- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#3949
Empat Bayangan Hitam..
Sesampainya dirumah, Ridho langsung kembali setelah meminta izin untuk mengajak gw untuk mengantarkan undangan ke beberapa orang teman kami esok hari.. Gw hampir lupa, waktu bersejarah bagi saudara gw itu hanya tinggal menghitung hari saja..
Tak berapa lama kemudian, adik gw Ayu juga tiba dirumah dengan diantarkan Tante Septi.. Melihat gw yang sedang duduk di teras bersama Ibu, Ayu langsung berlari dan memeluk gw dengan sangat erat sambil menangis..
“Abang bohong.. Abang bilang kalo ade kangen disuruh masuk aja ke dalem kamar.. Ade masuk terus manggil-manggil nama Abang.. Tapi abangnya ga dateng-dateng” Kata Ayu dalam tangisannya..
Gw tersenyum menatap gadis kecil yang beranjak remaja itu sambil membelai rambutnya panjang sebahu..
“Maafin abang udah bohongin kamu yah, De.. Yang penting sekarang kan abang udah pulang.. Ibu udah ga marah lagi koq sama abang ya kan, Bu?” Tanya gw seraya menoleh ke arah Ibu yang menyunggingkan senyuman..
Wanita yang sangat gw cintai itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kami berdua.. Perlahan, beliau berlutut disamping gw dan membelai wajah Ayu..
“Iya, sayang.. Ibu udah ga marah lagi sama abang.. Kemarin Ibu yang salah.. Ibu juga udah minta maaf ke abang kamu.. Mulai sekarang Ibu janji ga akan misahin kalian berdua” Ucap Ibu sambil menatap wajah gw dengan kedua mata mulai berkaca-kaca lagi, lalu memeluk gw dan Ayu dengan sangat erat..
“Alhamdulillah Yaa Allah.. Engkau telah mengembalikan Ibu kami seperti sedia kala.. Sungguh, Engkau lah Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati manusia” Ucap gw dalam hati..
Setelah saling melepas kerinduan, Ibu mengajak kami semua ke dalam.. Gw yang berada dibelakang bersama Tante Septi, dibuat terkejut saat beliau menarik tangan dan memberi pelukan hangat atas kembalinya gw ke rumah.. Tante Septi juga mengaku bahwa dirinya bersama Om Hendra sempat menggunakan jasa orang pintar untuk mencari keberadaan gw selama tiga hari yang lalu..
Kata paranormal yang di datangi mereka, gw masih berada di wilayah Depok.. Tapi dia tidak bisa melihat persisnya letak gw dimana, karena menurutnya ada suatu kekuatan besar yang menutupi diri gw secara gaib..
Gw sendiri malah menjawab ucapan Tante Septi dengan sindiran karena masih percaya akan hal-hal mistis dijaman digital seperti sekarang.. Padahal dalam hati, gw membenarkan pernyataan paranormal yang disewa Tante dan Om gw itu.. Kekuatan besar yang menutupi aura gw memang berasal dari sosok gaib bernama Nyi Mas Galuh Pandita..
Karena kondisi Ibu yang masih sedikit lemah, Tante Septi meminta beliau untuk beristirahat di dalam kamar.. Tapi, bukan Ibu namanya kalo mau menuruti permintaan Tante Septi dengan mudah.. Malah, Ibu bersikeras ingin memasak makanan kesukaan gw sebagai bentuk penyambutan istimewa dari nya..
Akhrinya, didalam dapur.. Dua wanita kakak beradik itu mengambil kesepakatan.. Tante Septi yang memasak, sementara Ibu yang mengarahkan beliau sambil duduk di bangku makan.. Oh iya, selepas Tante Septi memeluk gw tadi.. Ayu terus saja memegangi lengan gw kemana pun gw pergi.. Seolah-olah, gadis kecil itu seperti tak mau kehilangan gw lagi..
“Dek, abang mau ke depan.. Lepasin tangan abang dulu yah ”
“Ga mau, ade ikut kemana abang pergi” Bantah Ayu sambil memasang muka masam..
Gw menggaruk kepala karena bingung mau mencari alasan apalagi.. Sebenarnya, gw hendak pergi keteras cuma ingin mengasapi paru-paru.. Tapi, Ayu suka bawel kalo melihat gw sedang merokok.. Ujung-ujungnya, gadis kecil yang sekarang sudah duduk di bangku SMP kelas 1 itu akan mengadu ke Ibu..
Pandangan gw melirik ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.. Mendadak, ingatan gw langsung tertuju ke jadwal Les Matematika nya Ayu.. Nah, dari situ timbul ide agar gw bisa terlepas sesaat dari gadis kecil itu..
“Bu, Ayu ga disuruh mandi? Habis Zuhur kan dia ada les?” Kata gw setengah berteriak ke arah dapur..
Tak perlu waktu lama, terdengar teriakan balasan dari Ibu yang menyuruh Ayu segera mandi.. Gw tertawa melihat wajah adik perempuan gw satu-satunya itu, yang nampak semakin masam.. Sambil bersungut-sungut dan sempat mencubit lengan gw, Ayu pergi meninggalkan gw menuju ke kamarnya..
Tak mau menyiakan ksempatan dimana Ibu saat ini sedang berada di dapur bersama Tante Septi dan Ayu juga sedang bersiap untuk mandi, gw segera melangkah cepat ke teras.. Sebungkus rokok yang sempat gw beli dijalan dengan menggunakan uang Ridho, gw keluarkan dari saku celana.. Sebatang rokok putih dan korek gas yang sudah menyala mulai membakar ujung rokok..
Wajah gw yang selalu dihiasi senyuman, menandakan rasa suka cita akan jernihnya semua masalah antara gw dan Ibu.. Pandangan gw menatap ke arah pekarangan rumah, tempat dimana Ayu menangis tersedu-sedu saat mencoba menghalangi kepergian gw..
Kepulan asap dari mulut gw mulai membumbung tinggi dan hilang bercampur dengan udara.. Gw benar-benar menikmati dan mensyukuri akan bisa kembalinya gw ke rumah tempat gw tumbuh besar.. Hingga tanpa disadari, telinga gw menangkap suara deheman seseorang dari samping..
Gw cukup terkejut melihat Ibu sudah berdiri disebelah.. Dengan cepat, gw lemparkan rokok di selipan dua ujung jari meski sudah tertangkap basah oleh beliau..
“Ibu..” Ucap gw dengan wajah sedikit tegang..
Ibu membalas dengan senyuman kecil, lalu duduk diatas bangku yang ada disebelah kanan.. Pandangan mata Ibu menatap ke puntung rokok yang masih mengeluarkan asap.. Gw hanya bisa terdiam mempersiapkan diri untuk mendengarkan omelannya..
“Kenapa kamu buang rokoknya, Bang.. Ibu ga marah koq” Kata Ibu yang membuat kedua mata gw membesar karena terkejut..
“Di dapur tadi, Tante kamu ngajak Ibu ngobrol panjang lebar sambil masak.. Dari obrolan itu, Ibu sudah ambil keputusan, bang.. Ibu akan membebaskan kamu untuk berbuat apapun selama kamu anggap benar.. Tentang perjodohan kamu dengan Ayu, Ibu sudah mengirimkan sms ke Umi Aisyah untuk membatalkan semua nya”
Lagi-lagi, gw terkejut mendengar penuturan Ibu.. Terutama tentang keputusannya untuk membatalkan rencana perjodohan gw dengan Ayu..
“Ibu sadar, Bang.. Segala sesuatu yang dipaksakan ujungnya ga akan berakhir baik.. Soal CPNS kamu, Ibu serahkan segala nya ke kamu.. Terserah kamu mau teruskan atau tidak.. Oh iya, Ibu juga ga akan menghalangi keputusan kamu jika ingin melanjutkan hubungan dengan Anggie.. Meski sebenarnya Ibu lebih sreg ke Ayu.. Tapi, sekali lagi.. Ibu ga akan memaksakan apapun ke kamu.. Siapa pun jodoh kamu kelak, Ibu yakin dia yang terbaik” Ucap Ibu sambil menggenggam jari tangan kanan gw..
Gw sendiri terdiam meresapi tiap kalimat yang dilisankan Ibu.. Dari kedua mata beningnya terlihat pancaran kejujuran hati.. Dalam hati, gw mensyukuri kembali keputusan Ibu terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan gw.. Tentang pekerjaan dan jodoh.. Terutama soal hubungan gw dan Anggie..
Namun, rasa lega gw terusik saat teringat akan ucapan Raja Jin tentang gw yang harus menjaga perasaan Ibu.. Karena Beliau hanya membantu melepaskan Ibu dari jeratan Santet Braja Krama, bukan menyembuhkan penyakit jantung yang Ibu derita..
Meski Ibu berkata bahwa Beliau tidak akan melarang gw untuk melanjutkan hubungan dengan Anggie, namun dari ucapannya tadi tentang Ayu, membuat gw berfikir keras..Sepertinya, gw memang harus merelakan hati untuk melepas Anggie.. Semua akan gw lakukan buat Ibu..
“Makasih Ibu udah ngertiin Abang.. Tapi, abang mau Ibu tetap ngelarang Abang ngerokok dirumah.. Jangan biarin abang bebas tanpa larangan Ibu sama sekali” Ucap gw sambil mencium punggung tangan Ibu yang menggenggam jari tangan gw..
Ibu menganggukkan kepala dan balas mencium kening gw dengan lembut.. Lalu kembali bangkit dan melangkah menuju kedalam rumah meninggalkan gw seorang diri diluar.. Benak yang melayang membayangkan wajah Anggie, membuat gw menahan getirnya hati..
“Besok, gw bakal nemuin Anggie dan jelasin semua ke dia.. Gw harap Anggie mengerti keputusan yang gw ambil adalah demi Ibu” Ucap gw lirih dalam hati..
Sepulangnya Tante Septi ba’da Isya, gw dan Ayu diajak berkumpul bersama Ibu diruangan tengah meskipun hawa dalam rumah terasa panas.. Ibu menanyakan apa saja yang sudah terjadi selama kepergian gw dari rumah.. Kemana gw pergi? Dimana gw tinggal dan apa saja yang gw lakukan untuk bertahan hidup dengan bermodalkan uang dua puluh ribu perak?
Gw menceritakan semua ke mereka berdua tentang Babeh Misar.. Sosok Kakek Tua baik hati yang bersedia memberikan gw tempat berteduh.. Gw juga menuturkan bagaimana gw sempat merasakan jualan buah khas kampung hasil kebun Babeh Misar sendiri di pasar Parung..
Berkali-kali, Ibu sempat terbelalak mendengar pengakuan gw.. Hingga ujung-ujungnya, beliau menitikkan airmata kembali.. Karena menganggap tindakan nya sangat diluar batas dan membuat gw harus merasakan pahitnya hidup sebatang kara.. Ibu yang sudah kembali tenang, meminta gw untuk berjanji mengajak Babeh Misar ke rumah untuk mengucapkan rasa terima kasihnya..
Bahkan, Ibu juga memberi usul ke gw agar Babeh Misar diajak tinggal bersama kami saja.. Sudah tentu gw sangat senang sekali mendengar saran Ibu, dan berjanji akan membawa Babeh Misar suatu saat ke rumah ini.. Mudah-mudahan si Bajing Item mau menerima ajakan gw sekaligus tawaran Ibu..
Saat menyangka adik gw Ayu, sudah terlelap dipangkuannya, Ibu menyuruh gw untuk menggendong Ayu.. Gw sempat menolak karena tahu, gadis kecil itu hanya pura-pura sudah tertidur pulas.. Padahal gw melihat, kedua mata Ayu terbuka sedikit begitu mendengar omelan Ibu yang memaksa gw harus tetap menggendongnya..
Setelah sempat mencubit pipi Ayu, gw menggendong anak gadis itu dan memindahkannya dari sofa ke kamar tidur.. Ibu yang masih ada dibelakang, terdengar sedang mengunci pintu rumah.. Lalu menyusul gw ke kamar Ayu..
“Kamu kalo mau ngerokok diluar, jangan lupa pintunya dikunci lagi nanti ya, Bang” Kata Ibu yang gw balas dengan anggukkan kepala, meski masih sedikit sungkan mendengar kalimat beliau barusan..
Gw yang hendak menutup pintu kamar Ayu dari luar, sempat melihat Ibu menyalakan AC di suhu 20° Celcius.. Kening gw sempat berkerut melihat Ibu yang biasanya tidak tahan dingin, menurunkan kadar sejuk AC di kamar Ayu, ke suhu cukup rendah.. Tak mau menanyakan sebabnya, gw langsung menutup pintu kamar Ayu dan mulai berjalan menuju pintu depan yang sudah dikunci Ibu..
Udara di dalam rumah gw memang terasa panas sejak Adzan Isya selesai dikumandangkan.. Bahkan kaus oblong putih yang gw kenakan pun sudah terjejaki keringat dibagian punggung dan ketiak.. Keputusan untuk merokok sebentar diluar memang akan sangat tepat.. Secara, hembusan angin malam nan dingin di luar pasti akan meredakan hawa panas ini..
Dengan cepat, gw membuka kunci pintu dan membukanya.. Lalu duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok.. Gw sempat menekuk dua alis, begitu merasakan hawa panas tidak jua mau hilang meski sudah berada diluar.. Angin malam yang dingin seakan tidak mau berhembus menerpa tubuh gw yang masih dibasahi keringat..
Gw melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.. Suasana depan rumah gw pun nampak sepi.. Tanpa ada suara-suara khas hewan yang selalu bernyanyi dimalam hari untuk menyemarakkan gelapnya dunia.. Entah mengapa hal ini terasa ganjil dalam benak gw.. Suasana yang tenang ini membawa kegelisahan tersendiri bagi gw.. Seakan-akan, dibalik tenang dan gelapnya malam tersembunyi sesuatu yang tidak baik..
Sambil terus menikmati tiap hisapan rokok, gw mengipaskan tangan ke arah wajah dengan dahi sudah berkeringat.. Mendadak, pandangan mata gw menangkap sesosok bayangan hitam besar seperti melompat ke dalam pagar rumah.. Lalu, terdengar suara ledakan kecil yang membuat bayangan hitam itu terpental dan melesat menghilang kembali..
Sontak gw langsung berdiri dan membuang rokok.. Pandangan gw mulai nanar menyisir tiap penjuru dengan kedua tangan sudah terkepal.. Baru saja gw ingin memanggil Sekar, tiba-tiba jin Penjaga gw itu muncul bersama Bayu Barata di sebelah kiri dan kanan gw..
“Ikut kami ke atas atap rumahmu, Raden” Pinta Bayu Barata sebelum melesat ke atas rumah bersama Sekar..
Gw mengangguk, lalu berlari ke halaman dan menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh untuk mengikuti mereka melompat ke atap rumah..
Kedua pasang mata Bayu Barata dan Sekar nampak sama menatap tajam ke arah segala penjuru, seperti sedang mencari sesuatu keberadaan sesuatu atau seseorang.. Gw yang sudah berada diatas atap bersama mereka, mencoba menggunakan Ajian Tembus Pandang dan ikut mengedarkan pandangan ke semua tempat..
“Ada yang mencoba menembus Pagar Gaib milikku, Kang Mas.. Dan sudah jelas, dari cara pengecut yang mereka gunakan, sama sekali tidak terkandung niat baik” Ucap Sekar hampir bersamaan dengan tertangkapnya bau rambut terbakar di indera penciuman gw..
“Hawa panas yang terasa, sudah menjadi pertandanya, Raden.. Kita harus meningkatkan kewaspadaan.. Dari atas atap, kita bisa lebih leluasa untuk mencari tahu siapa gerangan yang mencoba masuk ke wilayah ini” Timpal Bayu Barata..
Kedua gigi gw bergemeratak mendengar ucapan kedua Jin Penjaga.. Baru saja Ibu terlepas dari jeratan santet yang dikirimkan Braja Krama.. Datang lagi ancaman lain yang mencoba mengusik ketenangan kami..
Belum sedetik gw menggerutu dalam hati, tiba-tiba dari empat arah mata angin muncul empat bola api yang melesat menuju rumah gw.. Baik gw serta Bayu Barata yang melihat datangnya keempat bola api berwarna kuning terang itu, sempat terkejut dan bersiap dengan memasang kuda-kuda.. Namun, berbeda dengan Sekar.. Jin perempuan Penjaga gw tersebut malah terlihat masih tenang sambil menyunggingkan senyuman dingin..
“Tidak ada yang akan bisa menembus Pagar Gaib milikku kecuali Braja Krama dan junjungan ku sendiri, yakni Penguasa Gaib Tanah Pasundan” Ucapnya lirih dengan penuh keyakinan..
Pandangan mata gw menatap tajam ke arah empat bola api kuning yang nampak berhenti melesat dan kini hanya melayang-layang mengepung rumah gw dari empat penjuru.. Sepertinya, keempat benda itu sengaja melayang menunggu komando atau perintah dari seseorang..
Mendadak, entah darimana datangnya, terdengar suara siulan nyaring yang disusul melesatnya kembali keempat bola api secara bersamaan.. Gw sempat melirik ke arah Sekar yang nampak tercekat.. Lalu, Jin Penjaga gw itu melompat turun secepat kilat kebawah dan langsung menghujamkan telapak tangan kanannya ke atas tanah, sesaat sebelum empat bola api mengantam Pagar Gaib dari empat penjuru mata angin..
DEMMM... DUARRR...
Suara berdentum sempat terdengar.. Disusul empat suara ledakan cukup besar disertai pijaran bunga api terjadi, saat empat bola api dari arah Barat, Timur, Utara dan Selatan menghantam Pagar Gaib buatan Sekar..
Pandangan.gw sempat menangkap keempat bola api tadi, seketika menjelma menjadi empat bayangan hitam yang terpental jauh saat menghantam Pagar Gaib.. Sementara, Bayu Barata langsung melesat turun ke bawah untuk menahan tubuh Sekar yang sempat terseret mundur ke belakang..
Gw yang tak mau hal buruk terjadi ke Sekar, ikut melompat turun dan mendarat persis di sebelah Bayu Barata.. Kedua mata gw membesar, begitu melihat wajah Sekar membias pucat dengan dua bibir bergetar.. Dengan cepat, Sekar berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bayu Barata dan hendak melompat..
“Tunggu, Sekar Kencana! Hendak kemana kah dirimu?” Tanya Bayu Barata sambil menangkap pergelangan tengan Sekar..
Jin wanita penjaga gw itu langsung menampik pegangan tangan Bayu Barata dan melemparkan pandangan tajam ke arah empat mata angin..
“Aku ingin menangkap Jin yang sudah berani menantang, dengan mencoba menghancurkan Pagar Gaib buatan ku dari empat penjuru mata angin” Jawab Sekar penuh amarah..
“Tapi, keadaan mu sedang terluka, Sekar.. Tunggulah sampai kau pulih kembali.. Biarkan aku yang menangkap mereka”
“Jangan remehkan kekuatan ku, Bayu.. Luka seujung kuku ini sama sekali tidak menyurutkan niat ku untuk melenyapkan mereka” Bantah Sekar sambil menatap nanar Bayu Barata..
Bayu Barata terdiam dan melirik ke arah gw, seakan memberi tanda agar gw ikut mencegah niat Sekar.. Gw mengerti arti lirikan mata Bayu Barata dan memegang bahu Sekar..
“Sekar, aku minta kau tetaplah disini untuk melindungi Ibu dan adikku.. Biarkan aku dan Bayu Barata yang mengejar empat bayangan hitam tadi”
“Tapi, Kang Mas...”
“Sudahlah.. Untuk kesekian kalinya aku meminta mu guna kembali menuruti kemauanku” Kata gw yang sengaja memotong kalimat isterinya Jagat Tirta itu..
Sekar nampak melempar pandangan sinis ke arah Bayu Barata.. Lalu menghela nafas panjang dan melesat kembali ke atas atap rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke gw dan Bayu Barata..
“Kaga Jin kaga manusia, selama jenis kelamin mereka sama-sama cewe pasti ngambeknya sama juga.. Diem terus langsung pergi” Ucap gw dalam hati melihat Sekar yang sudah duduk bersila diatas atap rumah dengan wajah masam..
Saat gw menoleh ke arah Bayu Barata, jantung gw terasa hampir copot begitu melihat seekor macan kumbang berwarna hitam legam seukuran gajah dewasa sudah berdiri disamping.. Hewan buas dengan dua mata mengeluarkan sinar berwarna kuning kemerahan itu, menatap tajam tak berkedip ke arah gw..
“Lekaslah naik ke punggung ku, Raden.. Kita akan mengejar empat bayangan hitam tadi satu persatu” Ucap Macan Kumbang dengan suara terdengar seperti Bayu Barata..
Sesampainya dirumah, Ridho langsung kembali setelah meminta izin untuk mengajak gw untuk mengantarkan undangan ke beberapa orang teman kami esok hari.. Gw hampir lupa, waktu bersejarah bagi saudara gw itu hanya tinggal menghitung hari saja..
Tak berapa lama kemudian, adik gw Ayu juga tiba dirumah dengan diantarkan Tante Septi.. Melihat gw yang sedang duduk di teras bersama Ibu, Ayu langsung berlari dan memeluk gw dengan sangat erat sambil menangis..
“Abang bohong.. Abang bilang kalo ade kangen disuruh masuk aja ke dalem kamar.. Ade masuk terus manggil-manggil nama Abang.. Tapi abangnya ga dateng-dateng” Kata Ayu dalam tangisannya..
Gw tersenyum menatap gadis kecil yang beranjak remaja itu sambil membelai rambutnya panjang sebahu..
“Maafin abang udah bohongin kamu yah, De.. Yang penting sekarang kan abang udah pulang.. Ibu udah ga marah lagi koq sama abang ya kan, Bu?” Tanya gw seraya menoleh ke arah Ibu yang menyunggingkan senyuman..
Wanita yang sangat gw cintai itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kami berdua.. Perlahan, beliau berlutut disamping gw dan membelai wajah Ayu..
“Iya, sayang.. Ibu udah ga marah lagi sama abang.. Kemarin Ibu yang salah.. Ibu juga udah minta maaf ke abang kamu.. Mulai sekarang Ibu janji ga akan misahin kalian berdua” Ucap Ibu sambil menatap wajah gw dengan kedua mata mulai berkaca-kaca lagi, lalu memeluk gw dan Ayu dengan sangat erat..
“Alhamdulillah Yaa Allah.. Engkau telah mengembalikan Ibu kami seperti sedia kala.. Sungguh, Engkau lah Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati manusia” Ucap gw dalam hati..
Setelah saling melepas kerinduan, Ibu mengajak kami semua ke dalam.. Gw yang berada dibelakang bersama Tante Septi, dibuat terkejut saat beliau menarik tangan dan memberi pelukan hangat atas kembalinya gw ke rumah.. Tante Septi juga mengaku bahwa dirinya bersama Om Hendra sempat menggunakan jasa orang pintar untuk mencari keberadaan gw selama tiga hari yang lalu..
Kata paranormal yang di datangi mereka, gw masih berada di wilayah Depok.. Tapi dia tidak bisa melihat persisnya letak gw dimana, karena menurutnya ada suatu kekuatan besar yang menutupi diri gw secara gaib..
Gw sendiri malah menjawab ucapan Tante Septi dengan sindiran karena masih percaya akan hal-hal mistis dijaman digital seperti sekarang.. Padahal dalam hati, gw membenarkan pernyataan paranormal yang disewa Tante dan Om gw itu.. Kekuatan besar yang menutupi aura gw memang berasal dari sosok gaib bernama Nyi Mas Galuh Pandita..
Karena kondisi Ibu yang masih sedikit lemah, Tante Septi meminta beliau untuk beristirahat di dalam kamar.. Tapi, bukan Ibu namanya kalo mau menuruti permintaan Tante Septi dengan mudah.. Malah, Ibu bersikeras ingin memasak makanan kesukaan gw sebagai bentuk penyambutan istimewa dari nya..
Akhrinya, didalam dapur.. Dua wanita kakak beradik itu mengambil kesepakatan.. Tante Septi yang memasak, sementara Ibu yang mengarahkan beliau sambil duduk di bangku makan.. Oh iya, selepas Tante Septi memeluk gw tadi.. Ayu terus saja memegangi lengan gw kemana pun gw pergi.. Seolah-olah, gadis kecil itu seperti tak mau kehilangan gw lagi..
“Dek, abang mau ke depan.. Lepasin tangan abang dulu yah ”
“Ga mau, ade ikut kemana abang pergi” Bantah Ayu sambil memasang muka masam..
Gw menggaruk kepala karena bingung mau mencari alasan apalagi.. Sebenarnya, gw hendak pergi keteras cuma ingin mengasapi paru-paru.. Tapi, Ayu suka bawel kalo melihat gw sedang merokok.. Ujung-ujungnya, gadis kecil yang sekarang sudah duduk di bangku SMP kelas 1 itu akan mengadu ke Ibu..
Pandangan gw melirik ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat.. Mendadak, ingatan gw langsung tertuju ke jadwal Les Matematika nya Ayu.. Nah, dari situ timbul ide agar gw bisa terlepas sesaat dari gadis kecil itu..
“Bu, Ayu ga disuruh mandi? Habis Zuhur kan dia ada les?” Kata gw setengah berteriak ke arah dapur..
Tak perlu waktu lama, terdengar teriakan balasan dari Ibu yang menyuruh Ayu segera mandi.. Gw tertawa melihat wajah adik perempuan gw satu-satunya itu, yang nampak semakin masam.. Sambil bersungut-sungut dan sempat mencubit lengan gw, Ayu pergi meninggalkan gw menuju ke kamarnya..
Tak mau menyiakan ksempatan dimana Ibu saat ini sedang berada di dapur bersama Tante Septi dan Ayu juga sedang bersiap untuk mandi, gw segera melangkah cepat ke teras.. Sebungkus rokok yang sempat gw beli dijalan dengan menggunakan uang Ridho, gw keluarkan dari saku celana.. Sebatang rokok putih dan korek gas yang sudah menyala mulai membakar ujung rokok..
Wajah gw yang selalu dihiasi senyuman, menandakan rasa suka cita akan jernihnya semua masalah antara gw dan Ibu.. Pandangan gw menatap ke arah pekarangan rumah, tempat dimana Ayu menangis tersedu-sedu saat mencoba menghalangi kepergian gw..
Kepulan asap dari mulut gw mulai membumbung tinggi dan hilang bercampur dengan udara.. Gw benar-benar menikmati dan mensyukuri akan bisa kembalinya gw ke rumah tempat gw tumbuh besar.. Hingga tanpa disadari, telinga gw menangkap suara deheman seseorang dari samping..
Gw cukup terkejut melihat Ibu sudah berdiri disebelah.. Dengan cepat, gw lemparkan rokok di selipan dua ujung jari meski sudah tertangkap basah oleh beliau..
“Ibu..” Ucap gw dengan wajah sedikit tegang..
Ibu membalas dengan senyuman kecil, lalu duduk diatas bangku yang ada disebelah kanan.. Pandangan mata Ibu menatap ke puntung rokok yang masih mengeluarkan asap.. Gw hanya bisa terdiam mempersiapkan diri untuk mendengarkan omelannya..
“Kenapa kamu buang rokoknya, Bang.. Ibu ga marah koq” Kata Ibu yang membuat kedua mata gw membesar karena terkejut..
“Di dapur tadi, Tante kamu ngajak Ibu ngobrol panjang lebar sambil masak.. Dari obrolan itu, Ibu sudah ambil keputusan, bang.. Ibu akan membebaskan kamu untuk berbuat apapun selama kamu anggap benar.. Tentang perjodohan kamu dengan Ayu, Ibu sudah mengirimkan sms ke Umi Aisyah untuk membatalkan semua nya”
Lagi-lagi, gw terkejut mendengar penuturan Ibu.. Terutama tentang keputusannya untuk membatalkan rencana perjodohan gw dengan Ayu..
“Ibu sadar, Bang.. Segala sesuatu yang dipaksakan ujungnya ga akan berakhir baik.. Soal CPNS kamu, Ibu serahkan segala nya ke kamu.. Terserah kamu mau teruskan atau tidak.. Oh iya, Ibu juga ga akan menghalangi keputusan kamu jika ingin melanjutkan hubungan dengan Anggie.. Meski sebenarnya Ibu lebih sreg ke Ayu.. Tapi, sekali lagi.. Ibu ga akan memaksakan apapun ke kamu.. Siapa pun jodoh kamu kelak, Ibu yakin dia yang terbaik” Ucap Ibu sambil menggenggam jari tangan kanan gw..
Gw sendiri terdiam meresapi tiap kalimat yang dilisankan Ibu.. Dari kedua mata beningnya terlihat pancaran kejujuran hati.. Dalam hati, gw mensyukuri kembali keputusan Ibu terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan gw.. Tentang pekerjaan dan jodoh.. Terutama soal hubungan gw dan Anggie..
Namun, rasa lega gw terusik saat teringat akan ucapan Raja Jin tentang gw yang harus menjaga perasaan Ibu.. Karena Beliau hanya membantu melepaskan Ibu dari jeratan Santet Braja Krama, bukan menyembuhkan penyakit jantung yang Ibu derita..
Meski Ibu berkata bahwa Beliau tidak akan melarang gw untuk melanjutkan hubungan dengan Anggie, namun dari ucapannya tadi tentang Ayu, membuat gw berfikir keras..Sepertinya, gw memang harus merelakan hati untuk melepas Anggie.. Semua akan gw lakukan buat Ibu..
“Makasih Ibu udah ngertiin Abang.. Tapi, abang mau Ibu tetap ngelarang Abang ngerokok dirumah.. Jangan biarin abang bebas tanpa larangan Ibu sama sekali” Ucap gw sambil mencium punggung tangan Ibu yang menggenggam jari tangan gw..
Ibu menganggukkan kepala dan balas mencium kening gw dengan lembut.. Lalu kembali bangkit dan melangkah menuju kedalam rumah meninggalkan gw seorang diri diluar.. Benak yang melayang membayangkan wajah Anggie, membuat gw menahan getirnya hati..
“Besok, gw bakal nemuin Anggie dan jelasin semua ke dia.. Gw harap Anggie mengerti keputusan yang gw ambil adalah demi Ibu” Ucap gw lirih dalam hati..
Sepulangnya Tante Septi ba’da Isya, gw dan Ayu diajak berkumpul bersama Ibu diruangan tengah meskipun hawa dalam rumah terasa panas.. Ibu menanyakan apa saja yang sudah terjadi selama kepergian gw dari rumah.. Kemana gw pergi? Dimana gw tinggal dan apa saja yang gw lakukan untuk bertahan hidup dengan bermodalkan uang dua puluh ribu perak?
Gw menceritakan semua ke mereka berdua tentang Babeh Misar.. Sosok Kakek Tua baik hati yang bersedia memberikan gw tempat berteduh.. Gw juga menuturkan bagaimana gw sempat merasakan jualan buah khas kampung hasil kebun Babeh Misar sendiri di pasar Parung..
Berkali-kali, Ibu sempat terbelalak mendengar pengakuan gw.. Hingga ujung-ujungnya, beliau menitikkan airmata kembali.. Karena menganggap tindakan nya sangat diluar batas dan membuat gw harus merasakan pahitnya hidup sebatang kara.. Ibu yang sudah kembali tenang, meminta gw untuk berjanji mengajak Babeh Misar ke rumah untuk mengucapkan rasa terima kasihnya..
Bahkan, Ibu juga memberi usul ke gw agar Babeh Misar diajak tinggal bersama kami saja.. Sudah tentu gw sangat senang sekali mendengar saran Ibu, dan berjanji akan membawa Babeh Misar suatu saat ke rumah ini.. Mudah-mudahan si Bajing Item mau menerima ajakan gw sekaligus tawaran Ibu..
Saat menyangka adik gw Ayu, sudah terlelap dipangkuannya, Ibu menyuruh gw untuk menggendong Ayu.. Gw sempat menolak karena tahu, gadis kecil itu hanya pura-pura sudah tertidur pulas.. Padahal gw melihat, kedua mata Ayu terbuka sedikit begitu mendengar omelan Ibu yang memaksa gw harus tetap menggendongnya..
Setelah sempat mencubit pipi Ayu, gw menggendong anak gadis itu dan memindahkannya dari sofa ke kamar tidur.. Ibu yang masih ada dibelakang, terdengar sedang mengunci pintu rumah.. Lalu menyusul gw ke kamar Ayu..
“Kamu kalo mau ngerokok diluar, jangan lupa pintunya dikunci lagi nanti ya, Bang” Kata Ibu yang gw balas dengan anggukkan kepala, meski masih sedikit sungkan mendengar kalimat beliau barusan..
Gw yang hendak menutup pintu kamar Ayu dari luar, sempat melihat Ibu menyalakan AC di suhu 20° Celcius.. Kening gw sempat berkerut melihat Ibu yang biasanya tidak tahan dingin, menurunkan kadar sejuk AC di kamar Ayu, ke suhu cukup rendah.. Tak mau menanyakan sebabnya, gw langsung menutup pintu kamar Ayu dan mulai berjalan menuju pintu depan yang sudah dikunci Ibu..
Udara di dalam rumah gw memang terasa panas sejak Adzan Isya selesai dikumandangkan.. Bahkan kaus oblong putih yang gw kenakan pun sudah terjejaki keringat dibagian punggung dan ketiak.. Keputusan untuk merokok sebentar diluar memang akan sangat tepat.. Secara, hembusan angin malam nan dingin di luar pasti akan meredakan hawa panas ini..
Dengan cepat, gw membuka kunci pintu dan membukanya.. Lalu duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok.. Gw sempat menekuk dua alis, begitu merasakan hawa panas tidak jua mau hilang meski sudah berada diluar.. Angin malam yang dingin seakan tidak mau berhembus menerpa tubuh gw yang masih dibasahi keringat..
Gw melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.. Suasana depan rumah gw pun nampak sepi.. Tanpa ada suara-suara khas hewan yang selalu bernyanyi dimalam hari untuk menyemarakkan gelapnya dunia.. Entah mengapa hal ini terasa ganjil dalam benak gw.. Suasana yang tenang ini membawa kegelisahan tersendiri bagi gw.. Seakan-akan, dibalik tenang dan gelapnya malam tersembunyi sesuatu yang tidak baik..
Sambil terus menikmati tiap hisapan rokok, gw mengipaskan tangan ke arah wajah dengan dahi sudah berkeringat.. Mendadak, pandangan mata gw menangkap sesosok bayangan hitam besar seperti melompat ke dalam pagar rumah.. Lalu, terdengar suara ledakan kecil yang membuat bayangan hitam itu terpental dan melesat menghilang kembali..
Sontak gw langsung berdiri dan membuang rokok.. Pandangan gw mulai nanar menyisir tiap penjuru dengan kedua tangan sudah terkepal.. Baru saja gw ingin memanggil Sekar, tiba-tiba jin Penjaga gw itu muncul bersama Bayu Barata di sebelah kiri dan kanan gw..
“Ikut kami ke atas atap rumahmu, Raden” Pinta Bayu Barata sebelum melesat ke atas rumah bersama Sekar..
Gw mengangguk, lalu berlari ke halaman dan menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh untuk mengikuti mereka melompat ke atap rumah..
Kedua pasang mata Bayu Barata dan Sekar nampak sama menatap tajam ke arah segala penjuru, seperti sedang mencari sesuatu keberadaan sesuatu atau seseorang.. Gw yang sudah berada diatas atap bersama mereka, mencoba menggunakan Ajian Tembus Pandang dan ikut mengedarkan pandangan ke semua tempat..
“Ada yang mencoba menembus Pagar Gaib milikku, Kang Mas.. Dan sudah jelas, dari cara pengecut yang mereka gunakan, sama sekali tidak terkandung niat baik” Ucap Sekar hampir bersamaan dengan tertangkapnya bau rambut terbakar di indera penciuman gw..
“Hawa panas yang terasa, sudah menjadi pertandanya, Raden.. Kita harus meningkatkan kewaspadaan.. Dari atas atap, kita bisa lebih leluasa untuk mencari tahu siapa gerangan yang mencoba masuk ke wilayah ini” Timpal Bayu Barata..
Kedua gigi gw bergemeratak mendengar ucapan kedua Jin Penjaga.. Baru saja Ibu terlepas dari jeratan santet yang dikirimkan Braja Krama.. Datang lagi ancaman lain yang mencoba mengusik ketenangan kami..
Belum sedetik gw menggerutu dalam hati, tiba-tiba dari empat arah mata angin muncul empat bola api yang melesat menuju rumah gw.. Baik gw serta Bayu Barata yang melihat datangnya keempat bola api berwarna kuning terang itu, sempat terkejut dan bersiap dengan memasang kuda-kuda.. Namun, berbeda dengan Sekar.. Jin perempuan Penjaga gw tersebut malah terlihat masih tenang sambil menyunggingkan senyuman dingin..
“Tidak ada yang akan bisa menembus Pagar Gaib milikku kecuali Braja Krama dan junjungan ku sendiri, yakni Penguasa Gaib Tanah Pasundan” Ucapnya lirih dengan penuh keyakinan..
Pandangan mata gw menatap tajam ke arah empat bola api kuning yang nampak berhenti melesat dan kini hanya melayang-layang mengepung rumah gw dari empat penjuru.. Sepertinya, keempat benda itu sengaja melayang menunggu komando atau perintah dari seseorang..
Mendadak, entah darimana datangnya, terdengar suara siulan nyaring yang disusul melesatnya kembali keempat bola api secara bersamaan.. Gw sempat melirik ke arah Sekar yang nampak tercekat.. Lalu, Jin Penjaga gw itu melompat turun secepat kilat kebawah dan langsung menghujamkan telapak tangan kanannya ke atas tanah, sesaat sebelum empat bola api mengantam Pagar Gaib dari empat penjuru mata angin..
DEMMM... DUARRR...
Suara berdentum sempat terdengar.. Disusul empat suara ledakan cukup besar disertai pijaran bunga api terjadi, saat empat bola api dari arah Barat, Timur, Utara dan Selatan menghantam Pagar Gaib buatan Sekar..
Pandangan.gw sempat menangkap keempat bola api tadi, seketika menjelma menjadi empat bayangan hitam yang terpental jauh saat menghantam Pagar Gaib.. Sementara, Bayu Barata langsung melesat turun ke bawah untuk menahan tubuh Sekar yang sempat terseret mundur ke belakang..
Gw yang tak mau hal buruk terjadi ke Sekar, ikut melompat turun dan mendarat persis di sebelah Bayu Barata.. Kedua mata gw membesar, begitu melihat wajah Sekar membias pucat dengan dua bibir bergetar.. Dengan cepat, Sekar berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Bayu Barata dan hendak melompat..
“Tunggu, Sekar Kencana! Hendak kemana kah dirimu?” Tanya Bayu Barata sambil menangkap pergelangan tengan Sekar..
Jin wanita penjaga gw itu langsung menampik pegangan tangan Bayu Barata dan melemparkan pandangan tajam ke arah empat mata angin..
“Aku ingin menangkap Jin yang sudah berani menantang, dengan mencoba menghancurkan Pagar Gaib buatan ku dari empat penjuru mata angin” Jawab Sekar penuh amarah..
“Tapi, keadaan mu sedang terluka, Sekar.. Tunggulah sampai kau pulih kembali.. Biarkan aku yang menangkap mereka”
“Jangan remehkan kekuatan ku, Bayu.. Luka seujung kuku ini sama sekali tidak menyurutkan niat ku untuk melenyapkan mereka” Bantah Sekar sambil menatap nanar Bayu Barata..
Bayu Barata terdiam dan melirik ke arah gw, seakan memberi tanda agar gw ikut mencegah niat Sekar.. Gw mengerti arti lirikan mata Bayu Barata dan memegang bahu Sekar..
“Sekar, aku minta kau tetaplah disini untuk melindungi Ibu dan adikku.. Biarkan aku dan Bayu Barata yang mengejar empat bayangan hitam tadi”
“Tapi, Kang Mas...”
“Sudahlah.. Untuk kesekian kalinya aku meminta mu guna kembali menuruti kemauanku” Kata gw yang sengaja memotong kalimat isterinya Jagat Tirta itu..
Sekar nampak melempar pandangan sinis ke arah Bayu Barata.. Lalu menghela nafas panjang dan melesat kembali ke atas atap rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke gw dan Bayu Barata..
“Kaga Jin kaga manusia, selama jenis kelamin mereka sama-sama cewe pasti ngambeknya sama juga.. Diem terus langsung pergi” Ucap gw dalam hati melihat Sekar yang sudah duduk bersila diatas atap rumah dengan wajah masam..
Saat gw menoleh ke arah Bayu Barata, jantung gw terasa hampir copot begitu melihat seekor macan kumbang berwarna hitam legam seukuran gajah dewasa sudah berdiri disamping.. Hewan buas dengan dua mata mengeluarkan sinar berwarna kuning kemerahan itu, menatap tajam tak berkedip ke arah gw..
“Lekaslah naik ke punggung ku, Raden.. Kita akan mengejar empat bayangan hitam tadi satu persatu” Ucap Macan Kumbang dengan suara terdengar seperti Bayu Barata..
sampeuk dan 13 lainnya memberi reputasi
14