- Beranda
- Stories from the Heart
OPERASI BINTANG MERAH
...
TS
novalso
OPERASI BINTANG MERAH
Hii...
Ini post pertamaku.
Di post perdana ini, aku bakal suguhin kalian dengan cerita anak SMA yang memiliki cerita dan rahasia masing-masing.
Cerita ini kuberi judul Operasi Bintang Merah...
seram ya??
Merah darah?
bukan kok,
kisah ini bermula ketika Lelaki bernama Kega yang duduk di bangku kelas 10 dipaksa untuk mengikuti ekstrakulikuler oleh gurunya, dikarenakan sudah menjadi peraturan sekolah untuk mewajibkan setiap siswa kelas 10 untuk mengikuti kegiatan yang di singkat ekskul ini..
bagaimana Kelanjutannya?
.
.
Spoiler for Kisah Satu (Prolog):
Quote:
Masih bingung tentang alur OBM, yuk tanya tanya di SEPUTAR TANYA OBM
Spoiler for SEPUTAR OBM:
Spoiler for INDEX CERITA:
Diubah oleh novalso 06-05-2018 10:08
nona212 dan anasabila memberi reputasi
2
5.7K
41
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
novalso
#20
Olahraga yang Menyesatkan
Pelajaran sekarang adalah olahraga, semua insan 10 Prince A berpusat pada pria kekar dengan peluit yang menggantung di lehernya.
Quote:
Kumpulan manusia langsung berpecah, tersebar menjadi banyak kelompok. Inilah yang menyebabkan manusia menjadi banyak ras dan kelompok, karena ulah satu orang pemimpin diktator, sang pemegang buku penilaian. Anehnya ada saja yang menghampiriku, si ketua kelas. Aku lupa siapa namanya....
Quote:
Dia tidak mendengarkan perkataanku, memasukkan namaku dalam daftar anggota kelompoknya.
Permainan dimulai, satu persatu kelompok maju bertanding, kelompokku, kuralat... kelompok ketua kelas bersama teman dan aku hanya menumpang nama, bertanding pada sesi keempat, melawan kelompok badboy si bodyguard kelas.
Quote:
Tangannya mengepal seakan menunjukkan bahwa ia serius dan bersemangat. Sementara teman laki-laki entah darimana itu hanya tersenyum melihat tingkah temannya yang terlalu bersemangat.
Giliran kami tiba, ajal sudah menjemput. Baiklah jika memang ini akhirnya.Kami bersiap di posisi, karena ini volly mini, yang hanya terdiri dari tiga orang pasti akan memakan banyak energi. Ketua kelas sebagai Set-Upper atau umumnya sebagai Tosser dan laki-laki itu sebagai Spiker sekaligus Libero dan aku hanya penonton... Haha... Tidak, aku menjadi Libero. Sebenarnya, kami hanya menyesuaikan diri saja, apa yang kusebutkan tadi hanya sebagai formalitas.
Tatapan muka para badboy seakan ingin melancarkan serangan maut di awal permainan, dan benar saja, service yang diberikannya tidak ada yang dapat memungut, sangat seram, kecepatan yang mematikan itu mungkin saja menjadi perantara kematian. Aku tidak ingin mati konyol akibat terkena lemparan bola volly. Ketua kelas geram melihatnya, memberi semangat berupa tepukan tangan pada kami. Bersemangat sekali dia, padahal sudah pasti kita tidak akan menang.
Sudah tidak ada harapan dengan kondisi dibantai habis, hampir satu set berbalas empat poin ditambah tubuh penuh keringat dan kondisi mental yang down. Ah sudah lupakan, hanya sebuah permainan.
Tetapi...
Quote:
Lagi-lagi teriakannya membangkitkan ruh yang tertidur dalam dan sangat lama. Lelaki setimku juga nampak sudah cukup kelelahan. Kurasa ia seorang atket volly, bergerak dengan aktif bahkan mengambil jatah mainku, tetapi tetap saja hanya empat poin yang mampu diciptakan.
Aku menghela nafas, mengatur nafas yang sebelumnya tidak stabil,
Quote:
Teriakku bergelora tinggi, Yes! Berhasil. SMASH! Dilancarkan laki-laki tinggi rekan setimku dan masuk... teriak gembira terpancar dari wajah mereka. Kami terus mengejar ketertinggalan, poin demi poin terus ditorehkan menuju kemenangan di depan mata.
Bola melambung tinggi, sentuhan kedua dari ketua kelas mengarah padaku, umpan bagus, waktunya penghabisan. Dengan cepat aku melompat dan Aw... kakiku berdenyit, sial kenapa harus sekarang, tidak ada waktu... SMASH!! Aw... sekarang tanganku, aku terjatuh, sebelah kaki dan tanganku seperti mengalami keram, ini bukan keram... aku mencoba berdiri dengan energi yang tersisa, sialan kakiku tidak dapat kugerakan, tanganku juga. Kesialan apalagi sekarang.
Quote:
Ketua kelas bersama rekannya menghampiriku. Uluran tangan mereka berikan, tetapi aku menolaknya diiringi bangunnya diriku dari posisi yang membuat orang lain resah.
Dengan kaki yang pincang juga tangan kanan yang sepertinya terkilir aku tidak dapat melanjutkan permainan, memberi isyarat menyerah lalu pergi meninggalkan lapangan tanpa sepatah kata apapun. Akibat terlalu baik, pasti akan ada yang menjadi korban. Itulah alasan mengapa aku benci bersosial. Lebih baik tidak mengenal siapapun, tidak harus mengorbankan apapun.
Di depan pintu UKS, melangkah masuk. Kulihat seseorang sedang menata beberapa obat di lemari berlambang plus merah, sampai kusadari orang itu adalah Bu Amamiya.
Quote:
Aku mengambil minyak urut dan beberapa kapas dari lemari menggunakan sebelah tangan, duduk manis di kursi kecil yang seharusnya dipakai para tamu saat mengunjungi orang sakit. Aw, rintih yang sesekali kuucap pelan. Memang sakit rasanya, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Quote:
Tangannya kembali menekan titik urat di kakiku beberapa menit sampai kakiku yang terkilir tak lagi terasa. Tangan kananku juga sudah ia urut dengan benar, pandai juga Bu Amamiya mengurut. Ucapan terimakasihku hanya sebatas di hati, tidak terucap padanya.
Gerakan jam dinding yang terus maju tak kenal lelah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga, sudah siang. Jam pelajaran olahraga sudah habis. Aku menghela nafas panjang, mencari celah pada rongga nafas berat.
Quote:
Tidak seperti biasanya Bu Amamiya seperti ini, mengenai apa yang ingin ia bicarakan rasanya tidak terlalu penting karena apapun yang dibicarakan olehnya tidak pernah bermakna apalagi sebagai sosok panutan para murid. Tidak! Kepalaku menggeleng.
Bersambung...
Diubah oleh novalso 08-03-2018 17:00
0