Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#3351

Tasya...

“Loh, Lu darimana, Sya?” Tanya gw sambil berdiri ke arah gadis berhijab biru dongker yang berdiri disebelah..

“Aku dari Bogor, niatnya tadi mo potong jalan tapi keburu bablas ke Parung.. Eh taunya malah liet kamu lagi bengong sendirian dipinggir jalan, Mam.. ya udah, aku berhenti deh” Jawab mantan kekasih gw itu sewaktu SMA..

Mendadak, penjual kaca mata yang bangku nya gw pinjam tadi menghampiri kami..

“Bang, jangan parkir di depan sini, ntar kena tilang.. Ente liet noh pulisi lagi jalan kemari” Kata laki-laki bertopi penjual kacamata sambil menunjuk ke arah utara..

Gw melempar pandangan dan memang melihat seorang polisi sedang berjalan ke arah kami..

“Kunci mobil lu mana, Sya? Biar gw yang nyetir” Ucap gw sembari mengulurkan tangan..

Tasya langsung memberikan kunci mobilnya.. Sementara, gw segera berjalan ke arah pintu kanan dan menjalankan mobil begitu Tasya sudah masuk.. Gw sempat melambaikan tangan sambil meminta maaf ke arah Pak Polisi yang nampak berhenti berjalan..

“Terus kita mo kemana nih, Sya?” Tanya gw sambil memperhatikan jalan..

“Yee, koq nanya aku sih? Kan kamu yang bawa mobil, Mam?”

Gw menggaruk kepala dengan tangan kiri karena bingung mau melakukan apa.. Tadinya gw hanya ingin memindahkan mobil Tasya saja sebelum kena tilang..

“Kita makan aja yuk, Mam? Kamu udah makan belum?” Tanya Tasya yang membuat gw melirik ke arah nya..

Gw terdiam karena berfikir akan membayar dengan apa nanti, kalau makan sama Tasya.. Uang di saku celana gw cuma ada sepuluh ribu perak.. Makan di warteg saja pun tak akan cukup..

“Belum makan sih, Sya.. Tapi gw lagi ga ada duit nih” Jawab gw dengan jujur..

“Kamu kek sama siapa aja sih, Mam.. Ya udah, aku tahu tempat makan yang enak di daerah sini.. Kamu lurus aja terus yah, nanti kalo udah deket aku kasih tahu tempatnya”

Gw mengangguk sambil tersenyum dan kembali fokus ke arah jalan.. Setelah melewati pertigaan daerah Bojongsari, Tasya meminta gw untuk tidak terlalu cepat menjalankan kendaraannya karena tempat makan yang ia maksud sudah dekat..

Disebuah tempat makan yang cukup ramai dengan kendaraan terparkir, Tasya menyuruh gw menghentikan laju mobilnya.. Seorang juru parkir nampak berlari membantu gw memarkirkan kendaraan milik Tasya..

“Lu yakin kita mo makan disini, Sya?” Tanya gw sambil berjalan masuk beriringan dengan gadis itu..

“Emangnya kenapa, Mam? Disini makanannya enak koq.. Banyak pilihan menu.. Dan yang paling penting harganya terjangkau” Jawabnya seraya memilih sebuah tempat duduk lesehan yang ditengahnya terdapat meja kotak..

Tempat makan yang semua bangunannya didominasi bahan bambu, hingga tempat makan lesehannya yang juga dibuat seperti panggung kecil namun terpisah-pisah..

Tasya yang masih menggandeng tas kecil dibahunya, meletakkan benda berwarna krem itu ke atas meja.. Sementara, gw segera naik ke atas tempat makan dan memilih duduk didalam lebih dulu untuk membiarkan Tasya duduk ditepi panggung.. Semua gw lakukan karena tidak ingin gadis itu merasa kesulitan saat ingin duduk.. Secara, Tasya mengenakan rok panjang, Bree..

Seorang pramusaji wanita berseragam merah terang menghampiri kami dan menanyakan pesanan.. Tasya menyodorkan sebuah lembaran daftar menu ke gw, dan ia sendiri juga membaca daftar menu yang lain..

“Kamu mau makan apa, Mam?” Tanya Tasya..

“Gw ayam goreng sambel terasi aja, Sya.. Minumnya air putih hangat”

“Loh, koq cuma itu aja sih? Aku pilihin yah” Kata Tasya sambil menatap gw dengan penuh arti dan disambut anggukan kepala dari gw..

“Mbak, aku pesen ikan gurame asam manisnya satu sama jus jeruk.. Buat akunya, bebek goreng aja ditambah sayur asem sama es teh manis” Ucap Tasya yang membuat gw membesarkan kedua mata..

Si pramusaji mengangguk faham setelah selesai menulis pesanan Tasya dan hendak meninggalkan meja kami.. Namun, mendadak Tasya memanggilnya kembali dan memesan makanan tambahan yang harus dibungkus..

“Koq pake dibungkus segala, Sya.. Buat Papah kamu yah?” Tanya gw yang dibalas gelengan kepala gadis itu..

“Engga.. Aku bungkus makanannya buat Ibu sama adik kamu, Mam.. Siapa tau aja mereka mau, ga apa-apa kan?”

Gw terdiam mendengar pertanyaan Tasya seraya memperhatikan nya yang sedang sibuk memainkan Hp..

“Oh iya.. Kabar Ibu sama Ayu gimana, Mam? Kangen aku sama mereka berdua” Tanya Tasya yang membuat gw sedikit tercekat..

Untungnya, ada pramusaji lain yang datang membawakan minuman pesanan kami.. Hingga gw tidak perlu langsung menjawab pertanyaan Tasya dan memilih meneguk jus jeruk terlebih dahulu..

“Koq belom jawab pertanyaan aku, Mam? Kabar Ibu sama Ayu gimana?” Tanya Tasya mengulang kalimatnya..

“Alhamdulillah, Ibu sama Ayu sehat koq, Sya.. Lu nya aja ga pernah main ke rumah lagi” Jawab gw sambil mengaduk-aduk sedotan dalam gelas untuk membuyarkan bulir jeruk yang menumpuk..

“Aku tahu kamu bohong, Mam” Kata Tasya membuat gw melempar pandangan ke wajah gadis itu dengan kening berkerut..

Sejenak, Tasya terdiam meneguk es teh manis pesanannya.. Lalu melemparkan pandangan ke arah pengunjung lain yang baru masuk..

“Maksud nya apaan, Sya?” Tanya gw yang tidak mengerti akan arah pembicaraan Tasya..

Gadis itu melempar pandangannya kembali ke arah gw dan mengunggingkan senyuman.. Lalu menghela nafas panjang..

“Aku tahu kamu udah ga tinggal di rumah kan, Mam”

Gw tercekat mendengar ucapan Tasya.. Darimana gadis itu tahu kalo gw tidak lagi tinggal bersama Ibu dan Ayu..

“Rio, sepupu kamu sempet telpon aku nyariin kamu.. Dia bilang, Ibu kamu sedang dirawat di Rumah Sakit”

“Apa! Ibu sakit, Sya?” Tanya gw dengan kedua mata terbelalak..

“Iya, Ibu kamu sakit, Mam.. Aku kemarin sore sempet jenguk beliau.. Tapi..”Ucapan Tasya terputus seperti tidak mau meneruskan kalimatnya..

“Tapi apaan, Sya? Jangan bilang Ibu gw kenapa-napa” Tanya gw dengan nada suara bergetar..

Bayangan-bayangan akan kejadian buruk melintas di benak gw.. Terutama melihat wajah Tasya yang nampak semakin ragu..

“Lu anterin gw sekarang ke rumah sakit, Sya.. Pliss banget, Sya.. Gw mau lihat Ibu” Ucap gw sambil beranjak dari tempat duduk dan melompat turun hampir menabrak pramusaji yang membawakan makanan kami..

“Mam, Imam.. Tunggu dulu!” Kata Tasya yang langsung menarik lengan gw..

“Apalagi, Sya? Gw ga bisa tenang kalo belum liet kondisi Ibu”

“Iya, aku ngerti koq.. Tapi duduk dulu, Mam.. Aku mo ngomongin sesuatu soal ibu kamu” Sahut Tasya yang malah memegangi lengan gw dengan dua tangannya..

Sesaat, gw terdiam dan melirik ke arah dua tangan Tasya yang memegangi lengan kanan gw.. Tasya sendiri langsung melepas pegangannya dan melempar pandangan ke arah pramusaji.. Kemudian, menyuruh pelayan itu meletakkan makanan pesanan kami diatas meja..

“Mam, kamu duduk dulu.. Sambil makan, aku janji bakal ngomong ke kamu, yah” Ucap Tasya ke arah gw yang masih berdiri..

Gw menghela nafas, lalu duduk lagi di tempat semula.. Pandangan gw kosong menatap makanan pesanan Tasya.. Karena bayangan Ibu yang sedang terbaring sakit kian memenuhi benak.. Entahlah, nafsu makan gw seketika lenyap mendengar kabar dari Tasya barusan..

“Udah, Sya.. Sekarang, lu ceritain ke gw apa yang lu mo omongin soal Ibu” Pinta gw kepada gadis berhijab biru dongker itu..

“Aku kan tadi bilang, Mam.. Aku bakal cerita kalo kamu udah makan makanannya.. Yang aku liat kamu belum sentuh makanannya sama sekali loh”

Mendengar ucapan Tasya, gw mengepalkan tangan karena kesal merasa sedang dipermainkan gadis itu.. Tapi, gw tidak mempunyai pilihan lagi selain menuruti keinginannya.. Dengan sedikit cepat, gw memakan ikan gurame asam manis yang ukurannya tidak terlalu besar..

Dari arah depan, Tasya beberapa kali terlihat tersenyum dengan sangat manis.. Beberapa kali pula, gw menangkapnya sedang memperhatikan gw dengan tatapan penuh arti.. Sejenak, benak gw sempat teringat manakala gadis itu memelet gw dengan Ilmu Pelet Si Bayang-Bayang beberapa waktu silam..

“Jadi, kemarin sore itu aku jenguk Ibu di rumah sakit, Mam.. Aku ditemenin Mamah, karena beliau juga mau ikut besuk.. Kondisi Ibu kamu udah stabil koq.. Kamu tenang aja, Mam.. Tapi..”

Lagi-lagi, Tasya menghentikan kalimatnya dan menatap gw dengan kedua mata menyiratkan keraguan..

“Ngomong aja kenapa sih, Sya” Pinta gw yang merasa sudah sangat lega mendengar kabar bahwa kondisi Ibu sudah lebih baik dan stabil..

Tasya nampak mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.. Tatapan matanya masih menyiratkan rasa tidak enak hati untuk menyampaikan apa yang ada dalam benaknya..

“Tapi menurut aku, kamu sebaiknya jangan ketemu Ibu dulu deh, Mam?”

Kedua mata gw membesar diiringi dahi yang berkerut karena heran mendengar permintaan Tasya.. Kenapa gw tidak boleh menemui Ibu yang sedang sakit? Apa maksud gadis itu dengan kalimatnya barusan?

“Di ruang perawatan Ibu, aku sempet cari-cari kamu yang ga ada.. Salahnya, aku nanyain keberadaan kamu ke Ibu.. Dan kamu tahu, Mam.. Ibu langsung ngebentak aku supaya ga sebut-sebut nama kamu didepannya.. Aku heran deh.. Setau aku, Ibu yang aku kenal itu sangat baik dan sayang banget kan ke kamu.. Tapi, yang aku liet dari reaksinya kemarin itu beda banget”

Gw tertegun mendengar penuturan Tasya tentang reaksi Ibu saat mendengar nama gw disebut.. Apa sudah sebenci itu Ibu ke gw? Apa gw udah bikin Ibu sebegitu kecewanya?

Tiba-tiba, Tasya memegang tangan kanan gw yang berada diatas meja yang sudah dibersihkan, tanpa menggenggam jemari.. Wajah gw yang tertunduk, terangkat kembali menatap Tasya.. Gadis itu menyunggingkan senyuman manis..

“Kamu yang sabar ya, Mam.. Aku yakin siapapun jodoh kamu nanti, pasti akan direstui Ibu..” Ucap Tasya disusul senyumannya lagi, lalu menarik tangannya dari atas tangan gw saat pramusaji yang sama membawakan bungkusan berisi makanan yang dipesan gadis itu..

“Aku ga bisa lama-lama yah, Mam.. Ini makanan buat kamu sama ATM dan HP aku.. Saldo ATM nya cukup koq.. Siapa tau kamu ada keperluan.. Kamu bebas ambil berapa aja, terserah kamu”

Mendengar ucapan Tasya, gw langsung menatapnya dengan sedikit tajam.. Tapi, gadis itu malah menarik tangan kanan gw dan kali ini berani untuk menggenggamnya dengan erat..

“Mam.. Aku tau banget sifat kamu yang ga mau di kasihani.. Tapi sumpah! Aku sama sekali ga ada niat buat kasihanin kamu.. Aku tau keadaan kamu lagi sulit.. Sebagai orang yang pernah kamu sayangi, pliss, izinin aku buat bantu kamu.. Anggap aja ini permintaan maaf dari kesalahan masa lalu yang aku buat ke kamu, Mam.. Pliss, diterima yah”

Gw terdiam masih dengan menatap Tasya meski tak lagi tajam.. Perlahan, gw melepaskan tangan dari genggamannya dengan sangat sopan.. Sebuah tarikan nafas dalam-dalam, gw hembuskan perlahan.. Lalu menyunggingkan senyuman ke arah gadis yang pernah gw cintai itu..

“Thanks, Sya.. Gw hargain banget niat baik lu buat bantu.. Tapi, selama bahu gw masih bisa gw gunain buat memikul beban.. Gw ga perlu bantuan orang lain”

“Tapi, Mam.. Aku ikhlas koq” Jawab Tasya sambil meletakkan kartu berwarna emas di atas meja dihadapan gw..

“Iya, gw tahu lu ikhlas mau bantu.. Tapi, Pliss.. Lu juga harus nyoba ngertiin gw, Sya.. Soal masalah gw sama Ibu, lu do’a in aja yah.. Kalo soal keadaan gw yang lagi susah, lu ga perlu khawatir.. Gw laki, Sya.. Kalo cuma nahan lapar dan nyari tempat buat tidur mah urusan sepele” Jawab gw seraya mendorong kartu ATM milik gadis itu kembali ke arahnya..

Sejenak, gw bisa melihat raut kekecewaan terlihat dari wajah Tasya.. Setelah menghela nafas, gadis itu pun kembali melemparkan senyuman..

“Kalo seandainya Anggie yang ada didepan kamu, pasti ga bakal kamu tolak bantuannya kan, Mam?” Tanya Tasya, seraya memasukkan kartu Atm dan Hp nya kembali ke dalam dompet dan tas..

Gw terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Tasya yang mengingatkan gw akan gadis yang sangat gw cintai..

Tak lama kemudian, Tasya mengajak gw untuk pulang.. Gw sempat melihat raut kekecewaan terpancar dari wajah gadis itu, tepat sebelum ia menutup jendela kaca mobilnya.. Dalam hati, gw kembali meminta maaf ke Tasya karena menolak bantuan yang diberikannya.. Karena jujur, jika menyangkut harga diri gw sebagai laki-laki tidak akan mungkin gw menerima bantuan materi.. Apalagi dari seorang gadis yang pernah merajut kisah kasih dimasa lalu..

Dengan bermodalkan uang lima ribu perak, gw memberanikan diri untuk menyetop angkot.. Gw berniat kembali pulang ke kediaman Babeh Misar..

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya gw pun tiba di atas turunan yang ada beberapa tombak dari depan rumah Babeh Misar.. Gw sempat tersenyum saat melihat Kakek Tua yang kali ini mengenakan peci merah khas jagoan Betawi, sedang berjalan mondar-mandir di pelataran rumah.. Jelas sekali gw bisa melihat raut cemas beliau yang sedang menanti kepulangan gw..

“Darimana aja lu, Tong? Kerjaan lu ngayab bae bisanya..” Tanya Babeh Misar dengan nada tinggi, begitu gw tiba dipelataran..

Melihat reaksi kesal yang sebenarnya merupakan penggambaran bahwa beliau mencemaskan keadaan gw, tiba-tiba muncul ide konyol dalam benak.. Dengan memasang muka cemberut, gw membuka sepatu dan memakai sandal lain sebelah milik Kakek Tua itu yang ada didepan pintu.. Lalu melangkah menuju ke belakang tanpa menjawab pertanyaan Babeh Misar..

“Samber Bledeg! Punya congor kaga bisa dipake buat ngejawab! Cucu macem apa lu?” Bentak Babeh Misar sambil bertolak pinggang dengan wajah memerah..

Gw yang terus berjalan tanpa memperdulikan bentakan beliau, langsung menuju ke sumur dan mengambil Wudhu.. Kemudian kembali ke depan, naik ke atas balai bambu dan mengeluarkan kain sarung dari dalam tas untuk gw jadikan sajadah..

Selepas menunaikan Shalat Ashar, gw melempar pandangan ke arah Babeh Misar yang sedang duduk di tepi balai bambu.. Pandangannya sesekali menatap ke arah gw yang tertawa dalam hati.. Entah kenapa, gw merasa si Babeh menyesal membentak gw yang baru pulang dan langsung Shalat..

“Kenapa, Beh?” Tanya gw sengaja memancingnya..

“Ehh, kaga ngapa-ngapa, Tong.. Lu darimana jem segini baru pulang?” Tanya Babeh Misar dengan nada jaub lebih ramah sambil mengeluarkan bungkusan rokoknya dari lipatan atas peci

Sejenak, gw terdiam dan mengeluarkan bungkusan rokok berwarna putih dari dalam saku celana..

“Minjem koreknya ya, Beh” Pinta gw ke arah Babeh Misar yang nampak terkejut melihat gw mengambil korek kayu disebelahnya..

Dengan asap yang mengepul keluar dari mulut, gw menceritakan beliau akan pertemuan gw dengan Tasya.. Sekaligus menceritakan kabar tentang Ibu gw yang kembali dirawat dirumah sakit.. Babeh Misar sendiri mendengar sambil menikmati rokok yang beberapa kali dipilinnya..

Selepas menceritakan, Babeh Misar memberi nasihat yang hampir sama dengan Tasya.. Beliau mengatakan agar gw jangan menemui Ibu dalam waktu dekat.. Mengingat keadaannya yang meski sudah stabil, tetapi tetap harus di bawah pengawasan dokter..

Kemudian, gw teringat akan bentakan Babeh Misar yang dilisankan saat gw sudah membuat jera dua preman pasar yang selalu memerasnya selama ini..

“Babeh bukannya takut, Tong.. Pantangan buat babeh kalo ampe takut ama kecebong”

“Tapi Babeh malah bentak-bentak saya tadi.. Padahal saya cuma pengen ngasih pelajaran ke mereka, Beh.. Si Jon sama siapa lagi tuh temennya, udah kaga sopan ke Babeh.. Saya juga udah nanya ke Babeh buat ngasih pelajaran.. Babeh bilang terserah” Sanggah gw yang mengeluarkan unek-unek..

Babeh Misar nampak mengerutkan dahi, lalu menghisap lagi rokok di sela jarinya..

“Babeh ngaku salah.. Maapin Babeh, Tong.. Ntar malem lu ikut Babeh.. Kita bikin kapok dia pada.. Udah lama juga Bajing Item kaga keluar" Ucap Babeh Misar dengan kedua mata menatap tajam ke arah pelataran..
itkgid
jenggalasunyi
sampeuk
sampeuk dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.