~Abdi téh ayeuna, gaduh hiji boneka teu kinten saé na, sareng lucu na ku abdi di erokan, erokna saé pisan cing mangga tingali, boneka abdi~
Perkenalkan, namaku Nabilla. Aku mau menceritakan kisah indigo-ku, yang menurutku tidak wajar.
Spoiler for satu:
Aku mungkin bisa dibilang memiliki ‘kelebihan’ beda dari yang lain, yakni indigo. Almh. Mamah, Papah, juga adikku juga bisa. Ya memang dibilang sudah keturunannya. Mungkin, melihat makhluk tak kasat mata sudah biasa bagiku. Namun, kali ini berbeda. Sangat berbeda.
Ketika aku pertama kali masuk di sekolahku, tepatnya SMP PGRI 6 Bogor, aku belum mempunyai teman ‘tak kasat mata’. Ya mungkin, karena aku tidak terlalu memikirkan hal macam itu.
Spoiler for dua:
Tetapi, saat aku menginjak bangku kelas 2 SMP, mulailah mereka muncul, menampakkan dirinya kepada diriku.
Aku yang sudah terbiasa, tidak menganggap aneh. Pikirku wajar saja, mungkin dia ingin bermain denganku. Namun, lama-kelamaan, mereka semakin aneh. Mereka merasuki tubuhku.
Bisa dibilang, aku memiliki kepribadian ganda. Salah satunya sosok yang menjadi teman baruku. Namanya Rio. Rio adalah laki-laki berumur siswa SMA. Dia memiliki wajah tampan dan memang selalu memakai baju SMA. Sifatnya sangat jahat, picik, dan pendendam.
Rio sangat senang melihat orang lain terpuruk.
Spoiler for tiga:
Rio sering merasuki tubuhku. Rio selalu mengatakan kata-kata yang kasar. Dia seperti berandalan SMA yang tidak disekolahkan. Dia juga sering membuat diriku celaka.
Sering kali tanganku ada bekas cakaran yang sangat banyak, bahkan hingga berdarah. Itu sangat sakit sekali.
Spoiler for empat:
Suatu ketika, dia merasuki tubuhku. Temanku, yang saat itu bisa berkomunikasi dengan Rio melalui tubuhku, awalnya tidak tahu kalau itu bukan aku, melainkan Rio.
Dan waktu temanku bertanya, dia menjawab “Aku senang melihat Nabilla seperti itu. Ternyata jarumnya tajam juga.”
Spoiler for lima:
Semenjak kejadian itu, aku diawasi oleh teman-teman dan juga papahku. Tetapi tetap saja, Rio melakukan segala cara untuk mencelakaiku.
Bahkan, dia pernah menghilangkan ingatanku. Ketika aku sudah ingat kembali, aku tidak tahu kejadian apa yang terjadi. Aku tidak lupa, Rio menjebakku dalam ruangan yang sangat gelap.
Aku terkurung di situ berhari-hari sampai suatu ketika tampak sebuah cahaya. Muncul sesosok perempuan yang berkata, “Cepat keluar, kamu telah bebas.”
Spoiler for enam:
Sampai cerita ini ditulis, Rio masih menghantuiku.