Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
adriantzAvatar border
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#3668
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...

Mengingat sosok lawan berkata bahwa ia tidak akan main-main dalam serangan kali ini, gw meminta Kitab Langit Bagian Matahari untuk menyatukan sedikit tenaga nya dengan hawa sakti Pedang Jagat Samudera, seperti yang pernah terjadi saat melawan Rambe Lantak..

Dan, berhasil! Seketika, balutan sinar putih kebiruan yang menyelimuti Pedang Jagat Samudera berganti warna menjadi kuning.. Wajah gw yang berada cukup dekat dengan Pedang sakti itu, terasa terbias pendaran hawa aneh namun terasa hangat dari arah Pedang Jagat Samudera.. Rambut gw yang cukup gondrong, bergerak-gerak seperti tersapu angin laut sejuk yang keluar dari senjata sakti dalam genggaman tangan..

Hawa sakti Pedang Jagat Samudera terasa meningkat berpuluh kali lipat dengan sendirinya, seiring semakin terangnya cahaya kuning yang menyelimuti..

Beberapa tombak dihadapan gw, Jin wanita berpakaian puteri keraton berwarna biru sudah berpijak dengan kedua kaki menapak diatas tanah.. Wajah cantiknya yang nampak dingin menatap nanar ke arah gw, dengan posisi bersiap menghunus dua bilah Pedang kembar berselimutkan sinar biru..

“Kita sama-sama memiliki Pedang Sakti sebagai senjata.. Kita lihat, anak manusia.. Pedang milikmu atau Pedang Kembar milikku, yang paling unggul nanti” Ucap Jin cantik itu dengan kedua mata nampak sinis terpicingkan..

Belum sempat gw menjawab, sosok bertubuh padat sintal tersebut berlari cepat ke arah gw dengan merentangkan kedua tangan yang masing-masing memegang Pedang Kembar.. Gw yang juga sudah bersiap, ikut berlari menyongsong serangan musuh sambil mengarahkan Pedang Jagat Samudera ke samping..

Tepat lima tombak dihadapan, sosok Jin cantik itu melompat sambil menyabetkan dua Pedang nya di tangan kiri dan kanan.. Melihat dua serangan datang dari arah berbeda namun betujuan sama yaitu untuk menebas leher, gw menggerakkan Pedang Jagat Samudera secepat kilat ke arah kanan dan kiri untuk menangkis..

TRANGG!! TRANGG!!

Dua suara benturan dua besi terdengar saling susul disertai pijaran bunga api berwarna kuning dan biru.. Sosok Jin cantik tersebut memutar tubuh sambil merunduk dan menyapu Pedang di tangan kanan untuk menebas kaki.. Gw pun melompat guna menghindar, seraya mengayunkan Pedang Jagat Samudera ke arah kepalanya.. Namun, dengan gesit ia berkelit sambil menangkis ayunan Pedang gw menggunakan Pedang berselimut warna biru di tangan kiri..

TRANGG!!

Belum selesai bunyi dentangan dua pedang yang beradu, sosok Jin cantik yang mengaku memiliki dendam kesumat ke Raja Jin, menyerang gw kembali secara membabi buta.. Meski gerakannya masih sama luwes dan indah seperti saat menggunakan Selendang Biru, namun pola serangannya jauh lebih terasa mematikan sekarang.. Berbeda sekali saat belum menggunakan Pedang..

Kali ini, bergantian jin berparas jelita itu menghujani gw dengan serangan-serangan yang lebih banyak mengincar kepala serta jantung.. Ilmu Pedang yang dimiliki jin wanita tersebut juga berada beberapa tingkat diatas gw.. Beberapa kali ia mengeluarkan jurus Pedang yang aneh namun sangat berbahaya.. Dari mulai serangan menggunting dua Pedang, hingga serangan Pedang mengulung seiring berputarnya tubuh Jin perempuan dengan sangat cepat laksana gangsing..

Sebisa mungkin gw menangkis dan berusaha membalas serangan, namun selalu saja dapat dipatahkan oleh tebasan Pedang lain ditangan Jin cantik itu.. Meski Kitab Langit Bagian Matahari memberikan hawa sakti nya ke Pedang Jagat Samudera, tetap saja tidak bisa membuat gw memenangkan pertarungan dengan mudah.. Terlebih, keterampilan jin itu dalam memainkan Pedangnya berada di atas gw..

Hingga disuatu kesempatan, gw bisa balas menyerang jin cantik itu dan membuatnya terdesak.. Satu Pedang Biru di telapak tangan kirinya berhasil gw tendang sampai terlempar beberapa tombak ke samping.. Melihat posisi gw berada sedikit diatas angin, terus saja gw mendesak Jin tersebut yang kini hanya bersenjatakan satu pedang..

Begitu melihat satu peluang untuk bisa melukai punggung jin itu yang tanpa perlindungan saat ia berputar sedikit lamban, gw melompat sambil mengayunkan Pedang Jagat Samudera ke arah depan.. Namun tiba-tiba, Jin cantik penjaga keturunan Nenek Moyang Bang Juned mempercepat putaran tubuhnya dan menangkis ayunan Pedang sakti pemberian Ki Suta..

TRANGG!!!

Suara dua bilah besi saling beradu terdengar keras, bersamaan dengan itu, secepat kilat tangan kiri jin cantik berpakaian biru menotok jalan darah gw.. Seketika tubuh gw kaku tak bisa digerakkan sama sekali.. Lalu, tanpa banyak bicara ia melompat bersalto di udara dan mendaratkan tendangan keras di dada..

BUGH!!

Tubuh gw terlempar jauh ke belakang bersamaan dengan terpentalnya Pedang Jagat Samudera dari tangan kanan.. Untungnya masih sempat diselamatkan Babeh Misar yang langsung menahan punggung, sesaat sebelum gw terbanting menghantam tanah keras.. Dengan cepat, beliau juga memijit tubuh gw di beberapa titik bekas totokan, agar gw bisa lepas dari pengaruh totokan lawan dan bergerak kembali..

Dari arah depan, Jin cantik yang berhasil melukai kami berdua dalam kurun waktu berbeda, tertawa keras.. Sepertinya, ia puas melihat gw yang telah terjebak jurusnya tadi sehingga mampu mendaratkan tendangan keras..

Gw yang sudah bisa menggerakkan tubuh, mencoba bangkit dengan dibantu Babeh Misar yang masih menahan dari arah belakang.. Rasa remuk didada membuat gw terbatuk-batuk beberapa kali, lalu meludah ke atas tanah..

Kedua mata gw membesar melihat ludah yang gw buang barusan berwarna merah.. Pantas saja rasanya sedikit asin dan berbau amis.. Ternyata ada bercak darah yang tercampur dalam ludah.. Ini artinya, ada luka dalam didada kanan.. Jangan ditanya sakitnya seperti apa, terutama saat batuk.. Gw bahkan sampai jatuh berlutut merasakan sakit di dada..

“Lu kaga ngapah-ngapah, tong? Udah biarin Babeh nyang ngelawan ntuh Jin.. Siapa tau kejodoan, bisa Babeh kimpoiin kalo menang.. Hehe”

Kedua mata gw yang terpicing menahan sesak dan sakit di dada kanan, langsung melirik ke arah Babeh Misar.. Meski pun candaan Beliau terasa kurang tepat saat ini, namun gw bersyukur keadaan Beliau sudah jaub lebih baik.. Entah dengan cara apa Babeh Misar memulihkan dirinya sendiri? Pulihnya beliau, memberikan angin segar di saat situasi kami saat ini, yang bagaikan telur diujung tanduk..

Gw tidak menjawab pertanyaan dan menimpali guyonan Babeh Misar.. Karena waktunya tidak memungkinkan.. Pandangan mata gw melirik ke arah Pedang Jagat Samudera, yang melayang-layang dua tombak diatas.. Dalam hati, gw memanggil namanya dan Pedang itu pun melesat kembali ke genggaman tangan kanan gw..

Beberapa tombak dihadapan kami, Jin berpakaian biru masih tertawa sesekali.. Lalu merentangkan telapak tangan kirinya..

SETT..

Salah satu dari Pedang Kembar berselimutkan sinar biru yang tadi terpental ke arah samping, melesat dengan sendirinya ke arah telapak tangan kiri jin wanita itu.. Sambil tersenyum dingin melukiskan ejekan, ia menyilangkan dua Pedang Kembar di depan dada..

“Bersiaplah!! Kalian berdua akan menerima akibat karena telah memancing amarahku” Teriak Jin berparas jelita, sambil perlahan mengangkat dua Pedang Kembar miliknya ke atas kepala..

Mulut Jin cantik itu bergerak-gerak seperti membaca suatu mantera.. Kedua matanya pun terpejam.. Lambat laun, sinar biru yang meliputi Dua Pedang Kembar nampak semakin terang pendaran sinarnya, seiring semakin bertambah kuatnya hawa sakti yang keluar dari sosok Jin tersebut..

Gw sendiri berusaha bangkit kembali meski rasa sakit di dada kanan belum hilang.. Sambil meringis, gw memindahkan Pedang Jagat Samudera ke telapak tangan kiri.. Lalu menatap telapak tangan kanan yang pola Mataharinya berpendar redup..

“Kitab Langit Bagian Matahari, aku tahu kau telah menolongku beberapa kali.. Kali ini, tolonglah aku dengan memberikan seluruh Kekuatan Sejati mu..” Ucap gw dengan penuh pengharapan..

Mendadak, gambar berpola Matahari yang ada tepat ditelapak tangan kanan gw mengeluarkan sinar menyilaukan.. Kedua mata gw sempat terpejam terkena silaunya cahaya dari telapak tangan.. Lalu, terbuka lagi dan berbinar sambil menyunggingkan senyuman senang setelah melihat pertanda bahwa Kitab Langit Bangian Matahari menyanggupi permintaan gw..

Perlahan namun pasti, sinar menyilaukan ditelapak tangan berpendar redup kembali.. Berganti dengan sinar kuning hangat yang merambat turun ke bagian lengan kanan.. Dengan cepat, gw memindahkan lagi Pedang Jagat Samudera ke genggaman telapak tangan kanan.. Kemudian, mengacungkan Senjata sakti itu keatas kepala..

“Lu mao ngapain, Tong?” Tanya Babeh Misar, yang sempat tertegun melihat seluruh lengan gw sudah terselimuti sinar kuning dari telapak tangan kanan dan terus merambat ke bagian tubuh lain..

“Mundur, Beh.. Kalo bisa, bawa tiga orang itu jauh ke belakang..” Jawab gw sambil melempar pandangan ke arah sosok Bang Juned yang masih pingsan, beserta dua kerabatnya yang juga masih duduk kaku tak bergerak..

Babeh Misar menganggukan kepala mendengar permintaan gw, lalu memboyong ketiga sosok manusia itu satu persatu dan merebahkan mereka cukup jauh di belakang.. Pandangan mata gw kembali nanar menatap ke depan.. Kearah Jin perempuan yang sebelumnya tidak mempunyai perhitungan dengan gw.. Sosok Jin tersebut sudah melayang lima tombak diatas tanah, dengan rambut yang tergerai panjang berkibar tersapu angin malam..

Entah mengapa, saat gw meminta Kitab Langit Bagian Matahari menyalurkan seluruh tenaganya ke Pedang Jagat Samudera, seluruh tubuh gw bergetar.. Terutama saat sinar kuning dari telapak tangan kanan, telah menyelimuti seluruh tubuh..

Kedua bola mata gw sempat terasa perih dan mengharuskan terpejam.. Namun, gw tertegun begitu membuka mata kembali.. Pandangan gw berubah kuning sedikit demi sedikit.. Bersamaan dengan itu, tubuh gw melayang keatas secara perlahan dengan sendirinya..
“Astaghfirullah! Apa ini??”

Pekik gw tertahan begitu melihat baju pangsi hitam yang gw kenakan mulai terbakar secara aneh, tanpa merasakan panas sama sekali di tubuh.. Sedikit demi sedikit, ujung lengan kanan baju pangsi hitam mulai meranggas termakan api tak kasat mata, dan terus menjalar ke bagian lain..

“Inikah Kekuatan sebenarnya dari Kitab Langit Bagian Matahari?” Gumam gw dalam hati sambil tertegun melihat dua bagian lengan baju pangsi sudah meleleh dimakan api aneh..

Tiba-tiba,..

“Aarghh”

Gw kembali terpekik begitu rasa sakit muncul dengan tiba-tiba di kepala.. Dengan telapak tangan kiri, gw memegangi kepala sambil terpejam menahan sakit teramat sangat.. Sementara, Pedang Jagat Samudera yang teracung di atas kepala, terpaksa gw turunkan lagi.. Tak mau musuh memanfaatkan kesempatan, gw kembali membuka mata yang sudah terselimuti sinar kuning seluruhnya..

Rasa sakit dikepala semakin meningkat.. Sepertinya otak dalam kepala gw mendidih hendak meledak.. Beberapa kali suara erangan kesakitan keluar dari mulut gw, seiring semakin bergetarnya seluruh tubuh menahan sakit..

Sementara, dari arah depan.. Sosok Jin perempuan sudah membuka mata meski terlihat ada raut keterkejutan yang muncul diwajahnya begitu melihat keadaan gw.. Tanpa mengulur waktu, ia mengayunkan dua Pedang Kembar berselimut sinar biru ke arah depan.. Persisnya ke arah gw..

SETT!!.. SETTT!!!

Suara melesatnya dua larik sinar biru mengandung hawa kesaktian tinggi dari ayunan dua Pedang Kembar.. Bersamaan dengan itu, antara sadar dan tidak akibat rasa sakit mendera dikepala, gw melihat bayangan berjubah hitam muncul persis di hadapan..

“Panggil namaku, anak manusia.. Aku akan membantu dengan menguasai tubuh mu seperti dahulu” Bujuk sosok misterius, yang wajahnya nampak mirip dengan wajah gw meski tertutupi jubah hitam..

“Ba..yu Amb..ar” Ucap gw dengan suara terbata-bata saat mengenali siapa sebenarnya sosok tersebut..

Belum sedetik gw menyebut nama Bayu Ambar, tiba-tiba suara petir menyambar satu kali persis disebelah kanan gw..

JEGEERR!!!

Seketika, sosok Bayu Ambar melesat lenyap tanpa bekas.. Berganti dengan sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan yang muncul dibalik sambaran kilat.. Sosok berambut panjang dengan kepala tertutupi mahkota cukup besar itu, sempat tersenyum kecil ke arah gw yang masih menahan rasa sakit.. Dengan cepat, beliau merebut Pedang Jagat Samudera dan melemparkannya ke atas langit..

Suara bergemuruh terdengar dari angkasa yang telah menelan Pedang sakti pemberian Ki Suta.. Awalnya, gw hendak membantah melihat apa yang telah dilakukan Raja Jin dengan Pedang jagat Samudera.. Namun, rasa sakit di kepala memaksa gw untuk mengalah..

Dengan cepat, Raja Jin membawa gw turun ke atas tanah dan menyuruh untuk segera duduk bersila.. Lalu, menempelkan telapak tangan kanannya ke talapak tangan gw yang masih memancarkan sinar kuning, dengan mata terpejam dan mulut berkomat-kamit.. Sementara, telapak tangan kirinya tertempel di dada kanan gw..

Sesaat, gw merasakan ada hawa sejuk keluar dari telapak tangan kanan dan kiri Raja Jin yang menempel ditelapak tangan kanan serta di dada gw.. Hawa sejuk tersebut terus masuk meresap kedalam tangan kanan.. Aneh, perlahan-lahan gw merasakan rasa sakit dikepala dan rasa remuk di dada kanan berkurang.. Bersamaan dengan hilangnya sinar kuning diseluruh tubuh dan berhenti terbakarnya pakaian Pangsi gw yang menyisakan setengah baju sebelah kanan serta celananya saja..

Merasa jauh lebih baik, gw menarik baju yang tak lagi sempurna bentuknya hingga terlepas.. Lalu, menatap kembali keatas dengan kedua mata tak lagi diselimuti sinar kuning.. Dua sinar biru yang terus melesat ke arah kami semakin bertambah dekat.. Namun gerakan lesatnya terlihat lamban.. Seperti ada kekuatan lain yang mengacaukan kecepatan dua sinar itu.. Bukan, hanya dua sinar saja yang bergerak lambat..

Gerak sosok Jin perempuan yang masih melayang lima tombak diatas tanah pun sama.. Ia terlihat membelalakkan kedua matanya dengan lambat kearah gw dan Raja Jin yang sedang setengah berlutut membelakangi dirinya.. Gw juga sempat menoleh ke arah Babeh Misar yang terlihat berlari sangat lambat ke arah kami..

“Sepertinya ada yang membuat waktu melambat?” Tanya gw dalam hati sambil kembali melempar pandangan ke arah dua sinar biru..

“Eyang, dua sinar itu akan menghantam kita” Seru gw seraya menunjuk ke atas..

PLETAK!!

Bukan jawaban lisan yang gw dapat, malah jitakan jari tengah Penguasa Gaib Tanah Pasundan yang tersematkan cincin bertahtakan batu permata merah..

“Jangan pernah kau coba meminta Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari lagi, bodoh! Jika aku terlambat datang dan meredam hawa sakti Bagian Matahari Kitab itu, kepala mu bisa meledak karena tak sanggup menampung kekuatannya”

Mendengar ucapan Raja Jin, gw bergidik ngeri sambil mengusap kepala yang terasa nyeri terkena hantaman batu cincin batu permata merah di jari tengah beliau.. Gw tertegun menyadari bahwa apa yang gw lakukan barusan bisa berujung pada kematian.. Pantas saja, kepala gw terasa sangat sakit sekali tadi..

“Aku sudah melambatkan waktu untuk sementara, Ngger” Ucapan Raja Jin, tepat seperti dugaan gw tentang waktu yang terasa melambat..

Kemudian, Penguasa Gaib Tanah Pasundan bangkit secara perlahan lalu membalikkan tubuh menatap dua sinar biru yang sudah semakin mendekat meski melesat lambat.. Dengan sebelumnya melukiskan senyuman dingin, Raja Jin meniupkan udara dari mulutnya ke arah dua sinar tersebut, sambil menjentikkan ibu jari tangan kanan..

WUSSSHH...

Suara angin besar laksana badai yang keluar dari tiupan mulut Raja Jin, menderu kearah dua sinar Pedang Kembar milik jin wanita yang menjadi musuh gw, yang kembali melesat sangat cepat.. Nampaknya, jentikkan jari sosok Penguasa Gaib Tanah Pasundan sudah mengembalikan kecepatan waktu seperti semula..

Seketika gelombang angin besar menggulung dua sinar biru dan membalikkan arah dua sinar mengandung hawa sakti tinggi itu ke langit.. Suara bergemuruh kembali terdengar saat angkasa raya menelan dua sinar sakti, disusul berpendar birunya langit malam untuk sesaat..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.