Kaskus

Story

palinglembutAvatar border
TS
palinglembut
Where the fvck are you?
Where the fvck are you?

Spoiler for summary:





Diubah oleh palinglembut 14-03-2018 02:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
7K
55
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
palinglembutAvatar border
TS
palinglembut
#45
9.75


Gue mengadopsi kucing.
Dapat hibahan dari Olx.
Namanya Nana, karena dia betina berumur 3 bulan dan dia mendapatkan hati gue dengan memainkan tali sepatu buat digigit. Badannya masih kurus dengan perut yang buncit, tapi dia nggak penakut―dia menginspeksi rumah selamanya dengan mata biru cermelang, dan bulu yang masih jarang berwarna putih. Orang yang merawat Nana sebelumnya bilang, kalau Nana adalah mix kucing kampung dan kucing siam. Gue nggak terlalu perduli dengan rasnya Nana, tapi god damn, kucing berwarna putih itu ternyata emang lucu.

Kini gue menuangkan makanan wetfood untuk usia kucing balita dan membuatkan dia susu khusus kucing. Gue menyalurkan setiap energi yang gue punya, untuk mencintai dia. Karena makin kesini gue makin yakin, lebih baik gue hidup sendirian daripada mencari perempuan buat untuk disakiti aja belakangannya.

“ Nana, “ gue panggil namanya sambil mengelus-elus kepalanya yang masih botak saat dia makan wetfood. “ Tumbuh besar ya, Na. “ kata gue lagi, dengan mata membulat menatap mahluk peliharaan yang kerja sambilan sebagai penguasa internet.

Sambil asik melihat kucing kecil makan dengan rakus, dan tangan gue sibuk memfoto Nana dari berbagai sudut dan sisi―tahu-tahu ponsel gue berdering ringtone Mira, foto serta namanya muncul memenuhi satu layar handphone gue.

Gue langsung mengedipkan mata―ketika jempol gue autopilot menerima telepon Mira, lalu tertegun memandangi layar telepon gue yang mulai menghitung detik-menitnya telepon itu diangkat.

Suara Mira terdengar dari dalam telepon, sekalipun nggak gue loadspeaker. Dia memanggi nama gue sekali, dua kali. Lalu ikut terdiam sebentar. Detik berikutnya gue menempelkan ponsel gue ke telinga kiri, dengan mata menatap kucing yang makan napasnya sambil bunyi.

“ Aldi. “ Panggil Mira untuk yang ketiga kalinya. “ Gue tahu lo dengerin gue. Gue―” Dia menarik napas lalu menghelanya dengan berat. “ Gue kangen banget sama lo. “

“ Tolong jangan tiba-tiba drop dead jadi stranger begini. “ katanya lagi. “ Gue nggak kuat, gue mau kita masih temenan. Kita bisa tahu, balik lagi jadi yang kayak dulu. “

“ Please, “ mohonnya dengan suara berbisik. “ Ternyata kehilangan elo rasanya nggak enak. Padahal hubungan kita cuman sebentar, tapi dampaknya ke gue―”

lalu detik berikutnya Mira menutup teleponnya sendiri. Gue melihat layar ponsel, dia menelpon gue cuma semenit lewat lima belas detik. Dan semenit lewat lima belas detik itu? Rasanya seperti selamanya.

Nana sudah menghabiskan, menjilati setiap titik wetfood dengan sempurna, tidak ada satupun yang tidak terdeteksi hidung super kecilnya itu. Gue memegang kepalanya dengan sayang dan bilang, “ Good job! proud of you! “

Disaat gue sadar Nana nggak mau minum susu, gue bangkit berdiri mencari-cari suntikan 5 mL tanpa jarum, untuk ‘menyusui’ Nana supaya dia dapat nutrisi yang tepat.

Dan sekalipun badannya kecil, tenaganya kuat juga, tapi pas Nana sadar bahwa susunya enak, dia minum tanpa penolakan keras seperti sebelumnya.

Gue melihat tenggorokan Nana naik-turun, menenggak setiap suntikan susu yang gue berikan sampai susunya habis.

Sementara mata gue terus memerhatikan bocah kucing yang perutnya makin membuncit, di belakang gue terdapat perasaan kosong yang dicampur-sari dengan rasa sedih dan juga rindu, menunggu di sudut gang siap untuk menenggelamkan gue.

Tapi gue ada harapan.

Someday, semua perasaan ini tidak lagi mengganggu gue disaat sedang lengah.

***
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.