Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#676
kaskus-image
Haizzbullah Qhadijah


PART 55

“Kok catnya kelihatan aneh gini, ya?” ucap Bull berpendapat.
“iya juga, sih,” setuju gue. “Kalo dilihat-lihat warnanya kayak muntahan drakula salah ngisep darah gitu.”
“Gue bilang juga apa, Lut,” tambah Yansa. “Lo sih gegayaan milih warna hijau.”
“Gue ini calon arsitek!” Luther menunjukkan wadah cat dengan nomor seri ED-77, “Ini cat paling baru!”
“Ya paling baru bukan paling keren kan, Lut.”
“Bener tuh kata si Bull,” lanjut Yansa. “Paling hits bukan berarti paling kece.”
“Lo berdua tau apa soal dunia pengecatan? Gue ini paling–”
“Udah…,” potong gue. “Catnya enggak jelek-jelek amat, kok.”
“Nah!” seru Luther. “Tuh dengerin bang Dawi paham.”
“Iya paham,” kata Yansa. “Paham kalo rumah ini paling mencolok satu desa.”
“Yah… seenggaknya maling taulah rumah mana yang bakal dia maling kalo masuk desa ini,” tambah si Bull.
“Udah….”

Hari ini kita berempat mewarnai bebas tembok rumah pak Maif. Antara mempercantik atau memperburuk, tapi sepertinya lebih ke memperburuk sih kalo kata gue. Sengaja kita kerjain berempat karena kita pengin cepet-cepet selesaiin kerjaan ini terus beralih fokus ke program kerja dangdutan yang kata Melly cuma dikasih anggaran lima ratus ribu.

Awalnya anak-anak pada berontak dan Luther udah bersiap-siap mau ngumpulin warga untuk yang kedua kalinya. Tapi begitu gue bilang ini demi dilihat kita bisa bekerja efisien oleh kampus, akhirnya mereka percaya. Iya, mereka percaya. Meski Yansa dan Bull sempat terlihat berbisik-bisik ngomong kalo gue lagi ada masalah.

Ngomongin soal Luther dan Yansa yang sama-sama suka sama Dinda, akhirnya Luther kembali melakukan aksi terlebih dulu daripada Yansa. Besok pagi, Luther udah bikin janji sama Dinda buat main ke bukit yang gue, Yansa, dan Cassie kemarin sempat kunjungi. Ya, antara panas dan rela, dengan lapang dada Yansa menceritakan titik-titik romantis dari tempat itu.

Jujur aja, gue kagum sama Yansa. Peppy yang tau gue diajak jalan sama gebetan kita berdua aja ngamuk-ngamuk, apalagi gue? Bener-bener salut gue sama Yansa yang punya jiwa gede.

“Waktu matahari lagi terbit-terbitnya gitu, Bang,” kata Luther. “Pengin gue ajak pas lagi bagus-bagusnya.”
“Ya lo-nya bisa bangun pagi, enggak?” tanya gue. “Jangan-jangan waktu Dinda udah siap ternyata lo-nya belum bangun.”
“Ya enggaklah, Bang,” kata Luther. “Gue bakalan selalu siap buat dia.”
“Sok keren lo,” ucap gue mendorong Luther terduduk. “Tembak aja sekalian, biar perfect.”
“Iya, Bang,” tanggap Luther. “Emang mau gue tembak sekalian.”
“Lo mau nembak Dinda?!” seru Yansa yang tiba-tiba heboh sendiri.
“Kenapa lo, Yan?” tanya si Bull menangkap gerak-gerik Yansa yang mencurigakan.
“Ah… maksud gue, lo mau nembak Dinda?”
“Iyalah,” kata Luther. “Makanya gue pilih pagi-pagi, pas sun rise, pasti diterima.”
“Bagus deh kalo gitu,” tanggap gue seolah enggak sadar ada yang berbeda dari Yansa.

Setelah kita semua diam beberapa saat dan kembali fokus pada tembok, tiba-tiba Yansa berdiri. Sambil memegangi perutnya dia berpamitan pada kami berempat. Benar-benar memancing timbulnya pertanyaan atas gerak-gerik Yansa, dia bukan seorang aktor yang hebat kalo soal hati.

“Bang,” kata Cassie yang duduk di belakang gue. “Balik, yuk?”
“Yaudah duluan aja, Cass,” jawab gue tetap fokus pada tembok. “Temboknya masih belum selesai.”
“Gue pusing banget, Bang,” lanjut Cassie. “Mata gue kunang-kunang.”
“Yaudah,” kata gue dengan nada sedikit tinggi. “Pulang aja duluan, gue masih banyak kerjaan.”

Terdengar suara gesekan kayu kursi ketika Cassie beranjak. Terlihat juga sekilas ketika dia pergi dari pandangan sudut mata gue.

Belum lama Cassie balik, hape Luther bunyi. Dari senyum Luther, kayaknya si Dinda yang telepon.

“Bang,” panggil si Bull memecah keheningan.
“Ya, Bull?”
“Lo enggak terlalu keras ya sama Cassie?”
“Yaelah, Bull,” kata gue. “Gue cuma minta dia pulang duluan kenapa, sih?”
“Tapi enggak perlu bentak juga, kan?” lanjut si Bull.
“Bentak apa, sih? Lo lebay deh, Bull.” Gue naikkan lengan kaos yang kembali turun, “Orang gue cuma ngomong agak keras sedikit.”
“Abang barusan ngebentak Cassie,” kata Bull.
“Yaudahlah, enggak perlu dipikirin,” balas gue. “Nanti tinggal bilang maaf juga beres–”
“APA?!” seru Luther memotong. “Lusa juga enggak bisa ke bukit Gancik?! Tapi kenapa?!”

Karena memang pada dasarnya siang itu enggak terlalu ramai dan gue sama Bull tiba-tiba diam, terdengar lirih suara Dinda waktu ngomong,

“Luth tolong ngertiin kalo gue enggak bisa pergi. Gue harus ngerjain ulang laporan program kerja.”
“Iya, gue ngerti,” kata Luther. “Tapi kenapa tiba-tiba gini? Bukannya laporan lo udah selesai dari kemarin?”
“Gue harus ngerjain ulang,” jawab suara Dinda lirih. “Buku laporan KKN gue hilang.”
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.