RACUN WISA IRENG
Quote:
Gunung Merapi berdiri kokoh menjulang seperti akan mencakar langit. Malam bertambah gelap dan dinginnya udara pegunungan semakin mencucuk. Di langit sebelah tenggara tampak kilat menyambar beberapa kali. Seakan mencoba menerangi jagad raya yang telah menghitam tertelan malam. Sesosok tubuh berjalan terbungkuk-bungkuk dalam ke¬gelapan. Pakaian berwarna hitam yang melekat di tubuhnya seakan menyatu dengan pekat malam. Kilat yang berkelap sesekali menerangi wajahnya. Wajah lelaki tua dengan bekas luka yang sangat besar dan tak sedap untuk dipandang. Di sebelah kiri pipi nya. Luka itu masih nampak baru dengan darah menghitam yang sudah mulai mengering.
Gerakan kedua kakinya enteng dan hampir tidak terdengar. Namun binatang - binatang melata yang ber¬telinga tajam dan ada disekitar situ masih dapat men¬dengar gerakan langkah kaki orang ini lalu cepat-cepat melarikan diri menjauh. Di samping serumpun pohon bambu orang ini hentikan langkahnya. Telinganya dipasang tajam-tajam. Kedua mata¬nya memandang tajam ke muka. Di depannya dalam kegelapan dia melihat, sebuah rumah joglo dengan pekarangan yang lumayan luas. Sejenak orang ini melihat keadaan di sekitar rumah itu. Tatkala tidak ada orang yang masih berkeliaran. Orang ini segera berlari ke samping rumah joglo itu. Langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah akar pohon yang sangat besar. Lama orang ini menatap pohon besar yang tegak menyeramkan sejarak tiga langkah dari tempatnya berdiri.
Matanya memandang ke arah batang pohon yang besarnya lebih dari tiga pelukan tangan manusia itu. Lalu dia menyeringai dan berjongkok. Di bawah temaram kilat yang sesekali menerangi terlihat papan kayu yang ditengahnya ada semacam handle pintu tertanam di tanah yang sebagian tertutup oleh tumbuhan merambat. Lelaki misterius ini kemudian memutar handle yang terpasang di papan. Pintu rahasia itu terbuka. Tampaklah lubang menganga yang berundak – undakan menuju ke bawah tanah.
Lelaki dengan bekas luka di pipi kiri ini kemudian menuruni undak – undakan ke bawah ruangan yang temaram, pengap dan dingin. Tembok menghitam tampak basah lembab dan berlumut. Sampai di ujung undak –undakan terdapat ruangan berukuran luas sekitar limabelas meter persegi dengan dua buah obor yang menempel di pojok ruangan. Lelaki ini menghentikan langkah. Di atas lembaran-lembaran permadani lusuh tampak duduk sesosok perempuan gemuk sedang bersila. Badannya yang gemuk terbungkus baju menyerupai mantel hitam. Bau dupa yang dibakar memenuhi ruangan pengap itu.
“ Den ayu Prapti..sudahi semedi mu. Buka matamu!”
Lelaki itu berbicara setengah berbisik tepat di samping perempuan gemuk itu.
Si gemuk, membuka mata secara perlahan.
“ Ki Dipo....bagaimana? Hartono dan keluarganya sudah pindah ke Wonosari demi rencana ku dapat berjalan”.
Lelaki itu yang ternyata Ki Dukun Dipo .
“ Sekarang sudah menjadi urusan ku juga. Kau lihat Den Ayu. Lihat pipi kiri ku ini. Somplak terkena santet ku sendiri. Mangun Sarkoro telah memukul mental santet yang aku kirimkan tempo hari!”
Wajah Ki Dukun Dipo Wongso kelam membesi, matanya merah berkilat –kilat. Amarah dan dendam terpancar di sana.
Prapti memandang ngeri ke arah pipi kiri dukun itu. Luka sangat besar dengan darah hitam yang sudah mulai mengering di sekitar luka itu.
“ Cara terakhir untuk menakhlukan orang itu hanya satu...Dia boleh kebal bermacam senjata dan boleh sakti mandraguna. Tapi......”
Ki Dukun Dipo Wongso menghentikan ucapannya. Tangannya merogoh sesuatu dari balik baju hitamnya. Kini di tangan kanannya ada bungkusan kain hitam sebesar ibu jari orang dewasa. Ujung dari bungkusan itu diikat dengan benang berwarna merah.
“ Apa itu Ki Dipo?”
Dipo Wongso menyeringai...
“ Ini racun wisa ireng. Berasal dari racun ular berbisa yang dulu pernah aku buru di sekitar gunung Merapi. Gajah juga akan mati dalam hitungan jari jika meminum racun ini “.
“ Hanya saja. Kau bisa mencampur racun ini di makanan atau diminuman bapak mu itu sementara tempat tinggalnya sangat jauh di Wonosari”.
“ Itu bukan soal yang sulit Ki Dipo “.
Prapti tersenyum penuh arti. Kemudian mengambil bungkusan kain hitam itu dari tangan Ki Dukun Dipo.
“ Serahkan soal ini kepadaku.......”
Prapti mendesis layaknya ular betina.
Perempuan gemuk ini berdiri tegak bertolak pinggang dan tersenyum lebar .
Ki Dukun Dipo Wongso mendekati perempuan gemuk itu.
“ Temani aku malam ini Den Ayu Prapti....”
Tatapan mata dukun itu menghujam tepat di mata Prapti. Dirasakannya ada getaran aneh disana. Serta merta setelah mendengar ucapan dukun tadi, Prapti tiba -tiba tersenyum lebar. Dia menggerakkan bahunya. Pakaian sebentuk jubah hitam yang melekat di tubuhnya jatuh ke bawah. Kini perempuan itu berdiri tanpa mengenakan sepotong pun kain pelindung. Di mata dukun Dipo Wongso, tubuh yang gemuk buntak penuh lemak itu seindah tubuh bidadari. Dia menjerit keras lalu melompat merangkul leher Prapti.