Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#3173
Menjajal Kesaktian (2)

Dengan memindahkan kaki kanan sedikit lebih maju ke depan, gw menyalurkan tenaga dalam ke kedua tangan yang memegang tali pengangkat keranjang.. Dua keranjang yang hampir menyentuh tanah karena bertambah berat dengan sendirinya tadi , mendadak bergoyang saat tenaga dalam gw menolak daya berat..

Gw sempat melirik ke arah Kakek Tua yang masih berjalan membelakangi dengan tangan yang terpangku di atas pinggul, tiba-tiba menghentikan langkah.. Sepertinya, si Kakek Tua merasakan adanya perlawanan dari gw..

Kedua telapak tangan beliau yang tadinya terkepal, mendadak terlihat bergetar.. Hal itu terjadi bersamaan dengan terasa semakin berkurangnya berat dua keranjang dalam pikulan ini .. Berarti benar dugaan gw sebelumnya.. Si Kakek Tua tersebut ternyata sedang menjajal kelebihan gw..

Menyadari gw bisa mengimbangi tenaga dalam Kakek Tua, sekaligus sanggup meladeni laku penjajalan ilmu, sebuah senyuman puas kembali gw sunggingkan di wajah..

Mendadak, si Kakek Tua membalikkan tubuhnya perlahan menghadap gw.. Lalu, entah apa yang dia lakukan dengan dua tangannya yang masih berpangku dibelakang, tiba-tiba tubuh gw jatuh terjengkang ke belakang.. Disebabkan oleh sebuah tenaga dorong tak kasat mata yang cukup kuat menerpa dada gw..

BRUGG!!!

Gw meringis menahan nyeri di bokong lalu mencoba bangkit sambil menepuk-nepuk bagian belakang celana.. Kedua mata gw menatap nanar ke arah si Kakek Tua yang melemparkan senyuman mengejek..

“Kamveret! Gw dikerjain didepan orang banyak” Gerutu gw dalam hati saat mendengar beberapa orang yang ada disekitar mentertawakan jatuhnya gw..

Hampir semua buah jambu biji merah dalam dua keranjang, terlihat jatuh menggelinding di atas tanah yang untungnya tidak becek.. Berbarengan dengan berjalan mendekatnya si Kakek Tua, gw memunguti buah jambu yang tercecer..

“Lu kaga ngapah-ngapah, Tong? Lagu lu sebakul, mikul jambu secomot pake jatoh..” Tanya si Kakek Tua disusul ejekan ke arah gw, sambil memunguti buah jambu dagangannya..

Sengaja gw terdiam tak menjawab pertanyaan beliau meskipun dalam hati gw metertawakan kalimat yang ia lisankan barusan.. Entah mengapa emosi gw sama sekali tak terpancing.. Biasanya, gw paling anti dipermalukan didepan orang banyak.. Dan biasanya gw bisa langsung bereaksi keras dengan melawan..

Mungkin karena sosok yang ada disamping gw ini adalah seorang kakek tua yang memiliki kelebihan juga.. Jadi gw merasa tidak tertantang untuk melawan beliau.. Malah yang ada, gw merasa penasaran akan apa yang telah beliau lakukan tadi.. yang berhasil menjatuhkan gw tanpa perlawanan fisik.. Ada sesuatu dalam diri si Kakek Tua yang membuat gw tertarik untuk mengenalnya lebih jauh..

Setelah semua buah jambu biji merah telah kembali berada dalam dua keranjang, si Kakek Tua nampak mulai mengambil kayu dan mengaitkan dua simpul tali di masing-masing ujungnya.. Kemudian memikul dua keranjang dengan sangat mudah.. Tanpa melirik ke arah gw, beliau berbalik lagi ke arah tepi jalan raya, lalu mulai berjalan dengan dua keranjang didepan dan belakangnya..

“Mo kemana, Beh? Lapak jualannya bukan di depan, Beh?” Tanya gw dua kali karena bingung melihat tingkah laku Kakek Tua itu, sambil melangkah mengikuti..

“Pulang! Apa nyang mo di dagangin? Jambu udah pada benyok.. Ilokan(masa iya) ada nyang mao beli” Jawab nya tanpa menghentikan langkah..

Sebenarnya gw merasa tidak enak hati mendengar jawaban beliau, Bree.. Tapi kan gw ga salah.. Beliau sendiri yang duluan ngetes-ngetes gw.. Kalo beliau ga iseng jajal kelebihan gw, otomatis jambu-jambunya ga bakal lecet..

Tapi, kalo gw ga ngelawan dan berpura-pura ga punya kelebihan apapun, bisa jadi beliau juga ga akan bertindak lebih jauh.. Dan jambu-jambunya masih bisa dijual.. Haduuh! Kenapa gw malah ngerasa bersalah juga akhirnya yak?..

Sambil memikirkan banyak hal tentang kejadian barusan, gw terus mengekor dibelakang si Kakek Tua yang terlihat mulai menghentikan angkot untuk pulang.. Persis didepan kendaraan umum yang catnya didominasi warna biru, si Kakek Tua menoleh ke arah gw seraya menurunkan keranjangnya..

Pandangan mata Kakek tersebut sedikit terkesan mengintimidasi.. Gw yang awalnya melempar senyum, langsung diam tertunduk karena segan menatap sorot kedua mata beliau..

“Lu mo ngikut Babeh pulang, Tong?”

Mendengar pertanyaan yang meluncur dari lisan si Kakek Tua, gw langsung mengangkat kepala dan mengangguk satu kali.. Sebuah senyuman senang seketika terlukis diwajah..

“Masih jauh rumahnya, Beh?” Tanya gw sambil mengipaskan topi ke arah wajah..

Si Kakek sempat mengatakan bahwa ia tidak menyewa jasa ojek untuk sampai di rumah dan akan terus berjalan kaki .. Jika gw ingin ikut, mau tidak mau gw harus menuruti permintaan beliau.. Lagipula jarak yang akan kami tempuh nanti paling-paling tidak sampai 200 meter jauhnya.. Mengingat kondisi si Kakek yang sudah termakan usia..

Akan tetapi, dugaan gw kali ini salah.. Jarak yang kami tempuh lebih dari 2 Kilometer jauhnya.. Dari melewati jalan yang sudah di cor hingga jalan setapak berlantaikan tanah basah, yang membuat gw lebih berhati-hati untuk melangkah.. Dari melewati rumah-rumah besar, hingga kebun kosong dan area pesawahan nan asri.. Gw sendiri bahkan sempat sampai bertanya, apakah benar daerah yang kami telusuri ini masih berada diwilayah depok?

“Noh rumah Babeh, Tong” Jawab si Kakek Tua sambil terus berjalan dua tombak dihadapan gw, dan mulai memperlambat langkahnya saat menemui sebuah turunan..

Kedua mata gw membesar melihat sebuah rumah sederhana, beratapkan genting tua tertutup lumut hitam.. Tiga tiang kayu seukuran betis orang dewasa nampak menyanggah bagian depan rumah, yang terlihat lapuk.. Sebuah balai bambu sederhana ada didepan rumah yang masih berlantaikan tanah kering..

Pandangan gw terlempar ke sebuah kandang yang ada sekitar empat meter dari teras rumah.. Dua ekor kambing nampak sedang melahap rumput segar yang mungkin telah diberikan pemiliknya tadi pagi.. Beberapa potong rating kering, terlihat tersusun rapi dalam ikatan tali yag terbuat dari pelepah pohon pisang..

Saat tiba di depan terasnya, si Kakek Tua nampak menurunkan keranjang dan menatap ke arah gw yang sedang jalan menurun.. Pandangan mata gw sempat menangkap raut wajah aneh si Kakek Tua yang seperti sedang menunggu sesuatu terjadi..

Dari sini, gw mulai merasa curiga.. Kewaspadaan mulai gw tingkatkan sambil menggunakan Ajian Tembus Pandang untuk melihat keadaan disekeliling.. Dari arah samping kiri dan kanan tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan.. Begitu juga di arah belakang.. Hanya ada penampakan beberapa Jin yang terlihat menatap ke arah gw..

Begitu menoleh kembali ke arah depan, gw sempat menangkap suatu sinar berkilauan berada persis tiga tombak dari ujung sepatu.. Sinar yang nampak mengelilingi rumah si Kakek Tua terlihat samar dipenglihatan gw..

“Ada Pagar Gaib ternyata” Ucap gw lirih bersamaan dengan menghangatnya bahu kanan..

Sejenak, gw memikirkan apa yang akan terjadi jika memasuki pagar gaib buatan si Kakek Tua? Mengapa pula beliau nampak masih menunggu gw dengan berdiri tegak didepan rumahnya?

“Ngapah bediri bae disonoh, Tong? Lu kaga mao kemari?” Tanya si Kakek Tua dengan mengeraskan suaranya..

Gw mengangguk dan mulai berjalan kembali dengan membaca kalimat Basmallah sebelumnya.. Hawa hangat dari Pedang Jagat Samudera yang ada dibahu terasa bertambah, seiring semakin dekatnya jarak Pagar Gaib.. Sorot mata si Kakek Tua pun nampak makin tajam.. Dan..

DRETT..

Sekujur tubuh gw sempat bergetar, begitu menyentuh Pagar Gaib buatan si Kakek Tua bersamaan dengan memanas nya bahu kanan.. Langkah gw pun terpaksa terhenti dan melempar pandangan ke arah si Kakek.. Sebuah senyuman tersungging di wajah renta yang masih berdiri depan teras rumahnya itu..

Namun, kejadian tersebut berlangsung sesaat.. Getaran ditubuh gw sirna, bersamaan dengan kembali sejuknya hawa yang keluar dari Pedang Jagat Samudera di bahu kanan.. Sambil mengulum senyuman lega karena tidak terjadi apapun, gw melanjutkan langkah.. Sementara, si Kakek terlihat mengangkat keranjangnya dan diletakkan di dekat pintu.. Kemudian, beliau melangkah masuk ke dalam rumah, setelah membuka pintu yang tak terkunci..

Begitu tiba di teras rumah sederhana milik si Kakek Tua, gw melirik jam tangan yang baru menunjukkan pukul tujuh pagi.. Rasa pegal di kedua kaki mulai terasa, setelah berjalan cukup jauh sejak turun dari angkot..

Diatas balai bambu, gw duduk ditepinya dan meluruskan dua kaki ke bawah sambil menggoyang-goyangkan perlahan.. Topi baseball hitam yang menutupi kepala langsung gw lepas.. Begitu juga dengan kemeja yang menutupi kaos.. Kedua benda termasuk harta gw yang tersisa itu, sengaja gw sangkutkan di atas sebuah paku ditiang kayu penyanggah rumah si Kakek..

Perlahan, gw melepaskan tas dari gendongan belakang dan mengambil kain sarung dari dalamnya, lalu menyeka keringat di dahi dan leher.. Suara kambing yang mengembik terdengar bersahutan.. Mungkin dua peliharaan si Kakek sudah merasa kenyang, karena mereka nampak duduk bersimpuh diatas tanah didalam kandang..

Segarnya angin terasa sejuk menyapu tubuh gw yang memang sedang merasa kepanasan.. Sambil terus menggoyangkan betis, gw menyisir pandangan ke arah depan..

Dari dalam rumah, gw mendengar suara langkah kaki mendekat.. Kemudian gw tersenyum, melihat si Kakek berjalan keluar tanpa kain sarung terikat dipinggang, yang mungkin sudah di buka didalam.. Sambil membawa segelas teh ditangan kiri dan sepiring ubi rebus di tangan kanan, ia mengulum senyuman ramah..

“Nih, Babeh bikinin teh manis anget ama ubi rebus sisa sarapan babeh.. Lu pasti cape bener ya, Tong?” Ucap si Kakek dengan ramah..

Gw menaikkan dua kaki ke atas balai bambu dan duduk bersila.. Meneguk segelas teh manis adalah hal pertama yang gw lakukan.. Aah, sensasi air yang mengalir hangat di tenggorokan dan terus turun ke rongga dada serta lambung, terasa nyaman sekali.. Tapi, sayangnya hangatnya teh manis malah memancing lapar..

Mengikuti si Kakek Tua yang sudah duduk di depan, gw mengambil sepotong ubi rebus dan membelahnya.. Bau harum seketika menggugah selera.. Apalagi melihat kuningnya isi daging ubi yang masih mengepulkan asap tipis..

“Lu dari mana mau kemana sebenernya, Tong?” Tanya si Kakek tiba-tiba, dan membuat gw cukup tercekat..

Benak gw kembali terbayang saat Ibu dengan teganya mengusir gw semalam.. Rasa pedih dalam lubuk hati lagi-lagi terbit dan membuat tenggorokkan gw terasa kering.. Perlahan, gw mengambil gelas berisi teh manis hangat yang tersisa setengah, lalu meneguknya..

Entah mengapa, mendengar pertanyaan si Kakek barusan membuat nafsu makan gw hilang seketika.. Dengan tersenyum getir, gw meletakkan setengah potong ubi rebus di atas piring..

“Saya juga ga tau mau kemana, Beh.. Niatnya saya mau mencari kerja dan mencoba hidup mandiri” Jawab gw dengan nada datar..

“Lah, keluarga lu pegimana? Ema Baba lu emang kaga nyariin?” Tanya si Kakek sambil membelah sepotong Ubu lagi..

Gw menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.. Kemudian melempar pandangan ke arah kandang kambing.. Kalimat demi kalimat mula meluncur dari lisan gw, menceritakan bagaimana gw bisa terdampar di daerah ini, hingga bisa bertemu dengan beliau..

Si Kakek terdengar menghela nafas panjang-panjang, lalu mengeluarkan bungkusan rokok kretek berwarna coklat dari dalam peci kumalnya.. Kemudian dimasukkan lagi sebungkus rokok tersebut dalam peci yang dikenakannya, setelah mengambil sebatang rokok kretek.. Menggunakan korek api kayu, si Kakek nampak berkali-kali berusaha membakar ujung rokok.. Dengan nikmat sekali, beliau mengisap dan mengeluarkan tiap hembusan asap putih dari mulut..

“Tong, babeh kaga bakal ngomong panjang lebar.. Nyang pasti babeh cuman bisa bilang, kalo lu lagi diuji.. Dan lu kudu terima.. Jangan lembek terus nyerah.. Apalagi buat bocah lanang kaya lu, nyang punya elmu ama pedang sakti”

Kedua mata gw terbelalak mendengar kalimat si Kakek barusan.. Jadi selama ini beliau mengetahui diri gw.. Bahkan, keberadaan Pedang Jagat Samudera juga diketahuinya.. Pantas saja, sejak bertemu pertama kali, Beliau sempat melirik ke arah bahu kanan gw untuk beberapa saat lamanya..

“Mata lu ngapah melotot begitu, tong? Kaga seneng Babeh tau rahasia lu?” Tanya si Kakek dengan nada ketus, lalu melempar rokok kretek di selipan jarinya ke arah ranting kering yang ada di pelataran rumah..

TAKK!!

Suara ranting yang terpental karena terkena rokok yang masih menyala dari lemparan si Kakek, terdengar cukup keras.. Gw sendiri melongo tertegun melihat keanehan barusan.. Bagaimana mungkin benda lunak bisa mengalahkan benda padat nan keras, jika tidak menggunakan tenaga dalam..

Si Kakek nampak bangkit dari atas balai dan berjalan menuju pelataran rumah.. Tiba-tiba, Beliau melompat cepat.. Punggung tangannya beradu dengan telapak tangan kiri..

PLAK!!

Suara beradunya punggung dan telapak tangan terdengar keras khas Silat Betawi.. Kaki kanan Beliau maju selangkah dan tertekuk.. Sementara kaki kiri yang di belakang juga tertekuk namun masih terlihat sedikit lurus, membentuk sebuah kuda-kuda sempurna..

Gw yang dahulu pernah mendalami Pencak Silat, tahu betul jika yang diperagakan si Kakek adalah jurus yang bisa digunakan untuk menangkis serangan maupun menyerang..

“Kalo lu kaga seneng, lu boleh lawan babeh.. Babeh nyang jual, lu kudu beli.. Sekalian babeh pengen tau lu punya elmu apa aja, tong?” Ucap si Kakek dengan suara keras menantang..
jenggalasunyi
sampeuk
dodolgarut134
dodolgarut134 dan 16 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.