Kaskus

Story

setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Patahan Salib Bidadari
Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye

Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.

Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.

Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.

Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.


PEMBUKA CERITA

Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.

Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.

Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.

“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.

Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………


Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.

Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.

“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.

Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.


Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu


Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah

Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]

Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
calebs12Avatar border
nona212Avatar border
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.1K
608
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
setiawanariAvatar border
TS
setiawanari
#510
Titik Terang yang Terasa Gelap
Suatu sore saat cahaya mulai meredup, dua anak lelaki berusia 5 tahun sedang bermain di halaman rumah. Terjadi pembicaraan serius diantara keduanya.

" Kamu mau belajar naik sepeda gak?" Kata anak pertama.
" Enggak ah." Jawab anak kedua.
" Kenapa?"
" Takut jatuh! emang kamu udah bisa naik sepeda."
" Bisa dong lihat nih." Kata anak pertama mengambil sepeda kecil lalu menaikinya.

Bruuughhhhh.....

Suara sepeda ambruk bersama dengan anak kecil di atasnya. Sang ibu berlari keluar dan membantu anak kecil itu bangun. Luka gores di lutut membuatnya menangis sebentar lalu berhenti saat ibunya mengiming-imingi akan membelikannya es krim.

Setelah kejadian sore itu, hampir setiap hari kejadian itu terus berulang. Tidak terhitung berapa kali anak pertama terjatuh dari sepeda. Goresan-goresan bekas luka tampak di lutut dan siku tangannya.

Sebulan berlalu kini anak pertama itu tidak lagi terjatuh dari sepeda. Kini dia mulai lihai menggenjot pedal sepeda, melaju, berbelok dan sesekali berakrobat dengan kaki dinaikkan diatas rangka depan sepeda. Sementara anak kedua berlarian kesana kemari mengejar anak pertama mengendarai sepeda.

" Bruggggh"

Anak kedua terjatuh, kakinya tersandung batu saat mengejar sepeda. Dia pun menangis sekencang-kencangnya, membuat anak pertama berhenti dan menghampirinya.

" Udah jangan nangis, ini kamu naik sepeda aku ajarin." Kata anak pertama berusaha menghibur temannya yang menangis.
" Tapi aku takut jatuh."
" Jangan takut, coba dulu. Lagian kalau jatuh dari sepeda gak sakit kok. Sakitan jatuh pas lari-larian."


Akhirnya anak kedua mencoba menaiki sepeda dan setelah beberapa kali terjatuh keseimbangannya mulai terlatih. Mencoba mengalahkan rasa takut untuk memulai. Anak kedua bisa mengendarai sepeda dan menjadi candu di hari-hari berikutnya hingga dia mendapat hadiah sepeda baru dari orang tuanya.

" Jangan pernah takut untuk memulai sesuatu, jangan pernah takut kamu nanti akan terjatuh. Mulai dulu yang lain pikirkan nanti, saat kamu pertama kali jatuh kamu pasti masih bisa terbangun, jatuh kedua kali kamu akan semakin penasaran, jatuh ketiga kalinya kamu akan melupakan rasa sakit, jatuh keempat kalinya itu artinya kamu sudah berhasil dan kamu akan memahami tidak ada kesempurnaan dalam sebuah keberhasilan. Kamu akan mengerti caranya bangkit saat kamu terjatuh." Nasihat orang tua itu untuk anaknya meskipun dia mulai pusing karena sebentar lagi anaknya pasti menginginkan sepeda motor.


" Cieee yang udah diangkat jadi karyawan tetap, kayanya bakalan ada yang traktir nih. Hehehehe." Kata Laura siang ini saat kami mengadakan acara reuni bulanan. Kegiatan yang kami adakan setiap akhir bulan dan hari ini adalah acara untuk yang kedua belas.


" Baru diangkat karyawan Ra belum naik pangkat, tapi yaudah lah lapangan sama makan nanti gw yang bayar." Jawabku yang sebelumnya telah memikirkan hal ini akan terjadi.
" Asyeeeekkk....Naaah gitu dong! Kita doakan cepat naik jabatan Wan." Kata Rizki yang beberapa waktu lalu juga melakukan hal yang sama saat di terima bekerja sebagai auditor perusahaan asing.
" Amiiin!" Kataku melihat tatapan aneh Rizki ke arah Indri.

" Sandro, Lena sama Sherly kok gak dateng ya?" Kata Anissa.
" Sandro sama Lena ada acara keluarga, kalau Sherly gak tau. Bulan lalu dia juga gak dateng, lah Lo bukannya sering hubungin dia Nis?" Jawab Dewi.
" Bulan lalu katanya ada job di luar kota, tapi kemarin nomernya gak aktif pas gw telepon. Mungkin belum kelar kerjaannya." Jawab Anissa.
" Mau meried malah ilang-ilangan tuh anak, tapi mungkin juga sambil nyiapain nikahannya." Kata Laura.
" Terus Lo kapan Ra?" Tanya Fajar.
" Yeeeeee..... Belagu Lo, Mentang-mentang Lo udah ada hasilnya. Iiiihh gemes." Jawab Laura menyubit pipi bayi yang berada di gendongan Anissa. Bayi itu pun menangis, karena merasa terganggu saat sedang menikmati sebotol ASI. Semuanya pun sibuk menghampiri dan menghibur si bayi. Sementara ayahnya tetap duduk tersenyum, seperti bahagia melihat tingkah anaknya.

" Gimana rasanya jadi bapak Jar? Seneng ya?" Kataku yang duduk disamping Fajar yang berada agak menjauh dari anak-anak yang lain
" Makanya Lo cepetan biar ngrasain, tapi untung gw waktu itu dengerin saran Lo Wan. Kalau gak gw bisa nyesel seumur hidup!" Jawab Fajar.
" Aaah itu bukan karena gw lah tapi karena Tuhan masih buka hati dan pikiran Lo. Makasih ya mobilnya, ini BPKBnya Lo pegang aja, tar kalau udah lunas baru gw ambil." Kataku memberikan BPKB mobil atas namanya.
" Yaelah Lo pegang aja lah, kayak sama siapa aja."
" Bukannya begitu Jar, kan baru gw bayar separo jadi biar lebih enak ini Lo pegang dulu."
" Oke-oke! Wan, Lo harus rutin service ya sama ganti oli soalnya udah agak tua itu mobil."
" Iya, kaya Lo gak tau aja gw suka ngrawat mesin tua."

Sore tiba, kini saatnya kami harus berpisah kembali dan baru akan berkumpul kembali bulan depan.

" Wan....!" Teriak Rizki saat aku dan Indri berjalan menuju motor.
" Apaan Ki?" Kataku menghentikan langkah.
" Hmmmmm, Indri biar bareng gw aja ya? Tenang aja gw langsung anterin ke rumah." Kata Rizki membuat Indri tersenyum malu saat aku melihat ke arahnya.
" Ooooooh jadi Lo yang selama ini gangguin adik gw?"
" Hmmmm, gak gangguin kok Mas, cuma...." Jawab Indri terpotong.
" Cuma apa? Kamu tidur sampai larut malam karena chatingan sama anak itu kan?"
" Yaelah galak amat nih calon kakak ipar, hehehehe." Kata Rizki meledekku.
" Haaaa, kakak ipar? Wah ni anak bener-bener udah gila. Ayok pulang Ndri." Kataku menarik tangan Indri.
" Tapi Mas." Kata Indri.
" Gak tapi-tapi. Ayo pulang...." Kata-kataku dan langkahku terhenti saat melihat mobil melintas di jalan raya tepat di depan parkir motor.


" Eh Ki, Lo anterin Indri pulang yak, langsung pulang." Kataku menyalakan motor.
" Lha, katanya tadi gak boleh kok sekarang?." Jawab Rizki dengan muka bingung.
" Udah gw ada urusan." Kataku segera meninggalkan parkiran mengejar mobil yang melintas di depanku.

Semaksimal mungkin aku menarik gas mengejar mobil sedan yang aku tau siapa pemiliknya. Jalan raya cukup lengang sehingga mobil yang ku kejar semakin jauh meninggalkanku. Pengejaran ku berakhir dikala mobil memasuki gerbang tol, aku memilih untuk mundur berputar arah.

" Apa mungkin dia udah kembali? Tapi kenapa dia tidak berusaha menemuiku?" Batinku menyusuri jalan raya menuju kota Bekasi.

Hanya butuh satu jam perjalanan hingga akhirnya aku bisa menyentuh pagar rumah berwarna hitam. Enam puluh menit yang terasa seperti lebih dari itu.

" Assalamualaikum." Sapaku dari luar gerbang namun tidak ada jawaban.
" Permisi, Bu Parsi! Saya Awan Bu." Teriakku berharap ada orang di dalam rumah.


" Walaikumsallam, oooh Nak Awan, maaf nak agak lama tadi ibu lagi nyuci di belakang, ayo silahkan masuk." Jawab Bu Parsi membukakan gerbang rumah.

" Iya gak apa-apa Bu." Kataku mengikuti Bu Parsi berjalan ke dalam rumah.

" Mau minum apa Nak?"
" Wah jadi ngrepotin, air putih aja Bu."
" Alaah wong cuma minum kok ngrepotin, yaudah tunggu sebentar Ibu ambilkan dulu." Kata Bu Parsi berjalan ke dapur.

Aku duduk di sofa memperhatikan sekeliling ruang tamu yang tidak berubah sama sekali, sama seperti saat pertama dan terakhir kali aku menginjakkan kaki disini.

" Ini nak minumnya, ayo di minum biar hausnya ilang." Kata Bu Parsi meletakkan segelas air dingin di depanku.
" Iya makasih Bu, oh iya gimana kabarnya Bu?" Kataku.
" Baik nak, sangat baik, kamu sendiri tentunya dalam keadaan yang sama to?"
" Alhamdulillah baik juga Bu."
" Nak Awan udah ada 4 bulan gak kesini biasanya sebulan sekali. Sibuk to mas?"
" Ya begitulah Bu, kerjaan makin banyak, lagipula setiap kesini yang ingin saya temui juga gak pernah ada Bu." Kataku mengambil gelas dan menyiram tenggerokan yang mulai mengiring.

" Oooh kamu nunggu Nak Ninda pulang? Lah ibu jadi bingung?"
" Bingung? Bingung kenapa Bu?"
" Hmmm, emang Nak Awan belum ditelepon sama nak Ninda?"
" Telepon? Belum ada sama sekali kabar dari dia Bu? Apa Bu Parsi sudah ada kabar dari Ninda?"
" Ya Allah, kok jadi begini ya? Jadi nak Awan belum tau kalau Nak Ninda pulang seminggu yang lalu?" Kata Bu Parsi membuatku senang karena Ninda dalam keadaan yang baik namun kecewa dengan kenyataan seperti ini.

" Oooh jadi Ninda udah pulang Bu? Terus kenapa ibu gak ngabari saya? Padahal waktu itu ibu udah janji akan telepon saya kalau sudah ada kabar dari Ninda?"
" Iya Nak, seminggu yang lalu Nak Ninda pulang dari Singapura. Dan ibu minta maaf kalau gak ngabarin kamu, soalnya kata Nak Ninda dia sendiri yang akan ngabarin kamu. Jadi ibu pikir kalian sudah bertemu. Kalau ibu tau seperti ini pasti ibu sudah kabari kamu nak."
" Oh yasudah gak apa-apa Bu, mungkin Ninda belum ada waktu untuk bertemu. Oh iya bisa minta tolong untuk telepon Ninda Bu?"
" Bisa-bisa nak sebentar tak ambil hp dulu." Jawab Bu Parsi beranjak dari tempat duduknya mengambil hp di dalam kamar. Lalu dia kembali duduk dan berusaha menghubungi Ninda, namun beberapa kali mencoba tidak ada jawaban.

" Wah gak diangkat nak? Apa mungkin lagi nyetir ya?" Kata Bu Parsi mengakhiri aktifitasnya.
" Mungkin begitu Bu! Soalnya tadi saya melihat mobilnya di Jakarta makanya saya kemari."
" Oooh, terus gimana nak? Mau menunggu sampai Nak Ninda pulang? Tapi....!"
" Tapi kenapa Bu?"
" Ibu gak tau dia pulangnya kapan, soalnya sejak dia pulang hanya semalam dia tidur disini."
" Ooh gak usah Bu, saya minta kontaknya aja nanti saya sendiri yang akan hubungi Ninda."
" Baik nak, sekali lagi ibu minta maaf karena gak ngabarin kamu tentang hal ini." Kata Bu Parsi memberikan kontak Ninda.

" Iya Bu, gak apa-apa ibu gak salah, hari ini saya cukup senang mendengar kabar Ninda dalam keadaan yang baik. Oh iya udah sore Bu, saya mohon pamit, terimakasih atas waktunya ya Bu!"
" Oooh iya nak, hati-hati di jalan, semoga cepat bisa bertemu nak Ninda."
"Amin, makasih Bu." Jawabku beranjak dari sofa dengan dada yang semakin sesak karena tatapan gadis berliontin salib yang terkurung dalam bingkai menempel di dinding ruang tamu tidak berkedip menatapku.

" Aku masih menunggumu Nin, meski kenyataan yang terjadi saat ini mungkin kamu sudah melupakanku." Batinku menikmati teduhnya senja menyusuri jalan raya menuju tempat kos.

Magrib terlewat seperempat jam aku tiba di tempat kos.

" Assalamualaikum." Kataku tiba di tempat kos di sambut dua makhluk berbeda jenis kelamin sedang berbincang di teras tempat kos.
" Walaikumsallam." Jawab mereka bersamaan.
" Wah Lo belum pulang juga Ki? Bener-bener nih anak." Kataku kesal karena Riski masih berada di tempat kos.
" Sorry Wan, tadinya mau langsung pulang cuma gw gak enak ninggalin Indri sendirian."
" Aaah Lo bukan gak enak tapi keenakan, Ndri ayo masuk." Kataku menarik tangan Indri.
" Tapi Mas, Mas Riski gimana?" Jawab Indri beranjak dari tempat duduknya.
" Udah biarin aja dia tau jalan pulang."
" Udah gak apa-apa Ndri, yaudah aku pulang dulu ya!" Kata Riski.
" Iya Mas hati-hati, makasih." Jawab Indri.
" Wan gw pulang dulu ya, sebenernya ada yang mau gw omongin."
" Udah-udah lain waktu aja gw lagi gak mood, yaudah sana pulang." Kataku masuk ke kamar kos bersama Indri.
" Oke-oke." Jawab Riski berjalan ke mobilnya lalu menghilang bersama suara mobil yang semakin pelan terdengar.


Selesai sembahyang magrib aku merebahkan diri mencoba menelpon nomor Ninda.

" Tuuuutttt, tuuuutttt........"

" Halo." Suara lembut wanita dalam telepon membuat jantungku terdiam sejenak dengan rasa gemetar di sekujur tubuhku. Suara yang hampir setahun tidak lagi ku dengar dan hari ini kembali menggelitik gendang telingaku.
" Haloooo, siapa ya?"
" Iya, halo malem Ninda." Kataku terbata-bata.
" Iya, ini siapa?"
" Senang mendengar kembali suaramu, ini aku teman lamamu dari sofa lusuh di pojok teras tempat kos. Awan."

Tuttttttttt.....

Telepon terputus.

" Kok mati? Ah mungkin sinyalnya lemah." batinku kembali menelpon Ninda.

Beberapa kali aku mencoba namun operator provider yang menjawab, bukan si pemilik nomor.

Aku berusaha berfikir positif mungkin karena sinyal lemah atau baterai hp Ninda yang habis. Namun rasanya tidak tepat waktunya jika kondisi itu harus terjadi saat ini. Telepon terputus saat kata Awan terucap. Entah kebetulan atau memang sebuah kesengajaan. Kini aku terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiranku.

" Hey, kok nglamun kamu mas? Nggak laper?" Kata Indri muncul dari kamar atas.
" Yeey siapa yang nglamun orang nungguin kamu nyari makan." Jawabku menyembunyikan gejolak pikiranku.
" Yaudah ayo, mau makan apa malam ini?"
" Hmmmmm, pecel lele aja ya!"
" Boleh, ayo Mas udah laper banget nich!" Kata Indri menarik tanganku keluar kamar.


Pukul 11 malam, tiba saatnya aku mengistirahatkan raga. Tergeletak diatas empuknya busa berharap segera memejamkan mata. Malam ini seolah rasa kantuk berganti dengan pikiran berkecamuk. Tanganku kembali meraih telepon seluler mencoba beberapa kali menghubungi nomer Ninda. Tapi puluhan kali aku mencoba hasilnya tetap sama, nomor tidak aktif.

" Hai apa kabar? Semoga kamu tidak melupakan teman lamamu. Besar asaku untuk bisa menemuimu meski hanya waktu yang sebentar, sesingkat menghabiskan segelas kopi."
Bunyi sms yang kukirimkan untuknya.

Kumiringkan badanku memeluk guling yang terasa dingin. Menahan sesaknya dada meski tidak ada beban yang menindihku. Ingin rasanya berteriak, berlari hingga peluh ini becucuran dan bersama keluarnya peluh bayang wajahnya akan pudar. Masa lalu menenggelamkanku, senyumnya, tangisnya, candanya terus mencengkeram erat pikiranku.

Teng....teng....teng..

Suara tiang listrik di jalan komplek di pukul dengan batu sebanyak tiga kali. Pertanda waktu tiba pukul 3 dini hari. Suara televisi terdengar semakin pelan dan aku tertidur dengan dia yang mengikutiku hingga ke alam mimpi.
g.gowang
g.gowang memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.