Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Halo sahabat penikmat kaskus, setelah membaca beberapa trit horor kaskus yang menarik, dan tentang indigo, saya berencana untuk sharing apa yang saya alami hingga saat ini, sebuha pengalaman seorang penulis, semoga kalian bisa menikmati segala tulisan yang saya tuangkan dalam trit horror ini, semoga menemani malam2 kelam kalian, jangan lupa sekililing kalian selalu ada MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
----
Sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak bernama ARDA yang menjadi seorang "indigo", kisah penuh drama, cinta, dan 90% horor, dan bagaimana seorang anak biasa, "bersahabat" dengan MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Kisah yang dituliskan adalah kisah yang dialami oleh beberapa orang, mulai dari penulis, dan teman- teman nya, merupakan suatu kejadian nyata yang dialami, namun mungkin akan dibumbui dengan kesyahduan bumbu bumbu penulisan cerita yang sedikit hiperbola

Let's Just Enjoy The Story ( jangan lupa di subscribe dan kasih like, cendol, asal jangan bata merah )

Cerita akan di update paling lambat 2 hari sekali, dan jam update nya pagi berhubung ane pagi kerja sekalian untuk update awal jam kantor hehe

jangan lupa follow Instagram : @bakemonotong
twitter : @ardahakimotong

Quote:



Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:51
mmuji1575Avatar border
G.FaustAvatar border
kemintil98Avatar border
kemintil98 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
53.3K
135
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#60
Part XV - Menginap Di Sekolah (Part 2)

Quote:


Beberapa anak masih terjaga dan bermain HP, kala itu youtube sudah mulai booming, dan beberapa anak menyetel youtube, untuk menghilangkan kebosanan karena tidak bisa tidur. Ada beberapa yang menonton video clip "my hump, my hump" membuat beberapa berterika "uwoooo", ya memang banyak anak2 kurang belaian kala itu. Oh ya sekedar informasi, aku tidur di lantai 3, di kelas ku kelas E (yang dulu di depannya ada si kunti dan pocong). Dan dengan kondisi yang disana terkenal kelas yang horror, mereka masih berani menyetel video seperti itu, ckckck.

Tapi kebahagiaan mereka hanya sementara saja, hingga akhirnya kaca kelas yang mengarah ke sawa hsebelah sekolah berbunyi, seperti diketok sesuatu, membuat kami tiba2 terdiam dari obrolan kami, sedikit membangunkan diri melirik ke jendela, tak ada apa2, jangan2 hanya perasaan saja, tapi kami masih belum yakin, karena cukup jelas kami semua mendengarkan suara itu. kami saling pandang, sama- sama bingung dengan yang terjadi. "mung perasaan, paling ono serangga nabrak koco wae"(cuma perasaan, mungkin cuma serangga nabrak kaca saja), kata salah seorang disana, kami berpikir itu logis, kami kemudian menghentikan aktifitas dan mencoba untuk tidur saja. Namun ternyata gagal, aku bukannya tidur, malah aku makin terjaga, hingga hanya satu- satunya diriku yang terjaga. Aku mencoba duduk, hingga akhirnya aku melihat ke arah jendela, si anak bermuka sobek, kali ini lebar mulutnya lebih dari biasanya, membuatku sangat kaget melihatnya.

Enteng saja dia menembus tembok da nkaca kelas , kemudian menghampiriku, tiba- tiiba wajahnya menjadi makin mengerikan, membuatku merinding ngeri, kulihat tiba2 seekor harimau putih berdiri di depanku menengahi jarak si sobek denganku, Sar datang! batinku, sedikit merasa aman dari ancaman si sobek, tapi tiba2 saja sar merubah arahnya menatapku, menyentuhkan telapak kaki depannya padaku, seakan menarikku, kulihat aku berdiri, cukup berisik, tapi tak satupun yang bangun, hanya aku, dan sekali lagi tubuh astralku terlepas. Mmebuatku sedikit parno, dengan apa yang kemungkinan akan terjadi.

Aku kemudian dipandu oleh Sar berjalan menuju si muka sobek, kulihat dia hanya diam saja, mantapku dengan mata marahnya, kemudianb dia berkata "ingat kamu dengan kata-kata *****(si hitam di aula), malam ini, malam yang tepat dimana kamu akan berkenalan dengan kami semua". Aku yang tadinya sudah takut kini bergetar merinding, seperti ada yang menjalar di punggungku, membuat rasa merinding makin menjadi, tapi kulihat tubuh asliku hanya duduk saja, dan aku berjalan dengan tubuh astral, mengikuti sar yang membawaku melangkah.

Lntai 3 kala itu penuh, ramai, oleh mereka yang tak kasat mata, kulihat si kunti dan pocong saat itu berada di depanku, "aku adalah Ti** (kunti), dan dia adalah sa*** (menerangkan nama si pocong)", kemudian mereka mundur perlahan ketika melihat Sar mengaum kearah mereka. Aku melihat Sar dan berkata "kalau gak sampe parah ngeganggu jangan galak2 Sar" kataku memberanikan diri berkomunikasi dengannya, kulihat Sar hanya menggeram padaku dan memalingkan wajah. Apa terlalu cepat bagiku berkomunikasi dengan Sar, apa mungkin aku belum layak menjadi temannya? Pikirku saat itu. Sar kemudian menggigit bajuku dan menarikku lagi.membawku menuju aula.

Kaki ku tertahan, takut untuk menuju Aula, membayangkan mereka saja cukup mengerikan. Aura si hitam, si gendruwo, juga si kepala buntung. Anjing! pikirku saat itu, bisa apa aku kalo mereka menyerang lagi, masa aku harus menendang mereka lagi, ada juga aku terhempas lagi seperti waktu itu. Kulihat Sar menatapku dengan tatapn seorang jendral perang yang meyakinkan prajuritnya. Menandakan jangan ragu, kalau kamu ragu mereka akan makin jadi menyerangmu. Akupun coba menenangkan diriku, yang memang tidak mungkin sepertinya untuk membuat diriku tenang. Ragu masih tersisa, tapi aku tetap memberanikan diri untuk maju menghadapi mereka. Aku berdoa minta perlindungan, membaca ayat kursi dan beberapa doa perlindungan yang aku hafal, memantapkan diriku, bahwa Allah akan melindungiku, sampai keberanianku sedikit menciut melihat aura hitam di Aula.

Aku sekali lagi berhenti, memantapkan doa2 ku, kuliaht Sar memandangku meyakinkan. Kemudian aku kembali menatap Aula, kupancarkan sedikit aura ku, memberanikan diri mendorong aura mereka masuk. Aku mewlangkah memasuki Aula, kulihat disana si hitam berdiri dengan gendruwo dan kepala buntung, memandangku marah, "ojo nantang aku kowe, aku mung nepati janji meh kenal ke kowe karo sek neng kene kabeh, aku ra ono maksud arep ngejak perang" (jangan nantang aku kami, aku cuma menepati janji untuk memperkenalkan yang ada disini padamu, aku tidak ada maksud untuk mengajak perang). Aku yang mendengar itu kemudian menenagkan diriku sedikit. memudarkan sedikit auraku, ketika mereka juga mulai mengurangi pancaran auranya. Pertama kalinya kulihat si hitam mnghilangkan aura hitamnya, dan menampakkan wajahnya, wajahnya dari kepala sampai hidung adalah anak2 remaja, tapi mulutnya berbentuk taring pada 2 sisi giginya dan terlihat seringai gigi2nya yang besar dan kelihatan putih dengan sedikit noda- noda hitam. Dia kemudian berkata padakau, "jenengku *****"(namaku *****), "kowe oleh nyeluk aku Cemeng" (tapi kamu boleh memanggilu Cemeng) *secara harfiah cemeng = hitam.
Aku melihat Cemeng, dan kulihat di tanpa kepala beridir, kali ini dia tidak memgang kepalanya, hanya tiba2 ada kepala menggelinding ke arahku, membuatku meloncat mundur karena kaget, dan keceplosan berteriak "ASU"(Anji**)! Kulihat Cemeng tertawa keras, aku meras di kerjai, hingga si kepala dijambak oleh buntung dan diangkat, "jenengku P**** " (namaku P****). memperkenalkan diri, kemudian dia bergerak menjauh, menuju ke arah piano dan menghilang.

"Jenengku ********** " kata si Gendruwo dadakan, aku reflek menengadahkan kepalaku ke arahnya, memang Gendruwo ini tak sehitam dan sekuat yang ada di Kalikuning (cek side story), tapi bagaimanapun juga , wujud mengerikannya cukup membuatku bergidik. Aku yang telah paham nama- nama mereka mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi "wonten nopo panjenengan sedoyo, kenalan kalih kula" (ada apa sebenarnya kalian memperkenalkan diri padaku)."Para sesepuh kene, mung pengen kowe ngerti, nek neng kene sek nunggu ora kabeh ala, tapi kene mung pengen kenalan, lan ora bakal ganggu nek ora diganggu."(penunggu disini cuma pengen kamu tahu, kalau yang menunggu disini tidak semuanya jahat, tapi hanya ingin berkenalan, dan tidak menggagngu selama tidak diganggu lebih dulu). "Nggih kula paham maksudipun panjenengan, nggih kula sakniki badhe pamit, balik ingkang awak kula"(ya, saya paham, saya balik ke tubuh saya kalau begitu). "urung iso le, iki urung rampung, aku mung salah saji, isih ono sek meh kenalan karo kowe, ben macanmu sek ngeterne kowe, karo njagani, kowe wes ndelok si ****** (kunti lantai 2) tho?, ati2 wae, kui bakal luih galak tinimbang aku, mugo wae macanmu kuat nandingi"(Belum selesai nak, aku cuma satu dari yang lain yang mau kenalan, kamu uda ketemu si kunti lt 2 kan, hati2 saja, dia bakal lebih galak daripada aku, semoga saja macanmu bisa menandinginya).


Sedikit kaget aku mendengar kata- kata dari Cemeng, membuatku menatap Sar yang duduk di lantai, berharap dia bisa mencegah apapun yang terjadi padaku berikutnya. Aku menyentuh Sar, dan berkata "ayo lanjut , sudah lam akita disini", dan Sar kemudian berjalan menuruni tangga bersamaku, menuju lantai 2, tepat dibawah tangga kulihat si cantik yang dekat lorong, diantara semua aura negatif dan positif yang berbenturan, dai berada pada sisi lainnya, auranya adalah aura netral, tidak terasa hawa "suci" maupun hawa "kotor" darinya, hanya perasaan biasa, netral. Aku mendekatinya, kulihat tatapanny sayu, sedih, "saya dulu dimakamkan disini, ketika itu saya meninggal dan dimakamkan di tanah kosong sini sebelum menjadi sekolah, orang tua saya tidak mampu untuk membiayai ku, menguburkanku saja mereka tidak memiliki biaya, aku dimakamkan disini, saya kesepian, dan sekarang saya belum bisa terlepas dari tanah ini, nama saya ******, terima kasih mau mendengarkanku kali ini, semoga kita bisa berteman" katanya, aku pun hanya mengangguk, melambaikan tangan, dan mengikuti Sar membawaku ke dalam lorong, kulihat banyak anak2 berlarian, dan tidak satupun menyapaku, sampai di masjid kulihat ada 3 orang tua bersurban, dengan baju jawa putih, berlapis dengan warna emas, dan 2 orang lainnya berbaju gamis putih, berdiri menatapku, menyambutku dengan senyum terlihat hangat ,mereka memperkenalkan dirinya "aku ******" kata yang berbaju putih jawa, "mereka itu 2 pengikutku, ***** dan *****" kata mereka membungkukkan diri, aku reflek ikut membungkukkan diri juga, "kami sudah cukup lama ada disini, dan tenang saja nak, kami disini ada untuk membantu mu" kata kakek putih berbaju jawa (sebut saja Kaje), kakek Kaje kemudian tersenyum dan mundur perlahan, menghilang lagi dalam masjid. Aku lihat Sar kemudian membungkukkan badan seakan menghormat, dan menarikku lagi pergi, menuju satu tempat berikutnya, Toilet dimana si merah berada, kulihat si Merha beridir di dekat Toilet dengan tatapan nya yang menusuk, membuatku ketakutan, dan mulai membaca2 doa lagi, untuk memperkuat perlindungan, setidaknya meyakinkan diriku supaya mampu menghadapi dia disana.
Diubah oleh bakamonotong 01-03-2018 11:59
johny251976
kemintil98
regmekujo
regmekujo dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.