- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.9K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#688

Cassandra Jacqualine
PART 57
Baru gue nyantai bentar di samping rumah sambil rokokan, hujan turun deres banget. Sedikit angin, tapi tanpa petir dan kilat. Kayaknya bakalan tahan lama ini hujan.
Gue berdiri mepet tembok di bawah atap biar enggak kehujanan. Terlihat sebuah titik air mengenai rokok yang gue pegang. Terasa berat waktu gue hisap, terasa berat juga mau gue buang. Belum jadi gue memanasi bagian yang terkena air dengan korek, seorang cewek dateng hujan-hujanan.
“Ngapain ke sini?” tanya gue. “Enggak sadar kehujanan lo?”
Tanpa menjawab pertanyaan gue, dia berjalan ke arah gue sambil tetap berada di bawah hujan. Matanya merah, ada tatapan dendam pribadi. Entahlah, saat ini, gue merasa tatapan itu layak untuk dia picingkan ke gue.
Melly menampar gue sekencang-kencangnya. Rasa panas di pipi, telinga yang masih berdenging, dan juga deru nafasnya yang masih tersengal. Masih begitu terasa.
“Gue udah pernah bilang kan sama lo! Kalo emang lo peduli sama dia, jauhin dia!” teriak Melly menghambat suara hujan. “Sehebat apapun lo! Lo enggak bakalan sanggup ngadepin dia!”
“Kenapa sih lo, Mell?!” bentak gue balik. “Gausah lebay deh, orang gue cuma cuekin dia sekali.”
“Tapi itu ngaruh ke dia!”
“Ya lo maunya gimana?” tanya gue dengan sedikit menurunkan suara. “Gue emang enggak bisa ngadepin dia, makanya gue minta lo buat jauhin dia dari gue biar enggak bergantung sama gue.”
“Udah terlambat!” potong Melly mendorong gue jatuh. “Dia itu selalu bergantung sama orang yang dia percaya! Makanya gue enggak pernah mau kalo dia percaya sama orang lain!”
Melly memukul gue. Dengan apapun. Dia berusaha membuat gue terdiam. Sementara, atau mungkin selamanya.
“Selama ini gue udah usaha keras buat jagain dia! Gue suruh dia masuk kedokteran yang sama kayak gue! Kos yang sama kayak gue! Bahkan gue rela nunda KKN demi biar bisa jagain dia!”
Panas di pipi gue dan dinginnya air hujan membuat kulit gue bingung. Sebuah sore yang benar-benar penuh rasa, meski enggak semuanya mengenakkan.
“Tapi sekarang!” bentak Melly terisak. “Lo! Lo yang bukan siapa-siapa tiba-tiba berani masuk ke kehidupan dia gitu aja!
“Kita berdua udah bahagia! Kita bahagia semenjak dia cuma bergantung sama gue! Dia anggap gue sebagai kakaknya! Tapi sekarang?!”
Melly mengambil batu di sampingnya lalu melemparkannya ke arah gue. Meski tidak terlalu kencang, tapi batu itu tepat mengenai pelipis gue hingga mengalirkan darah segar tepat di suatu titik di kepala gue.
“Sekarang dia bergantung sama lo!” bentak Melly lagi sambil masih terisak. “Dia sampai anggap lo kayak pasangannya sendiri! Dan lo berani nyakitin dia!”
Melly menubruk gue yang berusaha untuk berdiri. Dia menahan gue untuk tetap terbaring di tanah.
“Maafin gue, Mell,” ucap gue pelan. “Gue ngaku salah.”
“Gue enggak bakal maafin lo!” teriaknya. “Gue enggak bakalan maafin lo, Dawi! Enggak bakal maafin lo!”
Sambil masih mendengarkan teriakkan-teriakkan Melly, gue pejamkan sebelah mata gue. Tepat di pelipis, yang perlahan mulai terasa perih. Dengan sedikit gerakan, gue seka darah yang mengalir.
Sewaktu gue membuka mata gue dan memfokuskan pandangan, terlihat sesosok perempuan berdiri di belakang Melly yang menindih gue. Meski mata gue tersiram air hujan, gue masih bisa melihat perempuan itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Begitu gue sadar tangan perempuan itu terayun dengan cepat ke arah kepala Melly, gue segera merengkuh Melly dan memutar posisi tubuh kita.
Terdengar suara sebuah balok kayu yang dihantamkan ke sebuah benda lain dengan keras. Mirip suara suatu bagian tubuh, tulang kering mungkin. Bukan, dari suaranya yang begitu jelas, gue rasa itu tengkorak kepala. Ah… entahlah, mata gue mendadak berat.
End of Chapter Six
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
