Kaskus

Story

irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah emoticon-heart

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor. emoticon-EEK!
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.

Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS emoticon-Malu
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang emoticon-Ngakak (S)

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka emoticon-Embarrassment

Selamat membaca emoticon-Blue Guy Peace

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
rinnopiantAvatar border
indrag057Avatar border
Karimake.akunaAvatar border
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.4K
264
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread3Anggota
Tampilkan semua post
irazz1234Avatar border
TS
irazz1234
#67
Chapter 10



Berbicara kepada Diane tentang hampir semua yang telah terjadi sedikit melegakan Alyssa, dirinya juga tidak menyukai untuk menyimpan semua rahasia ini sendiri sejak awal. Tapi bukan berarti ia menceritakan semuanya kepada Diane, karena info tentang monster yang ada dan hidup diluar sana bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan kepadanya untuk saat ini. Diane masih terlalu muda untuk mengetahui bahwa mayat hidup itu nyata, dan bukan hanya dongeng horor. Jadi Alyssa mengulur sedikit waktu sebelum mencampur-adukkan vampire, manusia serigala, dan para penyihir kedalam cerita yang sebenarnya.

Dunia saat ini sedang dalam keadaan yang sangat berbahaya, adiknya tidak perlu mengetahui semuanya hingga keadaan benar-benar menjadi aman. Adiknya juga mendapat gambaran bahwa Gabriel bukanlah seorang vampire ketika Alyssa bercerita. Biarlah itu menjadi keputusan Gabriel akan menceritakan kepada adiknya kebenaran tentang dirinya atau tidak. Alyssa memutuskan untuk membicarakannya lagi nanti dengan Gabriel pada saat mereka bertemu lagi nanti. Akan lebih mudah bagi Alyssa untuk menyimpan rahasia pribadinya tanpa membingungkan Diane dan mengolok-olok dirinya sendiri.

Bagi seseorang yang telah beranjak remaja, Diane tampaknya sudah mampu menyerap semua informasi yang Alyssa berikan tentang keadaan kota-kota besar di luar sana dengan sangat baik, dan hal itu sangat menggembirakan bagi Alyssa. Dirinya telah menganggap remeh adiknya, tapi mengingat sudah sekian lama mereka tumbuh bersama semenjak mayat hidup itu menjajah bumi, hal yang seperti itu sudah seharusnya Alyssa ketahui.

Selama seminggu itu Alyssa tidak mendengar apapun dari Major, dan sepertinya Major menepati kata-katanya. Major tidak memberikannya daftar barang yang baru hingga telah lewat dua minggu. Soal barang-barang yang Alyssa bawa pun Major tidak bertanya lagi tentang bagaimana cara ia mendapatkannya. Sebenarnya Major memiliki hak.untuk bertanya kepada Alyssa apakah barang-barang yang ia bawa akan memicu keributan dengan kota atau kelompok manusia lainnya.

Hal yang paling ditakutkan adalah konflik bersenjata yang dapat membahayakan penduduk kota, dan membuat perjanjian dengan Gabriel lebih menguntungkan Alyssa. Karena mereka tidak mencuri barang-barang tersebut, dan menurunkan resiko terjadinya masalah di kotanya.

Keadaan menjadi cukup tenang antara Major dengan dirinya, dan Alyssa ingin menjaganya tetap seperti itu. Meskipun masih diliputi rasa tidak percaya dan curiga atas tugas pertamanya, Alyssa masih dapat bekerja untuknya tapi tidak akan pernah percaya padanya.

Sesuatu tengah terjadi di pusat kota, dan Alyssa memutuskan untuk pergi memeriksa keadaan disana, Diane pun sedang berada di sekolah, jadi ia bebas untuk pergi. Ada beberapa truk yang datang dan orang-orang datang berkerumun karena penasaran, sama seperti dirinya. Saat sedang berjalan ke pusat kota, ia menepuk pundak seseorang yang juga sedang mengarah kesana.

"Apa yang sedang terjadi?" Alyssa bertanya.

"Ada barang persediaan yang datang dari kota lain!" Jawab orang itu. "Sepertinya Major telah berhasil melakukan perjanjian dagang dengan pemimpin kota itu."

"Cukup menarik." Jawab Alyssa sambil berjalan.

Alyssa lalu menjaga jarak dengan orang tersebut, tidak terlalu dekat, karena ia ingin mengetahui darimana truk-truk itu datang terlebih dahulu. Setelah berdiri beberapa menit, Major lalu naik ke atas kursi untuk menyambut orang-orang yang datang.

"Orang-orang ini datang dari kota yag lain." Ucap Major menjelaskan. "Mereka datang untuk melakukan pertukaran, karena kita memiliki apa yang mereka sulit untuk dapatkan, yaitu sayuran dan buah segar. Segala jerih payah kita bercocok tanam selama ini akan terbayarkan. Pertukaran ini akan membuat kita tidak perlu lagi mengirimkan orang-orang kita keluar sana untuk mencari makanan. Menurut temanku ini, ada kota-kota lain diluar sana yang mau melakukan pertukaran barang dengan kita. Ini adalah awal dari hidup yang baru."

Orang-orang yang menyaksikan seketika bersorak gembira, senang karena mereka akan terbebas dari kekurangan makanan yang telah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Secercah kecil harapan lebih baik daripada tidak sama sekali, dan menjalin hubungan dagang dengan kota lain merupakan berita yang cukup menggembirakan.

Alyssa juga senang mendengar berita tersebut, karena berarti dirinya tidak akan lagi dibutuhkan untuk mencari persediaan. Artinya dia tidak harus sering pergi dan menuntut terlalu banyak dari Gabriel, dan juga akan ada lebih sedikit pertanyaan yang akan diajukan, jadi rahasia miliknya akan tetap aman terjaga. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Alyssa.

Ketika orang-orang sudah bersiap untuk bubar, Alyssa menatap seseorang yang juga sedang menatapnya. Seorang anak lelaki yang sedang berdiri bersama orang-orang yang datang dari kota lain. Hanya butuh beberapa detik baginya untuk mengenali anak lelaki itu. Tapi sebelum ia sempat berbalik untuk pergi dari tempat itu, anak lelaki itu juga mengenalinya. Dia adalah anak lelaki yang waktu itu ditemui Alyssa bersama Gabriel di New Lycan dimana insiden kecil itu terjadi. Orang-orang yang datang ini bukanlah berasal dari kota lain yang normal seperti miliknya. Mereka berasal dari New Lycan. Mereka adalah manusia serigala.

"Papa!" Teriak anak lelaki itu sambil menunjuk kearah Alyssa. "Itu wanita yang dari mall!"

Semua orang yang sedang berbicara tiba-tiba terdiam dan melihat kearah yang ditunjuk anak lelaki itu. Alyssa merasa yakin bahwa dirinya sedang dalam bahaya dan mencoba untuk menjauh dari tempat itu. Tapi semuanya telah terlambat karena ayah lelaki itu juga mengenalinya.

"Tangkap gadis itu!" Pria itu berteriak. Dalam sekejap Alyssa sudah berada dalam cengkraman dua pria besar, dan ia diseret menuju kearah truk. Major pun mendekat mencoba untuk menetralkan keadaan.

"Apa maksud semua ini!" Major menuntut jawaban.

"Kau yang harusnya cerita kepadaku." Pria itu menjawab pertanyaan Major dengan nada marah. "Apa yang gadis ini lakukan disini?"

"Gadis ini adalah Alyssa." Jawab Major. "Dia telah tinggal disini seumur hidupnya. Ayahnya adalah salah satu pendiri kota ini."

"Aku mengenalnya." Jawab ayah anak itu. "Aku pernah melihat dia sebelumnya."

"Dia adalah salah satu dari pencari makanan kami." Ujar Major mencoba menjelaskan. "Dia juga melakukan perjalanan keluar dari kota untuk mencari bahan makanan dan persediaan."

"Apa kamu mau bilang dimana kamu pernah bertemu denganku?" Alyssa mencoba untuk menantangnya. "Atau kalian lebih ingin aku bilang kepada Major dari mana tepatnya kalian berasal?"

Major lalu menoleh kearah Alyssa, sambil terlihat bingung. "Apa yang kamu bicarakan Alyssa?"

"Aku pernah berkunjung ke kotanya." Jawab Alyssa. Merasa yakin bahwa serigala-serigala itu tidak jujur atas darimana barang-barang yang akan mereka tukarkan berasal. "Pria ini mungkin terlalu merendah tentang darimana dia berasal, karena kota darimana mereka berasal merupakan sebuah kota yang sangat besar sekali."

"Kota besar?" Major bertanya. "Apa maksud semua ini Frank?"

Frank terlihat agak sedikit grogi. "Bawa gadis itu kedalam!"

Major masih sangat kebingungan, tapi dia tidak ingin orang lain mendengar percakapan ini. Frank dan beberapa temannya menggiring Alyssa dari balai kota menuju kantor milik Major.

"Mulailah berbicara." Major melihat kearah Alyssa. "Dimana kamu pernah bertemu dengan orang-orang ini?"

"Aku bertemu dengan mereka ketika sedang mencari bahan persediaan." Alyssa menjawab.

"Dia sedang berada di kota kami!" Frank meyakinkan.

"Jadi benar ada kota yang lain." Major berkata, sambil mengumpulkan informasi dari percakapan ini sebanyak yang ia bisa.

"Ya, memang ada." Alyssa menjawab. "Aku sudah bilang kepadamu kalau aku mendapatkan barang-barang itu dari tempat yang tidak akan memberikan kita masalah."

"Kamu sedang membuat masalah saat ini, Alyssa." Major mengingatkannya. "Kota apa yang sedang kita bicarakan sekarang?"

"St. Louis." Alyssa menjawab, sadar bahwa menggunakan nama kota yang lama itu akan memicu kemarahan mereka.

Frank seketika berdiri, tangannya mengepal penuh emosi. "Nama itu sudah tidak disebut lagi!"

"Aku tahu." Jawab Alyssa sambil tersenyum.

"Gadis ini tahu terlalu banyak." Ujar Frank sambil melihat kearah Major. "Aku tidak suka dia berada disini."

"Tapi kita punya perjanjian." Ucap Major, terkejut karena transaksi ini akan terancam gagal.

Tanpa peringatan, Frank berdiri lalu mencekik leher Alyssa dan memojokannya ke dinding. Frank bergerak sangat cepat hingga membuat tak seorangpun mampu mencegahnya. "Mungkin kita harus melenyapkan gadis ini dari perjanjian kita."

"Woah, nanti dulu!" Teriak Major, terlonjak berdiri dari kursinya. "Itu bukanlah sebuah pilihan!" Teriaknya.

"Kenapa tidak?" Frank bertanya, nadanya terdengar serius ingin membunuh Alyssa saat itu juga.

"Karena temanku tidak akan senang mendengarnya." Balas Alyssa. "Aku yakin jika sesuatu terjadi padaku, kaulah yang akan dicarinya pertama kali."

Mata Frank terbuka lebar saat Alyssa mengingatkan dirinya akan seseorang yang dia temui di mall pada waktu itu. Seorang pria yang datang membela gadis itu, Sang Vampire. Frank ingat bagaimana petugas kepolisian menunduk dengan hormat dan segan kepada pria itu. Ia lalu melepaskan cengkraman tangannya dari leher Alyssa dan melangkah mundur.

"Teman apa?" Major bertanya, sadar bahwa Alyssa menyembunyikan sesuatu dari dirinya.

"Beri kami waktu sebentar." Frank.berkata kepada Major. "Aku harus berbicara kepada gadis ini berdua saja."

"Tapi kamu baru saja mencekik lehernya!" Major mengingatkan Frank, merasa.khawatir akan keselamatan Alyssa. Dia merasa akan kehilangan seorang pencari makanan yang handal daripada kehilangan seorang warganya. "Aku tidak akan pergi dari sini!"

"Tidak akan terjadi apa-apa." Kata Alyssa kepada Major. "Frank tidak akan pernah mencobanya lagi, benar begitu Frank?"

Major memberikan tatapan kepada Alyssa bahwa mereka akan berbicara lagi nanti, yang membuat Alyssa yakin pembicaraan nanti tidak akan menyenangkan. Tapi Frank juga memiliki banyak rahasia seperti dirinya, jadi Alyssa yakin mereka bisa membicarakan hal tersebut.

"Untuk apa kamu bekerja untuk seorang vampire?" Tanya Frank kepadanya segera setelah semua orang pergi dan pintu tertutup dengan rapat.

"Dia temanku." Alyssa menjawab.

"Mereka tidak punya teman!" Teriak Frank marah.

"Kami memiliki perjanjian." Balas Alyssa. "Jadi menyakitiku sama saja membuat perjanjian batal dan dia akan menjadi sangat marah."

"Aku mengerti sekarang." Ujar Frank paham apa yang Alyssa maksud. "Kamu.memberi makan dia, benar kan?"

"Dia yang memberi makan aku." Ucap Alyssa menambahkan. "Itu adalah penawaran yang adil."

"Major tidak.mengetahui tentang temanmu itu, bukan?" Frank bertanya.

"Aku juga yakin kalau Major tidak mengetahui keberadaan New Lycan, benar kan?" Jawab Alyssa. Menyebut nama kota Frank akan membuat Alyssa terlihat seperti ia mengetahui segalanya. "Kamu simpan rahasiaku, dan aku juga akan lakukan hal yang sama."


"Atas dasar apa aku harus percaya kata-kata darimu?" Frank bertanya, memikirkan tawaran yang Alyssa berikan.

"Perjanjian dengan kotaku ini sangat penting." Alyssa mencoba menjelaskan. "Aku tidak mau pergi keluar sana lagi untuk mencari makanan. Perjanjian yang kalian lakukan dengan kota kami akan menjauhkan kami dari bahaya, dan itu sangat penting buatku."

"Baiklah." Angguk Frank setuju.

Sesaat berikutnya, Frank membuka pintu dan memanggil semua orang untuk kembali masuk kedalam. Setelah Major masuk, dia terlihat senang karena semua orang baik-baik saja dan sudah terlihat tenang.

"Aku meminta maaf atas sikapku dan apa yang telah kuperbuat." Frank berkata kepada Major. "Wargamu memiliki hak untuk mencari makan dan bertahan hidup, dan aku memuji gadis ini karena telah memanfaatkan keadaan dengan sebaik-baiknya. Aku telah berbuat salah, dan aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi."

"Bagaimana dengan perjanjian kita?" Major bertanya dengan cemas.

"Tetap akan berjalan sebagaimana mestinya." Alyssa menambahkan. "Kita baik-baik saja."

"Benar sekali." Ucap Frank memperjelas. "Ini hanya sebuah kesalahpahaman kecil."

"Senang sekali mendengarnya." Ucap Major sambil bersandar di kursinya.

"Kami.harus pergi sekarang." Frank lalu berkata. "Ada jadwal yang harus kami ikuti, dan kami tidak suka berada dijalan ketika hari sudah gelap bersama zombie-zombie itu."

"Aku mengerti." Ucap Major sambil menjabat tangan Frank. "Perjanjian ini akan sangat berarti bagi kami semua."

"Gadis ini juga menjatakan hal yang sama denganmu." Jawab Frank. "Dia sangat setia kepadamu, dan aku sangat menghargai itu."

Alyssa hanya menyaksikan dan.tidak berkata apapun saat orang-orang dari New Lycan menurunkan muatan dan lalu menaikkan barang-dari kotanya yang telah mereka sepakati sebelumnya. Buah dan sayuran segar amat sulit didapatkan di kota besar. Alyssa yakin bahwa kaum Lycan melakukan transaksi dengan kota lain dengan memanfaatkan kekayaan yang mereka miliki. Hal ini akan membuat mall yang mereka miliki tetap mwnyediakan bahan makanan yang segar dan membuat kota New Lycan akan tetap mendapatkan uang. Setelah truk-truk itu pergi meninggalkan gerbang, Major berkata kepada Alyssa tanpa sedikitpun menoleh padanya.

"Kita akan punya obrolan yang panjang soal ini." Kata Major.

"Kamu yakin?" Alyssa bertanya. "Kupikir kamu takkan pernah menanyakan darimana semua barang-barang itu berasal."

"Kamu mengetahui apa yang terjadi diluar sana lebih dari diriku." Kata Major. "Akupun tak yakin akan senang mendengarnya. Kantorku. Sekarang."

Alyssa sempat ingin menolaknya, namun ia berpikir hal yang lain. Mereka berdua berjalan menuju kantor, setelah berada didalam, Major menuangkan dua gelas Tennessee Whiskey lalu duduk di kursi.

"Aku tidak marah kepadamu." Major memperjelas ucapannya. "Aku justru senang karena kamu telah menyelamatkan perjanjian dengan orang dari kota St. Louis, tunggu dulu, apa nama kota itu sekarang?"

"Aku tidak bisa bilang padamu." Jawab Alyssa, lalu duduk di kursi didepan Major. "Aku telah berjanji kepada Frank untuk tidak mengatakannya. Jadi kita sebut saja kota itu St. Louis untuk saat ini."

"Baiklah kalau begitu." Ucap Major, sambil minum dari gelasnya. "Lagipula kita punya sesuatu untuk dibicarakan."

"Misalnya?" Tanya Alyssa.

Major terdiam sejenak, lalu berkata, "Siapa teman yang kamu bilang ini? Teman yang kamu bilang kepada Frank akan datang mencarinya jika ia mencoba untuk menyakitimu?"
Diubah oleh irazz1234 04-03-2018 21:24
kudo.vicious
kudo.vicious memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.