Kaskus

Story

akridaus277Avatar border
TS
akridaus277
Alonim
Spoiler for Cover:




Quote:


Daftar isi :
Part 1 - Frontline Syndrome
Part 2.1 - Rabu Malam, Malam Game Online
Part 2.2 - Traktiran
Part 2.3 - Untuk Thor
Part 2.4 - Restoran Pizza
Part 2.5 - Wild Tanngrisnir
Part 3.1 - Tentangku
Part 3.2 - "Rekan Satu Tim"
Part 3.3 - Gadis yang Hilang
Part 3.4 - Tukang Pos
Part 3.5 - 405 atau 406
Part 4.1 - Merasa Unik

Spoiler for Credit:
Diubah oleh akridaus277 04-03-2018 14:01
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.4K
32
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
akridaus277Avatar border
TS
akridaus277
#32
Part 4.1 - Merasa Unik
Acara televisi di pagi hari selain hari Minggu memang membosankan. Game-game offline di laptopku sudah kutamatkan semua. Sedangkan bermain game online tanpe teman-temanku rasanya kurang seru. Ditambah lagi cuaca di luar hujan deras membuat kejenuhanku semakin memuncak saja. Apakah ini efek dari hari Senin? Orang-orang bilang hari Senin adalah hari yang mengerikan, entah ada sebuah kutukan atau apa yang bisa membuat mereka bilang begitu. Tapi bagiku hari Senin yang sekarang lebih baik daripada hari Senin yang lainnya karena hari ini aku tidak perlu menghabiskan energiku pergi dan belajar di sekolah dan bagian yang terbaiknya adalah aku tidak perlu khawatir akan tugas sekolah untuk esok hari karena besok hari Selasa juga adalah hari libur. Aku hampir tidak ingat kapan terakhir kali aku sebebas ini. Sebenarnya aku bingung sekarang, aku senang karena aku bebas dari urusan sekolah di sisi lain aku jenuh sejenuh-jenuhnya di rumah.

“Kak, coba tebak kali ini Ayu melukis apa? Aku jamin kali ini kakak juga tidak bisa menebaknya,” tanya Adikku menghampiriku sambil membawa lukisannya tanpa memperlihatkannya padaku.

“Lalat yang sedang mencuci tangan?” jawabku.

“Iiihh... Yang benar dong, Kak. Jangan asal tebak, nanti salah lagi loh,” balas adikku kesal.

“Kamu kan sering melukis hal-hal yang aneh, minggu lalu saja kamu melukis kuda yang sedang unjuk gigi,” balasku.

“Lukisan Ayu itu unik bukan aneh!” balas Ayu membela dirinya.

“Ya ya terserah kamu aja, Dek,” ucapku.

“Sekarang tebak yang serius,” ucap adikku.

“Lalat yang sedang mencuci tangan bersama ibunya sebelum memakan nasi goreng,” jawabku.

Setelah mendengar jawaban dariku dia langsung membalikkan lukisannya yang sebelumnya menghadap dirinya sekarang menjadi menghadap ke arahku. Ia membukanya dengan ekspresi wajah yang cemberut.

“Holy... !!! Dewi fortuna kali ini memihakku!” aku terkejut.

Pertama aku terkejut karena tebakanku bukan hanya tepat sebagian tapi tepat sempurna. Lukisannya persis seperti jawabanku. Dua ekor lalat, dengan salah satu lalat lebih kecil ukurannya dibanding lalat yang satu lagi, sedang berpose menggosok tangan mereka dihadapan sebuah hidangan nasi goreng.

Adikku ini memiliki keahlian yang tidak kumiliki, yaitu seni. Jika ada peribahasa yang menggambarkan perbandingan aku dengan adikku di bidang seni, maka “Bagai katak merindukan bulan” adalah yang paling tepat. Dia sangat senang apabila lukisannya tidak bisa kutebak karena itu akan membuat lukisannya terkesan unik. Namun sebaliknya, apabila lukisannya berhasil kutebak maka ia merasa lukisannya itu mainstream dan merasa sia-sia melukis lukisan itu.

Sejujurnya aku senang karena baru pertama kalinya aku bisa menebak dengan tepat lukisan adikku, tapi di sisi lain aku juga merasa jahat karena membuat adikku murung. Belum saja satu kebingungan selesai sekarang sudah ditambah satu kebingungan yang lain.

“Hahaha, karena kakak berhasil menebak, bagaimana kalau nanti malam kita duel melukis, Dek?” ujarku menantangnya.

“YA! Kali ini kakak pasti kalah!” ia menerima dengan semangat balas dendam.

“Sudah pasti kakak kalah, Dek. Kakak kan sedang menggali kuburan sendiri supaya kamu tidak murung lagi,” ucapku dalam hati.

“Temanya Ayu yang tentukan!” pintanya.

“Tema apapun kakak juga pasti akan kalah, Dek,” ucapku dalam hati.

Biarlah aku mengalah daripada adikku murung karena aku, apalagi jika ia sampai mengadu ke ibuku pasti urusannya akan panjang.
Satu kebingungan telah teratasi. Kini tinggal satu kebingunan lagi yang tersisa, yaitu kebingungan antara kesenangan terbebas dari urusan sekolah dan kejenuhan di rumah yang sudah memuncak. Apa aku harus bermain ke rumah Rico seperti biasa saat jenuh di hari libur ataukah aku harus melakukan aktivitas lain? Kalu melakukan aktivitas lain aku tidak tahu aktivitas apa yang harus kulakukan karena aku terlalu jenuh untuk memikirkannya. Tapi jika aku bermain ke rumah Rico ketika sedang jenuh, teman-temanku yang lain juga, seperti Reza, Rian, dan Diki, akan melakukan hal yang sama dan itu membuatku sedikit kesal. Mungkin aku sedikit mengerti bagaimana yang adikku rasakan ketika tidak menjadi unik.

Sudah beberapa kali aku, Reza, Rian, dan Diki selalu berpapasan bermain ke rumah Rico. Walaupun masing-masing dari kami berbeda komplek perumahan namun jarak rumah kami tidak begitu jauh, dengan jalan kaki pun kami bisa pergi ke rumah yang lain dalam waktu lima belas sampai dua puluh menit. Letak komplek perumahan kami seperti sebuah segi empat dengan masing-masing sudutnya adalah letak rumah Rian, Reza, Diki, dan aku. Sedangkan rumah Rico berada di titik tengah segi empat itu.

Kupikir sekeras apapun tetap saja tidak ada kegiatan yang terbesit di benakku yang bisa menghilangkan kejenuhanku. Mau bagaimana lagi, kurasa tidak ada jalan lain. Aku putuskan untuk pergi ke rumah Rico. Aku mengambil payung dan berpamitan dengan ibuku yang sedang memasak dan adikku yang sedang mencari tema pembalasan dendamnya. Hujan di luar masih deras namun lebih reda daripada sebelumnya sehingga payung kecil pun sudah cukup untuk tempat berteduh selama perjalanan dari rumahku menuju rumah Rico.

“Thor, siapa sebenarnya dia?” aku larut dalam pikiranku sendiri sembari berjalan menatap kakiku yang menghantam genangan air setiap langkahnya.

“Karena targetku yang sebelumnya salah, sekarang domain permasalahannya menjadi luas kembali,”

“Itu berarti aku harus memulai dari awal lagi,”

“Sekarang pertanyaannya adalah, aku harus memulai dari mana?”

Tanpa terasa aku sudah tinggal beberapa meter lagi menuju rumah Rico. Aku melihat ada seseorang yang sedang berdiri di depan pagar rumah Rico. Seseorang yang kukenal dan seumuran denganku sedang berdiri dengan salah satu tangannya memegang payung sedangkan tangan lainnya mengepal kuat. Semakin aku mendekatinya semakin aku mengenal postur tubuhnya, dia adalah Reza.

Dugaanku benar, bukan hanya aku saja yang berencana pergi ke rumah Rico tapi juga teman-temanku yang lain. Sesampainya aku di depan pagar rumah Rico aku berdiri di samping kanan Reza dan tidak berkata apapun. Keheningan itu tidak berlangsung lama karena beberapa detik kemudian terdengar suara cipratan air dari arah kiri akibat langkah seseorang. Suara itu ditimbulkan oleh langkah milik Diki. Belum saja Diki sampai di samping Reza, kini muncul seseorang dari perempatan sejauh tujuh meter di sebelah kananku, dia adalah Rian.
Kini kami berempat berdiri di depan pagar rumah Rico di atas genangan air di bawah payung dan di samping teman-teman kami yang saling meniru satu sama lain. Aku tidak tahan lagi dengan kebetulan yang terlalu sering ini.

“Mengapa kalian selalu saja mengikutiku?!?!” kami berempat berteriak kesal bersama-sama.

“Kreekk...” suara pagar dibuka.

“Mengapa kalian selalu datang ke rumahku setiap kali kalian bosan di rumah kalian ?!?!” teriak Rico seusai membukakan pagar.


0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.