- Beranda
- Stories from the Heart
Where the fvck are you?
...
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
palinglembut
#37
8
Mira
Gue menuangkan seluruh isi kaleng wet food ke tempat makan Jonas. At least, salah satu diantara kita ada yang bisa merasakan enaknya mendapatkan apa yang paling diinginkan. Jonas mengeong dengan keras saking bahagianya saat melihat mangkoknya―membuat gue penasaran seperti apa rasanya teriak sekerasnya karena benar-benar bahagia.
Seminggu ini perasaan sedih menendang gue di selangkangan secara beruntun-runtun. Pertama, Aldi memblocked gue dari segala macam sosial media bahkan dia memblocked gue di gmail. Kedua, artist webtoon yang sedang gue baca, “Fluterring feelings”, Ssamba meninggal karena sakit yang diderita selama dua tahun, sehingga webtoon tersebut berhenti begitu saja disaat ceritanya sedang menuju klimaks. Ketiga, gue berusaha menggantikan Aldi dengan ‘stok lama’ tapi nggak ada satupun dari mereka yang bisa menyaingi kemampuan menggenjot si Aldi.
Fuck.
Gue benci disaat tangan ini kehabisan bahan untuk memukul kepala gue. Karena sekarang ini, gue menyesali keputusan gue untuk berterus-terang ke Aldi soal seluruh perasaan gue ke dia. Kalau saja, gue nggak ngaku. Mungkin sekarang ini gue masih janjian sama dia di kamar 207, kamar tercinta.
Dan cewek yang paling beruntung seantero dunia, sejagat raya ini―menatap gue dengan polos seakan keberadaannya nggak bikin gue sakit mata.
“ Ternyata pie duren kalau beku banget, rasanya nggak enak ya? “ Katanya begitu saja, duduk di lantai kamar gue dengan kaki mengangkang, sementara rambutnya kini sudah berani buat dicat-cat warna terang seperti ungu dan abu-abu.
Gue ikut duduk di samping dia, mengambil satu lalu mengunyah ujung pie duren yang dingin, gigi gue yang sensitif merasakan ngilu yang luar biasa tapi gue tahan semua kesakitan itu, dan mengangguk setuju.
“ Mi, lu kenapa sih bawa makanan nggak enak ke tempat gue? “ kata gue berusaha bercanda, tapi muka gue yang serius membuat Mia ketawa kenceng banget. Gue sampai harus mendelik ke Mia, mengingat jam sepuluh malam udah batas maksimal orang boleh ngajakin orang ribut di kost-kostan gue.
“ Gue kan masih inget lo sukanya duren. “ serunya cepat. tangannya mengambil satu pie duren lagi dari kotak plastik yang transparan. “ Makanya gue gojekin yang paling deket lah, buat Mira tersayang. “
“ Nggak usah repot-repot, “ kata gue menundukan mata. “ Lo mau ketemu gue aja udah cukup kok. “
“ He-eh. “ lalu Mia makan dalam sunyi. Dengan mata menerawang ke sudut tembok kamar gue.
Gue menghela napas paling berat yang pernah gue keluarkan. Mata gue menyelusuri setiap bagian yang Aldi nggak tahu, dan merasa ‘menang’ karena anak cowok itu nggak memiliki privilege seperti apa yang gue punya―kemampuan meng-summon Mia kapapnpun yang gue mau. Tapi menyadari keberadaan Mia berada didalam kostan gue, membuat darah gue mendidih, karena anak ini terlalu beruntung―dia memiliki semua yang paling gue inginkan, dimana tiap kali diingatkan bahwa gue nggak mendapatkan satupun dari yang gue paling inginkan, rasanya dada gue menyelesak masuk membentuk kawah yang menaungi rasa sakit hati.
Intinya adalah, Gue sekarang benci Aldi, tapi gue juga jadi jauh lebih benci Mia lagi.
Gue nggak mau dua orang ini, ketemu disaat gue masih menjejaki bumi.
*
Mira
Gue menuangkan seluruh isi kaleng wet food ke tempat makan Jonas. At least, salah satu diantara kita ada yang bisa merasakan enaknya mendapatkan apa yang paling diinginkan. Jonas mengeong dengan keras saking bahagianya saat melihat mangkoknya―membuat gue penasaran seperti apa rasanya teriak sekerasnya karena benar-benar bahagia.
Seminggu ini perasaan sedih menendang gue di selangkangan secara beruntun-runtun. Pertama, Aldi memblocked gue dari segala macam sosial media bahkan dia memblocked gue di gmail. Kedua, artist webtoon yang sedang gue baca, “Fluterring feelings”, Ssamba meninggal karena sakit yang diderita selama dua tahun, sehingga webtoon tersebut berhenti begitu saja disaat ceritanya sedang menuju klimaks. Ketiga, gue berusaha menggantikan Aldi dengan ‘stok lama’ tapi nggak ada satupun dari mereka yang bisa menyaingi kemampuan menggenjot si Aldi.
Fuck.
Gue benci disaat tangan ini kehabisan bahan untuk memukul kepala gue. Karena sekarang ini, gue menyesali keputusan gue untuk berterus-terang ke Aldi soal seluruh perasaan gue ke dia. Kalau saja, gue nggak ngaku. Mungkin sekarang ini gue masih janjian sama dia di kamar 207, kamar tercinta.
Dan cewek yang paling beruntung seantero dunia, sejagat raya ini―menatap gue dengan polos seakan keberadaannya nggak bikin gue sakit mata.
“ Ternyata pie duren kalau beku banget, rasanya nggak enak ya? “ Katanya begitu saja, duduk di lantai kamar gue dengan kaki mengangkang, sementara rambutnya kini sudah berani buat dicat-cat warna terang seperti ungu dan abu-abu.
Gue ikut duduk di samping dia, mengambil satu lalu mengunyah ujung pie duren yang dingin, gigi gue yang sensitif merasakan ngilu yang luar biasa tapi gue tahan semua kesakitan itu, dan mengangguk setuju.
“ Mi, lu kenapa sih bawa makanan nggak enak ke tempat gue? “ kata gue berusaha bercanda, tapi muka gue yang serius membuat Mia ketawa kenceng banget. Gue sampai harus mendelik ke Mia, mengingat jam sepuluh malam udah batas maksimal orang boleh ngajakin orang ribut di kost-kostan gue.
“ Gue kan masih inget lo sukanya duren. “ serunya cepat. tangannya mengambil satu pie duren lagi dari kotak plastik yang transparan. “ Makanya gue gojekin yang paling deket lah, buat Mira tersayang. “
“ Nggak usah repot-repot, “ kata gue menundukan mata. “ Lo mau ketemu gue aja udah cukup kok. “
“ He-eh. “ lalu Mia makan dalam sunyi. Dengan mata menerawang ke sudut tembok kamar gue.
Gue menghela napas paling berat yang pernah gue keluarkan. Mata gue menyelusuri setiap bagian yang Aldi nggak tahu, dan merasa ‘menang’ karena anak cowok itu nggak memiliki privilege seperti apa yang gue punya―kemampuan meng-summon Mia kapapnpun yang gue mau. Tapi menyadari keberadaan Mia berada didalam kostan gue, membuat darah gue mendidih, karena anak ini terlalu beruntung―dia memiliki semua yang paling gue inginkan, dimana tiap kali diingatkan bahwa gue nggak mendapatkan satupun dari yang gue paling inginkan, rasanya dada gue menyelesak masuk membentuk kawah yang menaungi rasa sakit hati.
Intinya adalah, Gue sekarang benci Aldi, tapi gue juga jadi jauh lebih benci Mia lagi.
Gue nggak mau dua orang ini, ketemu disaat gue masih menjejaki bumi.
*
0

