- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#1618
Part 45: Eksodus (2)
Kira-kira jam 8 malam Wina pulang hanya untuk mengambil tas. Bersamanya Lis dan seorang lagi, pria sebaya dengannya atau lebih sedikit umurnya. Tak sempat kukejar nama pria itu. Hanya gelagatnya aneh, seolah-olah ia tak pernah memasuki rumah orang lain seumur hidupnya.
Dalam penglihatanku, pemuda tersebut menghabiskan waktu untuk melihat-lihat. Dinding, perkakas, pajangan, unyil, sampai-sampai cicak yang merayap tak lepas dari kejaran matanya. Sekali saja dia tersenyum irit padaku, sudah itu kembali lagi melihat-lihat. Beberapa kali pula aku menangkap bibirnya mengumik-umik. Tak jelas apa isinya, dan untuk bertanya ala kadarnya pun tidak mungkin, sebab wajahnya masam.
Kami berempat berjalan bersambung-sambung lalu menaiki tangga. Sungguh itu hanya kebetulan. Lis terlihat berbeda jalannya, agak payah, seperti...Ah sudahlah.
Di luar kebiasaan, Wina pamit kepada Lis sebelum masuk ke kamar. Lis menyahut dengan ramah, lebih ramah dari yang kukira.
“Kamu mau ke mana lagi?” tanyaku begitu menemukan Wina bergegas.
“Ada deh. Urusan cewek.”
Semata-mata aku diam tak ingin mendesaknya. Pikiranku masih terbawa pada sosok pria yang baru nampak itu, juga Lis yang bersikap ramah.
Namun Wina, entah ia sudah mulai bisa membaca gelagatku atau karena dorongan benaknya seorang, berkata,
“Pak Wi nggak kasih sesaji lagi?”
“Ada tadi sore, tapi sudah kubuang.”
Tiba-tiba garis wajah perempuan itu mengeras. Wina menggaruk-garuk ubun-ubunnya yang mungkin tidak terasa gatal. Aku menduga kuat ia sedang memikirkan sesuatu yang penting.
“Alvin...” Wina tampak ragu mengatakannya. “Alvin, kamu jangan main-main. Kamu apakan benda-benda itu?”
“Kubuang, sudah kubilang kubuang,” intonasi suaraku masih terjaga.
Cerita yang sebenarnya adalah tidak lebih dan tidak kurang dari apa yang kusampaikan kepada Wina. Meski aku menyembunyikan kebohongan di dalamnya. Penyerupaan sosok Wina oleh jin keparat itu telah membuatku berpikir pendek. Maka segera setelah itu benda-benda pengundang dosa itu kumasukkan dalam satu kantong plastik lalu melemparnya jauh-jauh ke arah kebun pisang.
Itu pun yang sekali belum cukup, sebab sesudahnya aku menemukan sebuah lambar yang di atasnya terdapat sebutir telur ayam kampung. Lambar diletakkan di sudut yang berlawanan dari benda-benda sebelumnya. Dengan memikul amarah telur itu kulontarkan bulat-bulat ke arah yang sama.
Wina usai mendengar cerita yang telah dimodifikasi itu dan napasnya seolah ditarik panjang tak berhenti.
“Sayang...Lis juga mengalami gangguan yang sama seperti kita.”
Wina mengambil kursi rias lalu duduk. Berkata lagi, “Sebentar lagi dia akan pindah. Sebenarnya sewanya masih ada sisa karena dia bayar sekaligus.”
“Maksud kamu karena Lis udah enggak tahan lagi tinggal di kamarnya, begitu?”
“Bahkan dia udah berbulan-bulan nurutin saran Pak Wi sampai tiba-tiba datang cowok itu.”
“Memang siapa dia?”
“Mereka berencana menikah dekat-dekat ini.”
Kukira kepala wanita itu hanya diisi saji-sajian. Ternyata ada juga pikirannya tentang lelaki.
“Tapi hubungannya apa dengan cowok itu?” tantangku.
“Cerita Lis, calon suaminya itu peruqyah. Mula-mula Lis datang ke majelisnya tiap weekend, dengar ceramah, keterusan, sampailah akhirnya mungkin mereka berjodoh.”
Wina menyambung lagi, “Lis cerita segalanya sama cowok itu sebelum dilamar. Cowoknya kasih syarat agar dia taubat dan meninggalkan segala hal yang terkait kesyirikan.”
“Beberapa waktu lalu aku masih lihat dia...”
“Memang baru-baru ini terjadinya. Menurut calon suaminya, Lis harus pindah segera dari rumah ini, karena bagaimanapun kalau tetap bertahan, akan selalu ada persangkutan dengan jin.”
“Masalahnya adalah, setelah dia menyingkirkan benda-benda itu, Lis mendadak sering muntah-muntah.”
“Isi duluan kali?”
“Ngaco!!” Wina memarahiku dan menyuruhku bersikap lebih serius.
“Muntah-muntah itu selalu terjadi tengah malam. Dan sebelum itu pasti diawali suhu badannya tinggi.”
“Seingatku aku enggak pernah dengar dia begitu.”
“Dia selalu menahannya di kamar. Sama dengan kita, Lis juga takut ke kamar mandi kecuali siang. Bahkan dia pasti mampir ke toilet umum sebelum sampai di sini.”
“Mungkin masalahnya masih bisa dipecahkan lewat medis,” pendapatku.
“Dia punya asuransi, Alvin.”
“Jadi kepentingan cowok itu ke sini, apa untuk meruqyah rumah ini?”
“Itu nggak semudah treatment individu. Dia ke sini untuk mengajak Lis pindah secepatnya.”
“Secepatnya?!”
“Perut Lis dua hari terakhir ini mengembung misterius. Kamu lihat sendiri dia berjalan macam wanita menjelang hamil tua. Laki-laki itu yakin teluh penyebabnya. Jin mengerjainya dengan cara mengisi air sebanyak-banyaknya ke dalam perut itu....sampai mungkin diharapkan pecah isi dalamnya.”
Terang saja bulu halusku bersijingkat mendengar keterangan Wina. Kalau benar demikian, kepindahan Wina harus disegerakan.
“Mulai malam ini aku nggak akan tidur di sini lagi. Tolong bawakan beberapa pakaian dan buku aku ke kampus besok. Bantu aku juga cari tempat baru, di manapun.”
“Kenapa enggak sabar sedikit untuk beberapa hari ke depan?”
“Katanya ada kemungkinan teluh itu mengincar perempuan. Jangan sampai aku kena begituan. Kamu juga mendingan pulang.”
Selesai mengatakan itu Wina bersiap-siap meninggalkan kamar namun kutahan.
“Aku sudah dapat tempat baru tadi siang. Sudah kupanjer, tapi aku janji akhir bulan ini pindahnya.”
“Kalau gitu besok aja sekalian pindah.”
***
Pria yang di bawah itu masih lagi memandangku dengan amat serius. Tengah malam baru betul lewat. Kudengar jeritan payah dari luar. Itu Lis! Lekas-lekas aku berpaling dan mengejar suara tersebut.
Dar dar dar! Pintu kutampar dari luar. Nyatanya tidak terkunci. Namun begitu menganga aku ragu berbuat apapun. Hingga tibalah pria berpeci, sontak merangsek tanpa aba-aba.
Lis tengah tengkurap, sedang kakinya yang dua ditekuk mirip katak. Jeritannya menembus tembok, kepalanya dihuyung-huyung tak beraturan, lalu menceracau serak, dan terkadang dagunya diantuknya sendiri ke lantai.
“Giirrhhhh...” tubuh itu kini menggeram sambil mencakar-cakar lantai.
Pemuda berpeci—aku sekarang melihat jenggotnya juga—memilih berjongkok. Ditahannya dagu perempuan itu dengan tangan kiri, sementara tangannya yang lain menekan bagian ubun-ubun. Lafaz-lafaz suci mendenging lancar dari mulutnya. Sepenggal di antaranya:
الْعَلِيمُ السمِيعُ هُوَ إِنهُ ۖ بِاللهِ فَاسْتَعِذْ نَزْغٌ الشيْطَانِ مِنَ يَنْزَغَنكَ وَإِما
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Beberapa saat lamanya pelafalan itu berlangsung tanpa jeda. Tetap saja Lis bertahan dengan kondisinya. Namun aku tak mendapati seorang laki-laki yang gampang menyerah. Ayat-ayat terus disuarakan meski dahinya mulai berkeringat. Kemudian tiba-tiba saja Lis memuntahkan isi dari dalam lambungnya. Cairan. Sungguh hanya cairan. Cukup bening warnanya, tidak ada yang lain-lain.
Pemuda yang tampak lebih berumur daripadaku itu lantas menutupnya dengan lafadz yang lain lagi diikuti menepuk bagian tengkuk dan pundak belakangnya beberapa kali.
Secara perlahan Lis kembali menemukan kesadarannya. Berkali-kali bibirnya beristighfar dan meminta perlindungan dari gangguan setan. Ia bangkit kemudian duduk bersila, kendati edaran matanya baru setengah penuh.
“Aku bersihkan najis ini, setelah itu kamu menginap dulu mulai malam ini di rumah orang tuamu. Nggak apa-apa walau jauh. Aku yang antar, tapi naik taksi saja.”
Sementara sejak tadi aku cuma menonton. Menonton keanehan dan pertunjukan yang kerap ditayangkan televisi dan diceritakan sebagian orang.
Pria di mukaku itu bangkit dari jongkoknya. Aku menyingkir dari lubang pintu demi memberinya jalan. Ia sempat berkalimat padaku, “Secepat mungkin teman mas juga pindah dari sini.”
Waktu kemudian berdetik amat tangkas. Ketika mereka turun dan dengan semestinya meninggalkan rumah ini, aku tidak bertanya-tanya, siapa yang ada di rumah ini.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Kira-kira jam 8 malam Wina pulang hanya untuk mengambil tas. Bersamanya Lis dan seorang lagi, pria sebaya dengannya atau lebih sedikit umurnya. Tak sempat kukejar nama pria itu. Hanya gelagatnya aneh, seolah-olah ia tak pernah memasuki rumah orang lain seumur hidupnya.
Dalam penglihatanku, pemuda tersebut menghabiskan waktu untuk melihat-lihat. Dinding, perkakas, pajangan, unyil, sampai-sampai cicak yang merayap tak lepas dari kejaran matanya. Sekali saja dia tersenyum irit padaku, sudah itu kembali lagi melihat-lihat. Beberapa kali pula aku menangkap bibirnya mengumik-umik. Tak jelas apa isinya, dan untuk bertanya ala kadarnya pun tidak mungkin, sebab wajahnya masam.
Kami berempat berjalan bersambung-sambung lalu menaiki tangga. Sungguh itu hanya kebetulan. Lis terlihat berbeda jalannya, agak payah, seperti...Ah sudahlah.
Di luar kebiasaan, Wina pamit kepada Lis sebelum masuk ke kamar. Lis menyahut dengan ramah, lebih ramah dari yang kukira.
“Kamu mau ke mana lagi?” tanyaku begitu menemukan Wina bergegas.
“Ada deh. Urusan cewek.”
Semata-mata aku diam tak ingin mendesaknya. Pikiranku masih terbawa pada sosok pria yang baru nampak itu, juga Lis yang bersikap ramah.
Namun Wina, entah ia sudah mulai bisa membaca gelagatku atau karena dorongan benaknya seorang, berkata,
“Pak Wi nggak kasih sesaji lagi?”
“Ada tadi sore, tapi sudah kubuang.”
Tiba-tiba garis wajah perempuan itu mengeras. Wina menggaruk-garuk ubun-ubunnya yang mungkin tidak terasa gatal. Aku menduga kuat ia sedang memikirkan sesuatu yang penting.
“Alvin...” Wina tampak ragu mengatakannya. “Alvin, kamu jangan main-main. Kamu apakan benda-benda itu?”
“Kubuang, sudah kubilang kubuang,” intonasi suaraku masih terjaga.
Cerita yang sebenarnya adalah tidak lebih dan tidak kurang dari apa yang kusampaikan kepada Wina. Meski aku menyembunyikan kebohongan di dalamnya. Penyerupaan sosok Wina oleh jin keparat itu telah membuatku berpikir pendek. Maka segera setelah itu benda-benda pengundang dosa itu kumasukkan dalam satu kantong plastik lalu melemparnya jauh-jauh ke arah kebun pisang.
Itu pun yang sekali belum cukup, sebab sesudahnya aku menemukan sebuah lambar yang di atasnya terdapat sebutir telur ayam kampung. Lambar diletakkan di sudut yang berlawanan dari benda-benda sebelumnya. Dengan memikul amarah telur itu kulontarkan bulat-bulat ke arah yang sama.
Wina usai mendengar cerita yang telah dimodifikasi itu dan napasnya seolah ditarik panjang tak berhenti.
“Sayang...Lis juga mengalami gangguan yang sama seperti kita.”
Wina mengambil kursi rias lalu duduk. Berkata lagi, “Sebentar lagi dia akan pindah. Sebenarnya sewanya masih ada sisa karena dia bayar sekaligus.”
“Maksud kamu karena Lis udah enggak tahan lagi tinggal di kamarnya, begitu?”
“Bahkan dia udah berbulan-bulan nurutin saran Pak Wi sampai tiba-tiba datang cowok itu.”
“Memang siapa dia?”
“Mereka berencana menikah dekat-dekat ini.”
Kukira kepala wanita itu hanya diisi saji-sajian. Ternyata ada juga pikirannya tentang lelaki.
“Tapi hubungannya apa dengan cowok itu?” tantangku.
“Cerita Lis, calon suaminya itu peruqyah. Mula-mula Lis datang ke majelisnya tiap weekend, dengar ceramah, keterusan, sampailah akhirnya mungkin mereka berjodoh.”
Wina menyambung lagi, “Lis cerita segalanya sama cowok itu sebelum dilamar. Cowoknya kasih syarat agar dia taubat dan meninggalkan segala hal yang terkait kesyirikan.”
“Beberapa waktu lalu aku masih lihat dia...”
“Memang baru-baru ini terjadinya. Menurut calon suaminya, Lis harus pindah segera dari rumah ini, karena bagaimanapun kalau tetap bertahan, akan selalu ada persangkutan dengan jin.”
“Masalahnya adalah, setelah dia menyingkirkan benda-benda itu, Lis mendadak sering muntah-muntah.”
“Isi duluan kali?”
“Ngaco!!” Wina memarahiku dan menyuruhku bersikap lebih serius.
“Muntah-muntah itu selalu terjadi tengah malam. Dan sebelum itu pasti diawali suhu badannya tinggi.”
“Seingatku aku enggak pernah dengar dia begitu.”
“Dia selalu menahannya di kamar. Sama dengan kita, Lis juga takut ke kamar mandi kecuali siang. Bahkan dia pasti mampir ke toilet umum sebelum sampai di sini.”
“Mungkin masalahnya masih bisa dipecahkan lewat medis,” pendapatku.
“Dia punya asuransi, Alvin.”
“Jadi kepentingan cowok itu ke sini, apa untuk meruqyah rumah ini?”
“Itu nggak semudah treatment individu. Dia ke sini untuk mengajak Lis pindah secepatnya.”
“Secepatnya?!”
“Perut Lis dua hari terakhir ini mengembung misterius. Kamu lihat sendiri dia berjalan macam wanita menjelang hamil tua. Laki-laki itu yakin teluh penyebabnya. Jin mengerjainya dengan cara mengisi air sebanyak-banyaknya ke dalam perut itu....sampai mungkin diharapkan pecah isi dalamnya.”
Terang saja bulu halusku bersijingkat mendengar keterangan Wina. Kalau benar demikian, kepindahan Wina harus disegerakan.
“Mulai malam ini aku nggak akan tidur di sini lagi. Tolong bawakan beberapa pakaian dan buku aku ke kampus besok. Bantu aku juga cari tempat baru, di manapun.”
“Kenapa enggak sabar sedikit untuk beberapa hari ke depan?”
“Katanya ada kemungkinan teluh itu mengincar perempuan. Jangan sampai aku kena begituan. Kamu juga mendingan pulang.”
Selesai mengatakan itu Wina bersiap-siap meninggalkan kamar namun kutahan.
“Aku sudah dapat tempat baru tadi siang. Sudah kupanjer, tapi aku janji akhir bulan ini pindahnya.”
“Kalau gitu besok aja sekalian pindah.”
***
Pria yang di bawah itu masih lagi memandangku dengan amat serius. Tengah malam baru betul lewat. Kudengar jeritan payah dari luar. Itu Lis! Lekas-lekas aku berpaling dan mengejar suara tersebut.
Dar dar dar! Pintu kutampar dari luar. Nyatanya tidak terkunci. Namun begitu menganga aku ragu berbuat apapun. Hingga tibalah pria berpeci, sontak merangsek tanpa aba-aba.
Lis tengah tengkurap, sedang kakinya yang dua ditekuk mirip katak. Jeritannya menembus tembok, kepalanya dihuyung-huyung tak beraturan, lalu menceracau serak, dan terkadang dagunya diantuknya sendiri ke lantai.
“Giirrhhhh...” tubuh itu kini menggeram sambil mencakar-cakar lantai.
Pemuda berpeci—aku sekarang melihat jenggotnya juga—memilih berjongkok. Ditahannya dagu perempuan itu dengan tangan kiri, sementara tangannya yang lain menekan bagian ubun-ubun. Lafaz-lafaz suci mendenging lancar dari mulutnya. Sepenggal di antaranya:
الْعَلِيمُ السمِيعُ هُوَ إِنهُ ۖ بِاللهِ فَاسْتَعِذْ نَزْغٌ الشيْطَانِ مِنَ يَنْزَغَنكَ وَإِما
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Beberapa saat lamanya pelafalan itu berlangsung tanpa jeda. Tetap saja Lis bertahan dengan kondisinya. Namun aku tak mendapati seorang laki-laki yang gampang menyerah. Ayat-ayat terus disuarakan meski dahinya mulai berkeringat. Kemudian tiba-tiba saja Lis memuntahkan isi dari dalam lambungnya. Cairan. Sungguh hanya cairan. Cukup bening warnanya, tidak ada yang lain-lain.
Pemuda yang tampak lebih berumur daripadaku itu lantas menutupnya dengan lafadz yang lain lagi diikuti menepuk bagian tengkuk dan pundak belakangnya beberapa kali.
Secara perlahan Lis kembali menemukan kesadarannya. Berkali-kali bibirnya beristighfar dan meminta perlindungan dari gangguan setan. Ia bangkit kemudian duduk bersila, kendati edaran matanya baru setengah penuh.
“Aku bersihkan najis ini, setelah itu kamu menginap dulu mulai malam ini di rumah orang tuamu. Nggak apa-apa walau jauh. Aku yang antar, tapi naik taksi saja.”
Sementara sejak tadi aku cuma menonton. Menonton keanehan dan pertunjukan yang kerap ditayangkan televisi dan diceritakan sebagian orang.
Pria di mukaku itu bangkit dari jongkoknya. Aku menyingkir dari lubang pintu demi memberinya jalan. Ia sempat berkalimat padaku, “Secepat mungkin teman mas juga pindah dari sini.”
Waktu kemudian berdetik amat tangkas. Ketika mereka turun dan dengan semestinya meninggalkan rumah ini, aku tidak bertanya-tanya, siapa yang ada di rumah ini.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 18:51
bebyzha dan 9 lainnya memberi reputasi
8