- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
620.7K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#1457
Quote:
CHAPTER 14
“Bagaimana kalian memancing makhluk itu keluar ? Kita harus menemuinya sekarang, Aku sangat yakin, mungkin Hesti dan teman-temanmu yang hilang telah dibawa kesarang makhluk itu.” Kata Imron
“Tidak bisa. Apa kamu sudah tidak waras ? makhluk itu bukan tandingan kita. Dia bukan orang yang bisa diajak bermusyawarah. Dan kenapa kalian berhenti, ayo cepat kita kembali berjalan.”
“Kamu tahu sarangnya ?” Tanya Baim, mendesak si pria berkacamata.
“Bagaimana kalian memancingnnya keluar ?”
Si pria berkacamata menundukan kepala. Dia mengigit kuku jarinya. Wajahnya terlihat pucat dengan kaki yang gemetar. Dia duduk diatas tanah kemudian meminta air minum kepadaku.
“Tidak mungkin kita kesarangnya bukan ? atau kita juga akan mati. Lagian sarangnnya sangat jauh. Kita harus kembali keatas.” Si pria berkacamata kembali menegak air mineral dalam botol.
“Iyah tidak mungkin. Itu sangat berbahaya. Sebaiknya kita turun dengan cepat.”
Si pria berkacamata mengangguk berulang-ulang, menyetujui ucapan Baim.
”Tapi kalau kita tidak menolong Hesti, aku takut terjadi apa-apa dengannya. Apakah menurutmu dia masih hidup ?” Tanya Imron, Aku diam tak bisa menjawab apapun, begitu juga dengan Baim yang tampak sedang berpikir.
“Kalaupun kita pergi sekarang keatas dan teman kalian masih hidup, apakah ada jaminan kita bisa menyelamatkannya ?” si pria berkacamata balik bertanya.
“Sudah. Tidak ada untungnya kita berdebat sekarang. bukankah kita sudah menentukan pilihan diawal. Bahwa kita akan turun dengan cepat untuk meminta bantuan.” Baim berbalik, dia kembali berjalan paling depan.
Imron sempat tidak mau melanjutkan perjalanan dan hanya diam saja berdiri saat Baim sudah jauh berjalan didepan. Tapi aku menepuk pundaknya, aku mencoba meyakinkan bahwa kembali kebawah adalah pilihan yang sangat masuk akal.
Kami berempat kembali melanjutkan perjalanan. Menyusuri jalan setapak yang basah dan terus menurun. Tidak ada lagi percakapan , mungkin masing-masing dari kami sibuk mengatur nafas dan langkah kaki.
Setelah lama kami berjalan dijalur yang curam. Akhirnya sampai ditanah yang landai. Saat Baim menyorotkan lampu senternya terlihat jalur yang lurus dan panjang.
Disekitar sini mulai terdengar suara jangkrik. Mungkin kami sudah sampai dibawah. Aku lihat pohon-pohon menjulang tinggi dikiri dan kanan. Beberapa aku mengenalinya sebagai pohon cemara, tapi sisanya entah pohon apa.
Kami berempat masih berjalan, suara langkah kaki yang menginjak tanah basah membuat pendengaranku tidak nyaman. Suara yang dihasilkan bagiku terasa sangat kencang, sehingga mungkin bisa saja mengundang serangga atau makhluk apapun yang berada disekitar sini untuk memperhatikan kita. Saat berjalan aku menengok kekiri dan kekanan, takut kalau-kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikan.
Setahuku mata harimau ataupun macan akan bersinar dikegelapan. Aku berharap, semoga digunung ini sudah tidak ada hewan buasnya..
“Bisakah kita berjalan pelan.” Bisiku pada Baim yang berjalan didepan.
“Kenapa ?”
“Aku hanya merasa khawatir.”
“Yasudah. Kita istirahat saja kalau kamu kelelahan.”
“Jangan-jangan. Aku rasa tempat ini tidak begitu nyaman untuk beristirahat.”
Baim mengangkat pundaknya. Lalu kembali berbalik kedepan dan lanjut melangkahkan kakinya.
Mungkin sudah sekitar satu jam lamanya kita berjalan tapi aku merasa jalan panjang yang sedang kami lewati ini masih belum juga menunjukan kelokan ataupun turunan.
Aku menghentikan langkahku. Aku terarik pada sesuatu, saat aku melihat kearah samping kananku, diantara sekat pepohonan yang berjajar tidak beraturan. Ada titik cahaya terang, bukan Cuma satu tapi ada beberapa.
“Kenapa ?” Baim yang berjalan dibelakangku menepuk pundak. Mungkin karena aku berhenti dengan tiba-tiba.
“Kamu lihat kesebelah sana. Apakah cahaya-cahaya itu berasal dari kerumunan binatang ?”
“Mungkin itu kucing hutan.” Kata imron sambil menyitipkan matanya melihat kearah yang kutunjuk.
Baim tidak sadar bahwa kami berhenti. Dia tampak masih berjalan dan kini sudah berjarak cukup jauh didepan.
Ingin aku berteriak memanggilnya, namun nyaliku keburu ciut saat melihat kembali kerumunan cahaya disebelah kananku itu.
“Baim!” Teriak Imron tiba-tiba sehingga mengagetkanku.
Suaranya menggema dikesunyian, membuatku merinding untuk sesaat. Aku melihat kembali titik cahaya, tampaknya cahaya-cahaya itu tidak bereaksi dengan teriakan Imron.
“Apa yang kau lakukan.” Sebari kupukul tangan Imron.
“Aku hanya takut Baim meninggalkan kita.”
“Kenapa kalian berhenti!” Baim membalas dengan teriakan lagi, membuat hatiku semakin was-was.
Aku segera berjalan dengan langkah cepat. Lumpur menyiprat mengotori celana dan jaket yang kukenakan, tapi aku tidak peduli. Baim dan Imron telah membuat rasa takutku berubah menjadi rasa kesal.
“Apakah kalian tidak merasa takut berteriak-teriak dihutan.” Gerutuku pada Imron.
Saat kami bertiga sudah sampai didekat Baim. Beberapa meter dari tempat kami berdiri, terlihat jalur yang bercabang.
“Aku rasa kita salah jalan.” Kata Baim.
“Apa maksudmu ?”
“Apakah saat pendakian kita melihat jalan yang bercabang. Aku merasa jalur pendakian yang kita lewati kemarin hanya memiliki satu jalur. Seharusnya setelah melewati hutan yang landai ini kita akan segera tiba sampai di kebun teh bukan ?”
“Tapi bukankah selama perjalanan turun, kita hanya mengikuti satu jalur. Tidak menerobos ketempat lain, hingga akhirnya sampai kesini.”
Baim mengambil roko dari saku jaketnya. Menyalakannya, kemudian menghisapnya pelan-pelan sebelum asapnya dihembuskan.
“Pilih arah yang akan membawa kita kebawah.” Usul si pria berkacamata.
“Aku tidak tahu mana yang membawa kita kebawah. Aku jadi bingung. Sebenarnya puncak gunung ada disebelah kiri atau kanan kita ?” Kata baim mencoba melihat kekiri dan kanan sambil menyorotkan senternya. Namun nihil, pemandangan disini tertutup pepohonan. Hari masih gelap dan sorot senter juga terbatas sehingga tidak bisa melihat terlalu jauh.
“Haruskah kita menunggu dulu sampai matahari terbit ?”
Baim melepaskan ranselnya dan dia duduk diatas rumput.
“Kenapa kamu malah duduk. Ayo cepat kita lanjutkan perjalanan. Aku merasa tidak tenang disini. Tadi kulihat kerumunan cahaya. Aku takut kalau itu binatang buas.”
“Mungkin itu hanya kunang-kunang.” Jawab Baim dengan wajah datar. Sepertinya dia tidak peduli dengan perkataanku. Mungkin kepalanya masih memikirkan arah jalan yang benar.
Tidak begitu lama terdengar suara raungan dari arah belakang kami. Suaranya seperti singa, menggelegar sehingga menghentikan suara berisik jangkrik yang sedari tadi kami dengar.
“Itu..itu, suaranya saat pertama kali aku dengar.” Kata si pria berkaca mata.
Tanpa bertanya lebih lanjut, aku dan Imron, Baim juga mungkin sudah tahu bahwa yang dimaksud oleh si pria berkacamata adalah makhluk misterius yang selalu kami bicarakan. Baim kembali berdiri sambil menggendong kembali ranselnya.
“Apakah itu artinya makhluk itu berada tidak jauh dari sekitar sini ?” Tanya Baim.
“Cepat,cepat matikan lampunya.” Kata si pria berkacamata setengah berbisik namun kalimatnya penuh penekanan.
“Kita harus bersembunyi.” Si pria berkacamata berjalan melewati kami bertiga. Dia melangkahkan kaki secara perlahan agar tidak terdengar suara cipratan lumpur. Si pria berkacamata mengambil jalur kanan tanpa pertimbangan, kami bertiga mengikutinya dibelakang. Baim sempat ragu, namun karena aku dan Imron berjalan lebih dulu, mungkin baginya tidak ada pilihan lain daripada harus menunggu lama dengan pilihan yang belum tentu ia yakini juga.
Suara raungan itu terdengar beberapa kali sementara kita berjalan. Makhluk apapun itu, kalau didengar dari raungannya seperti sedang marah. aku pernah mendengar kucing mengeong ketika sedang bertengkar, namun tentu saja makhluk itu tidak bisa disamakan dengan kucing.
Kami berempat berjalan dengan cepat namun dengan langkah kaki yang diangkat sependek mungkin. Aku terengah-engah mengatur nafas. Jantungku berdetak lebih kencang, sehingga membuat luka ditangaku terasa sakit lagi. Kulihat darahnya mulai terlihat lagi merembes membasahi balutan kain.
“Temanku pasti sedang memanggilnya lagi.” Ucap si pria berkacamata sambil terus berjalan.
“Apa maksudmu ?”
“Teman-temanku pasti tahu bahwa kalian dan aku sudah meninggalkannya. Mungkin mereka sedang melakukan pemanggilan makhluk itu. Sepertinya mereka tidak bisa menunggu esok hari untuk mendapatkan fotonya. mereka juga sama sedang ketakutan, dan berniat buru-buru untuk turun.”
“Bagaimana cara memanggil makhluk itu ? sepertinya kalian sangat tahu seluk beluknya.” Tanya Baim dari arah belakangku.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
twiratmoko dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup