- Beranda
- Stories from the Heart
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
...
TS
bakamonotong
MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
Halo sahabat penikmat kaskus, setelah membaca beberapa trit horor kaskus yang menarik, dan tentang indigo, saya berencana untuk sharing apa yang saya alami hingga saat ini, sebuha pengalaman seorang penulis, semoga kalian bisa menikmati segala tulisan yang saya tuangkan dalam trit horror ini, semoga menemani malam2 kelam kalian, jangan lupa sekililing kalian selalu ada MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
----
Sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak bernama ARDA yang menjadi seorang "indigo", kisah penuh drama, cinta, dan 90% horor, dan bagaimana seorang anak biasa, "bersahabat" dengan MEREKA YANG HIDUP DALAM GELAP
Kisah yang dituliskan adalah kisah yang dialami oleh beberapa orang, mulai dari penulis, dan teman- teman nya, merupakan suatu kejadian nyata yang dialami, namun mungkin akan dibumbui dengan kesyahduan bumbu bumbu penulisan cerita yang sedikit hiperbola
Let's Just Enjoy The Story ( jangan lupa di subscribe dan kasih like, cendol, asal jangan bata merah )
Cerita akan di update paling lambat 2 hari sekali, dan jam update nya pagi berhubung ane pagi kerja sekalian untuk update awal jam kantor hehe
jangan lupa follow Instagram : @bakemonotong
twitter : @ardahakimotong
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh bakamonotong 22-06-2018 09:51
kemintil98 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
53.3K
135
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bakamonotong
#46
Part XII - Orientasi Lagi dan Eksistensi Mereka di Aula.
Senin 2009, hari pertama aku masuk sekolah di SMA M***, sekolah yang cukup besar, sebagai murid baru kami harus menjalani masa orientasi siswa, sebuah masa dimana kami harus berdandan rapi, membawa tas karung, dan membawa barang bawaan aneh- aneh lagi, sembari dimarahi oleh senior- senior yang sok jadi pengawas, yang aslinya jika sudah kenalpun mereka ternyata tidak galak, ya walaupun aku tidak dekat dengan mereka, hanya sekedar tahu saja. Panitia FORTASI kebanyakan adalah anak OSIS, atau kalau di sini disebut IP*(berhubung menyangkut suatu organisasi besar, saya sensor saja). FORTASI ini berjalan dari pagi hingga menjelang petang, 3 hari yang berasa cukup lama, seperti menjalani siksaan fisik selama 1 bulan. Bayangkan saja jam 4 pagi kami sudah berangkat, dan jam 5 Sore kami baru pulang, dengan diembel2i suruh lari dari ruang kelas ke lapangan, nyanyi2, menghafal surat di Al-Quran, membuat kaligrafi dan sebagainya, belum lagi mereka mencari- cari kesalahan seperti "apa yang bisa disalahkan lagi dari mereka ya", membuat kami sedikit males menghadapi para senior galak (komdis).
Hari pertama masuk aku tidak telat, tapi aku benar- benar cuek dengan sekelilingku, bahkan teman sekelasku, buatku omong kosong bergabung bersama mereka, hingga ku memperkenalkan diri dan asal sekolah, "nama saya Arda, dari SMP 4 ***** ", sehingga mendapat julukan baru yang kubenci, "pakem", ntah dari mana julukan ini ada, membuatku benci mendengar celoteh mereka, lebih baik aku dipanggil arda atau otong, yang sudah biasa kerap kudengar dari anggota keluargaku. Sekitar 30 anak sekelas, membuatku sebenarnya muak berkumpul dengan banyak orang, aku akhirnya seakan menutup diri, dengan duduk paling depan di kelas, dan saat itu pula aku dipandang "aneh", tapi ya apalah kata mereka, aku tidak peduli. Sebenarnya di kelas ku kelas X-E dekat dengan jalan, tapi atmosfir disini lebih gelap dari kelas lain, dan bahkan atmosfirnya membuatku sedikit muak, rasanya ingin muntah, entah dikarenakan aku masih belum bersosialisasi, atau karena ada penunggu disana. Awal aku masuk ke kelas iu, aku memutar pandanganku, mencari- car isumber aura gelap ini, sampai aku melihat jendela ke arah luar, yang dekat dengan sawah pinggir sekolah. Disana terlihat aura yang benar- benar gelap, tapi aku belum menemukan wujud dari dia/ mereka yang ada disana. Ah bodo amat lah!, pikirku, aku hanya fokus pada acara FORTASI yang benar- benar membosankan, dan membuatku kebanyakan diam saja di kelas. Hari pertama kulalui tanpa gangguanb berarti dari mereka.
Hari Kedua aku telat, hanay beda 2 menit, aku mendengar orang berlari di belakangku, yang sama- sama telat, berusaha mengejar keterlambatannya, tapi ku cuek saja, hingga ku lihat, ada seorang anak cowok yang berhenti di sampingku, ikut berjalan sambil terengah2 habis berlari, "Telat juga?' katanya, "ho'oh (iya), kamu juga?" balasku, "oh yo, kenalin, aku odi" sembari menyodorkan tangan, ku sambut balik tangannya "oh yo, aku arda", "SMP mana dulu?", "SMP 4 ****, lha kamu?", " SMP 5 ***** ", disinilah aku kenal dengan seorang yang hingga hari ini menjadi salah satu teman dekatku, pertemuan pertamaku dengan "orang" yang bisa kuajak ngobrol. Telat tetaplah telat, ada sekitar 7 orang yang terlambat hari itu, kami dbariskan di depan pagar sekolah, ketika siswa lain mulai masuk kelas, kami dibawa ke aula, di lantai 3, selantai dengan kelasku, tapi aura di Aula jauh lebih gelap, bahkan aku melihat ada piano yang memiliki beberapa residu energi disana, residu hawa negatif, tapi sudahlah, aku tak begitu memikirkan hal itu. Namun, terdapat aura negatif yang sangat kuat disana, lebih kuat dari yang manapun pernah kurasakan hingga saat itu, benar- benar berat, pengap, walaupun tempatnya luas dan besar. Mataku selalu terarah pada tempat dengan aura terbesar disana, tribun penonton di Aula, dan satu lagi di panggung Aula, seakan ada yang mengintip dari tirai panggung, dan ada yang mengawasi kami dari tribun, membuatku sedikit gugup, dan panik di dalam sana, tapi pagi itu, aku masih belum menemukan wujud dari mereka
Masa orientasi pada hari kedua cukup membuatku lelah, karena kegiatan lebih banyak dari hari pertama, dan kuliaht beberapa pingsan saat kami dikumpulkan di lapangan ataupun di aula, perempuan terutama, ntah karena kelelahan, atau karena memang mereka hanya akting saja. Tapi buat apa kupikirkan, toh bukan hal penting buatku, kulihat panitia p3k panik, aku hanya mengacuhkan dan tertawa dlaam hati, melihat mereka, "bodo kali, kenapa coba pake pingsan, sok panik,.biarin aja sih", aku memang tak begitu memperhatikan secara keseluruhan acara ini, diam lebih banyak yang aku lakukan, bahkan dengan memasang ekspresi sok baik, sok senyum pada mereka, yang penting ikuti dulu acara ini, da nhanya 1 tahun saja kelas ini, kelas 2 akan dirombak lagi, toh aku tak akan bertemu mereka lagi mungkin. Aku memang tak begitu suka dengan hampir semua anak di kelasku, aneh, itu pandangan para anak2 pria disana padaku, tapi aku acuh, hanya sedikit yang aku benar- benar bisa berteman, namun tidak akan kubahas di cerita ini, tidak ada hal spesial untuk dibahas tentang kelas itu.
Sore hari kedua aku benar- benar merasa lelah, aku menunggu jemputan ayahku dari kantor yang ternyata telat, dan membuatku harus berdiam di sekolah, hingga jam 6 sore waktu itu. Ntah kenapa aku tertarik pada satu titik, Aula sekolah, sedikit aku berjalan, aku melihat seseorang berlari ke aula, aku kria itu panitia, lalu ku ikuti saja bermodal penasaran, toh siapa tau bisa menguping apa yang diucapkan senior. Aku masuk saja ke dalam aula, luas, ntah kenapa auranya berubah, tidak seberat sebelumnya, aku masuk saja, melengos mencari celah- celahh disana, aku keluar menuu teras samping aula, kulihat disana tidak ada apa- apa, kecuali panitia di lapangan yang duduk melingkar membahas evaluasi hari itu spertinya. Kemudian aku baru ingat, lha barusan siapa yang masuk, aku coba berkeliling mengitari, dan tidak kutemukan satu orangpun, sampai ketika aku mau keluar, benar- benar tiba2 pintu Aula terbanting sendiri, cukup keras, mendorongku terjatuh, membuatku tidak bisa berkata- kata saking kagetnya, angin? tapi gak ada rasa angin kencang berhembus, bahkan mala bertambah sumpek, aku coba membuka pintu aula, terkunci, padahal kunci hanya dibawa juru kunci sekolah, tapi ini terkunci dan tidak bisa kubuka, kupaksa pun tak bergeming, seakan ada yang menahan dari luar. Hingga aku melihat ada sedikit siluet diluar berdiri tepat di depan sana, seakan menahan pintu agar tak terbuka.
Aku yang panik mencba keluar melalui pintu samping, nihil, seakan pintu yang tadinya ada menghilang tanpa sebab, pdahal aku yakin disana ada pintu, aku coba meraba- raba dinding, tapi tidak kutemukan apapun, sial, aku kehabisan akal, aku berdoa sebisaku, membaca ayat kursi, surat- surat pendek, al fatihah, tapi apa yang kudengar, suara tawa keras dari atas tribun. sesuatu yang besar, tiba2 muncul, besar, tinggi, jari- jarinya cukup panjang hingga melebihi batas tribun, makhluk itu turun merangkak dari tribun, wajahnya terlihat sangat amat jelas, bahkan mengerikan. matanya berwarna merah, dengan aring menjuntai dari bawah, lidahnya menjulur, rambutnya yang bernatakan membuat kesan ngeri bertambah, dia mengerang, membuatku berlari mundur, dia tertawa melihatku panik, hingga datang satu orang siswa yang sepertinya aku lihat tadi, dia berdiiri, tapi tiba2 dia tersenyum, lebar, hingga mulutnya sobek, mengucurkan darah segar dari mulutnya, aku hanya terpaku melihatnya, hingga kulihat sesuatu di piano aula, orang tanpa kepala, tang terlihat darah masih menetes, memainkan piano, membuat aura disana semakin gelap, sesak, aku yang panik bingung harus apa, hingga aku berlari mencoba membuka pintu aula. Pintu aula terbuka, aku sudah senang, tapi kebahagianku hanya sementara. Teror ini menjadi makin parah.
Senin 2009, hari pertama aku masuk sekolah di SMA M***, sekolah yang cukup besar, sebagai murid baru kami harus menjalani masa orientasi siswa, sebuah masa dimana kami harus berdandan rapi, membawa tas karung, dan membawa barang bawaan aneh- aneh lagi, sembari dimarahi oleh senior- senior yang sok jadi pengawas, yang aslinya jika sudah kenalpun mereka ternyata tidak galak, ya walaupun aku tidak dekat dengan mereka, hanya sekedar tahu saja. Panitia FORTASI kebanyakan adalah anak OSIS, atau kalau di sini disebut IP*(berhubung menyangkut suatu organisasi besar, saya sensor saja). FORTASI ini berjalan dari pagi hingga menjelang petang, 3 hari yang berasa cukup lama, seperti menjalani siksaan fisik selama 1 bulan. Bayangkan saja jam 4 pagi kami sudah berangkat, dan jam 5 Sore kami baru pulang, dengan diembel2i suruh lari dari ruang kelas ke lapangan, nyanyi2, menghafal surat di Al-Quran, membuat kaligrafi dan sebagainya, belum lagi mereka mencari- cari kesalahan seperti "apa yang bisa disalahkan lagi dari mereka ya", membuat kami sedikit males menghadapi para senior galak (komdis).
Hari pertama masuk aku tidak telat, tapi aku benar- benar cuek dengan sekelilingku, bahkan teman sekelasku, buatku omong kosong bergabung bersama mereka, hingga ku memperkenalkan diri dan asal sekolah, "nama saya Arda, dari SMP 4 ***** ", sehingga mendapat julukan baru yang kubenci, "pakem", ntah dari mana julukan ini ada, membuatku benci mendengar celoteh mereka, lebih baik aku dipanggil arda atau otong, yang sudah biasa kerap kudengar dari anggota keluargaku. Sekitar 30 anak sekelas, membuatku sebenarnya muak berkumpul dengan banyak orang, aku akhirnya seakan menutup diri, dengan duduk paling depan di kelas, dan saat itu pula aku dipandang "aneh", tapi ya apalah kata mereka, aku tidak peduli. Sebenarnya di kelas ku kelas X-E dekat dengan jalan, tapi atmosfir disini lebih gelap dari kelas lain, dan bahkan atmosfirnya membuatku sedikit muak, rasanya ingin muntah, entah dikarenakan aku masih belum bersosialisasi, atau karena ada penunggu disana. Awal aku masuk ke kelas iu, aku memutar pandanganku, mencari- car isumber aura gelap ini, sampai aku melihat jendela ke arah luar, yang dekat dengan sawah pinggir sekolah. Disana terlihat aura yang benar- benar gelap, tapi aku belum menemukan wujud dari dia/ mereka yang ada disana. Ah bodo amat lah!, pikirku, aku hanya fokus pada acara FORTASI yang benar- benar membosankan, dan membuatku kebanyakan diam saja di kelas. Hari pertama kulalui tanpa gangguanb berarti dari mereka.
Hari Kedua aku telat, hanay beda 2 menit, aku mendengar orang berlari di belakangku, yang sama- sama telat, berusaha mengejar keterlambatannya, tapi ku cuek saja, hingga ku lihat, ada seorang anak cowok yang berhenti di sampingku, ikut berjalan sambil terengah2 habis berlari, "Telat juga?' katanya, "ho'oh (iya), kamu juga?" balasku, "oh yo, kenalin, aku odi" sembari menyodorkan tangan, ku sambut balik tangannya "oh yo, aku arda", "SMP mana dulu?", "SMP 4 ****, lha kamu?", " SMP 5 ***** ", disinilah aku kenal dengan seorang yang hingga hari ini menjadi salah satu teman dekatku, pertemuan pertamaku dengan "orang" yang bisa kuajak ngobrol. Telat tetaplah telat, ada sekitar 7 orang yang terlambat hari itu, kami dbariskan di depan pagar sekolah, ketika siswa lain mulai masuk kelas, kami dibawa ke aula, di lantai 3, selantai dengan kelasku, tapi aura di Aula jauh lebih gelap, bahkan aku melihat ada piano yang memiliki beberapa residu energi disana, residu hawa negatif, tapi sudahlah, aku tak begitu memikirkan hal itu. Namun, terdapat aura negatif yang sangat kuat disana, lebih kuat dari yang manapun pernah kurasakan hingga saat itu, benar- benar berat, pengap, walaupun tempatnya luas dan besar. Mataku selalu terarah pada tempat dengan aura terbesar disana, tribun penonton di Aula, dan satu lagi di panggung Aula, seakan ada yang mengintip dari tirai panggung, dan ada yang mengawasi kami dari tribun, membuatku sedikit gugup, dan panik di dalam sana, tapi pagi itu, aku masih belum menemukan wujud dari mereka
Masa orientasi pada hari kedua cukup membuatku lelah, karena kegiatan lebih banyak dari hari pertama, dan kuliaht beberapa pingsan saat kami dikumpulkan di lapangan ataupun di aula, perempuan terutama, ntah karena kelelahan, atau karena memang mereka hanya akting saja. Tapi buat apa kupikirkan, toh bukan hal penting buatku, kulihat panitia p3k panik, aku hanya mengacuhkan dan tertawa dlaam hati, melihat mereka, "bodo kali, kenapa coba pake pingsan, sok panik,.biarin aja sih", aku memang tak begitu memperhatikan secara keseluruhan acara ini, diam lebih banyak yang aku lakukan, bahkan dengan memasang ekspresi sok baik, sok senyum pada mereka, yang penting ikuti dulu acara ini, da nhanya 1 tahun saja kelas ini, kelas 2 akan dirombak lagi, toh aku tak akan bertemu mereka lagi mungkin. Aku memang tak begitu suka dengan hampir semua anak di kelasku, aneh, itu pandangan para anak2 pria disana padaku, tapi aku acuh, hanya sedikit yang aku benar- benar bisa berteman, namun tidak akan kubahas di cerita ini, tidak ada hal spesial untuk dibahas tentang kelas itu.
Sore hari kedua aku benar- benar merasa lelah, aku menunggu jemputan ayahku dari kantor yang ternyata telat, dan membuatku harus berdiam di sekolah, hingga jam 6 sore waktu itu. Ntah kenapa aku tertarik pada satu titik, Aula sekolah, sedikit aku berjalan, aku melihat seseorang berlari ke aula, aku kria itu panitia, lalu ku ikuti saja bermodal penasaran, toh siapa tau bisa menguping apa yang diucapkan senior. Aku masuk saja ke dalam aula, luas, ntah kenapa auranya berubah, tidak seberat sebelumnya, aku masuk saja, melengos mencari celah- celahh disana, aku keluar menuu teras samping aula, kulihat disana tidak ada apa- apa, kecuali panitia di lapangan yang duduk melingkar membahas evaluasi hari itu spertinya. Kemudian aku baru ingat, lha barusan siapa yang masuk, aku coba berkeliling mengitari, dan tidak kutemukan satu orangpun, sampai ketika aku mau keluar, benar- benar tiba2 pintu Aula terbanting sendiri, cukup keras, mendorongku terjatuh, membuatku tidak bisa berkata- kata saking kagetnya, angin? tapi gak ada rasa angin kencang berhembus, bahkan mala bertambah sumpek, aku coba membuka pintu aula, terkunci, padahal kunci hanya dibawa juru kunci sekolah, tapi ini terkunci dan tidak bisa kubuka, kupaksa pun tak bergeming, seakan ada yang menahan dari luar. Hingga aku melihat ada sedikit siluet diluar berdiri tepat di depan sana, seakan menahan pintu agar tak terbuka.
Aku yang panik mencba keluar melalui pintu samping, nihil, seakan pintu yang tadinya ada menghilang tanpa sebab, pdahal aku yakin disana ada pintu, aku coba meraba- raba dinding, tapi tidak kutemukan apapun, sial, aku kehabisan akal, aku berdoa sebisaku, membaca ayat kursi, surat- surat pendek, al fatihah, tapi apa yang kudengar, suara tawa keras dari atas tribun. sesuatu yang besar, tiba2 muncul, besar, tinggi, jari- jarinya cukup panjang hingga melebihi batas tribun, makhluk itu turun merangkak dari tribun, wajahnya terlihat sangat amat jelas, bahkan mengerikan. matanya berwarna merah, dengan aring menjuntai dari bawah, lidahnya menjulur, rambutnya yang bernatakan membuat kesan ngeri bertambah, dia mengerang, membuatku berlari mundur, dia tertawa melihatku panik, hingga datang satu orang siswa yang sepertinya aku lihat tadi, dia berdiiri, tapi tiba2 dia tersenyum, lebar, hingga mulutnya sobek, mengucurkan darah segar dari mulutnya, aku hanya terpaku melihatnya, hingga kulihat sesuatu di piano aula, orang tanpa kepala, tang terlihat darah masih menetes, memainkan piano, membuat aura disana semakin gelap, sesak, aku yang panik bingung harus apa, hingga aku berlari mencoba membuka pintu aula. Pintu aula terbuka, aku sudah senang, tapi kebahagianku hanya sementara. Teror ini menjadi makin parah.
regmekujo dan 6 lainnya memberi reputasi
7