PERTEMUAN TERAKHIR
Quote:
Dua tahun telah berlalu dengan cepat. Di suatu siang yang terik dengan langit biru membentang di angkasa. Beberapa ekor burung terbang melintasi gugusan pegunungan seribu. Menukik cepat kemudian hinggap di cabang pohon jati yang menjulang tinggi. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan pekarangan pondok. Pintu kanan terbuka. Keluarlah seorang lelaki berpostur tidak terlalu tinggi, berkulit sawo matang. Rambut hitam ikal, agak acak-acakan ditiup angin. Kacamata lebar menghiasi wajah yang kokoh. Celana hitam biru tua, kemeja krem lengan panjang digulung, dua kancing sebelah atas sengaja dibuka.
Setelah menutup pintu, buru –buru lelaki itu berjalan ke arah belakang mobil. Menggunakan kunci di buka bagasi belakang. Dua bungkusan besar tersusun rapi disana. Tanpa membuang waktu lagi lelaki yang baru datang itu mengambil dua bungkusan itu. Lalu menaruhnya di tanah. Setelah menutup kembali bagasi lelaki itu berjalan ke arah serambi pondok. Ada jalan kecil menuju ke pondok itu. Di kanan kiri jalan itu terdapat berpetak – petak kebuh sayur –sayuran dan beberapa pohon jagung dan ubi kayu yang baru keluar tunasnya.
Di serambi pondok seorang lelaki tua nampak duduk terkantuk –kantuk di atas bale –bale bambu. Cangkir tanah yang berada di atas meja telah habis isinya. Hanya menyisakan endapan kopi di dasar cangkir. Suara gending jawa yang berasal dari radio dua band yang ada di samping bale –bale bambu seperti nyanyian pengantar tidur mengalun perlahan.
“ Asalamualaikum.....”
Lelaki tua itu sedikit kaget. Kedua matanya yang tadi sempat tertutup terbuka lebar.
“ Walaikum salam.....”
Lelaki yang datang segera menjabat tangan kemudian mencium punggung tangan lelaki tua yang duduk di serambi pondok di atas bale –bale bambu.
“ Apa kabar bapak? Sudah lama saya tidak menjenguk bapak “.
“ Njenengan siapa ya?”
“ Saya Tejo “.
“ Tejo...”
Lelaki tua itu mengulang nama Tejo berulang kali. Keningnya yang telah keriput tampak mengernyit. Berpikir keras mengingat –ingat. Dan akhirnya....
“ Oh iya... Njenengan suaminya Prapti dari desa Tawang. Bapak lupa, maafkan bapak. Maklum pikun sudah tua bangka begini”.
Lelaki tua yang ternyata Mangun Sarkoro tertawa terkekeh.
“ Ayo ..ayo duduk dulu Nak Tejo. Maaf disini tidak ada apa –apa. Di desa terpencil begini. Sebentar bapak buatkan minuman dulu “.
Mangun Sarkoro buru –baru masuk ke dalam pondok tanpa mampu dicegah oleh Tejo.
Tidak berapa lama kemudian lelaki tua itu telah kembali ke serambi pondok. Dua cangkir kopi mengepulkan asap dan senampan pisang rebus yang telah dingin sisa makan tadi pagi. Aroma sedap kopi menghambur kemana –mana.
“ Ayo Nak Tejo, diminum dulu. Ini ada pisang rebus hasil kebun sendiri. Tapi tidak panas. Sisa sarapan tadi pagi “.
“ Terimakasih bapak..malah jadi ribet begini “.
“ Tidak apa..”
Tejo dengan sedikit sungkan menyeruput kopi yang ada di dalam cangkirnya.
“ Bagaimana kabar Prapti di desa Tawang?”
“ Kabar Prapti baik bapak. Anak –anak juga sudah besar –besar sudah akan masuk jenjang sekolah tingkat atas “.
Tejo mengeluarkan sebungkus rokok yang telah berlubang sudutnya. Kemudian meletakkan di meja. Setelah dia mengambil sebatang kemudian menyalakan dengan korek.
“ Semua berjalan dengan cepat. Aku sudah semakin tua. Cucu –cucuku sudah besar –besar. Seperti juga anak –anak Hartono “.
Pandangan mata ,Mangun Sarkoro menerawang jauh.
“ Ada angin apa kau sampai kesini Nak Tejo?”
“ Kebetulan saya ada proyek jalan di daerah Karangmojo. Aspal jalan dan membuat jembatan di daerah itu pak. Kebetulan dekat, saya sempatkan untuk mampir kesini. Sekalian menyampaikan pesan dan titipan dari Prapti”.
Tejo meletakkan dua bungkusan besar di atas meja bambu.
“ Ini apa nak Tejo?”
“ Sedikit bingkisan ada beberapa potong kemeja dan kain sarung serta sedikit makanan. Kata Prapti bapak sangat suka ikan asin yang dikeringkan dan itu juga ada wedang uwuh. Cocok diseduh dan diminum saat dingin. Bisa untuk mengusir masuk angin”.
“ Prapti ternyata diam –diam masih mengingat makanan kesukaan ku. Padahal dulu hanya sesekali aku tengok dia semasa kecil”.
Kesedihan tiba –tiba tergurat di wajah tua Mangun Sarkoro.
Tejo yang mengetahui hal itu buru –buru mengalihkan pembicaraan
“ Sudah bapak, sekarang Prapti sudah berubah. Sudah menerima dan memaafkan segala yang telah terjadi di masa lampau. Buang kesedihan bapak, lupakan semua hal yang pernah terjadi. Sambut hal indah yang sudah di depan mata”.
Menjelang matahari tenggelam di ufuk barat Tejo berpamitan.
“ Bapak, maaf saya tidak bisa berlama –lama. Saya musti pulang ke Karangmojo. Sudah terlalu lama saya tinggalkan”.
Sambil sesekali melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu.
Mangun Sarkoro yang nampaknya akan menahan menantunya itu untuk menginap segera mengurungkan niatnya.
“ Sebenarnya, bapak ingin kamu menginap barang semalam disini. Tapi baiklah, tugas dan tanggung jawab mu di Karangmojo lebih besar. Mungkin lain kali kau bisa kesini lagi bersama Prapti dan anak –anak mu”.
Tejo tersenyum lalu menganggung. Di peluk tubuh mertuanya itu. Setelah bersalaman dan mencium punggung tangan Mangun Sarkoro.
“ Saya pamit dulu Bapak, jaga kesehatan. Lain kali saya kesini lagi bersama Prapti dan anak –anak”.
“ Asalamualaikum...”
“ Walaikum salam...”
Tejo balik badan berjalan ke arah mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan. Tidak berapa lama mobil sedan itu berjalan beberapa belas meter mobil itu menemukan bagian jalan yang lebih lapang lalu dengan hati –hati melakukan gerakan memutar untuk kembali ke arah semula. Lampu sign di atas bumper sebelah kanan beberapa saat berkedip –kedip memancarkan sinar kuning keemasan kemudian padam. Tinggal lampu belakang berwarna merah yang makin lama makin mengecil di kejauhan. Lalu menghilang setelah ditelan rerimbunan pohon dan semak belukar.