Kaskus

Story

bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Halo sahabat penikmat kaskus, setelah membaca beberapa trit horor kaskus yang menarik, dan tentang indigo, saya berencana untuk sharing apa yang saya alami hingga saat ini, sebuha pengalaman seorang penulis, semoga kalian bisa menikmati segala tulisan yang saya tuangkan dalam trit horror ini, semoga menemani malam2 kelam kalian, jangan lupa sekililing kalian selalu ada MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
----
Sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak bernama ARDA yang menjadi seorang "indigo", kisah penuh drama, cinta, dan 90% horor, dan bagaimana seorang anak biasa, "bersahabat" dengan MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP

Kisah yang dituliskan adalah kisah yang dialami oleh beberapa orang, mulai dari penulis, dan teman- teman nya, merupakan suatu kejadian nyata yang dialami, namun mungkin akan dibumbui dengan kesyahduan bumbu bumbu penulisan cerita yang sedikit hiperbola

Let's Just Enjoy The Story ( jangan lupa di subscribe dan kasih like, cendol, asal jangan bata merah )

Cerita akan di update paling lambat 2 hari sekali, dan jam update nya pagi berhubung ane pagi kerja sekalian untuk update awal jam kantor hehe

jangan lupa follow Instagram : @bakemonotong
twitter : @ardahakimotong

Quote:



Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:51
mmuji1575Avatar border
G.FaustAvatar border
kemintil98Avatar border
kemintil98 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
53.3K
135
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
bakamonotongAvatar border
TS
bakamonotong
#50
PART XIII- Eksistensi Intens Lantai 3

Quote:


Pintu yang terbuka membuat aura gelap makin parah disekitar sana, kulihat beberapa makhluk seperti kunti dan pocong disana, di ujung lorong lantai 3, tepat depan kelasku, mereka makin mendekat, dan pertama kali aku sadar, pocong tidak jalan loncat- loncat luus, tapi loncatnya lebih mirip terbang, yang mana benar- benar melayang (mirip geppou nya CP 9 atau Sky Walk Sanji), membuatku jatuh terduduk, bersandar pada kaki sang gendruwo aula, kulihat mereka mengepungku saat aku terduduk, aku coba pukuli mereka, menghempaskan mereka, tapi tidak bisa, seakan menembus mereka, membaca doa- doa pun kulakukan, tapi tawa mereka makin keras, tak peduli aku baca- baca saja doa terus menerus, tapi bukannya mundur, mereka makin menatapku ngeri, aku coba menerobos mereka, memang tembus dar isalah satu fisik mereka, tapi aku tak tahu kemana aku berlari, aula yang tadinya hanya besar, kini menjad isangat amat besar, SIAL! batinku, aku mencoba berlari kabur, tapi berat sekali, sangat berat, seakan ada yang menempel padaku, menahanku, sehingga tidak bisa berjalan, melangkahkan selangkah kaki pun sangat amat berat.

Tak mau aku mengiba untuk mereka melepaskanku, aku masih teguh bahwa aku manusia, makhluk sempurna ciptaan Tuhan, aku memberontak, mencoba menggoyangkan tubuhku menyingkirkan mereka, kulihat si pemain piano mendorong piano nya, dia bergerak menuju arahku, sial, tadi aku ta kmelihat, kepalany tepat ada di kursinya, dia berjalan kearahku sambil membawa kepalanya, yang hancur pada setengah kepalanya, membuat otakny terlihat,dan meneteskan darah segar. Apa lagi ini, kenapa bukannya mereda, mereka malah makin menjadi. kulihat dari panggung aula, tirai besar itu tersingkap dengan sendirinya, kulihat ada makhluk yang keluar dari sana, auranya cukup kuat, mengerikan, sangat amat mengerikan, wujudnya hanya seperti orang biasa, tidak besar maupun raksasa, wajahnya tak tampak, badannya juga tidak, tapi matanya cukup menyisakan kesan ngeri, mata yang tampak marah, keji, berwarna merah terang, dia mengarahkan tangannya padaku, membuatku tercekik, lalu seperti menarik dan mendorongku terjatuh, cukup jauh, aku yang masih sesak nafas coba melihat ke arahnya lagi, dia berdiri menatapku marah, di belakangya berdiri mereka yang tadi, seakan berdiri di balik pemimpin mereka. Aku mencoba berdiri pelan, aku menarik nafas, mencoba menstabilkan nafasku, aku melihat ke arah mereka, aku yang telah berdiri menatap sang pemimpin disana, dan aku memusatkan konsentrasiku, berharap dapat berkomunikasi dengan mereka yang ada disana.

Aku memejamkan mataku, perlahan aku melihat lagi, kulihat mereka yang dibelakang sang pemimpin menggeram, dan bersiap menyerang, aku yang tenang mulai sedikit panik, lalu aku beranikan bertanya, "kula nuwun, kula mboten niat ganggu, kula namung nunggu jemputan kula"(saya tidak berniat mengganggu, cuma nunggu jemputan saja), kataku pelan, mereka masih diam, masih menatap penuh dendam, apa masih terlalu cepat bagiku berinteraksi seperti ini pada mereka? Aku bicara lagi, mencoba, "kula niki nggeh mboten niat nge ganggu, namung nunggu tiyang sepuh kula"(saya ini tidak ada niatan mengganggu, cuma menunggu orang tua saya saja), mereka masih diam, tapi sang pemimpin maju, menatapku dengan mata merahnya, "aku ora seneng karo gawananmu! iki wilayahku! tapi gawananmu kui wes wani nantang aku!"(aku gak suka sama bawaanmu, ini wilayahku! bawaanmu itu uda berani menantang aku!) jawabnya, AKu bingung, tak paham maksudnya, bawaan apaan? aku gak bawa apa2 kok? apalagi yang bisa melukai atau menantang kaum mereka, "Kula mboten gadah nopo2 ingkang nantangi panjenengan sedoyo, kula namung nunggu di jemput tiyang sepuh kula"(saya gak bawa apa2 yang bisa nantangin kalian, saya cuma nunggu jemputan saja), "kula namung ngetutne murid teng mriki ingkang mlebet teng aula, tiyang ingkang kula kira niku murid, namung jebulane salah, tiyang niku nggih bocah niku (aku menunjuk si muka sobek)"(saya cuma ngikutin murid yang masuk ke aula, saya kira itu murid sini, tapi kok ternyata salah, orang tadi itu ya anak itu(si muka sobek). jawabku melanjutkan, bukannya menjawab mereka hanya tertawa, kencang, membuat seisi aula bergema karena suara mereka.Tanpa aba2 si pemimpin mencekikku lagi, mendorongku jatuh agak jauh, membuatku kesakitan setengah mati, aku berdiiri cepat kali itu, tapi ketika aku berdiri, aku hanya melihat kegelapan yang sudah lam tak kulihat, aku melihat tubuku terbujur kaku di lantai aula, apa ini mati? ta[i jika aku mati seharusnya aku tidak bisa beridir disini begini, aku melihat mereka yang berada di aula berdiri menatapku, seketika sekelilingku yang gelap berubah, menjadi aula sekolahku, mereka yang disana bersiap menyerangku lagi, seakan berusaha mencoba membunuh wujud astralku.

Sial!, aku tak tahu harus apa, ingin rasanya aku kembali ke badanku sendiri, ku mencoba menyentuh tubuhku tapi bukannya berhasil masuk, aku hanya menepel, aku coba mengikuti pose terjatuhnya aku juga tidak segera bisa masuk, aku mulai kehabisan akal. Bodoh memang saat itu, aku yang kehabisan opsi hanya beridir melihat ke mereka, kaki kananku kutarik ke belakang, kuangkat tanganku membentuk kuda2 , tangna kanan dibawah, tangn kiri diatas menutup dada, aku ambil ancang- ancang berantem, dengan kuda- kuda tae kwon do. Jika mereka bisa menyerang tubuh astralku, seharusnya dengna tubuh astral aku dapat menyereng mereka. kulihat si bocah senyum sobek menyerangku, maju mencoba menubrukku, bodo amat! ku tendang saja ke arah kepalanya, membuat dia tersungkur jatuh, membuat rombongan mereka yang lain geram dan mencoba menyerangku, aku terdorong oleh tangan si gendruwo, membuatku jatuh, belum sempat aku berdiri, tangan si gendruwo menahanku hingga tak mampu berdiri. Sial aku terlalu naif, beladiri manusia mana bisa buat melawan mereka, aku tak tahu harus apa lagi, hingga tiba- tiba seorang kakek- kakek berjubah putih datang, auranya putih, benar- benar berlawanan dengna yang ad di aula, dia menyentuh tangan si gendruwo, tiba- tiba saja si gendruwo terlempar, jauh, menggeram kesakitan, aku lihat mereka yang lain mulai mengambil langkah mundur, sang pemimpin hitam akhirnya maju, mencoba menyerang si kakek berjubah putih, tapi apa, dengan mudahnya dia memukul jatuh si hitam, membuat hitam tambah marah, kulihat mata merahnya makin mengerikan, kulihat si kakek menatapku, "sar**** (mulai sekarang panggil saja sar)", dengan sedikit berteriak, tiba- tiba muncul harimau putih, besar berada di sampingku, mengaum keras, kemudian duduk seperti bersimpuh "abah ***(sebut saja abah)". " kenapa kamu serang mereka disini? kamu memang disuruh mengikuti Arda, tapi bukan berarti kamu harus menerang mereka yang belum mencedirai Arda", kata si kakek, Sar hanya diam, kemudian menatap pemimpin hitam "menurut saya mereka negatif, tidak baik jika diteruskan seperti ini disini, mereka akan menggagngu para murid suatu saat" jawab Sar, tiba- tiba Abah mendekati Sar, dan memukul kepalanya, lucu juga melihat harimau kepalanya di pukul. membuat Sar kembali menghilang, seakan paham maksud pukulan tadi.

Aku teringat para rombongan penunggu aula, mereka marah besar, sambil melihat Abah, kulihat Abah maju menuju mereka, membuat tatapan mereka menjadi benci, "kalau sampai kalian macam- macam lebih dulu, kalian tahu apa artinya" begitu kata si Abah, tiba- tiba, satu persatu dari mereka menghilang, hingga sang pemimpin hitam pun pergi, sambil memandang benci padaku, "tunggu wae le, kowe bakal ngerti dilit neh, ra mung aku sek ra seneng ro kowe lan gawananmu, tapi kabeh sek neng kene, wes ra seneng, tunggu wae, siji- siji bakal nunjukke awak e marang kowe" (tunggu aja nak bentar lagi bakal tau kamu, disini bukan cuma aku yang gak suka sama kamu, tapi semua yang disini, tunggu saja, satu persatu akan menampilkan diri mereka ke kamu). Aku melihat perlahan si hitam menghilang kembali ke panggung, aku melihat abah menepuk kepalaku, sambil berkata "sudah balik, balik ke tubuhmu", tiba- tiba aku sadar, aku mencari abah langsung, kanan kiri, semua penjuru tidak ada, aula juga kosong, ku keluar, langit masi hbelum begitu gelap, padahal disana terasa begitu lama, kulihat sudah hamir pukul 6 sore, aku lihat Hpku, ortuku menelpon ada sekitar 5x, aku segera berlari turun menuju lokasi penjemputan, sampai lantai satu, aku lihat ke arah aula dari bawah, aku lihat si gendruwo berdiri di teras Aula, dengan mantapaku marah, aku pun kabur cepat, masih merinding membayangkan apa yang baru saja terjadi. Kulihat ayahku sudah menunggu di mobil, bersalaman, dan segera pulang. Aku liaht kebelakang ke arah gerbang sekolah, kulihat ke arah kelas ku di lantai 3 yang dipinggi jalan, kulihat si kunti dan pocong disana, melihatku tersenyum sperti berkata,kami akan selalu disini, di kelasmu membuatku memalingkan muka dan melihat jalan saja, sambil membayangkan 3 tahun disini, kira- kira apa saja yang akan kualami, dan siapa saja yang akan ada disini, takut, tapi aku menanti eksistensi mereka, mereka yang hidup dalam gelap.
Diubah oleh bakamonotong 27-02-2018 16:09
johny251976
kemintil98
regmekujo
regmekujo dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.