Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)
Thread ini adalah Thread yang ditujukan untuk mengisi kekosongan beberap jeda waktu dan pengalaman yang tidak diceritakan dalam story season 1- akhir, sehingga disini kalian akan menjumpai pengalaman horror, interdimensional, dan lainnya oleh kreator.

The Main Stories :
SEASON 1 Mereka Yang Hidup Dalam Gelap


Selamat menikmati Side Story disini, tanpa perlu prolog langsung cekidot aja 
mari kita bercengkrama bersama mereka yang hidup dalam gelap

SIDE STORY INDEX :

Side Story 1 (SS - 1)
Side Story 2 (SS - 2) part 1
Side Story 2 (SS - 2) part 2
Side Story 3 (SS - 3 )
Side Story 4 (SS - 4)
Side Story 5 (SS - 5) Part 1
Side Story 5 (SS - 5) Part 2
Side Story 6 (SS - 6)
Side Story 7 (SS - 7) Part 1
Side Story 7 (SS - 7) Part 2
Side Story 8 (SS - 8) Part 1
Side Story 8 (SS - 8) Part 2
Side Story 9 (SS - 9)
Side Story 10 (SS - 10)
Side Story 11(SS - 11)
Side Story 11 (SS - 11) REMAKE
Side Story 12 (SS - 12)

MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP -[Based On True Story]- Side Story (The Untold)



Quote:
Diubah oleh bakamonotong 06-07-2018 13:04
1
35.3K
102
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread1Anggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#5
SS 2 - Kali Kuning, Mereka yang Bersembunyi Dalam Gelap ( Part 2)

Quote:


Kami melakukan acara jurit malam ilegal, yang dilakukan oleh kami anak laki2, disana ada satu tangga yang cukup tinggi menembus hutan yang menuju jalan utama, tangga tanpa pegangan dipinggirnya, terbuat dari batu yang di pahatkan pada tebing, sungguh gelap, bahkan sangat gelap, hingga kami tidak bisa berjalan kalau tidak menggunakan senter. Anehny pada malam kedua ini, aku tak melihat satupun dari mereka yang ada disini, hanya aura gelap mereka saja yang tersisa, karena tak terlihat wujud nya, aku beranikan diri ikut bersama teman- temanku, dengan persiapan untuk kabur pertama kali jika aku melihat bangsa mereka.

Kami berkumpul di tenda para pria, mempersiapkan barang yang akan kami bawa "senter ono piro?"(senter ada berapa) kata temanku, "wolu tok, piye, liyane nggo obor gawean guru po?"(delapan doang, gimana? lainnya bawa obor buatan guru aja?), sahut yang lain, "ojo ndak ketahuan, wes bareng2 wong loro sekali mlaku"(jangan daripada ketahuan, uda baareng aja, berdua sekli jalan), jawab nya, "yowes, skali mlaku wong 2"(yauda sekali jalan berdua). Dan disetujuilah bahwa kami berjalan berpasangan hingga mencapai puncak, sisa 2 senter dibawa oleh rombongan yang jalan pertama dan terakhir, sehingga berkomposisi :

1-2 (2 senter)
3-4 (1 senter)
5-6 (1 senter)
7-8 (1 senter)
9-10(1 senter)
11-12( 2 senter)

Aku kebagian di rombongan terakhir, bersam satu temanku sebut saja namany ucon(nama samaran), dia adalah seorang teman yang lebih pengecut dibanding diriku, sehingga membuatku lebih harus bersiaga jika dia berlari meninggalkanku sendirian di sini, toh tidak ada yang tahu apa yang terjadi jika seseorang ketakutan, mereka akan lebih mementingkan diri sendiri, yang penting selamat, (karena begitulah yang aku lakukan jika aku ketakutan). Kami yang sudah bersiap sekali lagi memantapkan niat ini, sambil melihat sekeliling mencari celah bahwa apakah ada guru atau tidak. Setelah yakin bahwa sudah tidak ada lagi guru, kami bersiap untuk berangkat menuju tempat uji nyali ini, dan menapaki jalan yang menjali jalur uji nyali ini.

Satu persatu rombongan jalan, dengan jangka waktu 5 menit, lalu baru aku setelah menunggu hampir satu jam aku dan ucon berjalan, sambil menyenteri jalan setapak naik yang sangat amat gelap, dan yang membuat takut adalah bahaya dipinggir tidak ada pegangan tangga, dan kalau jatuh, minimal kami akan patah tulang. Aku menyenteri ke berbagai arah, mencari- cari, semoga tidak ketemu mereka, atau setidaknya biar aku saja yang melihat, toh jika aku yang melihat, aku bisa ambil ancang2 kabur sebelum mereka menampakkan diri pada yang lain.

Aku berjalan menapaki anak tangga terakhir, bersama ucon, untungnya tidak ada gangguan apapun sampai diatas. AMAN! pikirku, tapi disana terlihat beberapa api obor yang cukup banyak, membuat ku dan ucon berjalan menuju sana, penasaran apakah ada warga ternyata di daerah sini, berani sekali mereka tinggal disini. Hingga akhirnya aku dan ucon memasuki gapuro kampung itu, kulihat jam segini aktifitas cukup ramai, beberapa anak- anak berlarian bermain bola, dan orang- orang tua disana masih mengobrol di depan pintu rumah masing- masing, tapi ada satu hal yang aneh buatku, pakaian mereka benar- benar kuno, pakaian adat jawa lama, dan ibu- ibu disana berkemben, aku kemudian mengajak ucon pulang, tapi saat aku menengok ke belakang, ucon sudah tidak ada, dan satu hal lagi yang membuatku panik, seharusnya teman- temanku ada di daerah sini, tapi kenapa dari tadi tidak satupun batang hidung mereka terlihat.

Aku yang panik coba keluar dari kampung tersebut, aku berlari keluar dari gapura itu setelah sadar jika ada yang tidak beres disini, tapi sesuatu yang besar menghalangiku, membuatku terpental mundur. Aku yang ketakutan mencoba memaksa lagi, tapi sekali lagi aku terpental, kenapa ini kenapa tidak bisa aku keluar, temanku juga tidak ada, kutengok ke belakang aku lihat kampung yang terang tadi mulai meredup makin remang, hingga hanya ada 2 obor yang menyala, kulihat warga dan anak2 disana berubah benar2 berubah, beberapa menjadi makhluk seperti manusia bertubuh hewan, kaki mereka benar- benar seperti kaki hewan. Mengerikan, mereka menatapku, seperti mereka melihat sesuatu yang baru disana, sampai aku sadar, si gendruwo besar itu berdiri menuutp jalanku kabur. beberapa pocong datang mendekat ke arahku, tinggi, bahkan lebih tinggi dari normal manusia, membuatku yang panik melempar2 batu ke arah mereka, tapi aneh batu itu seakan jatuh cepat, sampai pun tidak, beberapa kuntilanak turun diatas atap2 rumah disana, membuatku ketakutan, mereka menyeringai memamerkan mulutnya, yang meneteskan darah, aku yang sudah panik ketakutan merangkak mundur tapi sekali lagi menabrak si gendruwo, menendangku pelan membuatku terpental ke tangah kampung, hingga aku sadar, rumah2 disana berubah, dari yang tadi gubuk bagus, kini terlihat gubuk2 hangus, terbakar, bebrapa makhluk di tengah2 kampung tadi muncul dari balik sisa rumah2 disana, wujud mereka benar2 angus, gosong, hitam bau nya sangat menyengat, beberapa terlihat tengkorak mereka menghitam, kerangka nya terlihat, dan beberapa tidak lengkap.

Akupun bingung bagaimana cara ku harus kabur dari sini, aura gelap mereka membuatku mual, baunya juga sangat menyengat, "tolong, ampun, saya gak niat ganggu", kataku mengiba, bukannya menjauh mereka mendekat, salah satu dari mereka, aku lihat seorang kakek tua, mendekat padaku, menepuk pundakku, wajahny tersenyum mengerikan, seakan senyum jahat, tapi dia berkata "ojo wedi le, kene mung pengen ngandani kowe, nek neng kene ono kampung jin, ojo saenak e kowe mlebu neng daerah sek kowe ra paham"(jangan takut nak, kami cuma mau ngasih tahu, kalau disini ada perkampungan jin, jangan seenakny kamu masuk saja kalau kamu gatau dimana itu), katanya, seketika aura gelap disana menghilang, benar- benar meredup menjadi aura yang sedikit lebih terang, kulihat memang masih ada pocong dan beberapa kunti, tapi makhluk yang lain berdiri tenang disana, dan aura gelap satu2nya teras kuat dari si gendruwo, aku memandang gendruwo itu lama, dan si kakek juga melihat ke arahnya "ora kabeh sek ireng kui jahat le, de'e neng kene mung njagani saumpama ne ono manungsa sek meh ngrusak kene, de'e bakal ngusir, wingi de'e ngrusak pagerane guru mu, mergo de'e mung pengen ngandani gurumu nek de'e ora niat nyilakakke, tapi gurumu wegah ngrungokne, makane sawijine manungsa sik iso tak ajak omong yo mung kowe, lan koncomu ora ilang, kabeh e isih neng isor, sek munggah ro kowe mau yo penduduk kene asline, mung nyamar"(gak semua yang hitam itu jahat, dia cuma jagain semisal ada manusia yang mau ngerusak, doa cuma akan mengusir, kemaren dia merusak apgar gurumu cuma ingin memberitahu bahwa dia tidak berbahaya, tapi gurumu tidak mau tahu, oleh karean itu, cuma kamu satu2nya manusia yang bisa kuajak bicara, dan temenmu gak hilang, mereka ada dibawah, yang naik sama kamu tadi penduduk sini yang menyamar.) katany sambil menunjuk para pocong dan kunti disana, membuatku kaget, berarti dari awal memang aku naik sendiri dan tanpa teman, dan satu hal yang membuatku panik sekarang jam berapa!

Kepanikanku terlihat oleh si kakek itu, kemudian si kakek berkata lagi "wektu neng alamku bedo le, saiki urung mlaku suwe seko jam ngggonmu, kowe ki neng kene wujud roh, awakmu neng isor, semaput neng isor tangga, mau kowe ra sadar nek sik mlaku munggah ndene mung rohmu, sakiki paling gurumu wes nggoleki kowe, saiki bali o, ben si ******(nama asli gendruwo) ngeterne kowe medun"(waktu di alam sini berbeda dengan tempatmu, dan wujudmu disini astral (roh), badanmu di bawah, kamu pingas pas di depan tangga, kamu gak sadar naik kesini cuma rohmu, mungkin sekarang gurumu sudah mencari- cari dirimu, biar sekarang kamu pulang di antar si gendruwo), kuliaht si gendruwo mengangkat tubuh astralku, dan dalam sekali lompat dia sudah ada dibawah, kulihat badanku terjatuh disana, kulihat para guru mengelilingiku, aku lihat si gendruwo dia bilang "awakmu kui ra iso dipindahke, soale tak tahanke neng isor, nek rohmu kepisah adoh, aku wedi kowe ra iso bali" (badanmu itu tidak bisa dipindahin, aku tahan, takutny kalau rohmu kepisah jauh, kamu gak bisa pulang), aku kemudian tersenyum, si gendruwo kemudia menunduk menunjukkan wajahnya, yang mengagetkanku, matanya besar, giginya taring semua, berwarna hitam diujung2ny, memiliki 2 tanduk besar yang menjulang, dan lidahnya menjalar kebawah dia berkata lagi "sinau o car nguculne sukma mu, soal e mbah ***** (nama kakek tua tadi), ngandani nek kowe bakal kerep ketemu karo bangsaku, lan kowe bakal dadi jembatan kanggo bangsaku lan bangsamu" (belajarlah cara melepas roh mu, karena kakek tadi memberitahu bahwa kamu bakal ketemu banyak bangsaku, dan kamu akan menjadi jembatan bagi bangsaku dan bangsamu). Aku hanya bingun dan mengangguk, sebenarnya aku bingung bagaimana cara kembali ke badanku, hingga si gendruwo mengangkatku, menaurku diatas tubuhku, dan menekan kepalaku, mendoroku masuk ke tubuhku, seketika aku sadar, kaget, langsung aku berdiri, kulihat si gendruwo sudahe mnghilang, dan teman2 yang lain terlihat tenang guruku juga mulai menghela nafas panjang, "da! kamu tu jangan berkeliaran sendiri! jangan ngawur kamu! gimana kalau tadi tidak bisa balik!" kata seorang guruku, "maaf pak, saya juga gak maksud" kataku, kemudian guruku memegang kepalaku, mending habis ini coba kamu berlatih untuk mengontrol dirimu, termasuk wujud astralmu, kamu sebenernya cukup berbakat, bahkan kuat untuk menghadapi mereka jika sudah berlatih. Aku yang masih belum paham karena masih SD pun diam saja, kemudian mengangguk, dan kembali berjalan bersama para guru dan murid ke perkemahan.

Paginya sudah saatnya kami pulang, dan aku melihat beberapa makhluk dari kampung semalam turun, seperti mengucapkan selamat tinggal, dan sampai jumpa lagi. Aku menengok kebelakang , membungkuk dalam, sambil melambaikan tangan. aku mencari2 si gendruwo yang tahunya berada di depan kami berdiri seperti gerbang, dimana kami berjalan melewati kakinya, dia menunduk, memunculkan wajahnya, dan tersenyum aneh, benar2 aneh, lucu membuatku tertawa sendiri dan menganggukkan kepala padanya, seakan sebagai salam perpisahan, saya pulang dulu ya, kataku dalam hati.

==========================================================================================================

Malam hari belum lama ini, aku mencoba berkomunikasi pada mereka, dan mereka datang, hanya si kakek dan gendruwo, aku meminta ijin untuk menuliskan mereka di sini, mereka bersedia, asal tidak ada yang boleh menyebut nama mereka di dalam cerita ini, dan mereka tidak mau lagi ada manusia yang datang kesana untuk mencari pesugihan, dikarenakan beberapa makhluk disana kini menjadi makhluk yang mencelakakan manusia, karena permintaan para manusia, dan mengambil tumbal dari mereka.

Sekian Side Story Kali Kuning ini, sampai jumpa di side story 3
Suminten.
johny251976
johny251976 dan Suminten. memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.