- Beranda
- Stories from the Heart
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
...
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah 
Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang
Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka
Selamat membaca

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.

Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS

Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka

Selamat membaca

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.4K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#60
Chapter 8
Sama seperti waktu Alyssa tinggal bersama Gabriel di dalam apartemennya di Nashville, dirinya merasa sulit untuk tidur, apalagi waktu itu merupakan pagi hari di New Lycan. Ia bangun lalu melangkah menuju ruang keluarga dan memastikan Gabriel tidak berada disana sewaktu dirinya membuka jendela. Jendela itu dipasang plat-plat metal yang berfungsi untuk menghalangi cahaya masuk. Alyssa lalu mencari tombol tuas untuk membuka salah satu jendela. Namun yang terjadi adalah jendela-jendela itu terbuka semua secara serentak, dan itu cukup mengagetkan dirinya. Ruang tengah itu seketika bermandikan cahaya matahari yang cerah.
Alyssa memandang keluar jendela dan menyaksikan keindahan kota New Lycan yang dulu merupakan kota St. Louis. Di kejauhan tampak jelas Gerbang suci kaum Lycan, terlihat sangat indah sekali dari tempat Alyssa memandang. Dia berdiri disana untuk sementara waktu hingga ada suara yang memanggilnya dari ruangan sebelah.
"Tolong tutup jendela-jendela itu." Gabriel memerintah.
Alyssa berjalan menuju tuas yang tadi ia gunakan. Ruangan itu langsung berubah menjadi gelap.
"Kupikir sinar matahari tidak dapat melukaimu?" Alyssa mencoba mengingat. "Apa kemarin kamu bohong?"
"Tidak." Gabriel membalas. "Tapi orang-orang akan memandang aneh karena tidak biasanya jendela dibuka pada jam-jam sekarang, apalagi di gedung vampire. Akan membuat orang menanyakan hal-hal yang tidak ingin kita jawab untuk saat ini."
"Baiklah." Alyssa menurut. "Cukup masuk akal."
"Susah tidur?" Gabriel bertanya sambil berjalan kedalam ruang keluarga.
"Cuma sedikit merasa grogi berada di gedung yang penuh dengan vampire." Alyssa menjawab. "Cukup takut sebenarnya."
"Tidak ada yang perlu ditakuti." Kata Gabriel meyakinkan Alyssa. "Hanya ada dua vampire di gedung ini, yang lainnya adalah sekuriti yang ditugaskan oleh kota. Jadi yang sisanya adalah Lycan. Kukatakan padamu jumlah kami tidak banyak, dan vampire satu lagi berada beberapa lantai dibawah kita. Sudah Kukatakan padanya bahwa dirimu tidak boleh disentuh. Dia tidak akan berani untuk melawanku, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Kecuali ketakutan itu sendiri." Alyssa menambahkan.
"Salah satu kutipan favoritku." Gabriel berkata, lalu duduk di sofa.
"Aku selalu lupa berapa usiamu sekarang." Kata Alyssa mengakui, lalu dia duduk berhadapan dengan Gabriel. "Kamu pasti sudah menyaksikan banyak hal yang mengagumkan dan mungkin bertemu dengan beberapa orang hebat selama hidupmu."
"Bisa dibilang begitu." Gabriel menjawab. "Banyak dari kami yang berpikir bahwa tidak akan ada dari kami yang selamat, tapi aku senang untuk melaporkan jika kami dulu salah. Masih merupakan sebuah perjuangan, tapi kami mampu beradaptasi dengan dunia yang baru. Beberapa bahkan hidup lebih baik, seperti yang kamu lihat disini."
Alyssa mendengarkan sembari bersandar. "Kaum Lycan sekarang memiliki kota, ini semua sungguh aneh."
"Kita tak bisa tinggal lebih lama." Gabriel memberitahukan. "Bulan penuh sudah dekat, dan sekuriti menjadi lebih galak saat bulan mendekat."
"Mereka se-sensitif itu?" Alyssa bertanya.
"Bukan seperti itu," Gabriel menjawab. "Para Lycan menjadi lebih agresif saat bulan purnama mendekati harinya. Apa yang kamu lihat kemarin di mall hanya contoh kecilnya saja. Jika kita berkunjung kesini seminggu sebelumnya, hal itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Itu alasan mengapa aku tidak menuntut mereka, aku tau mereka akan menjadi agresif saat bulan purnama mendekat."
"Mungkin itu benar." Jawab Alyssa memikirkan hal tersebut. "Seperti seorang wanita yang menjadi sensitif saat datang bulan, serigala-serigala itu mungkin juga sama."
"Perumpamaan yang tidak sopan, tapi cukup akurat." Gabriel menyetujuinya. "Kita harus pergi sesaat setelah matahari terbenam. Kegelapan malam akan mencegah orang-orang melihat kita memasuki kota. Aku suka apartemen yang kamu tinggali sekarang, atapnya dekat dengan tembok perbatasan dan aku dapat dengan mudah naik kesana."
"Itu emang tujuan utamanya." Kata Alyssa, tersenyum. "Aku ingin menjauhimu dari orang-orang dikotaku sebisa mungkin. Aku merahasiakan perjanjian kita dari orang-orang yang tidak kupercaya, mereka mungkin akan memanfaatkan perjanjian kita untuk kepentingan mereka sendiri jika ada yang mengetahuinya. Semakin sedikit yang mengetahui keberadaanmu, akan semakin baik."
"Setuju," Jawab Gabriel lalu merebahkan dirinya di sofa. "Aku sendiri tidak suka berada di tengah kerumunan manusia, kecuali dirimu tentunya. Berada di tengah-tengah mereka membuatku dan vampire yang lain akan sulit untuk mengontrol nafsu akan darah mereka. Jika hanya berdua itu bukan hal yang besar, tapi jika semakin banyak manusia yang datang, mungkin kami akan kehilangan kontrol dan 'Pesta Makan Besar' akan sangat mungkin terjadi. Kamu tidak akan mau melihat kami kehilangan kontrol, dan itu bukan sesuatu yang kami banggakan. Kami mengerahkan segala macam upaya untuk mencegah hal tersebut terjadi, apapun caranya."
"Cukup jelas sekali." Alyssa menjawab. "Aku juga gak mau melihatnya."
"Itulah mengapa kami tidak pernah tinggal cukup lama di kota manusia." Gabriel melanjutkan. "Bahkan sebelum perjangkitan virus terjadi, kaum kami terlarang untuk tinggal di kota besar, takut salah satu dari kami kehilangan kontrol dan menghisap habis darah penduduk kota. Semuanya serba menyulitkan. Bahkan ketika aku masih bekerja sebagai pengirim pesan, aku hanya berada disana secepat yang aku bisa, dan kembali secepat mungkin setelah menerima bayaran."
Gabriel diam sejenak, lalu melanjutkan. "Kota New Lycan adalah pengecualian, karena kami tidak minum darah mereka. Kami bebas berjalan-jalan tanpa harus memikirkan rasa haus kami akan darah. Seperti yang sudah kamu lihat, sangat jarang manusia berkunjung kesini. Mereka lebih suka mengunjungi kota manusia lainnya, dan tidak pernah berlama-lama menetap disini. Mereka tau akan keberadaan Lycan dan monster lainnya, tapi mereka memilih fokus untuk berperang melawan zombie-zombie diluar sana selama tidak ada yang mengganggu. Selama kami menjaga kedamaian dan tidak saling mengusik, mereka pun juga akan melakukan hal yang sama."
"Wow, aku baru tau." Kata Alyssa mengakuinya. "Aku juga gak percaya ada orang dikotaku yang mengetahui keberadaan kalian."
"Cukup meragukan." Jawab Gabriel tidak setuju. "Tapi jika kota kalian melakukan pertukaran dengan kota lain, ada kemungkinan kecil pemimpin kalian mengetahuinya. Mereka mungkin akan memberitahukan kota mana saja yang dilarang untuk dikunjungi karena tidak aman untuk manusia."
"Kurasa itu cukup masuk akal." Jawab Alyssa, merasa yakin kalau manusia tidak diterima dengan ramah di New Lycan, khususnya saat bulan purnama. Dia memikirkan Major, tipikal orang yang dapat menyimpan rahasia besar seperti itu. Setelah mengetahui apa yang terjadi dengan timnya saat melakukan tugas pertama, Major merupakan orang yang tidak bisa dipercaya. Meskipun dia adalah pemimpin di kota kecilnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Gabriel bertanya sambil bangkit dari posisi berbaringnya. Merasa ada hal yang mengganggu benak Alyssa.
"Soal Major," Alyssa menjawab. "Aku gak percaya sama dia. Jika dia tau soal kota-kota lain diluar sana dia pasti akan menyimpan informasi ini sendiri untuk kepentingan pribadi. Dasar orang licik!"
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Gabriel bertanya, terkejut karena Alyssa berpikir negatif tentang orang dikotanya.
"Karena dia telah mencoba untuk membunuh ku." Jawab Alyssa.
"Benarkah begitu?" Gabriel bertanya, tersentak dari sofa. "Kapan?"
"Ketika kamu nyelametin aku," Jawab Alyssa. "Ketika kami pergi meninggalkan kota waktu itu, aku sedikit mengerti bahwa dua orang yang berada di timku adalah orang-orang yang dikucilkan di kota karena terlalu banyak bertanya dan menuntut. Aku jadi merasa yakin kalau kami dikirim ke tempat pembantaian supaya kita tewas disana, dan orang yang harus diberi makan akan berkurang."
"Jika teorimu itu benar," Kata Gabriel sambil menertawakan. "Berarti dia itu licik, dan harus dijauhkan dari perjanjian kita. Aku tidak ingin kita berhubungan dengan orang ini, apalagi jika ia mengetahui tentang kota besar lain diluar sana."
"Tak pernah terpikir olehku untuk bicara dengannya." Alyssa meyakinkan. "Setelah apa yang ia lakukan, aku tidak akan pernah lagi percaya padanya. Bagaimana denganmu?"
"Tidak. Aku tidak mau." Jawab Gabriel setuju. "Jika ia berbuat melewati batas atau menempatkanmu didalam bahaya lagi, aku tidak punya pilihan selain melenyapkannya dari sejarah."
"Kuharap Major tidak akan mencoba lagi." Kata Alyssa. "Semoga dia tidak pernah mengetahui perjanjian kita."
"Tidak akan." Gabriel berkata, lalu kembali membaringkan tubuhnya di sofa. "Aku akan beristirahat beberapa jam. Lalu kita akan terbang kembali ke kotamu."
"Kamu mau darahku lagi?" Alyssa bertanya, penasaran.
"Tidak sekarang." Jawab Gabriel. "Mungkin nanti setelah kita tiba di kotamu. Kamu masih punya satu kantong di kulkas. Jadi nanti saja."
"Aku akan mengepak barang-barang ke dalam tas." Kata Alyssa, lalu berdiri untuk kembali ke kamarnya. "Terima kasih banyak telah mengajakku berkunjung kesini. Meskipun ada insiden kecil, tapi aku menikmatinya."
"Senang mendengarnya." Ucap Gabriel sambil memejamkan mata. "Sampai ketemu lagi dalam beberapa jam."
Araka memberi reputasi
2