- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#3497
Naga Caglak dan Bajing Item...
Tepat pukul setengah sepuluh malam, Babeh Misar keluar dari dalam rumahnya sudah dengan berpakaian serba hitam.. Baju pangsi yang terikat gesper besar berwarna hijau dipinggang, terlihat mengikat kencang.. Belum lagi peci merah yang menutupi kepala, membuat beliau nampak seperti Pendekar Betawi Tempoe Doeloe..
Pandangan gw melirik ke arah buntalan kain hitam yang dipegang Babeh Misar.. Lalu, beliau melemparkan buntalan itu tepat ke arah gw..
“Buka, tong.. Liet ndiri isinya apaan” Perintah Babeh Misar yang gw balas dengan anggukan kepala..
Kedua mata gw berbinar melihat sepasang baju dan celana berwarna hitam ada didalam buntalan..
“Ntuh Baju ama celana pangsi nyang Babeh pake jaman dulu buat bejuang.. Sekarang, Babeh warisin buat lu, tong” Ucap Babeh Misar sambil menyalakan rokok kreteknya..
Gw tercengang dengan sebuah senyuman sumringah karena merasa sangat-sangat senang mendapat warisan yang merupakan bagian dari sejarah hidup Babeh Misar.. Seketika, gw cium sepasang pakaian hitam itu untuk menghirup aroma sebuah perjuangan..
Namun, kening gw langsung berkerut heran setelah mencium pakaian tersebut yang aromanya seperti pakaian baru.. Pandangan gw terlempar ke arah Babeh Misar yang terlihat sedang tertawa terbahak-bahak, lalu terbatuk beberapa kali karena tersedak asap rokok..
Gw yang melihat Babeh Misar terbatuk terus, langsung menuangkan segelas air dari dalam dapur dan memberikannya ke beliau.. Kemudian, gw duduk disebelahnya sambil mengusap-usap punggung Babeh Misar..
“Udah, Beh.. Jangan ketawa mulu.. Ntar keselek lagi, batuk lagi deh” Ucap gw, mencoba memberi nasihat saat melihat Babeh Misar masih sesekali tertawa..
“Babeh geli bener ngeliet muka lu, abis nyium baju ntuh, Tong”
“Lah, emang kenapa Beh? Bajunya kaga bau koq.. Malah baunya kek baju baru” Jawab gw yang masih mengerutkan dahi..
“Justru ntuh nyang bikin Babeh ketawa ngakak, Tong.. Lu percaya aja omongan Babeh kalo ntuh baju bekas Babeh pake bejuang dulu.. Ntuh baju tadi sengaja Babeh beli dipasar parung buat lu”
“Wuanjriiit.. Pantesan aja baunya kek baju baru.. Ternyata emang baru dibeli di pasar Parung.. Bisa banget nih aki-aki ngerjain gw dah” Gerutu gw dalam hati, sambil menggaruk-garuk kepala menerima nasib sehabis dikerjain..
Untuk beberapa saat, gw terdiam karena dongkol.. Sambil melirik ke arah Babeh Misar yang sesekali masih tertawa kecil.. Tanpa beliau suruh, gw langsung membuka memakai baju dan celana pangsi hitam pemberian Babeh Misar.. Beliau sendiri nampak termenung dan tersenyum penuh arti ke arah gw..
“Kalo lu idup dijaman dulu terus bejuang ama Babeh, Babeh yakin pasti banyak noni belanda nyang jatoh ati liet muka lu, tong.. Ganteng bener cucu Babeh ya” Ucap Babeh Misar sambil berdiri dan menepuk bahu gw..
Gw sendiri tersenyum mendengar pujian Babeh Misar barusan.. Kemudian menelisik ke arah kain sarung hitam berukuran kecil yang Beliau keluarkan dari saku celana..
“Ini buat nutupin muka Babeh kalo lagi jadi Bajing Item, Tong.. Kalo buat lu, lu cari ndiri noh di dalem.. Kayanya ada kaen bekas kolor Babeh nyang warna item”
“Jaelaah, Beh.. Jangan bekas kolor juga ngapa” Sanggah gw atas candaan Babeh Misar..
“Iya, iya.. Nih, Babeh udah beliin juga buat lu atu cuman bukan sarung ke punya Babeh” Jawab Babeh Misar sambil menyodorkan sepotong kain berwarna hitam, sambil melempar peci merahnya ke atas balai bambu..
Gw mengambil pemberian Babeh Misar dan membentangkan kain yang ternyata adalah sebuah slayer hitam segi empat tanpa motif.. Sementara di samping gw, Babeh Misar nampak menutupi wajahnya dengan kain sarung yang dua ujung benda itu diikatkan dibelakang kepala.. Lalu, menarik satu bagian kain ke atas dan menutupi seluruh kepala beliau..
Wajah Babeh Misar yang masih tertutupi sisa kain hitam memang sudah tak terlihat.. Kemudian, beliau menarik ke bawah bagian kain yang menutupi wajah, hingga yang nampak sekarang adalah dua bola mata cekungnya saja..
Gw tertegun menyaksikan penampilan Babeh Misar yang sudah seperti ninja dari negeri seberang.. Ternyata seperti itu sosok Bajing Item yang pernah berjuang demi bangsa ini.. Sosok yang terhitung pernah berjasa dalam melawan penjajah negeri di tanah Batavia tersebut, nampak gagah dalam balutan warna hitamnya pakaian dan cadar..
Sungguh tak terbayang bagaimana beratnya perjuangan para pendekar masa lalu saat mengusir pendatang asing yang berniat menguasai tanah air.. Sangat tidak berarti perjuangan kita dimasa sekarang, yang lebih condong berjuang hanya untuk kepentingan diri sendiri saja..
“Tong, Babeh mau manggil temen.. Nanti, kalo temen babeh udah dateng.. Congor lu bungkem aja.. Jangan ngomong” Perintah Babeh Misar yang membuat gw sedikit bingung meski menganggukan kepala pertanda menurut..
Dari arah samping, Babeh Misar terlihat menyilang dua tangannya diatas dada.. Lalu, menghentakkan kaki kanan tiga kali menginjak bumi..
Tiba-tiba, tanah tempat kami berpijak terasa bergoyang seperti terkena gempa.. Gw langsung setengah berjongkok sambil memegang bumi.. Berbeda dengan Babeh Misar yang tetap berdiri dengan mata tertutup sambil membaca sesuatu.. Pandangan gw menyisir ke segala penjuru.. Terutama ke pohon-pohon besar yang nampak masih tegak tanpa ikut goyah dan menjatuhkan satu helai pun daun ..
Dari arah kandang pun sama.. Tidak terlihat sesuatu yang aneh.. Dua ekor kambing peliharaan Babeh Misar nampak tertidur nyenyak saling berhimpit, seperti tak merasakan goncangan keras ditanah.. Kemudian, gw melempar pandangan ke arah rumah beliau dan memperhatikan bangunan semi permanen itu secara seksama.. Namun, keadaannya juga serupa.. Rumah Babeh Misar yang terlihat sudah segan untuk berdiri, nampak tak terusik sama sekali dengan getaran.. Padahal di pelataran, gw masih merasakan goncangan cukup kuat..
“Temen nya Babeh pasti bukan orang nih?” Tanya gw dalam hati, lalu terbelalak saat melihat tanah yang kami injak sedikit rengkah terbelah..
Mendadak, kedua mata gw terpicing saat melihat asap putih keluar dari rengkahan tanah dan berkumpul menjadi satu tepat dua tombak di hadapan kami.. Perlahan, asap putih tersebut seperti membentuk suatu sosok.. Bukan sosok, melainkan sebuah kepala..
“Astaghfirullah!!”
Gw terpekik tertahan dengan telapak tangan sendiri yang langsung menutup mulut, saat melihat sebuah kepala ular yang berukuran sangat luar biasa besar muncul dari balik asap putih.. Bahkan, karena saking terkejutnya gw sampai jatuh terduduk dengan kedua mata terbelalak, bersamaan dengan terhentinya goncangan di tanah..
Sosok ular yang muncul hanya kepala nya saja itu, berukuran hampir setengah besarnya rumah Babeh Misar.. Dua mata sosok tersebut yang bersinar merah menerangi tanah samping kiri dan kanan.. Sisiknya yang berwarna keperakan nampak berkilat tertimpa cahaya bulan.. Sementara, lidah panjang bercabang dua nampak menjulur keluar dari mulut sosok kepala ular yang sedikit terbuka disusul suara mendesis cukup keras..
“Makasih udah nyempetin dateng, Engkong Naga Caglak” Ucap Babeh Misar sambil mengelus-elus ujung moncong kepala ular raksasa..
Sosok menyeramkan yang ternyata teman nya Babeh Misar itu tak membalas ucapan terima kasih, tapi malah melirik tajam ke arah gw.. Tiba-tiba, lidah panjang nya melesat keluar dari dalam mulut dan langsung membelit tubuh gw.. Gw sendiri yang memang sedang dalam posisi terduduk jatuh, tak bisa menghindari sambaran lidah.. Alhasil, tubuh gw terjebak tak bisa bergerak dalam belitan lidah Naga Caglak..
“Eiits, jangan di caplok.. Ntuh cucu ane, Kong” Ucap Babeh Misar yang terdengar aneh karena menggunakan bahasa ane ke Naga Caglak..
Gw yang masih terbelit oleh lidah lengket teman gaibnya Babeh Misar, melihat kedua mata merah ular raksasa itu melirik ke arah beliau yang wajahnya sudah tertutup cadar sarung hitam..
“Cucu ane emang punya elmu sedikit, Kong.. Ente kaga usah mikirin.ntuh.. Udah dilepasin aja ya” Kata Babeh Misar berusaha meyakinkan sahabatnya..
Perlahan, belitan lidah yang membuat tubuh gw kaku tidak bisa bergerak, terasa mengendur.. Lalu terlepas dengan cepat masuk kembali kedalam mulut Naga Caglak.. Babeh Misar sendiri terlihat mengelus-elus ujung moncong ular raksasa itu kembali..
Gw langsung mengelap cairan lengket dari lidah Naga Caglak kebagian bawah celana pangsi.. Kemudian melempar pandangan ke arah dua sosok berlainan alam yang nampak sedang saling tatap.. Dua telinga gw mendengarkan suara Babe Misar seperti sedang mengucapkan sesuatu yang terdengar sangat samar dari balik cadar sarung hitam, seraya terus mengelus bagian depan mulut Naga Caglak..
“Si Babeh lagi ngobrol kali yak?” Tanya gw dalam hati yang melihat Babeh Misar melepaskan tangannya dan mundur satu tombak ke belakang..
Dilain pihak, sosok Naga Caglak nampak membuka mulutnya lebar-lebar, seperti sengaja menunjukkan taring-taring nya yang tajam.. Gw yang merasa sedikit ngeri melihat mulut ular raksasa terbuka lebar beberapa langkah didepan, memilih ikut mundur ke belakang..
“Lu masuk ke dalem mulut Naga Caglak, Tong” Perintah Babeh Misa,r yang membuat kedua mata gw melotot seketika..
“Babeh bercanda kan ya?” Ucap gw disusul senyuman kecil karena mengira Kakek Tua itu kembali ingin mengerjai gw..
“Kaga! Babeh beneran, Tong”
“Beh! Gila aja saya harus masuk ke dalem.. Itu mulut ular, Beh.. Bukan pintu rumah Babeh” Tolak gw sembari menunjuk ke arah mulut Naga Caglak yang masih terbuka lebar siap menelan siapa saja yang nekat masuk ke dalamnya..
“Udah! Jangan pake ngebantah Babeh.. Buruan masuk.. Kalo lu takut, masuknya berengan ama Babeh”
“Tapi, Beh”
Ucapan gw terpaksa terputus saat tangan gw yang masih menunjuk, langsung ditangkap dan ditarik dengan cukup kuat oleh Babeh Misar.. Kedua mata gw membesar saat Babeh Misar mulai melangkah maju ke arah mulut Naga Caglak, sambil terus menarik tangan gw di belakangnya..
Gw coba melepaskan tangan dari cengkraman Babeh Misar.. Namun tenaga Kakek Tua itu terasa semakin kuat, seperti tidak membiarkan pegangannya lepas dari tangan gw.. Dengan hati berdesir, gw akhirnya menyerah dan berjalan mengekor dibelakang Babeh Misar..
Gw sempat bergidik ngeri ditambah geli melihat bagian dalam mulut Naga Caglak yang sudah kami injak.. Kedua kaki gw yang tidak memakai alas apapun, menginjak bagian bawah mulut ular raksasa tersebut yang terasa berlendir namun empuk..
“Tutup mata lu, Tong.. Jangan buka kalo Babeh belom suruh” Perintah Babeh Misar lagi yang berdiri persis disebelah gw, didalam rongga mulut Naga Caglak..
Gw mengangguk pelan meski dalam hati tidak yakin akan apa yang saat ini sedang gw lakukan benar atau tidak.. Air liur langsung tertelan dalam mulut gw, begitu Naga Caglak mulai menutup mulutnya secara perlahan, bersamaan dengan kedua mata gw yang terpejam..
“Mimpi apa gw semalem. Bree?” Tanya gw dalam hati, sambil memegangi lengan baju pangsi Babeh Misar dengan sangat kuat..
Udara dalam rongga mulut Naga Caglak terasa sangat lembab.. Kedua mata gw yang masih terpejam sampai kejatuhan keringat yang mengalir dari atas dahi.. Dalam hati, gw merasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi diluar sana.. Mengapa Babeh Misar sampai nekat menyuruh gw masuk bersamanya ke dalam rongga mulut Naga Caglak?”
Sesaat kemudian, gw mulai merasakan sapuan angin malam yang dingin dari arah depan seketika menghilangkan hawa lembab dan gerah di tubuh..
“Makasih bantuan ente, Kong.. Kalo ada umur, nanti ane gantian nyang maen ke tempat ente”
Terdengar suara Babeh Misar yang sedang berbicara dengan Naga Caglak.. Dalam hati, sebenarnya gw penasaran.. Tapi, tak berani melanggar perintah beliau yang menyuruh gw untuk terus menutup mata, sebelum diperbolehkannya..
“Buka mata lu, Tong.. Kita udah nyampe nih” Ucap Babeh Misar dari arah samping..
Gw yang merasa lega karena akhirnya sudah diperbolehkan untuk melihat, mulai membuka kedua mata perlahan-lahan.. Pandangan gw sempat menyisir ke arah samping kiri dan kanan, saat mengetahui kami berdua tak lagi berada dalam mulut Naga Caglak, dan sudah berdiri dibelakang dua pohon besar disebuah kebun..
“Kita udah nyampe di tempat ngumpulnya semua preman pasar dibantuin Naga Caglak tadi, tong” Kata Babeh Misar yang membuat gw harus menepok jidat sendiri..
Ternyata, sahabat gaibnya Kakek Tua itu hanya membantu kami berpindah tempat saja dengan cara masuk ke dalam mulutnya.. Seperti yang biasa gw lakukan dengan Sekar atau Bayu Barata, namun dengan cara yang berbeda.. Kenapa si Babeh kaga ngemeng dari tadi? Sengaja banget Babeh Misar ngerjain gw sampe bikin gw sport jantung..
“Lama-lama, bisa gw piting juga nih aki-aki saking seringnya ngerjain gw” Gerutu gw dalam hati sambil meremas slayer hitam dalam genggaman tangan..
“Tong, lu liet noh di gubuk depan.. Ntuh preman-preman kayanya lagi pada mabok dah” Ucap Babeh Misar sambil menunjuk ke arah kegelapan..
Gw terpaksa menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk melihat ke arah yang beliau tunjuk.. Dihadapan kami terbentang tanah lapang dengan sebuah gubuk seperti pos ronda.. Mata gw menangkap ada enam orang laki-laki, yang memang benar sedang menikmati minuman keras sambil duduk diatas teras gubuk.. Tiga motor terlihat terparkir sedikit menjorok ke bagian belakang gubuk.. Sepertinya, mereka sengaja menyembunyikan kendaraan agar tidak dapat dilihat oleh orang lain..
Mulut gw seketika menyunggingkan senyuman dingin melihat ada dua sosok laki-laki yang sudah gw kenal ada diantara mereka.. Yup! Siapa lagi kalau bukan dua preman berhati Pink, yang tadi siang sempat membuat gw kentang memberikan mereka pelajaran..
“Lu pake kaen item yang Babeh kasih tadi.. Terus, tunggu disini.. Lu lietin aja dulu pegimana Bajing Item ngegaplok ntuh orang-orang pada.. Ntar Babeh sisain si Jon ama si Robet buat lu” Ucap Babeh Misar yang gw balas dengan acungan jempol tanda setuju..
Perlahan, Babeh Misar menengadahkan kedua telapak tangan seperti berdo’a.. Lalu, mengusap wajahnya yang tertutup cadar kain sarung hitam dengan kedua telapak tangan..
“Hup”
Telinga gw sempat mendengar suara Babeh Misar, namun terkejut saat menyadari Kakek Tua itu tidak lagi berada disamping.. Dengan cepat gw melemparkan pandangan ke semua penjuru dan mendapati sosok Kakek Tua tersebut sudah berpindah tempat ke atas sebuah cabang pohon besar didekat gubuk..
“Gila! Buat orang yang udah berumur, Ilmu Meringankan Tubuh si Babeh masih ada diatas gw” Puji gw, ke arah Babeh Misar yang nampak hanya seperti bayangan hitam saat melompat lagi dengan lincah layaknya seekor Bajing Hitam dan kali ini mendarat persis di atas atap gubuk yang hanya terbuat dari asbes..
Perlahan, gw melipat slayer hitam menjadi bentuk segitiga dan menutup wajah gw dari bawah mata sampai mulut.. Pandangan mata gw terus menatap tajam ke arah Bajing Item yang melompat sejengkal diatas asbes, lalu menginjak benda itu hingga pecah berantakan.. Bersamaan dengan tubuhnya yang ikut jatuh ke dalam.. Disusul suara teriakan orang-orang yang terkejut dari dalam gubuk..
Dengan gerakan lincah, Babeh Misar yang sudah menjelma menjadi sosok Bajing Item memporak-porandakan pesta miras keenam orang tersebut.. Beberapa kali terdengar suara teriakan kesakitan para pemabuk itu saat menerima tempelengan, tendangan maupun sikutan Bajing Item.. Hanya dua orang yang sengaja ia totok jalan darahnya hingga tak mampu bergerak.. Sesuai janji Babeh Misar, beliau akan menyisakan dua preman karbitan untuk gw..
Hanya butuh waktu tidak kurang dari tiga menit, Bajing Item berhasil melumpuhkan keempat bajingan tersebut hingga jatuh pingsan.. Kemudian ia melompat turun dari atas gubuk sambil menarik tangan si Jon dan Si Robet..
Gw yang masih bersembunyi dibelakang dua pohon, berniat hendak melompat dan melanjutkan aksi pemberian pelajaran ke dua preman pasar yang sedang di seret Bajing Item.. Namun, tiba-tiba kedua mata gw terbelalak begitu melihat sosok Babeh Misar terpental empat tombak ke arah samping, saat selarik sinar ungu menghantam nya dan membuat tubuh renta kakek itu terjatuh menghantam tanah keras..
“BABEH!!!” Teriak gw seraya melompat ke depan dengan menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh..
Setelah mendarat didekat Babeh Misar, gw langsung membantu beliau untuk berdiri.. Dua mata Bajing Item nampak terpejam dan terduduk kembali diatas tanah sambil merentangkan dua tangan di atas dada.. Sementara pandangan mata gw yang nanar, menyisir ke segala penjuru, berusaha mencari tahu siapa yang telah menyerang Bajing Item secara pengecut..
“Woy! Keluar lu pengecut! Jangan berani nya nyerang dari belakang” Bentak gw yang mulai dikuasai emosi..
Sejenak, hanya suara jangkrik yang nyanyiannya memecah keheningan malam.. Tanpa ada nya sahutan ataupun kemunculan sosok pengecut yang sudah melukai Babeh Misar..
“HOEKK”
Kedua mata gw membesar melihat Bajing Item memuntahkan darah dari balik cadar kain sarung.. Tanpa pikir panjang, gw langsung membuka kain sarung hitam yang menutupi wajah Babeh Misar..
“Babeh...” Ucap si Jon yang masih terduduk tanpa bisa bergerak, dengan wajah terkejut melihat siapa sebenarnya sosok dibalik cadar..
Gw tidak memperdulikan ucapan si Jon, karena merasa cemas melihat keadaan Babeh Misar yang nampak lemas dengan bagian bawah mulut dipenuhi darah merah.. Tak mau hal yang tidak-tidak terjadi dengan Babeh Misar, gw langsung berpindah tempat dan duduk dibelakang beliau.. Kedua telapak tangan gw sudah terbuka dan bersiap untuk menyalurkan tenaga dalam dari punggungnya..
Tiba-tiba, bahu kanan gw langsung terasa panas tanpa menghangat terlebih dahulu.. Ini pertanda bahwa Pedang Jagat Samudera bereaksi akan sesuatu yang jahat akan datang.. Babeh Misar yang sepertinya merasakan hal sama, membalikkan tubuh secara perlahan hingga menghadap gw yang sudah duduk dibelakangnya..
“Mendingan.. lu pegih.. dari sini, Tong” Ucap Babeh Misar dengan nafas terputus-putus..
“Kaga beh! Pantang buat saya ninggalin Babeh yang lagi terluka.. Kita pergi bareng, pulang juga harus bareng, Beh..”
DEG...
Belum sedetik gw selesai berbicara, mendadak suasana langsung senyap seketika.. Suara nyanyian Jangkrik yang sedari tadi mengejek bentakan gw, tak lagi terdengar.. Angin malam yang semula masih berkenan berhembus, seperti takut untuk kembali menggigilkan tubuh dengan dinginnya..
Sepuluh tombak diatas kami, tiba-tiba muncul sosok samar berselimutkan asap putih yang tadi siang sempat gw lihat keberadaannya di atas pohon beringin besar..
“Dia.. dateng.. Lu..kudu.. ati-ati, Tong” Ucap Babeh Misar bersamaan dengan mulai berdirinya gw yang siap menghadapi apapun..
Tepat pukul setengah sepuluh malam, Babeh Misar keluar dari dalam rumahnya sudah dengan berpakaian serba hitam.. Baju pangsi yang terikat gesper besar berwarna hijau dipinggang, terlihat mengikat kencang.. Belum lagi peci merah yang menutupi kepala, membuat beliau nampak seperti Pendekar Betawi Tempoe Doeloe..
Pandangan gw melirik ke arah buntalan kain hitam yang dipegang Babeh Misar.. Lalu, beliau melemparkan buntalan itu tepat ke arah gw..
“Buka, tong.. Liet ndiri isinya apaan” Perintah Babeh Misar yang gw balas dengan anggukan kepala..
Kedua mata gw berbinar melihat sepasang baju dan celana berwarna hitam ada didalam buntalan..
“Ntuh Baju ama celana pangsi nyang Babeh pake jaman dulu buat bejuang.. Sekarang, Babeh warisin buat lu, tong” Ucap Babeh Misar sambil menyalakan rokok kreteknya..
Gw tercengang dengan sebuah senyuman sumringah karena merasa sangat-sangat senang mendapat warisan yang merupakan bagian dari sejarah hidup Babeh Misar.. Seketika, gw cium sepasang pakaian hitam itu untuk menghirup aroma sebuah perjuangan..
Namun, kening gw langsung berkerut heran setelah mencium pakaian tersebut yang aromanya seperti pakaian baru.. Pandangan gw terlempar ke arah Babeh Misar yang terlihat sedang tertawa terbahak-bahak, lalu terbatuk beberapa kali karena tersedak asap rokok..
Gw yang melihat Babeh Misar terbatuk terus, langsung menuangkan segelas air dari dalam dapur dan memberikannya ke beliau.. Kemudian, gw duduk disebelahnya sambil mengusap-usap punggung Babeh Misar..
“Udah, Beh.. Jangan ketawa mulu.. Ntar keselek lagi, batuk lagi deh” Ucap gw, mencoba memberi nasihat saat melihat Babeh Misar masih sesekali tertawa..
“Babeh geli bener ngeliet muka lu, abis nyium baju ntuh, Tong”
“Lah, emang kenapa Beh? Bajunya kaga bau koq.. Malah baunya kek baju baru” Jawab gw yang masih mengerutkan dahi..
“Justru ntuh nyang bikin Babeh ketawa ngakak, Tong.. Lu percaya aja omongan Babeh kalo ntuh baju bekas Babeh pake bejuang dulu.. Ntuh baju tadi sengaja Babeh beli dipasar parung buat lu”
“Wuanjriiit.. Pantesan aja baunya kek baju baru.. Ternyata emang baru dibeli di pasar Parung.. Bisa banget nih aki-aki ngerjain gw dah” Gerutu gw dalam hati, sambil menggaruk-garuk kepala menerima nasib sehabis dikerjain..
Untuk beberapa saat, gw terdiam karena dongkol.. Sambil melirik ke arah Babeh Misar yang sesekali masih tertawa kecil.. Tanpa beliau suruh, gw langsung membuka memakai baju dan celana pangsi hitam pemberian Babeh Misar.. Beliau sendiri nampak termenung dan tersenyum penuh arti ke arah gw..
“Kalo lu idup dijaman dulu terus bejuang ama Babeh, Babeh yakin pasti banyak noni belanda nyang jatoh ati liet muka lu, tong.. Ganteng bener cucu Babeh ya” Ucap Babeh Misar sambil berdiri dan menepuk bahu gw..
Gw sendiri tersenyum mendengar pujian Babeh Misar barusan.. Kemudian menelisik ke arah kain sarung hitam berukuran kecil yang Beliau keluarkan dari saku celana..
“Ini buat nutupin muka Babeh kalo lagi jadi Bajing Item, Tong.. Kalo buat lu, lu cari ndiri noh di dalem.. Kayanya ada kaen bekas kolor Babeh nyang warna item”
“Jaelaah, Beh.. Jangan bekas kolor juga ngapa” Sanggah gw atas candaan Babeh Misar..
“Iya, iya.. Nih, Babeh udah beliin juga buat lu atu cuman bukan sarung ke punya Babeh” Jawab Babeh Misar sambil menyodorkan sepotong kain berwarna hitam, sambil melempar peci merahnya ke atas balai bambu..
Gw mengambil pemberian Babeh Misar dan membentangkan kain yang ternyata adalah sebuah slayer hitam segi empat tanpa motif.. Sementara di samping gw, Babeh Misar nampak menutupi wajahnya dengan kain sarung yang dua ujung benda itu diikatkan dibelakang kepala.. Lalu, menarik satu bagian kain ke atas dan menutupi seluruh kepala beliau..
Wajah Babeh Misar yang masih tertutupi sisa kain hitam memang sudah tak terlihat.. Kemudian, beliau menarik ke bawah bagian kain yang menutupi wajah, hingga yang nampak sekarang adalah dua bola mata cekungnya saja..
Gw tertegun menyaksikan penampilan Babeh Misar yang sudah seperti ninja dari negeri seberang.. Ternyata seperti itu sosok Bajing Item yang pernah berjuang demi bangsa ini.. Sosok yang terhitung pernah berjasa dalam melawan penjajah negeri di tanah Batavia tersebut, nampak gagah dalam balutan warna hitamnya pakaian dan cadar..
Sungguh tak terbayang bagaimana beratnya perjuangan para pendekar masa lalu saat mengusir pendatang asing yang berniat menguasai tanah air.. Sangat tidak berarti perjuangan kita dimasa sekarang, yang lebih condong berjuang hanya untuk kepentingan diri sendiri saja..
“Tong, Babeh mau manggil temen.. Nanti, kalo temen babeh udah dateng.. Congor lu bungkem aja.. Jangan ngomong” Perintah Babeh Misar yang membuat gw sedikit bingung meski menganggukan kepala pertanda menurut..
Dari arah samping, Babeh Misar terlihat menyilang dua tangannya diatas dada.. Lalu, menghentakkan kaki kanan tiga kali menginjak bumi..
Tiba-tiba, tanah tempat kami berpijak terasa bergoyang seperti terkena gempa.. Gw langsung setengah berjongkok sambil memegang bumi.. Berbeda dengan Babeh Misar yang tetap berdiri dengan mata tertutup sambil membaca sesuatu.. Pandangan gw menyisir ke segala penjuru.. Terutama ke pohon-pohon besar yang nampak masih tegak tanpa ikut goyah dan menjatuhkan satu helai pun daun ..
Dari arah kandang pun sama.. Tidak terlihat sesuatu yang aneh.. Dua ekor kambing peliharaan Babeh Misar nampak tertidur nyenyak saling berhimpit, seperti tak merasakan goncangan keras ditanah.. Kemudian, gw melempar pandangan ke arah rumah beliau dan memperhatikan bangunan semi permanen itu secara seksama.. Namun, keadaannya juga serupa.. Rumah Babeh Misar yang terlihat sudah segan untuk berdiri, nampak tak terusik sama sekali dengan getaran.. Padahal di pelataran, gw masih merasakan goncangan cukup kuat..
“Temen nya Babeh pasti bukan orang nih?” Tanya gw dalam hati, lalu terbelalak saat melihat tanah yang kami injak sedikit rengkah terbelah..
Mendadak, kedua mata gw terpicing saat melihat asap putih keluar dari rengkahan tanah dan berkumpul menjadi satu tepat dua tombak di hadapan kami.. Perlahan, asap putih tersebut seperti membentuk suatu sosok.. Bukan sosok, melainkan sebuah kepala..
“Astaghfirullah!!”
Gw terpekik tertahan dengan telapak tangan sendiri yang langsung menutup mulut, saat melihat sebuah kepala ular yang berukuran sangat luar biasa besar muncul dari balik asap putih.. Bahkan, karena saking terkejutnya gw sampai jatuh terduduk dengan kedua mata terbelalak, bersamaan dengan terhentinya goncangan di tanah..
Sosok ular yang muncul hanya kepala nya saja itu, berukuran hampir setengah besarnya rumah Babeh Misar.. Dua mata sosok tersebut yang bersinar merah menerangi tanah samping kiri dan kanan.. Sisiknya yang berwarna keperakan nampak berkilat tertimpa cahaya bulan.. Sementara, lidah panjang bercabang dua nampak menjulur keluar dari mulut sosok kepala ular yang sedikit terbuka disusul suara mendesis cukup keras..
“Makasih udah nyempetin dateng, Engkong Naga Caglak” Ucap Babeh Misar sambil mengelus-elus ujung moncong kepala ular raksasa..
Sosok menyeramkan yang ternyata teman nya Babeh Misar itu tak membalas ucapan terima kasih, tapi malah melirik tajam ke arah gw.. Tiba-tiba, lidah panjang nya melesat keluar dari dalam mulut dan langsung membelit tubuh gw.. Gw sendiri yang memang sedang dalam posisi terduduk jatuh, tak bisa menghindari sambaran lidah.. Alhasil, tubuh gw terjebak tak bisa bergerak dalam belitan lidah Naga Caglak..
“Eiits, jangan di caplok.. Ntuh cucu ane, Kong” Ucap Babeh Misar yang terdengar aneh karena menggunakan bahasa ane ke Naga Caglak..
Gw yang masih terbelit oleh lidah lengket teman gaibnya Babeh Misar, melihat kedua mata merah ular raksasa itu melirik ke arah beliau yang wajahnya sudah tertutup cadar sarung hitam..
“Cucu ane emang punya elmu sedikit, Kong.. Ente kaga usah mikirin.ntuh.. Udah dilepasin aja ya” Kata Babeh Misar berusaha meyakinkan sahabatnya..
Perlahan, belitan lidah yang membuat tubuh gw kaku tidak bisa bergerak, terasa mengendur.. Lalu terlepas dengan cepat masuk kembali kedalam mulut Naga Caglak.. Babeh Misar sendiri terlihat mengelus-elus ujung moncong ular raksasa itu kembali..
Gw langsung mengelap cairan lengket dari lidah Naga Caglak kebagian bawah celana pangsi.. Kemudian melempar pandangan ke arah dua sosok berlainan alam yang nampak sedang saling tatap.. Dua telinga gw mendengarkan suara Babe Misar seperti sedang mengucapkan sesuatu yang terdengar sangat samar dari balik cadar sarung hitam, seraya terus mengelus bagian depan mulut Naga Caglak..
“Si Babeh lagi ngobrol kali yak?” Tanya gw dalam hati yang melihat Babeh Misar melepaskan tangannya dan mundur satu tombak ke belakang..
Dilain pihak, sosok Naga Caglak nampak membuka mulutnya lebar-lebar, seperti sengaja menunjukkan taring-taring nya yang tajam.. Gw yang merasa sedikit ngeri melihat mulut ular raksasa terbuka lebar beberapa langkah didepan, memilih ikut mundur ke belakang..
“Lu masuk ke dalem mulut Naga Caglak, Tong” Perintah Babeh Misa,r yang membuat kedua mata gw melotot seketika..
“Babeh bercanda kan ya?” Ucap gw disusul senyuman kecil karena mengira Kakek Tua itu kembali ingin mengerjai gw..
“Kaga! Babeh beneran, Tong”
“Beh! Gila aja saya harus masuk ke dalem.. Itu mulut ular, Beh.. Bukan pintu rumah Babeh” Tolak gw sembari menunjuk ke arah mulut Naga Caglak yang masih terbuka lebar siap menelan siapa saja yang nekat masuk ke dalamnya..
“Udah! Jangan pake ngebantah Babeh.. Buruan masuk.. Kalo lu takut, masuknya berengan ama Babeh”
“Tapi, Beh”
Ucapan gw terpaksa terputus saat tangan gw yang masih menunjuk, langsung ditangkap dan ditarik dengan cukup kuat oleh Babeh Misar.. Kedua mata gw membesar saat Babeh Misar mulai melangkah maju ke arah mulut Naga Caglak, sambil terus menarik tangan gw di belakangnya..
Gw coba melepaskan tangan dari cengkraman Babeh Misar.. Namun tenaga Kakek Tua itu terasa semakin kuat, seperti tidak membiarkan pegangannya lepas dari tangan gw.. Dengan hati berdesir, gw akhirnya menyerah dan berjalan mengekor dibelakang Babeh Misar..
Gw sempat bergidik ngeri ditambah geli melihat bagian dalam mulut Naga Caglak yang sudah kami injak.. Kedua kaki gw yang tidak memakai alas apapun, menginjak bagian bawah mulut ular raksasa tersebut yang terasa berlendir namun empuk..
“Tutup mata lu, Tong.. Jangan buka kalo Babeh belom suruh” Perintah Babeh Misar lagi yang berdiri persis disebelah gw, didalam rongga mulut Naga Caglak..
Gw mengangguk pelan meski dalam hati tidak yakin akan apa yang saat ini sedang gw lakukan benar atau tidak.. Air liur langsung tertelan dalam mulut gw, begitu Naga Caglak mulai menutup mulutnya secara perlahan, bersamaan dengan kedua mata gw yang terpejam..
“Mimpi apa gw semalem. Bree?” Tanya gw dalam hati, sambil memegangi lengan baju pangsi Babeh Misar dengan sangat kuat..
Udara dalam rongga mulut Naga Caglak terasa sangat lembab.. Kedua mata gw yang masih terpejam sampai kejatuhan keringat yang mengalir dari atas dahi.. Dalam hati, gw merasa penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi diluar sana.. Mengapa Babeh Misar sampai nekat menyuruh gw masuk bersamanya ke dalam rongga mulut Naga Caglak?”
Sesaat kemudian, gw mulai merasakan sapuan angin malam yang dingin dari arah depan seketika menghilangkan hawa lembab dan gerah di tubuh..
“Makasih bantuan ente, Kong.. Kalo ada umur, nanti ane gantian nyang maen ke tempat ente”
Terdengar suara Babeh Misar yang sedang berbicara dengan Naga Caglak.. Dalam hati, sebenarnya gw penasaran.. Tapi, tak berani melanggar perintah beliau yang menyuruh gw untuk terus menutup mata, sebelum diperbolehkannya..
“Buka mata lu, Tong.. Kita udah nyampe nih” Ucap Babeh Misar dari arah samping..
Gw yang merasa lega karena akhirnya sudah diperbolehkan untuk melihat, mulai membuka kedua mata perlahan-lahan.. Pandangan gw sempat menyisir ke arah samping kiri dan kanan, saat mengetahui kami berdua tak lagi berada dalam mulut Naga Caglak, dan sudah berdiri dibelakang dua pohon besar disebuah kebun..
“Kita udah nyampe di tempat ngumpulnya semua preman pasar dibantuin Naga Caglak tadi, tong” Kata Babeh Misar yang membuat gw harus menepok jidat sendiri..
Ternyata, sahabat gaibnya Kakek Tua itu hanya membantu kami berpindah tempat saja dengan cara masuk ke dalam mulutnya.. Seperti yang biasa gw lakukan dengan Sekar atau Bayu Barata, namun dengan cara yang berbeda.. Kenapa si Babeh kaga ngemeng dari tadi? Sengaja banget Babeh Misar ngerjain gw sampe bikin gw sport jantung..
“Lama-lama, bisa gw piting juga nih aki-aki saking seringnya ngerjain gw” Gerutu gw dalam hati sambil meremas slayer hitam dalam genggaman tangan..
“Tong, lu liet noh di gubuk depan.. Ntuh preman-preman kayanya lagi pada mabok dah” Ucap Babeh Misar sambil menunjuk ke arah kegelapan..
Gw terpaksa menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk melihat ke arah yang beliau tunjuk.. Dihadapan kami terbentang tanah lapang dengan sebuah gubuk seperti pos ronda.. Mata gw menangkap ada enam orang laki-laki, yang memang benar sedang menikmati minuman keras sambil duduk diatas teras gubuk.. Tiga motor terlihat terparkir sedikit menjorok ke bagian belakang gubuk.. Sepertinya, mereka sengaja menyembunyikan kendaraan agar tidak dapat dilihat oleh orang lain..
Mulut gw seketika menyunggingkan senyuman dingin melihat ada dua sosok laki-laki yang sudah gw kenal ada diantara mereka.. Yup! Siapa lagi kalau bukan dua preman berhati Pink, yang tadi siang sempat membuat gw kentang memberikan mereka pelajaran..
“Lu pake kaen item yang Babeh kasih tadi.. Terus, tunggu disini.. Lu lietin aja dulu pegimana Bajing Item ngegaplok ntuh orang-orang pada.. Ntar Babeh sisain si Jon ama si Robet buat lu” Ucap Babeh Misar yang gw balas dengan acungan jempol tanda setuju..
Perlahan, Babeh Misar menengadahkan kedua telapak tangan seperti berdo’a.. Lalu, mengusap wajahnya yang tertutup cadar kain sarung hitam dengan kedua telapak tangan..
“Hup”
Telinga gw sempat mendengar suara Babeh Misar, namun terkejut saat menyadari Kakek Tua itu tidak lagi berada disamping.. Dengan cepat gw melemparkan pandangan ke semua penjuru dan mendapati sosok Kakek Tua tersebut sudah berpindah tempat ke atas sebuah cabang pohon besar didekat gubuk..
“Gila! Buat orang yang udah berumur, Ilmu Meringankan Tubuh si Babeh masih ada diatas gw” Puji gw, ke arah Babeh Misar yang nampak hanya seperti bayangan hitam saat melompat lagi dengan lincah layaknya seekor Bajing Hitam dan kali ini mendarat persis di atas atap gubuk yang hanya terbuat dari asbes..
Perlahan, gw melipat slayer hitam menjadi bentuk segitiga dan menutup wajah gw dari bawah mata sampai mulut.. Pandangan mata gw terus menatap tajam ke arah Bajing Item yang melompat sejengkal diatas asbes, lalu menginjak benda itu hingga pecah berantakan.. Bersamaan dengan tubuhnya yang ikut jatuh ke dalam.. Disusul suara teriakan orang-orang yang terkejut dari dalam gubuk..
Dengan gerakan lincah, Babeh Misar yang sudah menjelma menjadi sosok Bajing Item memporak-porandakan pesta miras keenam orang tersebut.. Beberapa kali terdengar suara teriakan kesakitan para pemabuk itu saat menerima tempelengan, tendangan maupun sikutan Bajing Item.. Hanya dua orang yang sengaja ia totok jalan darahnya hingga tak mampu bergerak.. Sesuai janji Babeh Misar, beliau akan menyisakan dua preman karbitan untuk gw..
Hanya butuh waktu tidak kurang dari tiga menit, Bajing Item berhasil melumpuhkan keempat bajingan tersebut hingga jatuh pingsan.. Kemudian ia melompat turun dari atas gubuk sambil menarik tangan si Jon dan Si Robet..
Gw yang masih bersembunyi dibelakang dua pohon, berniat hendak melompat dan melanjutkan aksi pemberian pelajaran ke dua preman pasar yang sedang di seret Bajing Item.. Namun, tiba-tiba kedua mata gw terbelalak begitu melihat sosok Babeh Misar terpental empat tombak ke arah samping, saat selarik sinar ungu menghantam nya dan membuat tubuh renta kakek itu terjatuh menghantam tanah keras..
“BABEH!!!” Teriak gw seraya melompat ke depan dengan menggunakan Ilmu Meringankan Tubuh..
Setelah mendarat didekat Babeh Misar, gw langsung membantu beliau untuk berdiri.. Dua mata Bajing Item nampak terpejam dan terduduk kembali diatas tanah sambil merentangkan dua tangan di atas dada.. Sementara pandangan mata gw yang nanar, menyisir ke segala penjuru, berusaha mencari tahu siapa yang telah menyerang Bajing Item secara pengecut..
“Woy! Keluar lu pengecut! Jangan berani nya nyerang dari belakang” Bentak gw yang mulai dikuasai emosi..
Sejenak, hanya suara jangkrik yang nyanyiannya memecah keheningan malam.. Tanpa ada nya sahutan ataupun kemunculan sosok pengecut yang sudah melukai Babeh Misar..
“HOEKK”
Kedua mata gw membesar melihat Bajing Item memuntahkan darah dari balik cadar kain sarung.. Tanpa pikir panjang, gw langsung membuka kain sarung hitam yang menutupi wajah Babeh Misar..
“Babeh...” Ucap si Jon yang masih terduduk tanpa bisa bergerak, dengan wajah terkejut melihat siapa sebenarnya sosok dibalik cadar..
Gw tidak memperdulikan ucapan si Jon, karena merasa cemas melihat keadaan Babeh Misar yang nampak lemas dengan bagian bawah mulut dipenuhi darah merah.. Tak mau hal yang tidak-tidak terjadi dengan Babeh Misar, gw langsung berpindah tempat dan duduk dibelakang beliau.. Kedua telapak tangan gw sudah terbuka dan bersiap untuk menyalurkan tenaga dalam dari punggungnya..
Tiba-tiba, bahu kanan gw langsung terasa panas tanpa menghangat terlebih dahulu.. Ini pertanda bahwa Pedang Jagat Samudera bereaksi akan sesuatu yang jahat akan datang.. Babeh Misar yang sepertinya merasakan hal sama, membalikkan tubuh secara perlahan hingga menghadap gw yang sudah duduk dibelakangnya..
“Mendingan.. lu pegih.. dari sini, Tong” Ucap Babeh Misar dengan nafas terputus-putus..
“Kaga beh! Pantang buat saya ninggalin Babeh yang lagi terluka.. Kita pergi bareng, pulang juga harus bareng, Beh..”
DEG...
Belum sedetik gw selesai berbicara, mendadak suasana langsung senyap seketika.. Suara nyanyian Jangkrik yang sedari tadi mengejek bentakan gw, tak lagi terdengar.. Angin malam yang semula masih berkenan berhembus, seperti takut untuk kembali menggigilkan tubuh dengan dinginnya..
Sepuluh tombak diatas kami, tiba-tiba muncul sosok samar berselimutkan asap putih yang tadi siang sempat gw lihat keberadaannya di atas pohon beringin besar..
“Dia.. dateng.. Lu..kudu.. ati-ati, Tong” Ucap Babeh Misar bersamaan dengan mulai berdirinya gw yang siap menghadapi apapun..
Diubah oleh juraganpengki 01-03-2018 22:21
dodolgarut134 dan 15 lainnya memberi reputasi
16