Kaskus

Story

irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah emoticon-heart

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor. emoticon-EEK!
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.

Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS emoticon-Malu
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang emoticon-Ngakak (S)

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka emoticon-Embarrassment

Selamat membaca emoticon-Blue Guy Peace

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
rinnopiantAvatar border
indrag057Avatar border
Karimake.akunaAvatar border
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.4K
264
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
#73
Chapter 12



Gabriel ingin mengetahui bagaimana cara Major dapat mengetahui tentang dirinya, namun saat itu bukanlah waktu yang tepat. Setelah menghabiskan kantong darah itu, Gabriel menggendong Alyssa di punggungnya dan terbang melesat ke angkasa setelah mengawasi keadaan sekitar agar tidak ada yang melihat. Dia masih penasaran soal Major, tapi membahasnya di atap apartemen Alyssa bukanlah hal yang bijak. Gabriel tidak ingin Major membuntuti mereka dan menguping pembicaraan, Lagi pula penerbangan malam ini akan membutuhkan dua kali perjalanan. Untuk apa menghabiskan waktu saat ini hanya untuk mengobrol, lebih baik segera sampai ke tujuan dan mereka bisa membahas hal ini seharian penuh nanti.

Lokasi kota yang akan mereka tuju kali ini berlokasi sangat jauh, mereka harus mendarat ketika fajar tiba. Hal itu sangat membingungkan Alyssa ketika mereka mendarat beberapa jam kemudian. Mereka mendarat di sebuah kabin kecil yang terletak di pegunungan, tampak salju yang cukup lebat ketika mereka mendarat. Alyssa merasa takjub saat melihat salju yang tebal itu, tapi ia memutuskan untuk masuk kedalam kabin untuk mencari kehangatan.

Gabriel tidak berbicara sepatah kata pun dan langsung menyalakan api di perapian. Dia tidak butuh rasa hangat, tapi dia mengerti akan keadaan tamunya. Setelah mengecek sisa kayu bakar yang ada, Gabriel memutuskan untuk pergi keluar dan mencarinya. Saat ia kembali, Alyssa mulai bercerita tentang apa yang telah terjadi. Alyssa bercerita tentang orang-orang yang datang dari New Lycan dan mengenalinya. Lalu bercerita soal pembicaraan dirinya dengan Major dan bagaimana ia harus berpikir cepat untuk menghindari terkuaknya kebenaran soal Gabriel dan juga tentang perjanjian dengannya.

Gabriel hanya terpana memandangi ruangan ketika Alyssa sedang bercerita tentang semuanya, terlebih saat Alyssa harus berbohong bahwa Gabriel adalah seorang pria yang sedang jatuh cinta kepadanya dan bukannya vampire yang telah ia beri makan.

"Rasanya kamu telah melakukan hal yang benar." Gabriel akhirnya menjawab. "Jika kamu tidak mengatakan semuanya, pria tua itu akan terus mendesakmu dan akan tetap mencari tahu untuk memuaskan dirinya. Dengan berpura-pura terbuka, kamu akan dapat mengontrol keseluruhan cerita. Hal ini akan dapat membantumu menghindari menceritakan detail cerita, tapi tetap memuaskan rasa penasarannya."

"Aku kesal sekali Major datang menemuimu dengan cara seperti itu." Ungkap Alyssa.

"Dia tidak tahu bagaimana caraku masuk dan itu membuatnya khawatir." Kata Gabriel menghela nafas panjang. "Dia hanya khawatir, dengan apa yang ada diluar sana, aku tidak akan menyalahkannya."

"Aku ngerti, mayat hidup itu memang tidak bisa dimaafkan." Ucap Alyssa mengakuinya, lalu menutupi dirinya dengan selimut tebal yang hangat diatas sofa. "Aku tidak akan pernah mau bekerja menjadi Major, meskipun sebenarnya Major adalah pelindung dari seluruh warga di kota."

"Tapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa ia telah menugaskanmu dan orang-orang lain yang dia tidak suka keluar menuju kematian." Kata Gabriel. "Aku tidak percaya orang ini, sama seperti tidak percayanya aku kepada kaum Lycan."

"Sungguh aneh melihat mereka di kotaku." Ucap Alyssa mengakui. "Aku tidak tahu gimana mereka bisa menemukan kotaku, tapi sekarang kami malah bertransaksi dengan mereka."

"Memang sangat aneh." Kata Gabriel sambil memandang keluar jendela. "Aku tidak pernah tahu mereka akan pergi sejauh itu untuk melakukan transaksi."

"Beruntungnya aku bisa keluar dari keadaan genting tanpa membocorkan rahasia kita." Ucap Alyssa sambil mengingat kembali kejadian tersebut.

"Pemikiran yang sangat cerdas." Jawab Gabriel, tersenyum. "Akan kulakukan sebaik mungkin untuk memainkan peranku. Tapi kupikir selama kita memberikan barang untuk Major, dia tidak akan mengganggu kita."

"Aku setuju." Ucap Alyssa sambil mencari posisi yang membuatnya nyaman. "Dia tidak akan merusak sesuatu hal yang telah membuatnya aman dan nyaman. Tapi bukan berarti aku bisa percaya padanya."

"Setelah apa yang telah kamu katakan padaku," Ucap Gabriel menambahkan. "Aku juga tidak akan mau melakukannya."

"Aku juga tidak yakin jika Major siap untuk mendengar keadaan sebenarnya diluar sana." Kata Alyssa. "Jika ia mengetahui apa yang telah aku ketahui, dia akan jadi gila."

"Kebanyakan orang akan seperti itu." Ujar Gabriel setuju. "Dunia yang sekarang telah berubah menjadi sangat menyeramkan dibandingkan dahulu, jauh lebih seram daripada saat manusia mampu membuat dunia kiamat. Mungkin beberapa orang akan berpikir bahwa itulah yang seharusnya mereka lakukan sejak dulu."

"Aku gak yakin soal itu." Kata Alyssa. "Aku gak berpikir kalau memiliki zombie dengan radio aktif merupakan hal ideal, apalagi kita tidak tahu awal kemunculan mereka."

"Point yang bagus." Kata Gabriel mengakui. "Tidak ada pembicaraan apapun soal mencegah kiamat ini. Jumlah manusia masih tetap sedikit, dan mayat hidup masih berkeliaran diluar sana."

"Aku paham maksudmu." Kata Alyssa. "Tapi tidak ada satupun yang dapat kita lakukan."

"Beristirahatlah." Kata Gabriel, memandangi ruangan. "Kamu akan butuh tenaga ketika sampai di kota besok."

"Kamu gak pernah bilang," Alyssa mengingatkannya. "Kota apa yang akan kita datangi besok?"

"Denver." Jawab Gabriel. "Mereka memutuskan untuk memanfaatkan ketinggian, berharap hawa dingin akan membuat mayat hidup menjauh. Tidak banyak berpengaruh, tapi cukup untuk memperlambat mereka, yang artinya akan mudah untuk membunuh zombie-zombie itu. Mereka menggunakan musim dingin untuk membuat tembok, meskipun bukanlah yang terbaik. Tidak seperti kota-kota.besar yang lain, kota denver tahu akan apa yang ada diluar sana. Serigala, vampire, penyihir, semuanya. Disana kita akan mudah untuk mendapatkan apa yang kita cari. Aku juga punya seseorang yang bisa kita mintai bantuan."

"Baiklah." Jawab Alyssa, sambil memandang keluar jendela. "Matahari sebentar lagi akan terbit, aku akan tidur sekarang. Kita berangkat nanti saat matahari terbenam?"

"Ya." Jawab Gabriel. "Setelah sampai disana, kita akan tinggal untuk beberapa malam. Tergantung seberapa cepat temanku ini mengumpulkan barang yang kita butuhkan. Kamu boleh jalan-jalan pada saat siang hari. Tapi aku ingin kamu selalu waspada dan berhati-hati."

"Aku akan baik-baik saja." Jawab Alyssa, merasa senang karena akan bisa jalan-jalan di kota manusia nanti. "Boleh gak aku minta uang buat belanja nanti?"

"Tentu saja, kenapa tidak." Jawab Gabriel sambil nyengir. "Kamu telah banyak membantuku, jadi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalasnya. Kamu mungkin akan berbelanja dengan Mandy dan anak-anaknya ketika kita tiba disana."

"Eeh? Mandy? Siapa itu?" Tanya Alyssa.

"Aku punya teman yang tinggal disana, namanya Shane." Gabriel menjelaskan. "Jika kita mendarat di atap rumahnya, kita bisa memasuki kota tanpa terdeteksi dan tidak perlu untuk mendaftar. Dia memiliki beberapa kamar tamu, dan aku bisa membayarnya secara tidak resmi, jadi pergerakan kita akan sulit untuk dilacak. Dia banyak berhutang padaku, dan mungkin akan memanfaatkannya karena aku tidak datang sendiri. Mandy adalah istrinya Shane, dia pasti akan sangat senang menemanimu berbelanja, jadi kamu tidak perlu jalan-jalan sendirian."

"Kedengarannya menyenangkan." Jawab Alyssa. "Jadi aku tidak butuh pemandu, dan akan lebih cepat untuk menemukan barang yang kuinginkan."

"Kita akan berada di kota untuk beberapa hari." Gabriel memberitahunya. "Kamu boleh jalan-jalan sendirian. Aku hanya ingin kamu melakukannya saat siang hari. Saat keadaan aman untuk semua orang."

"Aku mengerti." Jawab Alyssa, mengerti akan posisinya. "Aku gak akan melakukan sesuatu yang membuatmu khawatir. Kamu gak perlu resah, aku juga bisa.menjaga diriku sendiri."

"Baiklah kalau begitu." Jawab Gabriel lalu menuju kearah pintu. "Aku akan memeriksa keadaan diluar. Kamu sebaiknya tidur sekarang."

Ketika Gabriel pergi, Alyssa memutuskan untuk tidak menunggunya kembali, dan langsung tidur. Ia langsung menuju ke salah satu ruang kamar tamu yang ada, dan memeriksanya sebelum ia terlelap. Ia tidak memberitahukan kepada Gabriel kalau dirinya membawa senjata. Sebuah handgun 9mm, tidak besar memang, tapi cukup untuk melawan zombie ketika Gabriel tidak berada di dekatnya untuk membantunya. Ia menyimpan pistol itu di bawah meja kecil disebelah tempat tidurnya sebelum memutuskan untuk berbaring dan beristirahat. Dia mengunci pintu tapi Gabriel pasti punya kunci cadangan.

Alyssa berpikir tidak perlu merasa bersalah untuk bersikap waspada, setelah apa yang terjadi di St.Louis. dia tidak ingin mengambil resiko dalam perjalanannya kali ini bersama Gabriel. Ia menganggap bahwa ini hanya rencana cadangan, setidaknya itulah yang ia pikirkan sebelum matanya tertutup dan tidur dengan nyenyak.

Ketika Alyssa terbangun dari tidurnya beberapa jam kemudian, ia mengambil pistolnya dan menyimpannya di belakang celana jeans dan menutupinya dengan t-shirt. Ia menuruni tangga dan ternyata Gabriel belum kembali, jadi ia memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat makanan. Kulkasnya ternyata telah terisi penuh, lalu ia mengambil beberapa butir telur, keju, dan jamur. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di kotanya untuk berbagai alasan. Ia lalu membuat kopi dan menuangkannya di gelas.

Alyssa sedang meletakkan telur diatas piring, dan roti panggang sudah keluar dari toaster ketika ia pikir ia melihat sebuah bayangan seseorang bergerak di ujung matanya. Ia meletakkan kopinya di atas meja dan berpura-pura mengambil roti dari toaster, dan dengan perlahan meraih pistolnya lampu dengan cepat menodongkan pistol itu kearah seorang pria yang juga sedang menodongkan pistol kearahnya.

"Ya ampun!" Kata pria itu, jelas sekali kalau ia bukanlah gabriel, merasa terkesan akan kecepatan gerak Alyssa. Pria itu berusia sekitar empat puluh tahunan, kurang lebih sama dengan Major. "Cepat sekali kamu menodongkan pistol itu kearahku!"

"Aku banyak berlatih." Jawab Alyssa.

"Aku percaya padamu." Balas pria itu, tanpa melepaskan pandangan atau pistolnya selama mereka berbicara. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"

"Cuma sekedar mampir." Jawab Alyssa. "Aku sudah buat kopi."

"Karena itu aku tahu ada orang disini." Ucap pria itu. "Baunya enak sekali."

"Aku yang membuatnya sendiri." Jawab Alyssa, masih menodongkan pistolnya.

"Sama siapa kamu kesini?" Tanya pria itu.

"Kenapa kamu berpikir aku kesini dengan orang lain?" Alyssa balik bertanya.

"Hanya ada tiga orang yang mengetahui tempat ini." Jawab pria itu. "Dan aku tidak ingin menambah satu orang lagi, jadi aku harap kamu kenal dengan dua orang yang lainnya."

"Aku mungkin kenal salah satunya." Jawab Alyssa, berharap yang ia katakan benar. "Apakah Gabriel salah satu dari tiga orang itu?"

Pria itu mendesah, lalu meletakkan kembali pistolnya. "Ya. Apa dia sedang tidur?"

"Sepertinya begitu." Jawab Alyssa, masih menodongkan pistolnya. "Gimana kamu bisa kenal Gabriel?"

"Dia dan aku punya perjanjian." Pria itu berkata, lalu menyimpan pistolnya di sarung yang terikat di paha sebelah kiri.

Alyssa memikirkan perkataan pria itu. "Kamu memberi makan dia?"

"Betul." Jawab pria itu. "Apa kamu salah satu dari penghisap darah juga?"

"Kalau itu benar," jawab Alyssa sambil menunjuk kearah sarapan yang ia telah buat sebelumnya. "Apakah aku akan butuh semua ini?"

"Benar juga." Jawab pria itu. "Aku Pablo."

"Alyssa." Jawabnya, lalu meletakkan pistolnya di atas meja. "Mau telur goreng dan roti bakar untuk sarapan? Ada cukup banyak untuk dua orang."

"Kedengarannya enak." Jawab Pablo. "Maaf atas kelakuanku tadi. Aku cuma gak biasa ada orang lain disini. Apalagi saat siang hari."

"Aku mengerti." Kata Alyssa, lalu mengambil roti bakar dan piring tambahan. "Duduklah di kursi. Mau tambah gula di kopimu?"

"Dua sendok saja, tolong." Kata pablo sambil berjalan perlahan dan duduk di kursi. Ia mengamati Alyssa yang sedang menyiapkan kopi. Gadis itu lalu berjalan kearahnya sambil membawa dua piring yang berisi telur goreng dan roti bakar dan juga kopi yang ia minta. Alyssa lalu kembali ke counter yang berada di dapur dan menggunakannya sebagai pembatas antara mereka, dan menikmati sarapan dengan pistol yang masih tergeletak disana.

"Kamu menjaga jarak dariku?" Tanya Pablo, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

"Maaf." Balas Alyssa. "Pengalaman telah mengajarkanku."

"Tak perlu dijelaskan." Kata Pablo, sambil menyantap sarapan yang dibuat Alyssa. "Wow, ini enak sekali! Terima kasih banyak."

"Terima kasih untuk tidak marah karena telah menggunakan bahan makananmu di kulkas." Kata Alyssa.

"Gabe bisa mengisi ulang bahan makanan kapanpun aku butuhkan." Pablo memberitahunya, lalu melihat keterkejutan di wajah Alyssa. "Apa kamu terkejut Gabe punya lebih dari satu pendonor?"

"Kurasa tidak." Jawab Alyssa. "Bukankah masuk akal untuk punya cadangan? Maksudku bagaimana kalau salah satu dari kita mati, meskipun secara tak sengaja? Dia akan menjadi kesulitan jika dia tidak punya cadangan. Semuanya jadi masuk akal sekarang setelah aku memikirkannya."

"Kau dan aku berdua." Ucap Pablo setuju. "Aku sudah tahu kalau ada yang lain, yang sebenarnya aku senang mendengarnya. Semakin banyak orang yang ia dapat diluar sana, akan lebih mudah bagi kita untuk mendonorkan darah. Ini adalah kali pertama aku bertemu dengan salah satu dari mereka. Sudah berapa lama kamu kenal dengan Gabe?"

"Belum lama." Jawab Alyssa tanpa ingin memberi tahu yang sebenarnya. "Kamu sendiri?"

"Bertahun-tahun." Pablo menjawab. "Jika kamu mengurus Gabe dengan baik, dia akan membantumu sejauh yang dia bisa, bahkan akan memindahkan gunung sekalipun jika ia sanggup."

"Dia telah melakukannya untukku." Jawab Alyssa.

"Senang mendengarnya." Kata Pablo sambil mengangkat gelasnya keatas. "Bisakah kamu memasak makanan lain yang seenak ini?"

"Makanan apa yang kamu mau?" Balas Alyssa.

"Aku menangkap seekor rusa kemarin." Pablo memberitahunya. "Aku akan membersihkan dan memotongnya. Biasanya aku akan menyimpan semuanya di kulkas, tapi jika kamu tahu cara memasaknya, aku akan menyisihkan sebagian."

"Siapkan saja satu bagian kakinya." Jawab Alyssa sambil tersenyum. Ketika ibunya masih hidup, dia telah menunjukkan kepada Alyssa bagaimana cara memasak berbagai macam makanan untuk para pemburu yang sedang melakukan lomba berburu di kota. Ibunya sangat ingin Alyssa membantunya di dapur, agar ia tidak perlu ikut berburu. Itu adalah cara yang ibunya lakukan agar membuat Alyssa terlalu berharga untuk ditugaskan keluar. Tapi itu semua tidak berjalan dengan baik, karena keahlian Alyssa dalam menggunakan senjata terlalu menonjol setelah ibunya meninggal.

"Satu bagian kaki utuh?" Pablo menjawab.

"Yup." Jawab Alyssa. "Siapkan juga penggorengan paling besar yang kamu punya, dan meskipun kita bagi dua, kamu masih akan punya cukup makanan untuk seminggu."

"Siap bu!" Kata Pablo sambil tersenyum kearahnya. "Apa kamu mau disiapkan satu bagian kaki lain untuk dibawa pulang kerumah? Aku yakin kamu akan menuju ke Denver dan kamu akan kembali lagi kesini dalam beberapa hari. Aku akan menyimpannya di kulkas bagian bawah untukmu, dibungkus dengan kertas lalu diikat, dan siap untuk dibawa pulang."

"Penawaran yang sangat menarik." Jawab Alyssa lalu tersenyum balik padanya. "Salah satu penawaran terbaik yang pernah kumiliki."
kudo.vicious
kudo.vicious memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.