak, gw melihat Anggie sedang duduk sama menyendiri seperti gw.. Tanpa pikir panjang, gw langsung berjalan menghampiri gadis itu.. Mengetahui kedatangan gw, Anggie langsung bangkit dan mencoba menghindar..
Dengan cepat gw menangkap lengan gadis itu dan membuatnya membalikkan tubuh menatap gw..
“Boleh aku ngomong sebentar?” Tanya gw dengan nada memelas..
Anggie terdiam sambil berusaha melepaskan lengannya dari pegangan gw, lalu melempar pandangan ke arah lain tak mau membalas tatapan ini..
“Apa lagi yang mau kamu omongin? Semua udah jelas.. Aku terima keputusan kamu yang lebih memilih Ibu daripada aku.. Memang itu udah jadi kewajiban kamu sebagai puteranya kan”
“Aku mau kamu maafin aku.. Aku masih sayang banget sama kamu” Ucap gw yang dibalas tatapan tajam kedua mata Anggie..
“Aku ga akan pernah maafin kamu.. Satu lagi, jangan pernah kamu bilang soal rasa sayang dan cinta ke aku.. Coz I know, all words coming out from your mouth mean nothing to me.. Semuanya aku anggap bullshit” Jawab Anggie sambil mengacungkan jari telunjuknya, kemudian pergi meninggalkan gw menuju Darren dan isterinya..
Tiba-tiba, Anggie mendorong tubuh gw sekuat tenaganya hingga membuat gw keluar dari kamar.. Dengan cepat, ia membanting keras pintu kamar dan menguncinya dari dalam..
“Yank, Maafin aku.. Aku mohon kamu ngertiin, Yank” Teriak gw sambil menggedor-gedor pintu kamar..
“PERGI!!!” Balas Anggie dengan bentakan kencang disusul isak tangisnya dari dalam..
“Yank, Please ngertiin posisi aku.. Semua aku lakuin buat Ibu”
“Aku bilang pergi!!! Aku ga mau dengerin omongan kamu lagi” Teriak Anggie..
Gw menghantamkan kening ke pintu kamar Anggie sambil mengepalkan kedua tangan dan memukul sekat pembatas antara gw dan gadis itu, dengan hati berlumuran darah.. Seharusnya gw siap dengan reaksi Anggie setelah mengambil keputusan yang gw anggap tepat.. Tapi, tetap saja luka lama dihati gw seperti terbuka dan berdarah lagi..
Dengan perasaan remuk, gw duduk menekuk dua lutut menyandarkan punggung di pintu kamar Anggie.. Beberapa kali gw menyeka airmata yang menetes begitu mendengar suara tangisan meratap Anggie dari dalam.. Entah berapa lama gw duduk bersandar membelakangi pintu kamar Anggie, mengutuk nasib cinta kami yang berujung duka.. Sempat terlintas prasangka buruk ke Tuhan, yang terasa tak adil menentukan nasib cinta gw dan Anggie.. Namun, bayang wajah Ibu yang tersenyum terasa menampar segala prasangka buruk ke Sang Maha Pemberi Cinta..
Sambil menghela nafas dalam, gw perlahan mulai bangkit dan membalikkan tubuh menatap kosong ke arah pintu.. Untuk terakhir kalinya, gw ingin melihat keadaan Anggie menggunakan Ajian Tembus Pandang..
Disana, diatas ranjangnya, Anggie nampak sedang merebahkan diri dengan posisi menekuk dan dua mata terpejam.. Hati gw kembali terasa remuk melihat Anggie tertidur memeluk bingkai yang terisi foto kami berdua, dengan wajah masih menyiratkan duka teramat dalam.. Sambil menempelkan dahi di pintu dan dua telapak tangan merapat diatas permukaan kayunya, gw berbisik lirih sepenuh hati..
“Maafin aku, Yank.. Semua ini demi ibu"Ucap gw cukup singkat dan berharap untaian maaf itu sampai ke dalam mimpi gadis yang sangat gw cintai..
Dengan perasaan hampa karena telah menghancurkan hati Anggie untuk kesekian kalinya, gw berjalan gontai menuruni anak tangga sesudah meninggalkan selembar undangan pernikahan Ridho dan Suluh di depan pintu kamar gadis itu.. Di depan pintu rumahnya, pandangan mata gw kosong menatap Ridho yang nampak gelisah menunggu.. Sementara diatas sofa, Anton terlihat gundah dan langsung berdiri lalu berjalan cukup cepat menghampiri gw yang melangkahkan kedua kaki tanpa semangat.. Tiba-tiba, Anton menarik leher kaus yang gw kenakan dari samping.. Dan...
BUGG!!
Cukup keras Anton memukul wajah gw hingga membuat gw terjatuh kesamping dengan kepala hampir menabrak dinding.. Gw yang bagaikan mayat hidup, sama sekali tidak merasakan sakit dimana pun kecuali dihati.. Pukulan Anton seperti angin lalu bagi gw, meski bibir ini pecah dan terasa mengeluarkan cairan asin berbau amis.. Anehnya saat itu, gw sama sekali tidak merasakan bahu menghangat meski sudah terluka.. Sepertinya Pedang Jagat Samudera juga berpihak pada Ibu, dan membiarkan gw meratapi sendiri kisah cinta ini..
Sekali lagi Anton menarik bagian leher kaus yang gw kenakan, dan dengan kasar mengangkat tubuh gw ke atas.. Dari samping, Ridho menarik tangan Anton dan mendorong tubuhnya cukup keras hingga Anton dan gw sama-sama terjatuh..
“Apa-apaan lu, maen pukul sodara gw aja,bangs*t” Bentak Ridho ke arah Anton sambil membantu gw berdiri..
“Sodara lu yang salah.. Tiap dia dateng kesini, pasti bikin temen gw nangis” Balas Anton dengan suara jantan..
“Tapi lu ga bisa langsung mukul dia juga, Njing! Tanya dulu donk masalahnya apa!” Sahut Ridho yang mulai terpancing emosinya..
Gw yang melihat mereka saling menegangkan urat leher, mulai berjalan ke arah pintu keluar dengan sama sekali tidak memperdulikan apa yang selanjutnya akan terjadi.. Kunci mobil Ridho yang ada dalam saku celana, gw keluarkan dan menekan tombol untuk mematikan alarmnya..
Dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki Ridho yang menyusul saat gw sudah duduk memejamkan kedua mata dengan kepala menengadah bersandar di jok bagian atas..
“Lu sama Anggie kenapa lagi sih, Bree? Tadi gw liat lu seneng banget mo ketemu Anggie, tapi pas udah ketemu yang gw denger malah suara tangisan cewe lu” Tanya Ridho sembari menyalakan mesin mobil..
Gw membuka mata dan menatap kosong ke arah jalan, saat Ridho mulai melajukan kendaraannya perlahan.. Dengan suara lirih, gw menceritakan apa yang telah terjadi antara gw dan Anggie ke Ridho.. Tentang keputusan pahit yang terpaksa gw ambil demi kesehatan Ibu, meski harus mengorbankan cinta kami..
“Waduuh.. Berat juga masalah lu, Bree.. Tapi, bukannya lu tadi pagi bilang, kalo Ibu udah ga permasalahin hubungan lu sama Anggie? Yaah, meski jelas-jelas Ibu juga bilang lebih sreg ke Ayu sih.. Tapi, setidaknya Ibu udah ngasih kebebasan ke lu buat nentuin mo ke siapa lu berhubungan, Bree”
Gw terdiam menyimak tanggapan Ridho barusan, lalu mengeluarkan sebatang rokok dan menurunkan kaca jendela mobilnya..
“Pas Ibu bilang begitu, gw sempet lihat ada harapan besar diwajahnya, Bree.. Harapan supaya gw lebih memilih Ayu dan ngorbanin perasaan gw ke Anggie.. Jujur, gw takut Ibu kenapa-napa kalo gw tetap sama Anggie, Bree.. Dia cuma bilang terserah gw mau pilih siapa tanpa ada kata setuju jika gw pilih Anggie.. Lu tau kan Ibu sakit apa.. Sekali gw bikin beliau stress akibatnya bisa fatal, Bree” Jawab gw sambil sesekali menghentikan kalimat untuk menghisap rokok..
“Iya juga sih.. Ya udah lah.. Intinya sekarang, lu lupain semua masalah sama Anggie.. Mungkin dia emang bukan jodoh lu, Bree.. Tapi gw yakin, ada cewe cakep diluar sana yang emang bener-bener tercipta dari tulang rusuk lu” Kata Ridho dengan kalimat akhir yang cukup meresap dalam batin..
“Btw, pukulan maho tadi kek nya lumayan kenceng juga sampe bikin bibir lu pecah gitu” Kata Ridho yang membuat gw teringat akan luka, lalu menyeka darah menggunakan tissue yang ada di dashboard..
Sesuai rencana semula.. Gw tetap mengantarkan Ridho untuk memberikan undangannya ke Arya.. Sekitar setengah jam kemudian, kami pun tiba di rumah Arya.. Tapi sayang, orang yang kami cari sedang tidak berada di rumah.. Akhirnya, dengan hanya menitip undangan ke pembantu keluarganya, kami terpaka kembali ke rumah tanpa sempat menemui Arya..
Setibanya kembali dirumah gw, Ridho langsung pamit pulang karena jam setengah dua ada hal yang harus ia lakukan.. Gw pun masuk ke dalam dan sempat memberi senyuman getir ke arah Ibu.. Lalu, bergegas masuk ke dalam kamar.. Diatas ranjang, gw membuka kaus dan berdiri didepan cermin, menatap tanda bekas gigitan Anggie yang masih jelas terjejak merah diatas dada.. Entah mengapa, rasa sakit nan perih malah terasa dalam hati.. Begitu gw meraba jejak luka gigitan itu..
Tiba-tiba, Ibu membuka pintu dan membuat gw sedikit terkejut.. Dengan cepat, gw kembali mengambil kaus dan mengenakannya untuk menutupi luka di dada, lalu duduk di tepi ranjang.. Sebuah senyuman manis tersungging dari wajah Ibu yang masih berdiri didepan pintu.. Kemudian, beliau melangkah pelan dan ikut duduk disebelah gw sambil membelai kepala..
“Kamu kenapa murung, Bang?” Tanya Ibu dengan suara lembut..
Gw menggelengkan kepala tak mau menjawab jujur apa yang saat ini sedang terjadi dalam hati.. Gw ga mau Ibu tahu saat ini ada luka menganga di relung jiwa paling dalam..
“Koq malah diem.. Ga mau cerita sama Ibu?” Tanya Ibu lagi sambil menatap wajah gw yang mencoba menyunggingkan senyuman meski sangat terpaksa..
“Ga apa-apa koq, Bu.. Abang cuma ga enak badan aja” Jawab gw yang disambut tertempelnya punggung tangan kanan Ibu didahi untuk mengetahui suhu tubuh..
“Tapi ga panas dahi kamu, Bang? Ya udah, mau Ibu bikinin susu jahe anget ga?” Tawar Ibu sambil membelai wajah gw..
Gw sendiri tersenyum dengan menganggukkan kepala, lalu kembali merebahkan tubuh diatas kasur pegas setelah Ibu keluar dari kamar.. Kedua mata gw sempat menoleh ke semua penjuru kamar untuk memastikan dua sosok Jin Penjaga yang masih sama-sama belum muncul.. Entah kemana dan apa yang terjadi dengan Sekar dan Bayu Barata.. Mudah-mudahan semua baik-baik saja sesuai harapan gw.. Dan, semoga kemunculan mereka nanti tidak akan membawa kabar buruk..
Suasana gedung sudah ramai dipenuhi dua keluarga besar.. Yup! Hari ini adalah akad pernikahannya dua saudara gw yang terjalin dari hubungan darah ratusan tahun silam.. Akhirnya, perjuangan cinta Suluh dan Ridho berujung juga dalam suatu ikatan janji suci..
Sesuai rencana, akad nikah sekaligus resepsinya akan dilangsungkan di sebuah gedung yang sudah didekorasi dengan indah.. Para tamu yang datang, memang baru anggota dua keluarga besar dan sahabat-sahabat baik seperti gw, Bimo dan Binar.. Karena diundangan, acara resepsi pernikahan Ridho dan Suluh memang dimulai dari jam 11 siang sampai jam 4 sore..
Ridho nampak gagah dengan baju pengantin pria berwarna serba putih.. Suluh juga nampak cantik dan anggun dalam balutan gaun pernikahan yang muslimah.. Semua orang dibuat pangling melihat kecantikan wajah Suluh yang terpancar dari balik jilbabnya.. Untuk sosok cewe tomboy seperti Suluh, melihatnya memakai gaun pengantin muslimah membuat hampir semua orang terpana..
Gw yang memakai jas slimfit berdasi panjang sama hitam, dengan kemeja biru sebagai dalaman, tak kalah gagahnya dibanding Ridho.. Sayangnya gw sedang menjomblo hingga cukup ditemani Ibu dan Ayu saja.. Tak seperti Binar dan Bimo yang nampak mesra sekali dengan selalu bergandengan tangan..
Semua Jin Penjaga Ridho, Suluh dan Bimo nampak hadir ingin menyaksikan terikatnya dua anak manusia yang saling mencinta.. Hanya Sekar dan Bayu Barata saja yang sampai saat ini belum juga muncul.. Gw sudah mencoba memanggil nama kedua Jin Penjaga gw itu dalam hati.. Entah berapa ratus kali gw menyebut nama Bayu Barata dan Sekar Kencana dari sejak kepergian mereka hingga sekarang.. Namun, sama sekali tidak ada balasan apapun.. Bahkan, gw sempat memanggil nama asli Penguasa Gaib Tanah Pasundan maupun Nyi Mas Galuh Pandita.. Tapi tetap tidak ada satu sosok pun yang muncul..
Sebenarnya, gw merasakan suatu prasangka tidak enak disebabkan menghilangnya Bayu Barata dan Sekar.. Namun, gw buang jauh-jauh segala prasangka buruk mengingat hari ini merupakan hari paling bersejarah bagi Ridho dan Suluh.. Wajah gw yang nampak murung karena memikirkan banyak hal, berusaha gw sembunyikan dihari istimewa ini.. Gw harus ikut bahagia demi Suluh dan Ridho, meski sebenarnya dalam hati terasa sangat hampa..
Selesainya akad nikah, gw langsung mengajak Bimo dan Binar untuk memberi ucapan selamat kepada Ridho dan Suluh.. Dengan sangat erat gw memeluk Ridho.. Lalu mengajak Bimo dan Binar untuk berpelukan bersama-sama dengan Suluh juga.. Kami berlima tak ubahnya seperti anak kecil yang berteriak kegirangan sambil menggandengkan tangan masing-masing membentuk lingkaran kecil.. Sayangnya, kedua orang tua Ridho meminta dua pengantin untuk segera duduk dipelaminan yang ada persis ditengah gedung..
Sambil tersenyum sumringah penuh kebahagiaan, Ridho dan Suluh nampak sangat serasi duduk bersebelahan bagaikan Raja dan Ratu diatas singgasananya.. Beberapa tamu mulai berdatangan dan menyalami kedua pengantin yang berbahagia.. Beberapa stand makanan juga sudah mulai dibuka oleh petugas catering dan seorang wanita berkebaya biru yang menjadi MC mengundang para tamu untuk mencicipi semua sajian..
Dengan diiringi alunan lagu-lagu bertemakan cinta dari wedding band yang ada di sudut sebelah kiri pelaminan, para tamu nampak mulai mengerumuni tiap stand makanan.. Gw yang juga sudah merasa lapar, menghampiri adik gw Ayu untuk mengajak mengambil makanan kesukaannya yaitu Zuppa Soup.. Sambil menggenggam tangan Ayu, gw berjalan pelan beriringan dengan gadis kecil itu menuju stand incaran kami berdua.. Tiba-tiba, Ayu menghentikan langkah dan menepuk lengan gw..
“Bang.. Abang.. Itu ada Kak Anggie, Bang” Kata Ayu seraya menunjuk ke arah pintu masuk..
Pandangan gw langsung terlempar ke arah yang ditunjuk Ayu.. Dan, benar.. Persis di depan pintu masuk gedung serbaguna, Anggie nampak anggun dengan rambut disanggul sedemikian rupa, dalam balutan kebaya berwarna hijau dan kain batik panjang sebagai bawahannya.. Tapi sayang, kecantikan Anggie terlihat kurang sempurna tanpa senyuman manis yang sepertinya hilang dari wajahnya.. Tangan kanan gadis itu nampak menggandeng seorang pemuda gagah namun kemayu yang tak lain adalah Anton.. Sementara, dibelakang mereka terlihat Darren bersama isterinya yang juga menyempatkan datang ke pernikahan Ridho dan Suluh..
“De, kamu ambil makanannya sendiri aja bisa kan? Abang mau nemuin Kak Anggie dulu” Kata gw ke Ayu..
“Ga aah! Ade juga mau ketemu Kak Anggie.. Udah lama kan ade ga curhat ke dia, Bang”
“Ya elaah, pake acara curhat.. Kamu masih kecil, de.. Jangan suka curhat-curhatan aah” Ucap gw sambil mencubit pipi Ayu..
“Terserah abang mo bilang apa.. Yang penting ade mo ketemu Kak Anggie, titik!” Balas adik gw Ayu seraya berlari menuju ke arah Anggie..
Gw sempat terkejut, lalu mengejar Ayu yang sudah sedang dicium pipinya oleh Anggie.. Seketika senyuman diwajah Anggie lenyap kembali begitu melihat kedatangan gw.. Wajah masam yang sama terlihat dari Anton si amphibi.. Sementara Darren, menatap tajam ke arah gw meski isterinya mengulum senyuman getir..
“Hei.. Aku fikir kamu ga bisa datang, Yank” Kata gw yang kelepasan memanggil Anggie dengan sebutan sayank dan membuat gadis itu melirik sinis, setelah menyuruh Ayu untuk pergi menemui Ibu..
“Minggir lu, Mam.. Jangan sampe acara nikahan temen lu gw bikin berantakan” Bentak Darren sambil mendorong tubuh gw ke belakang hingga hampir terjatuh..
Lalu mengajak Anggie dan isterinya pergi meninggalkan gw.. Sementara Anton, dia cuma nyengir kuda menertawai kemudian menyusul mereka pergi.. Sejenak, gw tertegun melihat Anggie yang sempat menoleh ke arah gw.. Wajah gadis itu nampak kembali menyiratkan kepedihan luka yang telah gw buat dalam hatinya..
“Siapa yang dorong lu tadi, Mam?” Tanya Bimo yang tanpa gw sadari sudah berada di sebelah bersama kekasihnya, Binar..
“Kakak tirinya Anggie, Bim.. Dia marah karena gw udah putusin Anggie pas ngasih undangan Ridho beberapa hari lalu”
“Ya ampun.. Gw heran deh, lu sama Anggie kapan langgengnya sih.. Sekarang pacaran besok putus.. Liet donk Ridho sama Suluh, Mam.. Hari ini mereka kelihatan bahagia banget.. Jadi baper kan lihatnya” Kata Binar menimpali ucapan gw tadi sambil mengeratkan pegangan tangan dilengan Bimo..
“Masalah yang gw hadapi sekarang jauh lebih kompleks, Bin.. Gw masih sayang banget sama Anggie, tapi keadaan ga ngizinin kami terus bersama” Jawab gw dengan tatapan mengikuti sosok Anggie yang ada dipelaminan sedang memberi ucapan selamat ke Ridho dan Suluh..
Tak mau mendengar segala macam komentar dari orang lain lagi, gw pun menghindar dan memilih untuk duduk menyendiri sambil menikmati segelas minuman ringan.. Mendadak, gw melihat Anggie sedang duduk sama menyendiri seperti gw.. Tanpa pikir panjang, gw langsung berjalan menghampiri gadis itu.. Mengetahui kedatangan gw, Anggie langsung bangkit dan mencoba menghindar..
Dengan cepat gw menangkap lengan gadis itu dan membuatnya membalikkan tubuh menatap gw..
“Boleh aku ngomong sebentar?” Tanya gw dengan nada memelas..
Anggie terdiam sambil berusaha melepaskan lengannya dari pegangan gw, lalu melempar pandangan ke arah lain tak mau membalas tatapan ini..
“Apa lagi yang mau kamu omongin? Semua udah jelas.. Aku terima keputusan kamu yang lebih memilih Ibu daripada aku.. Memang itu udah jadi kewajiban kamu sebagai puteranya kan”
“Aku mau kamu maafin aku.. Aku masih sayang banget sama kamu” Ucap gw yang dibalas tatapan tajam kedua mata Anggie..
“Aku ga akan pernah maafin kamu.. Satu lagi, jangan pernah kamu bilang soal rasa sayang dan cinta ke aku.. Coz I know, all words coming out from your mouth mean nothing to me.. Semuanya aku anggap bullshit” Jawab Anggie sambil mengacungkan jari telunjuknya, kemudian pergi meninggalkan gw menuju Darren dan isterinya..
Diubah oleh juraganpengki 07-10-2023 20:37
dodolgarut134 dan 13 lainnya memberi reputasi
12