- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- SEASON 2 "KAMI SELALU ADA"
Mereka yang Hidup Dalam Gelap, merupakan suatu true stroy, real story atau semacam itu tentang Arda, ketika di season 1 Arda menyajikan pada anda bagaimana dia bertahan dan berhadapan serta bertemu dan mengenal mereka, maka di season 2 ini arda akan mengantarkan kalian menuju dalamnya cerita tahap lanjut, dimana dia harus berhadapan dengan mereka, menguji apa yang telah dia pelajari, dan menjadi seorang yang menjembatani antara 2 dunia.
90% horror dengan bumbu hiperbola dan cerita drama, cinta, dan cerita persahabatan, memberikan kepada pembaca kesan tentang apa yagn dialami penulis.
Quote:
Quote:
selamat menikmati season 2 dari cerita ini, semoga kalian menyukai, jangan lupa cendol, juga share and like nya
ig : @bakemonotong
twitter : @Ardahakimotong
Welcome to my Second Season of Story
INDEKS :
Quote:
NITIPSSSS :
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:53
meqiba dan 2 lainnya memberi reputasi
3
56.2K
212
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#2
Prolog
Aku seorang siswa SMA biasa, yang dikaruniai bakat indigo, atau sebagian besar dari kami menyebut itu kutukan, dan membuat hidup kami tidak tenang, membuatku harus bisa melihat mereka yang hidup dalam gelap, mulai dari yang berbentuk bagus, biasa hingga mereka yang berbentuk hancur, jelek dan membuatku mual dan jijik. Tapi yang kita tidak tahu, dibalik bentuk yang mereka ambil, ada beberapa cerita yang tersembunyi, cerita yang membuat kita harus bergidik ngeri membayangkannya, ada cerita dari mereka yang membuat kita harus yakin bahwasanya menjadi manusia, bukan hnay kita satu- satunya makhluk di dunia ini, membuat kita sadar, betapa perlunya kita menghargai mereka yang astral.
Sekolahku adalah satu contoh dimana mereka banyak berkeliaran, mereka banyak berkumpul dan menjadi satu dalam sebuah zona besar, saling berhubungan satu sama lain, dan memiliki cerita masing- masing. Berapa banyak dari kalian yang sadar mereka ada? dan berapa besar dari mereka yang kalian tahu? mungkin tidak banyak, tapi bukan berarti kalian harus takut dengan mereka, selama mereka tidak mengancam kita, tidak ada hak bagi kita, untuk mencelakakan mereka, membuat mereka sengasara atau mengusir mereka. Bahkan yang negatif sekalipun tidak selamanya mengganggu, tidak selamanya menjahati kalian, bahkan mungkin yang positif pun bisa mencelakakan kalian, tanpa kalian tahu apa- apa.
Perjalanan ke Manado membuka lebih jauh pengalamanku secara psikis maupun fisik. Aku berkenalan dengan sekitar 38 anak lain, kami dibagi menjadi 2 kontingen, 20 anak menuju Manado, dan 20 Anak menuju Gorontalo. setiap sekolah rata2 memiliki 2 perwakilan siswa, Aku dan Amanda berhasil lolos mewakili sekolah untuk ditukar disana, entah aku ditukar apa, siapa atu mereka melepaskanku hanya demi seikat cakalang kering Manado, entahlah. Aku ke Manado, dan Amanda ke Gorontalo, Amanda memang dari semula berasal dari keluarga mampu, jadi tidak susah untuknya membawa uang bekal, bahkan mungkin tidak begitu berharap dari sekolah. Saat itu aku meminta sekolah memberikan kami dana perwakilan sekolah, dan mendapat seorang 500rb, dan Dikpora memberi kami 420rb sebagai uang bekal.
Dua puluh anak yang ke Manado menjadi temanku selama kesana, dan sampai sekarang kami masih coba saling berkontak, siapa tau ingin reuni, dengan kesuksesan masing2, ada yang sudah sukses sebagai guide wisata, mengembangkan wisata jogja, ada yang memilih menjadi musisi, seniman dan youtuber, ada yang menjadi karyawan, ada yang sukses meniti karir hingga keluar negri dan lain2, kami yang sekarang telah dewasa dan memilih jalan masing2, membuatku mengingat betapa pembualnya aku, seorang pembohong yang merasakan butuh dianggap oleh mereka, membuatku merasa ingin menjadi bagian dari mereka karena merasa terkucilkan.
1. Mahendra Duta S. (Duta)
2. Alfonsus Andaru (Alfon)
3. Anggar Indra Jaya (Kak Anggar)
4. Ratri Ayuni D (Ratri)
5. Cahyo Hening W. R. (Cahyo)
6. Dian Ayu Maharani (Ayu)
7. Giri Nugraha (Giri)
8. Merlangen Harismina (Merla)
9. Ahmad Hasfi A. (Hasfi)
10. Husnul F. Wulandari (Wulan)
11. Irfan Asyam (Irfan)
12. Luthfia Cahyaningrum (Fia)
13. Radita Puspita (Dita)
14, Rama Yogiswara (Rama)
15. Layung Sekar (layung)
16. SInta Dewi (Sinta)
17. Zaroh Lailatl C. (Zaroh)
18. Zhaqia El- Faraby (Qia)
19. Shelly P (ShelLy)
dan aku ke 20. Arda Hakim M (Arda)
kami berduapuluh adalah perwakilan dari Jogja untuk ke Manado, sebuah pengalaman baru untuk kami selama kurang lebih dua minggu disana, dan akan menginap di rumah orang tua asuh kami. Dan menikmati serta membuat laporan selama disana. Namun toh kami malah hanya menikmati perjalanan disana, menikmati indahnya alam Manado dan kekayaan laut serta danau di pesisir Timur Indonesia.
Duta adalah pemimpin kontingen kami, dia lah yang menyatukan kami, menghubungi kami via chat facebook mencari nama kami satu persatu dan mengumpulkan kami dalam grup fb, sosok pemimpin yang menengahi kami semua disitu. Dia juga satu2nya perwakilan yang paling jago menari tradisional, melatih kami untuk menari tradisional, walau endingnya aku tidak ikut tampil dan lebih fokus untuk merekam mereka saja. Ratri adalah wanita yang menjadi partner Duta untuk menampilkan tarian di Manado, Fia adalah seorang penari break dance, yang mengajarkan kami menari break dance yang dikombinasikan oleh tarian tradisional, dengan iringan lagu jogja undercover, kami menari tradisional hingga modern dance.
Aku adalah sang pembual dan membuat mereka mengucilkanku, yang membuatku merasa kecil dihadapan mereka, bahkan aku seperti tidak dianggap disana, tapi ya karena itu adalah salahku, maka kau tidak bisa membalas mereka. Cukup banyak drama terjadi disana, antara aku yang jarang ikut rapat mereka karena terbatas akses kendaraan, dan aku sempat mengalami kecelakaan saat pulang rapat dengan mereka.
Malam itu aku pulang dari rapat dengan mereka, aku mencatat semua kebutuhan yang diperlukan, hari itu adalah H- 5 hari kami berangkat ke Manado, Entah ada angin apa aku saat itu pulang lewat jl Pakem - Pulowatu, jalan yang gelap, dan aku memacu kendaraanku cukup cepat , 50 Km/jam, Sieg berlari kencang saat ku kendarai, dan membuatku ingin terus memacu cepat, ketika memasuki jalan Pakem - Turi, aku melewati sebuah lapangan yang saat itu sedang ada acara pasar malem, terang dan menarik, aku yang lewat kemudian sedikit memacu cepat kendaraanku karena merinding tiba- tiba. Hingga saat sampai di sebuah tikungn aku melihat jalan itu benar- benar lurus. dan aku menabrak sesuatu, yang membuatku jatuh dari motor, kepala kuberada tepat di tengah jalan, dan kakiku terjepit rantai motor, yang membuat darah mengucur. Aku berteriak2 meminta tolong dan yang kulihat tiba2 saat itu adalah seonggok pocong besar, berdiri di tepi jalan, terlihat bekas ban di kain kafannya, pocong ini menggeram, meloncat ke jalan dan menghilang dalam gelap malam.
Lima menit baru aku menjumpai ada orang yang menolongku saat aku mulai kehabisan darah dan lemah. Motorku kemudian diangkut oleh mereka dan dibawa menuju bengkel, untuk di perbaiki, danb terpaksa membangunkan pemilik bengkel. Parahya lagi ketika aku bagun kulihat bekas darahku hilang, benar2 hilang dan saat itu kepalaku tidak berdarah, tapi aku melihat ada bekas darah di tengah jalan, tempat kepalaku tadi, kulihat si Pocong mulutnya berdarah2, bukan karena bekas kutabrak tapi karena seperti habis meminum sesuatu, aku yakin satu hal, dialah yang meminum darahku. Hingga satu hal yang kuketahui, disana pernah ada pesugihan, dan jinnya di lepas, dikarenakan jin pesugihan kebanyakan meminum darah, maka si Pocong ini meminum darah orang lewat, dengan membuatnya celaka. Sejak aku mengetahui hal itu, si Pocong tidak pernah menampakkan dirinya padaku, dan membuatku juga lebih berhati2 melewati jalan sepi dan berdoa lebih. Hal ini yang mmebuatku beberapa kali tidak bisa hadir rapat dan membaut mereka semakin menjauh. Tapi gangguan si Pocong ini bukanlah satu- satunya gangguan, karena aku harus mengalami hal yang lebih mengerikan saat aku menuju Manado, dan pengalaman di Manado.
Aku seorang siswa SMA biasa, yang dikaruniai bakat indigo, atau sebagian besar dari kami menyebut itu kutukan, dan membuat hidup kami tidak tenang, membuatku harus bisa melihat mereka yang hidup dalam gelap, mulai dari yang berbentuk bagus, biasa hingga mereka yang berbentuk hancur, jelek dan membuatku mual dan jijik. Tapi yang kita tidak tahu, dibalik bentuk yang mereka ambil, ada beberapa cerita yang tersembunyi, cerita yang membuat kita harus bergidik ngeri membayangkannya, ada cerita dari mereka yang membuat kita harus yakin bahwasanya menjadi manusia, bukan hnay kita satu- satunya makhluk di dunia ini, membuat kita sadar, betapa perlunya kita menghargai mereka yang astral.
Sekolahku adalah satu contoh dimana mereka banyak berkeliaran, mereka banyak berkumpul dan menjadi satu dalam sebuah zona besar, saling berhubungan satu sama lain, dan memiliki cerita masing- masing. Berapa banyak dari kalian yang sadar mereka ada? dan berapa besar dari mereka yang kalian tahu? mungkin tidak banyak, tapi bukan berarti kalian harus takut dengan mereka, selama mereka tidak mengancam kita, tidak ada hak bagi kita, untuk mencelakakan mereka, membuat mereka sengasara atau mengusir mereka. Bahkan yang negatif sekalipun tidak selamanya mengganggu, tidak selamanya menjahati kalian, bahkan mungkin yang positif pun bisa mencelakakan kalian, tanpa kalian tahu apa- apa.
Perjalanan ke Manado membuka lebih jauh pengalamanku secara psikis maupun fisik. Aku berkenalan dengan sekitar 38 anak lain, kami dibagi menjadi 2 kontingen, 20 anak menuju Manado, dan 20 Anak menuju Gorontalo. setiap sekolah rata2 memiliki 2 perwakilan siswa, Aku dan Amanda berhasil lolos mewakili sekolah untuk ditukar disana, entah aku ditukar apa, siapa atu mereka melepaskanku hanya demi seikat cakalang kering Manado, entahlah. Aku ke Manado, dan Amanda ke Gorontalo, Amanda memang dari semula berasal dari keluarga mampu, jadi tidak susah untuknya membawa uang bekal, bahkan mungkin tidak begitu berharap dari sekolah. Saat itu aku meminta sekolah memberikan kami dana perwakilan sekolah, dan mendapat seorang 500rb, dan Dikpora memberi kami 420rb sebagai uang bekal.
Dua puluh anak yang ke Manado menjadi temanku selama kesana, dan sampai sekarang kami masih coba saling berkontak, siapa tau ingin reuni, dengan kesuksesan masing2, ada yang sudah sukses sebagai guide wisata, mengembangkan wisata jogja, ada yang memilih menjadi musisi, seniman dan youtuber, ada yang menjadi karyawan, ada yang sukses meniti karir hingga keluar negri dan lain2, kami yang sekarang telah dewasa dan memilih jalan masing2, membuatku mengingat betapa pembualnya aku, seorang pembohong yang merasakan butuh dianggap oleh mereka, membuatku merasa ingin menjadi bagian dari mereka karena merasa terkucilkan.
1. Mahendra Duta S. (Duta)
2. Alfonsus Andaru (Alfon)
3. Anggar Indra Jaya (Kak Anggar)
4. Ratri Ayuni D (Ratri)
5. Cahyo Hening W. R. (Cahyo)
6. Dian Ayu Maharani (Ayu)
7. Giri Nugraha (Giri)
8. Merlangen Harismina (Merla)
9. Ahmad Hasfi A. (Hasfi)
10. Husnul F. Wulandari (Wulan)
11. Irfan Asyam (Irfan)
12. Luthfia Cahyaningrum (Fia)
13. Radita Puspita (Dita)
14, Rama Yogiswara (Rama)
15. Layung Sekar (layung)
16. SInta Dewi (Sinta)
17. Zaroh Lailatl C. (Zaroh)
18. Zhaqia El- Faraby (Qia)
19. Shelly P (ShelLy)
dan aku ke 20. Arda Hakim M (Arda)
kami berduapuluh adalah perwakilan dari Jogja untuk ke Manado, sebuah pengalaman baru untuk kami selama kurang lebih dua minggu disana, dan akan menginap di rumah orang tua asuh kami. Dan menikmati serta membuat laporan selama disana. Namun toh kami malah hanya menikmati perjalanan disana, menikmati indahnya alam Manado dan kekayaan laut serta danau di pesisir Timur Indonesia.
Duta adalah pemimpin kontingen kami, dia lah yang menyatukan kami, menghubungi kami via chat facebook mencari nama kami satu persatu dan mengumpulkan kami dalam grup fb, sosok pemimpin yang menengahi kami semua disitu. Dia juga satu2nya perwakilan yang paling jago menari tradisional, melatih kami untuk menari tradisional, walau endingnya aku tidak ikut tampil dan lebih fokus untuk merekam mereka saja. Ratri adalah wanita yang menjadi partner Duta untuk menampilkan tarian di Manado, Fia adalah seorang penari break dance, yang mengajarkan kami menari break dance yang dikombinasikan oleh tarian tradisional, dengan iringan lagu jogja undercover, kami menari tradisional hingga modern dance.
Aku adalah sang pembual dan membuat mereka mengucilkanku, yang membuatku merasa kecil dihadapan mereka, bahkan aku seperti tidak dianggap disana, tapi ya karena itu adalah salahku, maka kau tidak bisa membalas mereka. Cukup banyak drama terjadi disana, antara aku yang jarang ikut rapat mereka karena terbatas akses kendaraan, dan aku sempat mengalami kecelakaan saat pulang rapat dengan mereka.
Malam itu aku pulang dari rapat dengan mereka, aku mencatat semua kebutuhan yang diperlukan, hari itu adalah H- 5 hari kami berangkat ke Manado, Entah ada angin apa aku saat itu pulang lewat jl Pakem - Pulowatu, jalan yang gelap, dan aku memacu kendaraanku cukup cepat , 50 Km/jam, Sieg berlari kencang saat ku kendarai, dan membuatku ingin terus memacu cepat, ketika memasuki jalan Pakem - Turi, aku melewati sebuah lapangan yang saat itu sedang ada acara pasar malem, terang dan menarik, aku yang lewat kemudian sedikit memacu cepat kendaraanku karena merinding tiba- tiba. Hingga saat sampai di sebuah tikungn aku melihat jalan itu benar- benar lurus. dan aku menabrak sesuatu, yang membuatku jatuh dari motor, kepala kuberada tepat di tengah jalan, dan kakiku terjepit rantai motor, yang membuat darah mengucur. Aku berteriak2 meminta tolong dan yang kulihat tiba2 saat itu adalah seonggok pocong besar, berdiri di tepi jalan, terlihat bekas ban di kain kafannya, pocong ini menggeram, meloncat ke jalan dan menghilang dalam gelap malam.
Lima menit baru aku menjumpai ada orang yang menolongku saat aku mulai kehabisan darah dan lemah. Motorku kemudian diangkut oleh mereka dan dibawa menuju bengkel, untuk di perbaiki, danb terpaksa membangunkan pemilik bengkel. Parahya lagi ketika aku bagun kulihat bekas darahku hilang, benar2 hilang dan saat itu kepalaku tidak berdarah, tapi aku melihat ada bekas darah di tengah jalan, tempat kepalaku tadi, kulihat si Pocong mulutnya berdarah2, bukan karena bekas kutabrak tapi karena seperti habis meminum sesuatu, aku yakin satu hal, dialah yang meminum darahku. Hingga satu hal yang kuketahui, disana pernah ada pesugihan, dan jinnya di lepas, dikarenakan jin pesugihan kebanyakan meminum darah, maka si Pocong ini meminum darah orang lewat, dengan membuatnya celaka. Sejak aku mengetahui hal itu, si Pocong tidak pernah menampakkan dirinya padaku, dan membuatku juga lebih berhati2 melewati jalan sepi dan berdoa lebih. Hal ini yang mmebuatku beberapa kali tidak bisa hadir rapat dan membaut mereka semakin menjauh. Tapi gangguan si Pocong ini bukanlah satu- satunya gangguan, karena aku harus mengalami hal yang lebih mengerikan saat aku menuju Manado, dan pengalaman di Manado.
kemintil98 dan 5 lainnya memberi reputasi
4