- Beranda
- Stories from the Heart
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
...
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah 
Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang
Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka
Selamat membaca

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.

Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS

Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka

Selamat membaca

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.3K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#49
CHAPTER 7
Makan di restoran Gregory's Diner merupakan hal yang tak pernah terbayangkan olehnya. Daging rusa segar yang ditangkap dari alam liar rasanya sungguh sangat enak sekali. Penduduk di New Lycan ternyata sangat sopan dan juga cukup ramah. Bisa dapat melihat mereka bersenda gurau dengan makhluk lain di suatu tempat yang sama merupakan hal yang asing baginya. Sepertinya semua orang senang akan perubahan yang terjadi di dunia ini.
Alyssa menyampingkan pikiran tersebut dan memutuskan untuk menikmati santapannya. Ketika sedang menikmati menu daging rusa tersebut, Alyssa tidak dapat menghindari pandangannya dari apa yang sedang diminum oleh Gabriel. Sebuah cawan besar yang berisi cairan berwarna merah didalamnya.
"Apakah itu sama dengan yang aku lagi pikirin sekarang?" Alyssa bertanya dengan tenang.
"Benar." Gabriel menjawab.
"Kalau kamu bisa beli darah disini, kenapa kamu masih butuh aku?" Alyssa kembali bertanya.
"Untuk dua alasan yang sangat bagus," Gabriel menjawab dengan tenang. "Pertama, kualitas darah disini sangat jelek sekali. Kantong-kantong darah itu sudah berada disini selama bertahun-tahun. Darah segar tidak pernah dijual disini, selain sulit didapat harganyapun sangat mahal sekali. Untuk secawan kecil ini saja harganya tiga kali lipat dari semua barang yang akan kita beli nanti dari daftar yang kamu berikan."
"Wow." Jawab Alyssa sambil mengunyah makanannya. "Selain murah, darahku ternyata punya kualitas yang tinggi."
"Tepat sekali." Kata Gabriel. "Aku harap kamu tidak tersinggung."
"Tidak." Jawab Alyssa lalu merenung sejenak. "Sejujurnya aku senang punya kesempatan untuk melihat dunia lebih jauh."
"Aku pikir juga begitu." Kata Gabriel lalu meneguk gelasnya. "Habiskan makananmu lalu kita akan pergi belanja sebelum matahari terbit.
Setelah selesai makan malam, Gabriel mengajak Alyssa masuk kedalam bangunan yang terlihat seperti mall dengan ukuran yang super besar. Tempat itu terlihat sangat hebat dan hampir terlihat mirip seperti bangunan yang ia dan grupnya coba jarah beberapa minggu yang lalu. Hanya ada satu perbedaan yaitu mall ini bercahaya dan berfungsi penuh.
"Apa saja yang ada disini?" Alyssa bertanya.
"Semua yang kita butuhkan. "Gabriel menjawab lalu mengambil troli. "Kamu pasti akan suka ini, berbelanja tanpa harus khawatir akan serangan zombie dari sudut ruangan."
"Iya, tapi dengan satu hal." Ucap Alyssa lalu meletakkan tangannya di troli. "Boleh aku yang dorong trolinya?"
Gabriel tertawa hangat lalu melepaskan pegangannya dari kereta troli tersebut. "Tentu saja boleh."
"Apa budget kita cukup?" Tanya Alyssa.
"Tidak juga." Jawab Gabriel, "Ingatlah kalau kita harus membawa belanjaan ini pulang kerumah, jadi jangan terlalu banyak. Kita akan selalu bisa kembali lagi kesini untuk belanja lebih banyak barang kapanpun."
"Oke bos!" Ucap Alyssa sambil melakukan gerakan hormat, lalu mendorong trolinya bersemangat. "Aku juga gak mau beli semua barang yang ada di daftar. Mereka pasti bakal minta lebih banyak barang untuk tugas ku berikutnya."
"Benar juga." Kata Gabriel setuju. "Tapi kita akan memanfaatkan hal tersebut."
Alyssa sangat terkejut melihat apa yang ada di dalam sana. Bukannya melihat barang-barang tergeletak berantakan di lantai, semua barang disana tersusun rapi di rak-rak dan lemari berisi barang-barang baru yang siap dibeli oleh para kostumer. "Gimana mereka bisa dapat barang-barang ini?"
"Sebagian diproduksi di kota lain." Gabriel menjawab. "New Lycan memiliki beberapa transaksi perdagangan besar dengan kota manusia. Mereka juga memproduksi sendiri beberapa barang untuk kebutuhan penduduknya. Contohnya adalah itu, Daging zombie kalengan."
"Eeewwww... " Alyssa bergidik ngeri lalu berjalan menjauh.
"Serigala-serigala itu menyukainya." Kata Gabriel sambil mengambil beberapa barang dari rak. "Kamu pasti suka ini, tuna dan salmon sangat bagus bagi mereka yang sedang kekurangan darah. Belilah agak banyak dan simpan untukmu sendiri."
Alyssa mengeluarkan daftar barang dari sakunya lalu memberikannya ke Gabriel. "Ini daftar barang persediaan yang kubutuhkan."
"Cukup menarik." Kata Gabriel yang lalu pergi mencari barang-barang tersebut untuknya.
Alyssa berhenti sebentar untuk melihat-lihat pakaian yang sedang didiskon. Ia melihat ada dua sweater yang rajutannya rapi sekali, dengan segera ia memasukannya kedalam keranjang troli. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Diane, pikirnya. Pada saat ia sedang memilih kaus kaki yang baru, seorang anak lelaki kecil datang menghampirinya.
"Bau kakak aneh." Anak itu berkata dengan pelan.
"Masa sih?" Alyssa menjawab. "Baunya seperti apa?"
"Seperti manusia." Jawab anak itu.
"Karena aku emang manusia." Alyssa membalas.
Anak lelaki itu berjalan mundur perlahan lalu pergi menjauhinya. Alyssa tidak mengerti apa yang telah membuat anak kecil itu pergi, lalu kembali menyibukkan diri memilih kaus kaki baru untuk Diane. Sesaat berikutnya, anak kecil yang tadi datang kembali mengajak dua orang dewasa, Alyssa pikir mungkin mereka itu orangtuanya. Mereka tidak terlihat senang.
"Apakah kamu manusia?" Wanita yang terlihat seperti ibu anak itu bertanya.
"Apa itu masalah buatmu?" Jawab Alyssa seraya melempar sepasang kaus kaki baru kedalam trolinya. "Aku datang kesini cuma untuk belanja.
"Apakah dia bersenjata?" Pria yang satu lagi bertanya. Sedikit menakuti Alyssa.
"Nggak sama sekali." Jawab Alyssa yakin. Dirinya tidak yakin apakah dibolehkan untuk membawa senjata kedalam kota. Namun ia juga tidak yakin apa hal itu dibutuhkan jika dirinya sedang bersama Gabriel.
"Siapa saja tolong panggil polisi!" Teriak pria itu kesekeliling yang memicu perhatian beberapa orang.
Alyssa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dirinya hanya berdiri membeku ketika banyak pengunjung lain yang berhenti untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Tak butuh waktu lama ketika Gabriel datang membawa setumpuk barang - barang dari daftar persediaan Alyssa.
"Apa yang terjadi disini?" Sergahnya sambil melempar barang yang ia bawa kedalam troli, lalu melangkah cepat dan berdiri diantara Alyssa dan ayah Lycan muda itu.
"Gadis ini manusia!" Sang ibu Lycan muda itu berteriak.
"Kenapa memangnya?" Sahut Gabriel balik. "Terakhir kali saya periksa, kami boleh berbelanja disini. Tidak ada yang salah selama kami tidak berada disini saat bulan purnama tiba."
"Apa kau manusia juga?" Si ayah bertanya dan Lycan muda itu bersembunyi di belakang ayahnya.
"Sekarang katakan, apa manusia bisa melakukan ini?" Tanya Gabriel, lalu dua taring tajam muncul dari gigi bagian atas. Ia mengeluarkan suara mendesis keras saat kedua taring itu tumbuh, yang membuatnya terdengar seperti ular kobra besar yang sedang marah. Suara desisan itu membuat semua orang yang berjarak dua meter melangkah mundur. Bukan hal yang janggal melihat kehadiran manusia disana, tapi tidak dengan vampire, mereka tidak pernah terdengar. Tidak lama kemudian petugas keamanan datang.
"Ada masalah apa disini?" Salah satu dari petugas pusat bertanya.
Gabriel menyerahkan kartu identitasnya kepada penjaga. "Saya kira semua species berhak bebas untuk belanja di tempat ini. Ataukah saya salah?"
Petugas itu melirik ke kartu lalu melihat kearah Gabriel. "Anda benar, pak. Maafkan atas semua kesalahpahaman ini. Haruskah saya memberikan sanksi atas gangguan yang mereka lakukan?"
"Tidak perlu sampai begitu, pak petugas." Ucap Gabriel lalu mengambil kembali kartu identitasnya. "Kami hanya ingin berbelanja, dan kami harap tidak akan lagi ada gangguan selama kami berbelanja disini."
"Tentu saja, pak." Ucap petugas itu sambil membungkuk hormat. "Semoga malam anda menyenangkan."
Petugas keamanan pusat Itu pun menggiring keluarga Lycan itu pergi menjauh lalu berbicara kepada mereka. Apapun yang petugas itu bicarakan sepertinya dapat menenangkan mereka, dan mereka pun beranjak pergi untuk melanjutkan urusan mereka masing-masing.
"Apa-apaan yang tadi itu?" Alyssa bertanya.
"Agak tidak biasa bagi manusia dan vampire belanja disini." Gabriel menjawab. "Manusia memiliki pusat kota yang seperti ini di kota mereka sendiri. Vampire tidak punya alasan apapun untuk membeli barang disini, dan kehadiran ku disini merupakan hal yang tak mereka duga."
"Aku gak mikir sampai sejauh itu." Alyssa berkata sambil melangkah menjauh dari lokasi itu. Berjam-jam berikutnya mereka habiskan untuk berkeliling dan melanjutkan belanja sebelum akhirnya membayar di kasir. Alyssa sudah menemukan hampir semua barang yang ada di daftar. Ia bahkan membelikan beberapa barang untuk Diane yang pasti akan adiknya suka.
"Hari ini sungguh menyenangkan." Ucap Alyssa tersenyum.
"Benar sekali." Ucap Gabriel setuju. "Kita bisa datang lagi kemari jika kamu mau."
"Aku mau banget." Kata Alyssa membayangkan dapat memenuhi kebutuhan kota dan berharap dapat melakukannya sesering mungkin. Ia bahkan memiliki ide untuk membiarkan Gabriel melakukan semuanya sendiri jika ia telah percaya lebih kepadanya. Alyssa tidak merasa bersalah atas perjanjiannya dengan Gabriel. Karena menurut vampire itu, harga darahnya empat kali lebih mahal dari isi trolinya yang waktu itu sudah hampir penuh. Berkat alasan itulah Gabriel merupakan pihak yang paling diuntungkan.
Setelah melakukan pembayaran, Gabriel membawa semua barang belanjaan kembali ke gedung tempat mereka mendarat. Alyssa beberapa kali menawarkan Gabriel untuk membantu membawa barang tapi pria itu bilang bahwa ia baik-baik saja. Pada saat terbang pun. Pria itu dapat membawa lebih banyak berat tanpa mengeluarkan setetes keringatpun. Ketika mereka sampai ke gedung itu, resepsionis yang berlaku lebih sopan dari petugas di atap waktu itu menyerahkan kepada Alyssa kunci kamar.
"Ruangan anda telah siap di lantai kesembilan." Wanita itu menyampaikan.
"Terima kasih banyak." Jawab Alyssa sambil tersenyum manis lalu mengambil kunci itu. Ketika sampai di lantai sembilan, mereka lalu berjalan menuju kamar nomor sembilan dan membuka pintunya. Walaupun ruangan kamar itu tidak sebesar dan semewah milik Gabriel di Nashville, tapi cukup terlihat elit untuk ditinggali.
Gabriel mengikuti dari belakang lalu meletakkan tas belanjaan itu di sofa. "Tidak terlalu buruk untuk semua barang belanjaan ini. Kamu telah memperhitungkan barang-barang yang kau beli, dan terima kasih untuk tidak membebani perjalanan pulang kita nanti. Kuhargai itu."
"Aku gak belanja terlalu banyak, ya kan?" Tanya Alyssa khawatir ia menghamburkan terlalu banyak uang.
"Sama sekali tidak." Gabriel menjawab. "Aku punya tabungan yang lebih dari cukup. Hasil dari bekerja selama bertahun-tahun kepada beberapa perusahaan yang mau membayar jasa layananku dengan sangat mahal."
"Jasa layanan seperti apa?" Alyssa bertanya, penasaran tentang pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh seorang vampire.
"Percaya atau tidak, vampire yang bisa terbang dapat bekerja untuk mengirim telegram pribadi." Gabriel menjawab. "Aku melakukan pekerjaan ini selama puluhan tahun. Terbang dari satu kota ke kota yang lain diseluruh negri. Aku meraup banyak sekali keuntungan, tapi seperti yang kubilang vampire tidak butuh untuk membeli sesuatu. Jadi setelah mengumpulkan banyak sekali kekayaan, aku berhenti dari pekerjaan tersebut."
"Sangat menarik sekali." Kata Alyssa. "Orang-orang seperti apa yang membutuhkan jasamu?"
"Orang-orang yang memiliki rahasia." Jawab Gabriel. "Orang-orang yang tidak mau pesannya diretas atau dirusak oleh petugas pos yang korup."
"Masuk diakal, tapi dengan begitu bukankah manusia jadi tau tentang kamu?" Alyssa bertanya. "Apakah artinya manusia tahu juga tentang keberadaan New Lycan dan juga Kota-kota monster yang lain?"
"Pertanyaan yang cukup sulit," Ujar Gabriel mengakuinya. "Dan jawabannya berbeda-beda setiap kota. Beberapa kota waspada akan keberadaan kami, yang lainnya mengetahui akan keberadaan kami tetapi pemerintah menutup - nutupinya. Mereka pikir banyak orang yang tidak mau tahu ada lagi monster lain selain zombie diluar sana. Jika mereka ingin tinggal dibalik perlindungan tembok-tembok besar, apa gunanya mereka mengetahuinya?"
"Tidak ada." Jawab Alyssa. "Aku cuma penasaran tentang apa yang kota kecil seperti milikku ketahui."
"Kemungkinan mereka tidak tahu apa-apa." Kata Gabriel mengira-ngira. "Mereka hanya mencoba untuk bertahan hidup. Apa kamu benar-benar berpikir kalau Major mengirim orang-orang keluar sana untuk mati jika dia tahu kalau ada kota lain yang bisa diajak bekerja sama?"
"Kurasa tidak." Alyssa menjawab lalu berpikir bahwa itu adalah pernyataan yang benar adanya.
"Aku akan beristirahat di ruang tengah." Kata Gabriel sambil menunjuk kearah sofa. "Kamu boleh pakai kamar tidur utama. Aku akan ada disini kalau kamu butuh sesuatu, kita akan terbang pulang kerumah besok malam. Jika ada yang mengetuk pintu diamkan saja, biar aku yang tangani."
"Mengerti." Jawab Alyssa lalu berjalan kearah kamarnya. Ia mengambil satu kantong belanjaannya, kantong tas yang berisi barang yang ia belikan untuk Diane. Ia melihatnya untuk beberapa menit lalu menyimpannya di lemari sebelum ia memutuskan untuk tidur. "Diane pasti akan senang sekali."
Diubah oleh irazz1234 26-02-2018 15:19
kudo.vicious memberi reputasi
3