- Beranda
- Stories from the Heart
Sinetron Republik Distopia
...
TS
endokrin
Sinetron Republik Distopia
Saya suka nonton film, saya suka nonton sinetron, saya suka gorengan, saya suka marimas rasa jeruk pontianak, saya suka ngelamun, saya suka ngelantur. maka dari komposisi semua itu jadilah Thread ini.

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 28-09-2019 05:21
anasabila dan Desry08 memberi reputasi
2
5.7K
Kutip
30
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#10
Quote:
Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990
Namaku Milea, Milea T’challa. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai ngangkat jemuran.
Nama belakangku diambil dari nama ayahku. Dia seseorang yang sangat kukagumi, seorang pahlawan yang lahir di Wakanda.
Ibuku bernama Hayley Williams. Dulu dia seorang vokalis dari band paramour. Sebelum akhirnya dia bertemu dengan ayahku dan menikah. Dulu mereka bertemu saat ibuku manggung di acara ulang tahun kemerdekaan Wakanda.
Setelah ayahku habis masa jabatannya sebagai Raja, dia memutuskan untuk pindah ke Bandung. Ayahku sudah tidak tahan dikejar-kejar Nick Fury yang selalu memaksanya bertugas dikesatuan Avenger untuk membela keadilan. “Persetan dengan keadilan, dagangan usang para politikus kacang.” Pekik ayahku ketika itu.
Aku juga pindah sekolah ke STM yang ada di Bandung, bagiku ini adalah langkah besar. Aku ingin menjadi seorang kartini, memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dengan para laki-laki dalam bidang apapun termasuk pendidikan.
…………………………………………..
Pagi itu dibandung tahun 1990, aku pergi berjalan kaki kesekolah karena angkot yang aku tumpangi ngetemnya nauzubilah sampai dua hari dua malam. Si supir angkot keukeuh tak mau pergi sebelum joknya penuh terisi.
Ketika aku sedang berjalan dan beberapa meter lagi sampai digerbang sekolah, aku mendengar suara knalpot resing yang digerung-gerung. Saat aku menengok kebelakang, kulihat motor bebek yang sudah dimodif dengan mesin bobokan sedang dikendarai seorang pemuda perlente.
Dia menghampiriku sambil terus menggeber gas motornya.
“ Kamu Milea, ya ?” dia bertanya tapi aku masih diam. Aku ga suka dengan orang yang SKSD.
“Boleh ga aku ramal ?”
“Dih, Najis !” kataku karena sudah tidak tahan. Pemuda itu ingin mencoba merusak akidahku dengan mengajaku mempercayai ramalan.
“Boleh ga aku ramal ?” di masih saja keukeuh.
“Serah!” kataku sambil mengibaskan rambut.
“Aku ramal, nanti kita akan bertemu dikantin.” Kata pemuda itu sok asik.
“Mau ikut ga ?” lanjut pemuda itu.
Enak saja belum juga kenal sudah ngajak-ngajak boncengan, emang aku cabe-cabean. Mungkin dia merasa dirinya paling tampan, tapi sayang aku tidak tertarik sama sekali. Tapi coba saja dia mengendarai R15 atau engga CBR mungkin bisa aku pertimbangkan.
“Suatu hari, kamu akan naik motorku. Percayalah.” Katanya, setelah itu dia pergi meninggalkanku
……………………………………………
Ramalan si pemuda perlente tidak terbukti, sejak terakhir kali aku melihatnya digerbang sekolah sampai sekarang aku belum melihat lagi batang hidungnya. Sampai akhirnya temannya datang membawakanku surat ramalan lagi.
Tapi entah kenapa aku selalu kepikiran dengan ramalannya. Mungkin dia benar-benar seorang peramal, jangan-jangan dia keponakan Ki Joko Bodo, tapi ga mungkin ah.. atau keponakan Ku Kusumo. Aduhh.. pusing pala milea.
Hari senin saat upacara aku berharap tidak ada orang yang tahu bahwa diam-diam aku sedang mencari dia. Kiri kanan kulihat saja tapi tidak ada pohon cemara, yang ada hanya barisan siswa. Sampai akhirnya aku lihat dia sedang diseret seorang guru BP (Baden Powell).
Dia dan dua orang temannya Disebut PKI oleh guru BP, aku tidak mengerti apa sebabnya dia dipanggil seperti itu. aku kira itu nama inisialnya, kependekan dari Pengki. ah tidak mungkin Pengki kan nama Benyamin Sueb.
“Ah dia lagi!” Bisik Revi teman sekelasku.
“Siapa ?”
“Dilan.”
“Oh”
Sejak saat itu aku jadi tahu namanya. Dilan anak kelas 2 Fisika 1 Anggota geng motor anak jalanan. Jabatannya sebagai seksi konsumsi karena panglima tempur masih dipegang Si Boy, kata Rani teman sekelasku.
Kalau tidak salah aku sering membaca namanya ditulis ditembok-tombok WC umum. Baru tahu, ternyata dia orangnya.
Setelah tahu siapa dia entah kenapa aku merasa takut. Aku berpikir mungkin Dilan anak yang jahat. Tapi kalau aku berteman dengannya mungkin aku bisa dapet nasi box terus, secara diakan yang megang konsumsi anak gengnya. Demi bisa menghemat uang jajan akan kutepis rasa takutku dan mencoba memanfaatkannya.
………………………………………………
Walaupun penampilan Dilan perlente, dia bukan sosok yang glamor suka nongkrong di Seven eleven atau indomaret seperti yang sering aku lakukan.
Kata temanku Nandan, Dilan dan teman-temannya kalau jam istirahat suka nongkrong di warung Bi Eem. Sebuah warung sederhana yang bermarkas dirumah jaman Baheula. Warung itu menjadi simbol pergerakan mayarakat kecil melawan kapitalisme. “Aing benci pemilik modal besar, mereka serakah !” pekik Bi Eem sambil membolak-balik gorengan.
…………………………………………….
Waktu bubar sekolah Dilan nyusul dibelakangku dengan motornya, kemudian bilang :
“Seharusnya aku mengajakmu pulang naik motor.”
“Ga usah, aku sudah pesen Go-ber.” Jawabku.
“Tapi ga jadi, karena aku lagi nunggu penumpang.”
Aku heran mendengar ucapan Dilan, kulihat lagi aplikasi Go-berku.
“Kamu, Sujono ?”
“Panggil Jon aja dong cuy.”
“Kamu pasti membeli akun Go-ber secara illegal. Akan kulaporkan pada sekertariat Gober.”
“Jangan Milea.” Dilan memohon.
“Aku ga peduli, kamu juga pasti anggota dari kelompok sindikat order fiktif kan ?”
“Aku mau datang kerumahmu.” Katanya tiba-tiba.
“Jangan!”
“Kenapa ?” dia nanya.
“Ayahku galak.”
“Dia menggigit ?”
“Selain menggigit dia juga mencakar. Dia macan kumbang.”
“Aku tidak takut ayahmu. Aku akan datang, aku tidak terima kamu menuduhku sebagai sindikat order fiktif.”
“Jangan ih!”
Tanpa aku sadar Dilan sudah pergi jauh.
………………………………………………………………………….
Malamnya, Dilan beneran datang.
Itu kira-kira pukul tujuh malam. Awalnya aku dengar suara motor. Kemudian diikuti suara teriakan banyak orang. Aku sedang makan malam, langsung bisa yakin bahwa itu pasti Dilan dengan geng anak jalanannya.
Aku lekas ke kamar sambil membawa piring makan malamku. Ayahku segera mengambil kostum Black panthernya.
Dari balik goreden aku mengintip keadaan diluar. Ternyata disana sedang terjadi pertempuran. Aku Lihat ayah sedang dikeroyok geng anak jalanan, bukan Cuma itu aku juga melihat geng Cobra yang rupanya sudah berkoalisi dengan Kelompok Si Boy.
Sedangkan Dilan aku lihat dia sedang membagikan kerupuk pada anggota geng yang hendak melakukan pertarungan. Saat melihatnya hatiku jadi berdenyut, ada perasaan kagum pada dirinya. Gila dalam keadaan genting begini saja dia masih melakukan tugasnya sebagai seksi konsumsi, benar-benar pria yang punya prinsip !
Entah kenapa rasa kagum itu dengan tiba-tiba saja menjadi rasa penasaran untuk mengenal lebih jauh sosok Dilan
Ah Tuhan! Kenapa aku jadi gini ?
TAMAT
Sampe ketemu di episode 3
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
Diubah oleh endokrin 01-03-2018 14:03
0
Kutip
Balas